Visitor

Sunday, January 10, 2016

Hello, Bloggers I'm Back!

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh.



Alhamdulillah, akhirnya sempat juga aku untuk update blog ini. Aku mulai sibuk dengan pekerjaanku, jadi belum sempat aktif di dunia blog lagi. Artikel yang terakhir kutulis juga belum sempat kuselesaikan. Aku benar-benar merindukan waktu bisa bersama laptop dan ide-ide menulis lebih dari 12 jam. Sekarang, aku mau pergunakan waktu yang ada dengan baik.

Anyway, akhir-akhir ini aku sering merasa kecapean dan kurang bisa meluangkan waktu untuk meng-istirahatkan pikiran dan badan. Makanya, terkadang aku sangat butuh untuk menulis sesuatu yang bermanfaat di blog. Beneran deh, mau dibaca sama orang lain atau engga, menulis itu sudah jadi penyemangat sendiri buat aku yang kadang masih suka moody-an. Di saat mood menulisku tinggi seperti sekarang, ditambah lagi internet yang kenceng abis, biasanya aku ga bisa menolak untuk tidak beranjak dari laptop aku. Apalagi, sekarang aku sedang di kamar dan seorang diri. Aku benar-benar ngerasa ingin banyak bercerita di sini.

Terkadang, ketika sedang menulis seorang diri, semua yang ingin disampaikan mengalir begitu saja tanpa ada jeda. Aku sudah berkali-kali gagal menulis cerita pendek, cerita bersambung, cerita dramatis, novel, puisi abal-abal, sajak sok-sok romantis, artikel serius, sampai karya ilmiah yang beneran sistematis. Apa pun itu sudah membuat aku senang dan terhibur walau tidak seorang pun memuji tulisan aku. Tapi kali ini, aku berpikir pada hal yang lain.

Beberapa tahun yang lalu, aku sempat penasaran untuk buat satu blog (ya, lagi-lagi ini tentang blog) yang memang bahasanya sangat bertolak belakang dengan bahasa ibuku. Mumpung aku lagi belajar bahasa ini, kenapa tidak aku latihan menulis di sana. Pikirku begitu. Jujur aja, bahasa yang sedang dan akan terus kupelajari ini memang tidak begitu memiliki tingkat kesulitan yang tinggi seperti bahasa Arab. Tapiiiiiii, banyak hal yang bisa kupetik hikmahnya selama aku belajar bahasa ini.

Pertama, dari bahasa Jepang, aku belajar untuk tidak menyerah pada tulisan-tulisan keriting yang membuatku harus memutar otak apa artinya Kanji ini. Kalau aku sudah menyerah, mungkin aku tidak akan pernah berpikir untuk masuk di perusahaan Jepang ya, hehehe. Dari tulisan-tulisan cacing yang sebenarnya cantik itu aku belajar untuk percaya pada kekuatan diri sendiri. Buktinya, aku pernah kok belajar bener-bener dan akhirnya bener-bener bisa lulus dengan sangat baik. Walaupun sebelumnya aku pernah dikasih nilai 0 sama dosen aku. See? Everyone can change to be a better person. 

Kedua, dari orang Jepang, aku bisa belajar untuk melihat satu objek pada dua sisi. Tidak melulu melihat dari segi luarnya yang kelihatan buruk atau sebaliknya. Apa yang kita lihat dari luar, tidak selamanya baik di dalam dan tidak selamanya buruk di dalam. Oleh sebab itu, jangan pernah mengira orang atau sesuatu yang kita kenal awalnya baik bisa terus baik pada kita. 

Ketiga, dari budaya Jepang, aku bisa belajar untuk menghargai perbedaan, baik itu dalam hal menerima masukan atau pendapat atau hal lainnya yang bisa diambil nilai positifnya. Kita tidak mungkin terus-menerus mempertahankan pendapat kita yang kita anggap benar. Tentunya kita harus mendengar orang lain. Dari seribu kepala pasti akan menghasilkan seribu ide yang berbeda-beda. Dari situlah, semua masalah akan mulai terbuka jalan keluarnya.

Nah, kira-kira seperti itulah penjabaranku mengenai energi positif yang aku terima selama belajar di kampus, di kantor maupun dengan orang Jepangnya langsung. Berhubung sekarang relasiku sudah melulu tentang Jepang, jadi aku akan coba untuk jabarkan di postingan berikutnya tentang kehidupan mereka di Indonesia, ya. Sebenarnya sangat seru untuk dianalisa dan kebetulan aku juga ada kenalan baik yang sudah cukup lama tinggal di Jakarta but keep acting as a Japanese. Oke, sekian dulu dari aku. Kalau ada waktu dan internet yang tersambung ke laptop aku, aku akan coba sesegera mungkin update blog. See ya!




Wassalam

No comments:

Post a Comment