Visitor

Saturday, January 23, 2016

Menjaga Kesehatan Telinga Itu Penting

Dear Bloggers,

Kalian tahu tidak betapa pentingnya kesehatan telinga itu? Ternyata, ini sangat berpengaruh pada kehidupan kita sehari-hari lho. Walaupun terdengar sepele, coba perhatikan kisahku berikut ini.


Beberapa bulan yang lalu, aku mengikuti medical check up yang rutin diadakan kantorku setiap setahun sekali. Semua pemeriksaan kesehatan mulai dari bagian kepala, telinga, mata, hidung, gigi, tubuh, hingga bagian perut lengkap dilakukan. Setelah hasilnya keluar, aku cukup kaget karena dokter mengatakan bahwa pendengaranku di bawah normal—yang dengan catatan “tuli sedang”.

Pantas saja, aku merasa memang pendengaranku tidak begitu bagus. Dan sepertinya ini terjadi sejak aku kecil. Bayangkan, aku tidak pernah datang ke dokter THT selain waktu medical check up saja. Umurku sudah 23 tahun dan bisa dikatakan aku tidak pernah tahu keadaan telingaku sebenarnya selama ini. Namun, yang aku sadari akhir-akhir ini memang ketika ada orang lain yang bicara denganku, terkadang aku merasa samar-samar. Lalu aku pikir suaranya dia saja yang terlalu kecil dan karenanya aku tidak bisa jangkau ucapannya. Ternyata, ini adalah kesalahan diriku sendiri yang tidak mau peduli dengan kesehatan telinga.

Semenjak hasil medical check up keluar, aku mulai wanti-wanti untuk menjaga kesehatan dari atas kepala sampai bawah kaki. Selama sebulan lebih aku memeriksakan telingaku yang ‘bermasalah’ ini ke Rumah Sakit di Jakarta. Tapi karena waktuku hanya senggang di hari Sabtu dan Minggu, sepertinya aku akan memilih Rumah Sakit lain yang bisa menerima pasien pekerja kantoran.

Datanglah aku ke dokter di Rumah Sakit Swasta di bilangan Jakarta Barat yang dokternya (alhamdulillah) perempuan. Waktu pemeriksaan pertama kali dilakukan di hari Senin, pukul 7 malam. Kala itu aku sempat dikatakan, “Wah, ini sih bukan kotoran biasa.” ujarnya. Aku takut bukan main. Mungkin saat itu aku sudah gemetar karena membayangkan akan sangat sulit mengeluarkan kotoran yang tersumbat di dalam telingaku. Duh, gimana ini. Tapi dokternya sangat baik dan meyakinkan aku kalau sekeras apa pun kotoran yang ada di dalam telinga pasti bisa dikeluarkan dengan atau tidak rasa sakit. Jujur saja, aku cukup kagum dengan semua alat kedokteran dan fasilitas yang begitu meyakinkan.

Setelah berkonsultasi, akhirnya dokter memberikanku obat tetes kuping yang dipakai dua kali sehari dengan takaran yang ada. Hari Jumat aku kembali lagi ke Rumah Sakit untuk proses penyedotan. Tapi ada yang aneh. Aku merasa selama 4 hari tersebut telingaku semakin ‘budek’. Rasa-rasanya, semua kotoran yang ada di dalam telingaku ini malah bertambah padat. Walau begitu, aku tetap berjuang selama 4 hari tanpa bisa mendengar dengan jelas. Hanya 30% saja suara yang terdengar dari sekitarku.

Sebegitu parahnya keadaan telingaku yang sebenarnya sampai-sampai dokter pun berkata kalau ini bukan kotoran yang biasa. Aku pikir setelah itu akan sangat sulit untuk diangkat. Tapi, aku terus optimis dan yakin Allah pasti sembuhkan. Ya, walau ini mungkin terdengar sepele, tapi kalau kalian merasakan ‘budek’ seperti aku selama 4 hari itu pasti tidak akan nyaman deh. Bayangkan saja, anggap pendengaran kalian itu seperti pengang dan banyak sumpelan yang membuat kalian hanya bisa mendengar suara orang yang benar-benar ada di sebelah kalian saja. Jangan harap ada orang yang teriak dari jarak 5 meter bisa terdengar di telinga aku pada saat itu.

Awal-awalnya, dokter mencoba untuk membersihkan telingaku dengan semprotan air. Setelah itu, disedot dengan alat yang aku sendiri tidak berani melihat bentuknya seperti apa—mungkin mirip dengan pipa kecil panjang yang bisa masuk di lubang telinga paling dalam sekali pun. Kemudian, aku merasa agak gatal dan perih sedikit waktu kotoranku disedot oleh alat tersebut. Terakhir, dokter mengambil alat congkel yang menurutku cukup mengerikan untuk mencabut kotoran yang ada di dalam telingaku. Agak sakit sih, tapi aku tahan. Dan kalian tahu tidak apa yang aku dengar setelah telingaku dibersihkan?

Suaraku sendiri!

Lho?

Iya, jadi selama ini aku tidak pernah mendengar dengan jelas bagaimana suara asliku. Aku hanya bisa mendengar suara orang lain walau ya, tadi, samar-samar.

Aku merasa aneh dengan ‘pendengaran baru’ ini. Alhamdulillah, bahkan aku bisa mendengar perbincangan orang-orang yang jauh ada di ujung sana. Aku malah merasa aneh. Jadi, pendengaran yang bersih dan sehat itu rasanya seperti ini ya? Aku melihat di layar komputer canggih milik dokter perbedaan sebelum kotoran di telingaku terangkat dan setelahnya.

Nah, lewat cerita ini semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua untuk lebih berhati-hati lagi pada panca indera kita sendiri ya. Jangan anggap mentang-mentang telinga ini, mentang-mentang hidung ini, lalu tidak mau merawat atau minimal dijaga kebersihannya. Pesan dari dokter akan selalu kuingat. Aku tidak mau lagi memakai alat pembersih telinga yang terbuat dari besi. Memang kotorannya lebih mudah terambil semua dibandingkan cutton bud, tapi gara-gara kebiasaanku itu jadinya berpengaruh di pendengaranku. Begini loh rasanya ‘budek’ bertahun-tahun.


Sekian dulu artikel hari ini semoga bermanfaat buat kalian semua.

Wednesday, January 20, 2016

Book Review

REVIEW BUKU
JANGAN PERNAH MENYERAH

by Aldilla D. Wijaya




Judul                         :           Sebab Allah Bersama Kita – Jangan Pernah Menyerah!
Penulis                      :           Aldilla D. Wijaya
Penerbit                    :           Qultum Media
ISBN                          :           979-017-326-1
Jumlah halaman      :           201 halaman
Cetakan                    :           Ketiga, Desember 2015


Bismillah.


Ketika membaca buku karya Aldilla D. Wijaya yang berjudul “Jangan Pernah Menyerah” seketika mengingatkan saya pada perjalanan hijrah saya di tahun 2013 lalu. Seperti yang tertulis di hal. 3,

“Tak ada alasan untuk berjalan, dan tak ada alasan untuk berhenti. Kita seperti tak punya pilihan. Kita berjalan hanya karena keadaan. Let it flow. Tak ada yang salah dengan istilah let it flow, cuma ya jangan keterusan mengikuti arus, karena kita sama-sama tahu hanya ikan yang mati yang selalu terbawa arus.”

Ketika memutuskan untuk berhijrah, maka banyak hal yang harus ditinggalkan di masa lalu. Kehidupan ini memang akan terus berjalan dan tidak berhenti pada satu titik. Namun yang menjadi tolak ukur keberhasilan kita untuk berhijrah atau tidak adalah kemauan dan usaha dari diri kita sendiri. Karena pada saatnya nanti, kita akan kembali kepada Allah. Oleh karena itu, hidup kita ini harus terarah dan jangan biarkan keadaan membuat kita berjalan sayup-sayup seperti tidak punya tujuan yang pasti.


Kalau hidup sekadar hidup, babi hutan juga hidup. Kalau kerja sekadar kerja, kera juga bekerja.
- Buya Hamka -


Inilah yang membedakan kita dengan hewan. Kita sebagai manusia diberikan kelebihan khusus yang tidak serupa dengan hewan. Tidakkah kita ingin hidup yang Allah anugerahkan sekali saja di dunia ini menjadi hidup yang berkualitas, penuh berkat dan rahmat dari-Nya?

Manusia yang terjebak dalam ambisi duniawi akan sulit untuk meninggalkan atribut keduniawian sehingga merugilah ia bersama waktu. Oleh sebab itu, berhijrah mulai dari sekarang dan mulai dari diri kita sendiri toh tidak ada salahnya. Seperti yang disampaikan oleh penulis, “Jika tidak sekarang, kapan kita berubah?”

Setiap proses yang menghasilkan perubahan positif tentunya akan menjadikan hidup kita jauh lebih baik dari sebelumnya. Saya menyimpulkan dari keseluruhan isi buku Sebab Allah Bersama Kita, Jangan Pernah Menyerah! bahwa ada beberapa poin penting yang perlu diperhatikan ketika kita memutuskan untuk berhijrah—dan butir-butir tersebut adalah:


Rajin mencari ilmu Allah

Sejak kecil kita sudah disekolahkan oleh orangtua kita agar ilmu yang didapatkan bermanfaat untuk diri kita sendiri, keluarga, orang lain, maupun agama. Betul tidak? Orangtua mana yang ingin anaknya hidup tanpa ilmu dan pembelajaran dari sekolah maupun lembaga agama? Begitu pun juga jika kita ingin ‘dekati’ Allah, kita sangat perlu untuk menuntut ilmu di majelis agama.


Niat dan tekad yang kuat

Kalau kita hanya membayangkan melakukan sesuatu ini sesuatu itu adalah susah, maka hasilnya adalah nol besar. Kita akan sulit mencapai keberhasilan. Begitu pula yang dipaparkan penulis bahwa untuk menghancurkan dinding yang membuat kita tidak bisa berubah adalah dengan azimah atau tekad yang kuat. Allah akan senantiasa memperhatikan setiap langkah yang kita lewati dan Allah pasti akan memberikan cobaan di waktu-waktu kita mulai menginjak dinding yang sudah dihancurkan tadi.


“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman” sedang mereka tidak diuji lagi?”
(QS. Al-Ankabut [29]: 2)


Perhatikan teman-teman pergaulan

“Seseorang itu akan mengikuti agama temannya, karenanya hendaklah salah seorang di antara kalian mencermati dengan siapa ia berteman.”
(HR. Tirmidzi)

Kita memang dianjurkan untuk berbuat baik tanpa memandang bulu. Tapi untuk urusan akhirat, kita perlu mem-filter dengan siapa kita akan bergaul. Karena ini akan sangat mempengaruhi kebiasaan dan perilaku kita di lingkungan tersebut.


Belajar dari pengalaman orang-orang yang berubah

Dari setiap kisah hidup para nabi, ulama-ulama besar, dan orang-orang yang terdahulu menyisakan beberapa pelajaran yang dapat kita ambil hikmahnya. Seperti kisah akhir kehidupan Fir’aun yang tenggelam di laut karena ingin mengejar pasukan Nabi Musa yang sudah diselamatkan Allah terlebih dahulu.


Jangan lelah untuk berdoa

Keinginan yang kuat akan menghasilkan energi yang kuat pula apabila kita mampu mempertahankan dan meningkatkan doa kita setiap harinya. Dan energi tersebut dapat menyambungkan antara keinginan kita dengan dikabulkannya doa. Anggaplah seorang perokok yang ingin berhenti merokok, pernahkah ia meminta kepada Allah agar dihilangkan dari kebiasaan buruk tersebut?


Isi ulang iman kita dengan rutin datang ke majelis taklim

Sama seperti mobil yang bensinnya harus diisi ulang, layaknya iman di hati kita ini juga perlu di recharge agar bisa kembali ‘sehat’ dan mampu menjalani aktivitas penuh untuk mengejar surganya Allah. 

Nah, kalau sudah masuk dalam tahap yang lebih dalam, proses hijrah kita ini rasanya tidak akan afdol kalau tidak bisa mengoptimalkan ibadah secara keseluruhan. Tidak usah muluk-muluk, untuk di awal-awal sebaiknya kita coba untuk sempurnakan ibadah wajib saja dulu. Karena yang wajib tidak akan pernah berubah menjadi sunnah sedangkan sunnah bagi sebagian orang mukmin sudah menjelma menjadi kegiatan yang diwajibkan. Jika kita sudah mampu bertahan dalam ibadah wajib, barulah kita tingkatkan dengan menjalankan ibadah yang sunnah seperti menjaga wudhu, shalat tahajud, shalat dhuha dan puasa senin-kamis. Kemudian, dibarengi dengan tadabbur Al-Qur’an yang menjadi perpaduan yang sangat baik dalam step kita menuju satu tangga lagi untuk semakin ‘dekat’ dengan Allah.

“Bila engkau ingin mengambil manfaat dari Al-Qur’an maka hadirkanlah hatimu saat membaca dan mendengarkannya.”
- Ibnu Qayyim -



Bagaimana caranya agar tetap istiqamah?

Abu Bakar ra: “Hendaknya kamu tidak menyekutukan Allah dengan apa pun juga.”
Umar bin Khattab ra: “Hendaknya kita bertahan dalam satu perintah atau larangan, tidak berpaling, seperti berpalingnya seekor musang.”
Utsman bin Affan ra: “Istiqamah artinya ikhlas.”
Ali bin Abi Thalib ra: “Istiqamah adalah melaksanakan kewajiban.”
Ibu Abbas ra: “Istiqamah mengandung 3 macam arti yaitu istiqamah dengan lisan (bertahan terus mengucapkan kalimat syahadat), istiqamah dengan hati (terus melakukan niat yang jujur), dan istiqamah dengan jiwa (senantiasa melaksanakan ibadah dan ketaatan secara terus-menerus).
Ar-Raaghib: “Tetap berada di atas jalan yang lurus.”
Imam An-Nawawi: “Tetap dalam ketaatan.”
Mujahid: “Istiqamah adalah komitmen terhadap syahadat tauhid sampai bertemu dengan Allah.”
Ibnu Taimiah: “Mereka beristiqamah dalam mencintai dan beribadah kepada-Nya tanpa menoleh kiri dan kanan.”

Semua pemaparan mengenai arti kata istiqamah di atas dapat disimpulkan yaitu kekonsistenan seseorang dalam berbuat kebaikan yang terus-menerus tanpa memikirkan balasan yang akan diterimanya—dalam artian ikhlas.

Hal yang menarik bagi saya dari paparan penulis dalam proses keistiqamahan tersebut adalah dengan menjadikan kebaikan tersebut sebagai habit atau kebiasaan yang akan sering dilakukan. Sehingga hal ini bukanlah lagi kewajiban yang menjadi beban kita melainkan sudah melekat dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, jika tidak shalat dhuha sebelum berangkat kerja rasanya seperti belum sarapan pagi sehingga bawaannya lemas saja.



Jangan Pernah Menyerah!

Sesuai dengan judulnya “Jangan Pernah Menyerah”, saya mewakilkan penulis dalam buku motivasi ini untuk menyebarkan energi positif kepada semua pembaca untuk tidak menyerah pada rintangan apa pun yang sedang kalian hadapi hari ini maupun di hari yang akan datang. Kita juga bisa analogikan ketika kita sedang memanah maupun melompat jauh, yang harus dilakukan justru mundur beberapa langkah untuk menghasilkan panahan yang tepat pada sasaran dan lompatan yang indah. Begitu juga penulis menggambarkan tentang arti kegagalan.

Seseorang yang sukses dan dikenal oleh khalayak luas mengalami ribuan kali kegagalan yang membawa mereka memahami bagaimana caranya menghargai sebuah proses. Andai saja Thomas Alva Edison berhenti di tengah-tengah eksperimennya, ia tidak akan sampai pada penemuan bola pijar yang siap pakai. Jika saja Soekarno menyerah ketika dibuang penjajah Belanda, mungkin ia tidak akan menjadi pemimpin yang mempersatukan Indonesia. Kalau saja Einstein putus asa ketika berada di titik terendah hidupnya, ia tidak akan menjadi ilmuwan besar abad ke-20.

Semua tergantung kita.
Semua tergantung kemauan kita, usaha kita, doa kita.
Bangkit jika gagal, bangkit lagi jika gagal lagi.

Begitulah kira-kira penulis memberikan banyak kalimat motivasi yang sangat mempengaruhi saya selaku pembaca awam yang masih terus belajar hingga saat ini dan nanti. Menurut saya, kalian yang ingin berhijrah secara totalitas sangat perlu membaca buku ini. Semakin terjun ke dalamnya, maka akan semakin jatuh cinta saja pada proses indah dibalik hijrahnya. Semoga kita diberi kemampuan untuk bisa istiqamah seperti penulis, dan Allah senantiasa memberikan kita hidayah agar tetap berada di jalan-Nya yang lurus. Aamiin.


------


Tentang Penulis

Aldilla Dharma Wijaya, lahir dan besar di Kediri sejak 21 Juni 1991. Mengaku merasa terlahir kembali pada saat ulang tahunnya yang ke-22, setelah beberapa bulan mengalami pengalaman spiritual dalam hidupnya.

Setelah hidayah datang, ia pun berhijrah dan memilih untuk menebar kebaikan di jalan dakwah. Baginya, visi adalah segalanya. Kini, ia sedang berjuang merintis visinya, yaitu revolusi penyebaran Islam di dunia.

Laki-laki yang kini masih tercatat sebagai mahasiswa Magister Kenotariatan, Universitas Brawijaya, ini percaya bahwa melalui tangannya, Allah akan menuntunnya untuk mewujudkan visi tersebut, dan berkontribusi bagi kebaikan umat Islam.

Tuesday, January 12, 2016

my glasses

Assalamu'alaikum.



Maafkan kerandoman postingan kemarin. Aku hanya lagi benar-benar 'penat' dengan segala aktivitas yang sedang kulakukan sekarang. Anyway, hari ini aku ingin bahas mengenai kacamata. Kebetulan, beberapa waktu yang lalu aku sempat melakukan medical check up. Alhamdulillah tidak ada penyakit yang parah. Tapi satu yang buat aku rada lemas waktu itu. Minus mataku naik lagi -- tidak perlu aku sebutkan ya berapa. Tapi yang jelas ini sangat berpengaruh ke pekerjaan dan kegiatanku nanti kalau tidak benar-benar bisa menjaga kesehatan mata. 

Karena berhubung aku belum sempat upgrade lensa kacamata, jadi mau tidak mau sementara aku pakai kontak lens saja dulu -- walaupun sebenarnya kurang bagus ya. Aku memilih untuk membeli lens yang tidak berwarna alias transparan. Kalau pakai yang transparan, biasanya aku jauh lebih percaya diri karena tidak kelihatan 'menor' alias natural. Tapi dari sekian banyak dan beberapa kali membeli lens yang mahal sekalipun, jujur saja aku tetap lebih nyaman menggunakan kacamata. Glasses is one of my favorite thing that I should wear.


But everyone look around me and said, you better take off of your glasses. 

Monday, January 11, 2016

just missing Him




do you know a feeling while you're sleeping but you feel like He talked to you and said "wake up, it's time for tahajud" and then you keep sleeping.





i just need some time for me and Him. i just wanna talk more with You.






i just... missing You, Allah.




How I Came to Islam by Meryem

Read this. I was cried a little while I read this.

2013 was nothing short of miraculous.
I would never have imagined at the start of 2013 that by the end of 2013 I would be speaking and writing about God in my life. I remember myself even looking at the really pious Christians and thinking how could religion be even a topic they can get so passionate about? I couldn’t ever see myself putting God on top of anything else. Life was more important, wasn’t it? But here I am, at the start of 2014, and I am recounting my story in the hope that I might inspire others to begin seeking their own journey to, and with God.

God’s Intervention

Let’s just say I have never been an active participant in church. There had been many unfortunate events littering my teenage years that made me skeptical (I shall not recall that), eventually I just became a Sunday church-goer, and God was pretty much non-existent from my life (or so I thought). Well, he did shake me up a little once or twice, but never once did I find it strong enough to start making Him my priority.
A hopeless case like me would never have read the Bible or remembered God unless I needed something. I was spiraling downhill but I didn’t know it. I needed to turn back. God pushed me in the only way He could think possible. And that was through S. It all started as a curious question to him and for the sake of starting a conversation, “tell me about your religion.” Because all I knew of Muslims at that point of time was of women who had to wear hijabs and clothes that weren’t suitable for Singapore’s hot weather, halal food, and fasting. I don’t even know why I was also afraid when I asked the question, just as I thought it was offensive that I should talk about alcohol or pigs in front of Muslims, or accidentally disturb them when they are praying. One word to describe what I’d think of Muslims- strictness. It surprises me now why I was so focused on the superficial aspect of their practices, and never once asking about who this “Allah” was that was making them do all this.
And when I found out who this Allah was, the same God that had grown up with me, the One True Creator, I was shocked. Not shocked at the newfound realization, but shocked that I had never bothered to realize it until then. All these while I had thought that Christianity, though imperfect, was surely the right religion because our God was present in his miracles throughout all history, from Adam to Abraham to Moses to Jesus. It simply didn’t occur to me that there would be another religion apart from Christianity that spoke about this same God, or the same Adam, Abraham, Moses and Jesus.

Reading the Quran for the First Time

Well just for curiosity’s sake I decided to download a Quran app for some light reading, and to be honest it wasn’t very light at all. I got quite a culture-shock (or should I say, religion-shock)  as I went through the first few verses of Al-Baqara as every few sentences would warn of punishment and Hellfire if you didn’t pray, or if you disbelieve, or if you commit sins. It was definitely a far cry from the Bible’s interesting storybook-like writing style.
So I remember asking S, why does the Quran sound so scary? His simple answer to me, “Shouldn’t God’s Word be like that?” I was completely baffled. I had this implanted idea that God’s Word should be like a history book (like how the Bible is) to tell us events, miracles and recorded texts from people who lived from that period so that we would read and believe. Not a book which stated rule after rule like an authoritative parent (which I eventually found to be not the case, but more on that later). So I stopped reading the Quran, and the app lay forgotten (for a while) in the depths of my Google Play Store.

Back to True Monotheism

Yet God wasn’t done with me. The questions I had since I was younger (but never bothered to ask) started to resurface, one of which was about the Trinity. And this time, I had answers. True, logical answers in Islam that no matter how much I wanted to doubt, I could not. But still I was stubborn, I could not see how the Bible could be corrupted over time and translation, and I still wanted to seek answers from the Christian perspective. I still believed the Bible was all truth. And with lots of pushing from S (“Read your bible. Isn’t God the most important in your life?”), slowly, I started to read my Bible. From start to end.
I read it with my own basic understanding, and with full conviction that every sentence was true and uncorrupted. I read it without looking for underlying metaphorical meanings. And as I read, the Truth became clearer and clearer (I won’t go through these here, I’ve already covered them in previous posts). Yes, just with the Bible and my simple understanding, the Truth was apparent. Jesus did not call us to worship him, he called us to worship God. Not once did I see a trace of the Trinity in the Bible (stop linking up patterns!). So I read more, history articles (where I could be sure there were no bias), a few Christian sites which actually talked about the history of the Trinity concept (they were hard to find, but I could be sure they wouldn’t say things which would be detrimental to the faith). I spoke to nuns, to priests, to my parents. And the answer simply wasn’t there. History never lies, and analogies can never win logic. Deep down inside, the answer was simple and direct, everything pointed to it.
I could no longer hypocritically say I was Catholic, because I was essentially rejecting the basis that made Christianity/Catholicism different from Islam, and that was believing in Jesus as God. Yet I was afraid to declare it openly, because my family and relatives were all staunch Catholics, renouncing my faith would cause nothing but chaos. And at that point of time, I had no other religion to turn to, as I did not know enough of Islam to be convinced of it as well. So for a period, I became a closet monotheist (belief in One God). I still went to Church, but for once I began listening to what I was reciting. And I took my own stand in stopping myself from reciting the things that I could not bring myself to believe, which was anything other than declaring and worshipping God as One God. Not Jesus, not Holy Spirit, but God alone. And my unwavering belief in this One God brought me through this period of uncertainty in my life, Alhamdulillah.

How Could You Abandon Jesus?

Then came the “how could you abandon Jesus!” self-imposed battle. Frankly abandoning Jesus was the last thing that I could even imagine myself doing. I believed that even as I saw Jesus as another of God’s servants and not God, I still would be following Jesus’s ways and not become a follower of anyone else.
I even looked at a sect within Christianity (Jehovah’s witnesses) which was essentially a restoration of  the original Christian beliefs before the implementation of the Trinity doctrine. But deep down I knew it wouldn’t work for me, because just as I needed to satisfy my need for understanding before faith, I also needed the continuing development of the faith that would come after. I was looking for structure.
Then I remember one day when I was at Orchard with S and his friend and we went to Masjid Al-Falah for them to do their prayers, I was sitting outside and as I waited, I started reading the posters placed outside the mosque. One of them wrote of who Jesus was to Muslims (Frankly I don’t know why I don’t ask S these kind of questions, would have been easier, right? But somehow getting my answers from so many other sources give my journey so much more meaning, and is truly a sign of God’s intervention in my life, Alhamdullilah.) And the poster spoke of how Jesus was as important and as loved as Prophet Muhammed (s.a.w) as one of God’s messengers. Can’t exactly remember the contents of the poster now but I knew it was one of the most important messages to me to wake me up from my misconceptions about Islam and start to find out more.

Starting from Scratch… and Isolation

I was starting from scratch, I didn’t know where to start, and like many other people, my idea of what Islam was came from vague impressions formed by 9/11, the Iraq war, really everything about violence. I didn’t understand why women wore the hijabs or the niqabs (where only the eyes could be seen), I even thought Islam made women inferior to men. Looking back now I am astounded at how much negativity and misinformation one can get just by being uninterested in the subject. I guess this was also one of the reasons why I was reluctant to even put a toe towards the path of Islam (though it felt so right).
But eventually I did put that toe in. I read the Quran again (just the translated version for now, until I learn my Arabic insyaAllah). I saw Adam, Nuh (Noah), Musa (Moses). I saw Maryam (Mary). And I saw my beloved Isa (Jesus). I read the beautiful Christmas story that I had grown up with, it was there. Every single story that had grown up with me as a child was also in the Quran. Where was the violence? Where was the oppression of women? There was none. In fact, it was all the opposite. I’d very much want to talk about all this, but my post is becoming the length of two essays so I’ll just try to cut the story short.
There were so many things that was going on during this period of discovery of Islam. Looking back now, everything seemed like a perfectly planned out syllabus, directed by God. When I had doubts or questions I didn’t realise I had, I found answers from the places I’d least expect. When I needed comfort, I came across beautiful poems from Rumi. When I felt terribly alone, I found friendship and support pouring in from existing friends, even strangers.
Yet I wasn’t handling it very well on the side of my parents, because there was not just one but two issues we had to deal with, and that was with regards to my discovery about Islam, and the other was about S. When I finally broke the news to them, there were nights, weeks and months of crying, heated arguments, weary faces. Eventually I dreaded going home, and when I did, my door became a shield. I hadn’t been the best daughter, but this totally took the cake. Yet I did not know how else to react because… no one would understand, unless they too went through it. To others, I’d just seem like I converted just for S’s sake, because well, being so passionately involved in finding God simply isn’t something most people would do, unless they were really pious to begin with (and I wasn’t). Even explaining myself to my closest friends, I still felt judged. And so I decided to withdraw behind my wall of isolation.

Support

Then I joined Darul Arqam, where I met people who, like me, were sincerely searching and deepening their faith. Everyone there knew that it didn’t matter the story of who brought us there because it was the path to the Truth, and there was no reason to judge God’s way of bringing us to it. Through listening to the stories of the other converts, some who converted on their own, my wall dissolved, bit by bit.
God sent me a miracle through one of my aunts, whom I had previously feared of telling my story because she had a strong story of her journey to God in her Catholic faith, and was a counsellor and social worker in her working days. Yet God knew I needed someone close to both me and my parents, and I was positively shocked at her responses as I told her my story. She never judged, she understood, and even as I still withdrew into my shell, she made me see that I was never alone, and that there would always be love from everyone close to me. And most of all, it didn’t matter whether my religion was Catholic, Christian, Judaism or Islam, the most important was that I had found God through it.
(To my parents: I have brought you much pain throughout the past year, and I cannot say how sorry I am for the times I have acted distant and aloof. Please do not judge Islam based on my actions, and I thank you from the greatest depth of my heart for the magnitude of understanding and acceptance of my choice of path in life. I will always  be there for you as your daughter, and I pray to our God, the God we both know, for you.)

Coming Together

People have told me that the search for God should take a few years, but frankly, can you even put a time frame to such a thing? Becoming a muslim is simple. One just has to declare their belief that there is no other God but God alone, and that Prophet Muhammed (s.a.w) is His Messenger. And believing in Prophet Muhammed (s.a.w) as God’s messenger was also recognizing all the other Messengers who came before him, and that God had been sending them throughout all of history to spread His Word and save us. That to me, was ultimately the most amazing and indicative proof of God’s love for mankind.
There was no big revelation, or dreaming of a bright light, or a deep voice telling me to just do it. It was simple, I just knew I had to say out what was in my heart. I remember when I said it, the azan (call to prayer) was sounding in the background. It was pure coincidence, but I felt it was God’s way of welcoming me to the start of my journey with Him.

This is the Start.

Is it not amazing that God, our Maker, knows us so well that his ways of communicating is so different and unique to each of us? And who are we to judge on the path he has chosen to lead us to?
My journey with God will forever be indicated by my Muslim name, Meryem, after Mary the mother of Jesus. It is meaningful to me because it is the link that harmonizes the teachings of Islam and Christianity, and likewise, I have never abandoned Jesus in reverting to Islam.
There will always be more challenges along the way, and I know I am definitely not a perfect example of a Muslim, but I pray my journey with Him will never stop, and my iman (faith) will grow over time insyaAllah. Just as God brought people to me to guide me to the Truth, I hope that I too can guide others to the Truth, and not limit themselves to the labels of religion.
And as Angel Jibraeel (Gabriel) said to the Prophet,
“Read! Read in the Name of God who created thee…”
likewise, i implore you to read. Because eventually, there is nothing to lose. There is all to gain.
Alhamdulillah! Praise be to God.

Sunday, January 10, 2016

Hello, Bloggers I'm Back!

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh.



Alhamdulillah, akhirnya sempat juga aku untuk update blog ini. Aku mulai sibuk dengan pekerjaanku, jadi belum sempat aktif di dunia blog lagi. Artikel yang terakhir kutulis juga belum sempat kuselesaikan. Aku benar-benar merindukan waktu bisa bersama laptop dan ide-ide menulis lebih dari 12 jam. Sekarang, aku mau pergunakan waktu yang ada dengan baik.

Anyway, akhir-akhir ini aku sering merasa kecapean dan kurang bisa meluangkan waktu untuk meng-istirahatkan pikiran dan badan. Makanya, terkadang aku sangat butuh untuk menulis sesuatu yang bermanfaat di blog. Beneran deh, mau dibaca sama orang lain atau engga, menulis itu sudah jadi penyemangat sendiri buat aku yang kadang masih suka moody-an. Di saat mood menulisku tinggi seperti sekarang, ditambah lagi internet yang kenceng abis, biasanya aku ga bisa menolak untuk tidak beranjak dari laptop aku. Apalagi, sekarang aku sedang di kamar dan seorang diri. Aku benar-benar ngerasa ingin banyak bercerita di sini.

Terkadang, ketika sedang menulis seorang diri, semua yang ingin disampaikan mengalir begitu saja tanpa ada jeda. Aku sudah berkali-kali gagal menulis cerita pendek, cerita bersambung, cerita dramatis, novel, puisi abal-abal, sajak sok-sok romantis, artikel serius, sampai karya ilmiah yang beneran sistematis. Apa pun itu sudah membuat aku senang dan terhibur walau tidak seorang pun memuji tulisan aku. Tapi kali ini, aku berpikir pada hal yang lain.

Beberapa tahun yang lalu, aku sempat penasaran untuk buat satu blog (ya, lagi-lagi ini tentang blog) yang memang bahasanya sangat bertolak belakang dengan bahasa ibuku. Mumpung aku lagi belajar bahasa ini, kenapa tidak aku latihan menulis di sana. Pikirku begitu. Jujur aja, bahasa yang sedang dan akan terus kupelajari ini memang tidak begitu memiliki tingkat kesulitan yang tinggi seperti bahasa Arab. Tapiiiiiii, banyak hal yang bisa kupetik hikmahnya selama aku belajar bahasa ini.

Pertama, dari bahasa Jepang, aku belajar untuk tidak menyerah pada tulisan-tulisan keriting yang membuatku harus memutar otak apa artinya Kanji ini. Kalau aku sudah menyerah, mungkin aku tidak akan pernah berpikir untuk masuk di perusahaan Jepang ya, hehehe. Dari tulisan-tulisan cacing yang sebenarnya cantik itu aku belajar untuk percaya pada kekuatan diri sendiri. Buktinya, aku pernah kok belajar bener-bener dan akhirnya bener-bener bisa lulus dengan sangat baik. Walaupun sebelumnya aku pernah dikasih nilai 0 sama dosen aku. See? Everyone can change to be a better person. 

Kedua, dari orang Jepang, aku bisa belajar untuk melihat satu objek pada dua sisi. Tidak melulu melihat dari segi luarnya yang kelihatan buruk atau sebaliknya. Apa yang kita lihat dari luar, tidak selamanya baik di dalam dan tidak selamanya buruk di dalam. Oleh sebab itu, jangan pernah mengira orang atau sesuatu yang kita kenal awalnya baik bisa terus baik pada kita. 

Ketiga, dari budaya Jepang, aku bisa belajar untuk menghargai perbedaan, baik itu dalam hal menerima masukan atau pendapat atau hal lainnya yang bisa diambil nilai positifnya. Kita tidak mungkin terus-menerus mempertahankan pendapat kita yang kita anggap benar. Tentunya kita harus mendengar orang lain. Dari seribu kepala pasti akan menghasilkan seribu ide yang berbeda-beda. Dari situlah, semua masalah akan mulai terbuka jalan keluarnya.

Nah, kira-kira seperti itulah penjabaranku mengenai energi positif yang aku terima selama belajar di kampus, di kantor maupun dengan orang Jepangnya langsung. Berhubung sekarang relasiku sudah melulu tentang Jepang, jadi aku akan coba untuk jabarkan di postingan berikutnya tentang kehidupan mereka di Indonesia, ya. Sebenarnya sangat seru untuk dianalisa dan kebetulan aku juga ada kenalan baik yang sudah cukup lama tinggal di Jakarta but keep acting as a Japanese. Oke, sekian dulu dari aku. Kalau ada waktu dan internet yang tersambung ke laptop aku, aku akan coba sesegera mungkin update blog. See ya!




Wassalam