Visitor

Wednesday, May 4, 2016

Movie Review: Ada Apa Dengan Cinta 2

"...aku akan kembali untuk mempertanyakan cintanya.."




Entah bagaimana rasanya aku mengutarakan perasaanku sebagai penonton yang sudah begitu sangat masuk dalam tokoh Cinta yang ditinggal sang kekasih pergi ke New York. Sejak pertama kali film ini ditayangkan di bioskop tahun 2002, aku sudah sangat excited dan langsung jatuh cinta dengan kedua tokoh tersebut. Dan pertanyaanku kala itu sama dengan kalian, apa alasan Rangga pergi meninggalkan Cinta?

Rangga pasti akan kembali, entah setelah berapa ratus purnama yang akan datang. Tapi aku yakin film Ada Apa Dengan Cinta ini akan berlanjut karena akhir yang 'menggantung' sehingga penonton harus berandai-andai apa yang akan terjadi selanjutnya jika Rangga kembali. Dan sampailah kita pada suatu masa di mana Rangga benar-benar datang menemui Cinta.

Ketika aku melihat kembali sosok Rangga yang angkuh, diam, penuh misteri berbincang-bincang dengan Cinta sambil sedikit menyipitkan sudut mata atau berbalik arah untuk menahan emosi yang mungkin menahannya untuk tidak marah, aku merasa Rangga yang kulihat saat ini berbeda dengan Rangga yang dulu. Kalian setuju? Kedatangan Rangga yang terkesan 'tiba-tiba' dan memaksa ini membuatku membanding-bandingkan dengan film yang sebelumnya. Ya, kali ini aku seperti menonton sebuah film komedi setara dengan film Hollywood yang sudah mendunia. Aku merasa terhibur, tapi tidak puas pada plot dan konflik yang flat dan akhir yang biasa-biasa saja.

Menurutku, untuk pemain sekelas Dian Sastro dan Nicholas Saputra, tidak perlu lagilah kita meragukan kemampuan akting mereka--jelas sudah di atas rata-rata. Tapi, aku berharap mereka bisa memberikan 'kejutan' mungkin dengan berupa scene yang membuat penonton tidak bisa membendung air mata dan semacamnya. Tapi aku tidak mendapatkan itu. Aku justru banyak tertawa karena kepolosan Mili yang sejak dulu memang tidak pernah berubah.

Dibalik kekecewaanku ini, aku masih sangat menghargai kerja keras mereka yang menyuguhkan beberapa karya sastra berupa puisi dan teater kecil karena kebetulan aku memang pecinta seni dan penikmat sastra. Walau aku merasa film ini berubah genre-nya menjadi komedi, bukan lagi film drama seperti Ada Apa Dengan Cinta yang kita kenal dulu, aku cukup terkesan dengan semua kru yang sudah benar-benar mempersiapkan semuanya dengan sangat rapi. Anyway, aku juga sangat suka scene di mana Cinta datang tiba-tiba untuk menemui Rangga dan menurutku itu sangat sweet--sampai-sampai aku berpikir akan melakukan hal yang sama untuk seseorang yang jauh saat ini.

Dua sejoli macam Cinta dan Rangga menurutku adalah legenda yang memang akan terus dikenang masyarakat baik lokal maupun mancanegara. Dan aku tahu betul bagaimana rasanya berpisah di Bandara sehingga aku berani menyatakan bahwa film Ada Apa Dengan Cinta merupakan salah satu film favoritku sepanjang masa karena mampu membuatku takjub dan merasakan apa yang mereka suguhkan ke penonton bukan sebuah drama, tapi kenyataan. 

Perpisahan di Bandara adalah salah satu dari sekian banyak hal yang paling kubenci. Karena kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di atas udara sana--akankah kembali dalam waktu dekat atau tidak bisa bertemu lagi? 

Well, aku tidak mau banyak memberikan komentar di sini. Tapi sejatinya penonton mungkin berharap lebih di film Ada Apa Dengan Cinta 2 ini. Biar bagaimanapun juga, kita tahu bahwa Cinta berjodoh dengan Rangga karena kembali dipertemukan dalam keadaan yang mungkin hampir sama dengan masa di mana mereka masih sekolah dulu. Kalau aku jadi Cinta, terdapat dua kemungkinan yang akan kulakukan: membuang jauh-jauh kenanganku dengan Rangga atau mendatanginya ke New York tanpa harus menunggu bertahun-tahun dengan ketidakjelasan yang tidak pasti. Intinya, aku tidak akan sanggup menanti lama dengan jawaban yang menggantung. Kalian setuju?