Visitor

Wednesday, February 24, 2016

Diabetes Itu Membuntungkan Kaki Ayahku


Tahun 2009 merupakan tahun yang cukup berat untukku dan keluargaku. Kami harus menerima kenyataan bahwa Ayahku divonis Diabetes dalam level yang cukup membahayakan. Pasalnya, Ayah senang sekali minum teh manis setelah makan besar. Kebiasaan yang biasanya dianggap sepele oleh kebanyakan orang ini menjadi salah satu pemicu munculnya penyakit mematikan itu.

Ketika mengetahui bahwa kadar gula di dalam tubuh Ayahku tidak stabil, Ayah mulai mengurangi mengkonsumsi nasi putih dan menggantinya dengan buah-buahan. Tapi, sayangnya ini malah menjadi bumerang—Ayah tidak tanggung-tanggung untuk makan buah secara berlebihan semenjak tidak makan nasi. Dan yang paling parahnya lagi, Ayah menggantikan kebiasaan meminum teh manis dengan soda tanpa gula. Padahal, sudah jelas-jelas dokter mengingatkan untuk menghindari segaja jenis soda karena sangat berbahaya untuk penderita diabetes.

Suatu ketika, pergelangan kaki Ayah sangat gatal. Semakin digaruk, semakin gatal. Sampai akhirnya berdarah dan mulai bernanah. Ayahku juga mengeluh pada gigi yang mulai otek dan kengiluan yang cukup menganggu. Aku pikir penyakit ini bisa disembuhkan dan pasti masih ada jalan lain walaupun sudah mulai menggerogoti kaki panjang Ayah.

Ibuku yang tidak henti-hentinya selalu mengingatkan Ayah untuk menjaga pola makan akhirnya angkat bicara. Kami setuju untuk membawa Ayah ke dokter yang lebih baik untuk mengeringkan luka Ayah yang bernanah agar tidak melebar ke mana-mana. Peralatan canggih yang ada di dokter tersebut ternyata cukup membantu proses penyembuhan Ayah. Selain rutin untuk terapi, Ayah juga menggunakan suntik pribadi dan menaruhnya di lemari es. Tapi, aku masih terus melihat Ayah meminum soda yang katanya no sugar itu. Ayah tetap bersikeras untuk tidak berhenti minum soda dan memakan buah-buahan dalam jumlah yang besar.

Saat aku terbangun dari tidur malamku, aku mengintip sedikit ke luar untuk mengetahui siapa yang mengetuk pintu rumah. Ayah! Ayah baru saja pulang dari kantor. Walaupun dalam keadaan sakit, Ayah tetap memaksakan diri untuk bekerja. Tapi, kali ini aku melihat sosok Ayah dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Ayah membungkus kaki kanannya dengan plastik bening kemudian diikat dengan karet gelang untuk melindungi semburan nanah dan darah yang sempat mengalir beberapa kali di telapak kaki Ayah. Tidak hanya sampai di situ, Ayah berjalan dengan agak sedikit menyeretkan kaki kiri dan menahan kaki kanannya yang luka hanya dengan pertahanan satu kaki saja. Walau terapi dan obat suntik masih terus dilanjutkan, luka di kaki Ayah semakin parah dari hari ke hari.

Setiap aku pulang dari sekolah, aku berusaha untuk pulang lebih awal karena ingin mengetahui keadaan Ayah. Saat itu, aku hampir-hampir tidak percaya bahwa luka yang tadinya berawal dari gatal pada satu titik kini mulai menjalar di kaki kiri. Ayah tidak bisa menyetir mobil lagi. Dan Ayah pun berhenti dari pekerjaannya.

Di bulan ketiga, Ayah sudah semakin terkapar di ranjangnya. Keluargaku membawa Ayah ke RS untuk dirawat sampai keadaan kembali normal. Ayah kehilangan suaranya setelah kehilangan beberapa gigi yang ia keluhkan sakit setiap hari. Dengan terpaksa, aku harus mengurangi kegiatan sekolah yang tidak begitu diperlukan demi merawat Ayah dan menemani Ibu di RS. Ketika aku melihat pergelangan kaki Ayah, ibu jari Ayah sudah puntung dan aku tidak menyadari bagaimana penyakit gula darah itu habis menggerogoti jari-jari kaki Ayah.

Dokter menyarankan untuk mengamputasi kaki Ayah agar tidak melebar lagi. Tapi Ayah bersikeras tidak mau kehilangan kakinya. Karena Ayah memaksa pulang, akhirnya kami bawa lagi ke rumah.
Di bulan kelima pada September 2009, Ayah hanya mampu makan dari suapan Ibu saja karena sudah tidak kuat lagi menggerakkan anggota tubuhnya. Mata Ayah pun mulai sayu dan kulitnya menguning, tidak lagi kenyal dan agak basah. Luka di kaki kiri dan kanan Ayah sama sekali tidak membaik dan semakin hari semakin membusuk sehingga mulai mengeluarkan bau yang aneh. Ayah tidak lagi berbicara seperti biasanya. Terakhir kali aku dengar Ayah bicara waktu Ayah dimasukkan ke RS namun setelah itu cara bicara Ayah mulai tidak lagi jelas. Ibuku sabar merawat Ayah. Aku melihat betapa besar cinta dan kasih sayang Ibu kepada Ayah. Walau dalam keadaan yang sangat berat, Ibu tetap menunjukkan sikap bahwa Ayah pasti bisa sembuh.

Pada akhirnya, Ayah dimasukkan ke UGD tetapi di RS yang berbeda karena melihat kondisinya begitu memprihatinkan. Sudah sebulan lebih lamanya Ayah berbaring di kamar saja tanpa mandi, sikat gigi dan makanan berat. Ketika melihat tubuh Ayah yang digotong oleh beberapa anggota keluargaku, aku kaget bukan main karena ternyata tubuh belakang Ayah mengalami luka yang menyerupai luka di kaki. Penyebabnya adalah karena Ayah tidak pernah lagi menggerakkan tubuhnya ke kiri maupun ke kanan sehingga keringat yang tidak kering menjadi pemicu luka tersebut. Sungguh, aku sampai-sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi. Aku dan Ibuku pasrah pada takdir Allah.

Malam itu adalah malam terakhir aku melihat wajah Ayah yang tertidur pulas di kamar UGD. Beberapa kali aku sempat mengusir nyamuk-nyamuk yang hendak menggigit kulit wajah Ayahku. Aku sentuh tangannya yang sudah dimasukkan jarum suntik oleh suster. Kutekan kulit tangan Ayah sampai agak menjorok ke dalam kemudian melepaskannya dan kulit Ayah tidak kembali—sentuhan yang aku berikan tadi membuat kulit Ayah tetap sama seperti ketika aku tekan dan aku mulai menitikkan air mata. Esok adalah hari di mana umat Muslim merayakan Idul Fitri dengan keluarga mereka. Dan Ayah tidak pernah membuka matanya lagi untukku. Aku dan Ibuku menunggu di luar ruang pemandian mayat. Kami diam tidak salah satu dari kami mau mulai berbicara. Tubuh dan kaki Ayah yang luka mulai mengering dan berganti warna menjadi agak kekuning-kuningan, kaku dan dingin.


Dan aku yakin, Ayah pasti merindukan ceritaku di sekolah bersama teman-teman dan kelanjutan dari novelku yang akan diterbitkan nanti. Aku janji, suatu hari nanti aku akan menerbitkan novel itu untuk Ayah. Aku janji, suatu hari nanti aku akan menjadi penulis multi talenta seperti yang harapan aku dan Ayah.

No comments:

Post a Comment