Visitor

Sunday, July 17, 2016

Movie Review: Rudy Habibie



"Jadilah mata air yang jernih. Maka, di sekelilingmu juga akan jernih. Tetapi jika kamu menjadi mata air yang kotor, maka di sekelilingmu akan mati."


Begitulah kira-kira ucapan yang keluar dari seorang Ayah kepada anaknya yang begitu antusias untuk menjadi seorang pencipta pesawat. 

Selama film berlangsung, saya terus memperhatikan detil-detil setiap sepatah dua kata yang diucapkan oleh pemain. Saya sangat suka dengan permainan kata yang cukup memberikan energi positif kepada siapa saja yang menontonnya. Terutama pada setiap adegan yang menyorotkan kasih sayang seorang Ayah kepada anaknya. Keyakinan dan tekad yang kuat membuat Habibie kecil menjadi sosok anak yang cerdas dan penuh percaya diri. 

Bacharuddin Jusuf Habibie, yang kita kenal sebagai sosok pria yang amat setia kepada almarhumah istrinya -- Ibu Ainun, ternyata sewaktu beliau masih duduk di bangku kuliah pernah menjadi idola yang menyedot perhatian para gadis. Cara bicaranya yang sangat khas, antusias, penuh keyakinan, dan selalu menempatkan di mana letak fakta - masalah - solusi di waktu yang bersamaan. Begitulah cara beliau meyelesaikan suatu kasus. Rudy, panggilan kecilnya, juga pernah menjadi ketua Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Aachen. Hingga sampailah Rudy berkenalan dengan gadis Jerman berdarah Polandia yang fasih berbahasa Indonesia, dialah Ilona Ianovska. 

Perjalanan Rudy hingga berhasil menjadi 'mata air' seperti yang dikatakan Ayahnya tidaklah mudah. Ia mampu membuat bangga keluarganya, termasuk Ibunya. Ia berhasil membuktikan kepada seniornya di kampus bahwa ia mampu mengingat semua pesanan yang diucapkan hanya sekali dengan tanpa ada sedikit pun kesalahan. Di sini kita tidak hanya belajar bagaimana Rudy merancang rencana yang matang hingga menjadi suatu konsep yang menghantarkan ia menjadi orang nomer 1 di Indonesia itu, tapi kita juga akan melihat bagaimana persahabatan yang dibangun Rudy dan teman-temannya menjadikan suatu kisah yang dapat menginspirasi kita semua.

Cerita di dalam film Rudy Habibie ini mengantarkan semua penonton masuk ke era 40 sampai 50-an. Musik yang diputarkan, gaya berpakaian yang dikenakan para pemain dan beberapa benda jadul yang diperlihatkan. Walaupun kisah cinta Rudy dan llona berakhir pada perpisahan, cerita mereka berdua menjadi salah satu cerita romantis yang pernah saya dengar. Rupanya Rudy amat mengagumi gadis pertengahan Jerman - Polandia itu. Salah satu yang terus saya ingat dari kata-kata Ilona kepada Rudy adalah bahwa bahasa mengantarkan kita untuk membuka jendela dunia -- kita bisa menjadi seseorang yang sukses dengan memahami bahasa. Saya mendapatkan rasa kepercayaan diri yang penuh dengan hanya mendengarnya satu kali saja. Tokoh Ilona cukup menginspirasi saya untuk terus mengarungi lautan-lautan yang ada di belahan dunia ini tanpa berhenti mengeluh.

Monday, July 4, 2016

Movie Review: Descendant of the Sun

Hello fellas, apa kabar semuanya? :)


Hari ini aku akan coba untuk memberikan review tentang drama Korea yang baru saja kutonton yang berjudul Descendant of the Sun. Mungkin akan mulai masuk di stasiun TV Indonesia pertengahan Juli. Ada yang tahu drama ini? Aku baru saja menyelesaikan 16 episode dalam waktu kurang dari 4 hari. Karena aku tidak punya banyak waktu untuk menonton drama, jadi aku selalu cicil per harinya. Awalnya karena rekomendasi dari seorang teman yang juga pecinta drama Korea. Dan memang sejak SMP aku sudah addicted sama drama Korea dan soundtrack-nya. Harus kuakui, setiap kali nonton drama Korea harus siap-siap bertarung sama waktu tidur dan persiapan tisu karena aku pasti nangis.

Anyway, kalau aku lagi kena syndrom sama salah satu drama Korea, pasti aku download semua lagunya dan aku setel sebanyak mungkin sampai aku bosen. Bahkan ngga banyak yang aku hafalkan di luar kepala. Itulah sebabnya aku pengen banget belajar bahasa Korea secara intensif, supaya pas lagi nonton drama ngga perlu terlalu mengandalkan subtitle, hehehe.

Oke, daripada terlalu banyak introduction kita langsung saja masuk ke movie review-nya ya.

Song Joong Ki (Yoo Shi Jin) adalah kapten pasukan khusus yang menawan dan banyak menarik perhatian wanita. Nah, ceritanya sih menurutku agak rumit ya karena mungkin tidak biasa di kalangan masyarakat pada umumnya. Karena ini melibatkan negara mereka dan banyak pihak yang harus dibela lho. Kalau misalnya ada panggilan tugas yang mendadak, Shin Jin harus patuh dan langsung berangkat menuju TKP.

Awalnya Shi Jin bertemu dengan Kang Mo Yeon (Song Hye Kyo) di sebuah rumah sakit dan saat itu Mo Yeon sedang memeriksa pasiennya. Aku melihat sosok Shi Jin agak sedikit ‘bad boy’ tapi aslinya dia sangat perhatian, care, dan baik sama orang-orang terdekatnya. Sedangkan Mo Yeon kelihatan lebih dewasa dan sangat cepat menalar pada sesuatu yang bersifat teka-teki sehingga dia cepat menyelesaikan masalah. Dia juga seorang dokter yang sangat pintar dan bijak. Karena ketulusan hati Mo Yeon lah yang membuat Shi Jin yang terlihat cuek itu akhirnya jatuh cinta.

Namun, perjalanan cinta mereka tidak semudah pasangan pada umumnya. Shi Jin sering meninggalkan Mo Yeon di tengah-tengah waktu kencan mereka karena panggilan darurat. Belum lagi waktu Shi Jin dan Mo Yeon harus terlibat di satu organisasi yang sama di negara lain demi suatu misi kebaikan. Hal itu yang membuat mereka bertemu setiap hari sekaligus mengancam nyawa Mo Yeon yang berpacaran dengan seorang tentara yang selalu bersahabat dengan senapan.

Walaupun begitu, Mo Yeon menjadi sangat pemberani karenanya. Ia bahkan pernah hampir mati dengan bom rakitan yang menempel di baju yang dikenakannya dan ia harus rela menahan sakit di bagian pundaknya karena tembakan dari Shi Jin untuk menghancurkan bom rakitan tersebut.

Cerita yang kompleks dan plot yang menurutku cukup menarik ini membuatku tidak bisa berhenti untuk lanjut menonton ke episode berikutnya. Sampai di episode terakhir, barulah aku mengerti makna yang terselip di drama ini. Salah satunya yang menempel di otakku sampai sekarang adalah bahwa kita tidak boleh berhenti menyerah dan harus terus melawan rasa sakit yang membuat kita lemah dan tidak berdaya. Kita, tidak boleh dikalahkan oleh rasa sakit itu. Kita tahu bahwa kemenangan itu adalah milik kita selagi kita percaya pada diri kita sendiri. Sesulit apa pun yang sedang kita hadapi, seolah kita tidak punya harapan dan semuanya sudah pergi, kita tetap tidak boleh berhenti untuk terus memiliki harapan tersebut. Perjuangan yang sesungguhnya bukanlah dilihat dari hasil yang memuaskan, tapi proses yang begitu panjang hingga menjadikan kita pribadi yang lebih kuat dari sebelumnya.

Ini merupakan salah satu drama dengan cerita yang cukup sulit diterka dan dicerna karena banyak mengandung unsur militer dan politik yang memusingkan kepalaku. Tapi overall, aku suka banget sama drama ini.