Visitor

Saturday, January 23, 2016

Menjaga Kesehatan Telinga Itu Penting

Dear Bloggers,

Kalian tahu tidak betapa pentingnya kesehatan telinga itu? Ternyata, ini sangat berpengaruh pada kehidupan kita sehari-hari lho. Walaupun terdengar sepele, coba perhatikan kisahku berikut ini.


Beberapa bulan yang lalu, aku mengikuti medical check up yang rutin diadakan kantorku setiap setahun sekali. Semua pemeriksaan kesehatan mulai dari bagian kepala, telinga, mata, hidung, gigi, tubuh, hingga bagian perut lengkap dilakukan. Setelah hasilnya keluar, aku cukup kaget karena dokter mengatakan bahwa pendengaranku di bawah normal—yang dengan catatan “tuli sedang”.

Pantas saja, aku merasa memang pendengaranku tidak begitu bagus. Dan sepertinya ini terjadi sejak aku kecil. Bayangkan, aku tidak pernah datang ke dokter THT selain waktu medical check up saja. Umurku sudah 23 tahun dan bisa dikatakan aku tidak pernah tahu keadaan telingaku sebenarnya selama ini. Namun, yang aku sadari akhir-akhir ini memang ketika ada orang lain yang bicara denganku, terkadang aku merasa samar-samar. Lalu aku pikir suaranya dia saja yang terlalu kecil dan karenanya aku tidak bisa jangkau ucapannya. Ternyata, ini adalah kesalahan diriku sendiri yang tidak mau peduli dengan kesehatan telinga.

Semenjak hasil medical check up keluar, aku mulai wanti-wanti untuk menjaga kesehatan dari atas kepala sampai bawah kaki. Selama sebulan lebih aku memeriksakan telingaku yang ‘bermasalah’ ini ke Rumah Sakit di Jakarta. Tapi karena waktuku hanya senggang di hari Sabtu dan Minggu, sepertinya aku akan memilih Rumah Sakit lain yang bisa menerima pasien pekerja kantoran.

Datanglah aku ke dokter di Rumah Sakit Swasta di bilangan Jakarta Barat yang dokternya (alhamdulillah) perempuan. Waktu pemeriksaan pertama kali dilakukan di hari Senin, pukul 7 malam. Kala itu aku sempat dikatakan, “Wah, ini sih bukan kotoran biasa.” ujarnya. Aku takut bukan main. Mungkin saat itu aku sudah gemetar karena membayangkan akan sangat sulit mengeluarkan kotoran yang tersumbat di dalam telingaku. Duh, gimana ini. Tapi dokternya sangat baik dan meyakinkan aku kalau sekeras apa pun kotoran yang ada di dalam telinga pasti bisa dikeluarkan dengan atau tidak rasa sakit. Jujur saja, aku cukup kagum dengan semua alat kedokteran dan fasilitas yang begitu meyakinkan.

Setelah berkonsultasi, akhirnya dokter memberikanku obat tetes kuping yang dipakai dua kali sehari dengan takaran yang ada. Hari Jumat aku kembali lagi ke Rumah Sakit untuk proses penyedotan. Tapi ada yang aneh. Aku merasa selama 4 hari tersebut telingaku semakin ‘budek’. Rasa-rasanya, semua kotoran yang ada di dalam telingaku ini malah bertambah padat. Walau begitu, aku tetap berjuang selama 4 hari tanpa bisa mendengar dengan jelas. Hanya 30% saja suara yang terdengar dari sekitarku.

Sebegitu parahnya keadaan telingaku yang sebenarnya sampai-sampai dokter pun berkata kalau ini bukan kotoran yang biasa. Aku pikir setelah itu akan sangat sulit untuk diangkat. Tapi, aku terus optimis dan yakin Allah pasti sembuhkan. Ya, walau ini mungkin terdengar sepele, tapi kalau kalian merasakan ‘budek’ seperti aku selama 4 hari itu pasti tidak akan nyaman deh. Bayangkan saja, anggap pendengaran kalian itu seperti pengang dan banyak sumpelan yang membuat kalian hanya bisa mendengar suara orang yang benar-benar ada di sebelah kalian saja. Jangan harap ada orang yang teriak dari jarak 5 meter bisa terdengar di telinga aku pada saat itu.

Awal-awalnya, dokter mencoba untuk membersihkan telingaku dengan semprotan air. Setelah itu, disedot dengan alat yang aku sendiri tidak berani melihat bentuknya seperti apa—mungkin mirip dengan pipa kecil panjang yang bisa masuk di lubang telinga paling dalam sekali pun. Kemudian, aku merasa agak gatal dan perih sedikit waktu kotoranku disedot oleh alat tersebut. Terakhir, dokter mengambil alat congkel yang menurutku cukup mengerikan untuk mencabut kotoran yang ada di dalam telingaku. Agak sakit sih, tapi aku tahan. Dan kalian tahu tidak apa yang aku dengar setelah telingaku dibersihkan?

Suaraku sendiri!

Lho?

Iya, jadi selama ini aku tidak pernah mendengar dengan jelas bagaimana suara asliku. Aku hanya bisa mendengar suara orang lain walau ya, tadi, samar-samar.

Aku merasa aneh dengan ‘pendengaran baru’ ini. Alhamdulillah, bahkan aku bisa mendengar perbincangan orang-orang yang jauh ada di ujung sana. Aku malah merasa aneh. Jadi, pendengaran yang bersih dan sehat itu rasanya seperti ini ya? Aku melihat di layar komputer canggih milik dokter perbedaan sebelum kotoran di telingaku terangkat dan setelahnya.

Nah, lewat cerita ini semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua untuk lebih berhati-hati lagi pada panca indera kita sendiri ya. Jangan anggap mentang-mentang telinga ini, mentang-mentang hidung ini, lalu tidak mau merawat atau minimal dijaga kebersihannya. Pesan dari dokter akan selalu kuingat. Aku tidak mau lagi memakai alat pembersih telinga yang terbuat dari besi. Memang kotorannya lebih mudah terambil semua dibandingkan cutton bud, tapi gara-gara kebiasaanku itu jadinya berpengaruh di pendengaranku. Begini loh rasanya ‘budek’ bertahun-tahun.


Sekian dulu artikel hari ini semoga bermanfaat buat kalian semua.

No comments:

Post a Comment