Visitor

Wednesday, January 20, 2016

Book Review

REVIEW BUKU
JANGAN PERNAH MENYERAH

by Aldilla D. Wijaya




Judul                         :           Sebab Allah Bersama Kita – Jangan Pernah Menyerah!
Penulis                      :           Aldilla D. Wijaya
Penerbit                    :           Qultum Media
ISBN                          :           979-017-326-1
Jumlah halaman      :           201 halaman
Cetakan                    :           Ketiga, Desember 2015


Bismillah.


Ketika membaca buku karya Aldilla D. Wijaya yang berjudul “Jangan Pernah Menyerah” seketika mengingatkan saya pada perjalanan hijrah saya di tahun 2013 lalu. Seperti yang tertulis di hal. 3,

“Tak ada alasan untuk berjalan, dan tak ada alasan untuk berhenti. Kita seperti tak punya pilihan. Kita berjalan hanya karena keadaan. Let it flow. Tak ada yang salah dengan istilah let it flow, cuma ya jangan keterusan mengikuti arus, karena kita sama-sama tahu hanya ikan yang mati yang selalu terbawa arus.”

Ketika memutuskan untuk berhijrah, maka banyak hal yang harus ditinggalkan di masa lalu. Kehidupan ini memang akan terus berjalan dan tidak berhenti pada satu titik. Namun yang menjadi tolak ukur keberhasilan kita untuk berhijrah atau tidak adalah kemauan dan usaha dari diri kita sendiri. Karena pada saatnya nanti, kita akan kembali kepada Allah. Oleh karena itu, hidup kita ini harus terarah dan jangan biarkan keadaan membuat kita berjalan sayup-sayup seperti tidak punya tujuan yang pasti.


Kalau hidup sekadar hidup, babi hutan juga hidup. Kalau kerja sekadar kerja, kera juga bekerja.
- Buya Hamka -


Inilah yang membedakan kita dengan hewan. Kita sebagai manusia diberikan kelebihan khusus yang tidak serupa dengan hewan. Tidakkah kita ingin hidup yang Allah anugerahkan sekali saja di dunia ini menjadi hidup yang berkualitas, penuh berkat dan rahmat dari-Nya?

Manusia yang terjebak dalam ambisi duniawi akan sulit untuk meninggalkan atribut keduniawian sehingga merugilah ia bersama waktu. Oleh sebab itu, berhijrah mulai dari sekarang dan mulai dari diri kita sendiri toh tidak ada salahnya. Seperti yang disampaikan oleh penulis, “Jika tidak sekarang, kapan kita berubah?”

Setiap proses yang menghasilkan perubahan positif tentunya akan menjadikan hidup kita jauh lebih baik dari sebelumnya. Saya menyimpulkan dari keseluruhan isi buku Sebab Allah Bersama Kita, Jangan Pernah Menyerah! bahwa ada beberapa poin penting yang perlu diperhatikan ketika kita memutuskan untuk berhijrah—dan butir-butir tersebut adalah:


Rajin mencari ilmu Allah

Sejak kecil kita sudah disekolahkan oleh orangtua kita agar ilmu yang didapatkan bermanfaat untuk diri kita sendiri, keluarga, orang lain, maupun agama. Betul tidak? Orangtua mana yang ingin anaknya hidup tanpa ilmu dan pembelajaran dari sekolah maupun lembaga agama? Begitu pun juga jika kita ingin ‘dekati’ Allah, kita sangat perlu untuk menuntut ilmu di majelis agama.


Niat dan tekad yang kuat

Kalau kita hanya membayangkan melakukan sesuatu ini sesuatu itu adalah susah, maka hasilnya adalah nol besar. Kita akan sulit mencapai keberhasilan. Begitu pula yang dipaparkan penulis bahwa untuk menghancurkan dinding yang membuat kita tidak bisa berubah adalah dengan azimah atau tekad yang kuat. Allah akan senantiasa memperhatikan setiap langkah yang kita lewati dan Allah pasti akan memberikan cobaan di waktu-waktu kita mulai menginjak dinding yang sudah dihancurkan tadi.


“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman” sedang mereka tidak diuji lagi?”
(QS. Al-Ankabut [29]: 2)


Perhatikan teman-teman pergaulan

“Seseorang itu akan mengikuti agama temannya, karenanya hendaklah salah seorang di antara kalian mencermati dengan siapa ia berteman.”
(HR. Tirmidzi)

Kita memang dianjurkan untuk berbuat baik tanpa memandang bulu. Tapi untuk urusan akhirat, kita perlu mem-filter dengan siapa kita akan bergaul. Karena ini akan sangat mempengaruhi kebiasaan dan perilaku kita di lingkungan tersebut.


Belajar dari pengalaman orang-orang yang berubah

Dari setiap kisah hidup para nabi, ulama-ulama besar, dan orang-orang yang terdahulu menyisakan beberapa pelajaran yang dapat kita ambil hikmahnya. Seperti kisah akhir kehidupan Fir’aun yang tenggelam di laut karena ingin mengejar pasukan Nabi Musa yang sudah diselamatkan Allah terlebih dahulu.


Jangan lelah untuk berdoa

Keinginan yang kuat akan menghasilkan energi yang kuat pula apabila kita mampu mempertahankan dan meningkatkan doa kita setiap harinya. Dan energi tersebut dapat menyambungkan antara keinginan kita dengan dikabulkannya doa. Anggaplah seorang perokok yang ingin berhenti merokok, pernahkah ia meminta kepada Allah agar dihilangkan dari kebiasaan buruk tersebut?


Isi ulang iman kita dengan rutin datang ke majelis taklim

Sama seperti mobil yang bensinnya harus diisi ulang, layaknya iman di hati kita ini juga perlu di recharge agar bisa kembali ‘sehat’ dan mampu menjalani aktivitas penuh untuk mengejar surganya Allah. 

Nah, kalau sudah masuk dalam tahap yang lebih dalam, proses hijrah kita ini rasanya tidak akan afdol kalau tidak bisa mengoptimalkan ibadah secara keseluruhan. Tidak usah muluk-muluk, untuk di awal-awal sebaiknya kita coba untuk sempurnakan ibadah wajib saja dulu. Karena yang wajib tidak akan pernah berubah menjadi sunnah sedangkan sunnah bagi sebagian orang mukmin sudah menjelma menjadi kegiatan yang diwajibkan. Jika kita sudah mampu bertahan dalam ibadah wajib, barulah kita tingkatkan dengan menjalankan ibadah yang sunnah seperti menjaga wudhu, shalat tahajud, shalat dhuha dan puasa senin-kamis. Kemudian, dibarengi dengan tadabbur Al-Qur’an yang menjadi perpaduan yang sangat baik dalam step kita menuju satu tangga lagi untuk semakin ‘dekat’ dengan Allah.

“Bila engkau ingin mengambil manfaat dari Al-Qur’an maka hadirkanlah hatimu saat membaca dan mendengarkannya.”
- Ibnu Qayyim -



Bagaimana caranya agar tetap istiqamah?

Abu Bakar ra: “Hendaknya kamu tidak menyekutukan Allah dengan apa pun juga.”
Umar bin Khattab ra: “Hendaknya kita bertahan dalam satu perintah atau larangan, tidak berpaling, seperti berpalingnya seekor musang.”
Utsman bin Affan ra: “Istiqamah artinya ikhlas.”
Ali bin Abi Thalib ra: “Istiqamah adalah melaksanakan kewajiban.”
Ibu Abbas ra: “Istiqamah mengandung 3 macam arti yaitu istiqamah dengan lisan (bertahan terus mengucapkan kalimat syahadat), istiqamah dengan hati (terus melakukan niat yang jujur), dan istiqamah dengan jiwa (senantiasa melaksanakan ibadah dan ketaatan secara terus-menerus).
Ar-Raaghib: “Tetap berada di atas jalan yang lurus.”
Imam An-Nawawi: “Tetap dalam ketaatan.”
Mujahid: “Istiqamah adalah komitmen terhadap syahadat tauhid sampai bertemu dengan Allah.”
Ibnu Taimiah: “Mereka beristiqamah dalam mencintai dan beribadah kepada-Nya tanpa menoleh kiri dan kanan.”

Semua pemaparan mengenai arti kata istiqamah di atas dapat disimpulkan yaitu kekonsistenan seseorang dalam berbuat kebaikan yang terus-menerus tanpa memikirkan balasan yang akan diterimanya—dalam artian ikhlas.

Hal yang menarik bagi saya dari paparan penulis dalam proses keistiqamahan tersebut adalah dengan menjadikan kebaikan tersebut sebagai habit atau kebiasaan yang akan sering dilakukan. Sehingga hal ini bukanlah lagi kewajiban yang menjadi beban kita melainkan sudah melekat dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, jika tidak shalat dhuha sebelum berangkat kerja rasanya seperti belum sarapan pagi sehingga bawaannya lemas saja.



Jangan Pernah Menyerah!

Sesuai dengan judulnya “Jangan Pernah Menyerah”, saya mewakilkan penulis dalam buku motivasi ini untuk menyebarkan energi positif kepada semua pembaca untuk tidak menyerah pada rintangan apa pun yang sedang kalian hadapi hari ini maupun di hari yang akan datang. Kita juga bisa analogikan ketika kita sedang memanah maupun melompat jauh, yang harus dilakukan justru mundur beberapa langkah untuk menghasilkan panahan yang tepat pada sasaran dan lompatan yang indah. Begitu juga penulis menggambarkan tentang arti kegagalan.

Seseorang yang sukses dan dikenal oleh khalayak luas mengalami ribuan kali kegagalan yang membawa mereka memahami bagaimana caranya menghargai sebuah proses. Andai saja Thomas Alva Edison berhenti di tengah-tengah eksperimennya, ia tidak akan sampai pada penemuan bola pijar yang siap pakai. Jika saja Soekarno menyerah ketika dibuang penjajah Belanda, mungkin ia tidak akan menjadi pemimpin yang mempersatukan Indonesia. Kalau saja Einstein putus asa ketika berada di titik terendah hidupnya, ia tidak akan menjadi ilmuwan besar abad ke-20.

Semua tergantung kita.
Semua tergantung kemauan kita, usaha kita, doa kita.
Bangkit jika gagal, bangkit lagi jika gagal lagi.

Begitulah kira-kira penulis memberikan banyak kalimat motivasi yang sangat mempengaruhi saya selaku pembaca awam yang masih terus belajar hingga saat ini dan nanti. Menurut saya, kalian yang ingin berhijrah secara totalitas sangat perlu membaca buku ini. Semakin terjun ke dalamnya, maka akan semakin jatuh cinta saja pada proses indah dibalik hijrahnya. Semoga kita diberi kemampuan untuk bisa istiqamah seperti penulis, dan Allah senantiasa memberikan kita hidayah agar tetap berada di jalan-Nya yang lurus. Aamiin.


------


Tentang Penulis

Aldilla Dharma Wijaya, lahir dan besar di Kediri sejak 21 Juni 1991. Mengaku merasa terlahir kembali pada saat ulang tahunnya yang ke-22, setelah beberapa bulan mengalami pengalaman spiritual dalam hidupnya.

Setelah hidayah datang, ia pun berhijrah dan memilih untuk menebar kebaikan di jalan dakwah. Baginya, visi adalah segalanya. Kini, ia sedang berjuang merintis visinya, yaitu revolusi penyebaran Islam di dunia.

Laki-laki yang kini masih tercatat sebagai mahasiswa Magister Kenotariatan, Universitas Brawijaya, ini percaya bahwa melalui tangannya, Allah akan menuntunnya untuk mewujudkan visi tersebut, dan berkontribusi bagi kebaikan umat Islam.

No comments:

Post a Comment