Visitor

Thursday, July 2, 2015

kehidupan di jepang part 1

Kerja di Jepang enak ya, gajinya "gede". Ngga kaya di Indonesia, gajinya rendah.

Yakin?


Sebagai mahasiswi Sastra Jepang jurusan Budaya, saya wajib banget belajar dan memahami budaya Jepang akhir-akhir ini (re: budaya pop). Begitu pun juga waktu saya suka sharing sama sahabat saya, Akane, yang baru saja menjadi shakaijin atau pekerja kantoran di Jepang. Istilah shakaijin di sini menggambarkan bahwa orang tersebut telah mengalami metamorfosa dari mahasiswa menjadi pekerja. Dan kehidupan yang sebenarnya baru akan dimulai setelah menjadi shakaijin.

Kalian tahu ngga? Rata-rata pekerja di Jepang mendapatkan gaji per bulan sebesar 200.000 - 400.000 yen lho! Jika dirupiahkan menjadi Rp. 20.000.000 - Rp. 40.000.000. Besar? Ya, kalau dipakai untuk hidup di Indonesia sangat besar. Masalahnya, kita ngga bisa membandingkan gaji dan biaya hidup di Jepang dengan gaji dan biaya hidup di Indonesia. 

Ketika saya bertanya ke sahabat saya tentang gaji orang Jepang, rupanya yang kita bilang "gede" itu buat mereka biasa saja. Nih ya, bagi yang sudah punya mobil ada biaya pajak per bulan yang berkisar 10.000 yen atau Rp. 1.000.000, tergantung merk sih. Lalu, biaya internet di smartphone sekitar 10.000 yen juga atau Rp. 1.000.000 per bulan. Lalu, mereka yang sudah bekerja di perusahaan, setiap hari, setiap jam makan siang selalu berkumpul bersama teman maupun senior di perusahaan yang sama. Pertanyaan saya pada saat itu, "Kalau kamu bawa bekal dari rumah, misalnya bento gitu. Kan jauh lebih hemat daripada harus setiap hari makan di kantin." Ya, memang tidak ada masalah sih kalau mau bawa bekal dari rumah. Tapi inilah budaya. Orang Jepang sangat segan untuk "berbeda" dari kelompoknya. Perasaan yang ngga enak itu yang membuat mereka mau ngga mau, suka ngga suka harus ngikut sama tradisi Jepang. Kalau dihitung-hitung, sekali makan di restoran kira-kira 1000 - 2000 yen per orang atau Rp. 100.000 - Rp. 200.000. Itu juga tergantung sama pilihan menu makanannya. Kalau ikan dan daging biasanya lebih mahal. Kalau cuma sayur sedikit lebih murah. Berarti, sebulan bisa menghabiskan kira-kira 30.000 yen atau Rp. 3.000.000 untuk makan siang saja. 

Kalau dari sudut pandang orang Indonesia, sayang juga ya sebulan untuk makan siang saja menghabiskan Rp. 3.000.000, kan uangnya bisa ditabung. Tapi sayangnya, orang Jepang ngga bisa seperti itu. Sekalipun mereka sedang tiris pun akan tetap memaksakan diri makan bersama kerabat kerja karena budaya yang sudah lekat di masyarakat Jepang.

Nah, kalau kita hitung-hitung biaya hidup per bulan para shakaijin ini belum ditambah tax, mungkin kita akan kaget sendiri. Rupanya, gaji yang Rp. 20.000.000 - Rp. 40.000.000 itu benar-benar cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan sesekali berbelanja sepatu atau baju di toko.

Jadi, saran saya, jangan pernah membandingkan gaji yang besar itu dengan biaya hidup di Indonesia. Karena keduanya saling bertolak belakang. Kita tahu biaya hidup di Indonesia tidak segila di Jepang. Mau makan murah, bergizi, ada. Mau makan mahal, bergizi, ada. Mau makan sedang-sedang saja juga banyak. Itulah yang membuat orang Jepang tertarik dengan Indonesia. Unik dan merupakan salah satu tempat yang nyaman untuk ditinggali. 

Selain pekerja kantoran, ada juga pekerja part time atau baito. Gajinya berapa ya kira-kira? 

Bagi orang Jepang, pekerja baito itu gajinya sangat rendah. Karena pekerja baito ini sebenarnya hanya cocok untuk mahasiswa yang masih kuliah. Lumayan untuk mengisi uang jajan. Tapi kalau sudah menjadi shakaijin dan punya tanggung jawab yang lebih besar, jangan berharap bisa bertahan hidup hanya dengan mengandalkan baito. Apalagi mereka digaji dengan gaji per jam. Rata-rata sekitar 700 - 1000 yen atau Rp. 70.000 - Rp. 100.000 per jam. Sebulan bisa dapat 50.000 - 70.000 yen atau Rp. 5.000.000 - Rp. 7.000.000.

Ohya, untuk lebih lengkapnya, saya ada artikel tentang bagaimana biaya hidup di Jepang, silakan cek ya: 


https://ppichiba.wordpress.com/2011/01/27/biaya-di-jepang-mahal/

http://blog.gaijinpot.com/gpod-11-cost-living-tokyo/#comment-1701141120


Sebagai simpulannya, kita memang wajib banget, kudu bersyukur jadi orang Indonesia yang tinggal di Indonesia. Kenapa? Persentase orang yang bunuh diri karena stres dari pekerjaan maupun biaya hidup tidak tinggi. Beda di Jepang, banyak orang yang meninggal ataupun bunuh diri karena sudah tidak kuat lagi hidup di Jepang. Pekerjaan menyiksa mereka setiap hari, belum lagi harus memenuhi kebutuhan rumah tangga bagi yang sudah menikah dan memiliki anak. Didesak lagi oleh budaya Jepang yang harus "meninggikan" atasan, tidak boleh berkata "tidak" pada atasan, mengikuti semua aturan dan kemauan "atasan", sehingga berbohong menjadi hal yang biasa bagi masyarakat Jepang. Nama budayanya adalah tatemae. Kebalikannya honne.

Saya sama sahabat saya itu selalu menerapkan budaya honne. Saya bukan orang Jepang, dan selamanya saya akan tetap menjadi warga negara Indonesia. Oleh sebab itu, saya tidak akan menerapkan tatemae selama saya masih tinggal di Indonesia. Mungkin itulah mengapa orang Jepang akan sangat terkejut bergaul dengan orang Indonesia yang jujurnya kebangetan, hehehe.

Sekian ulasan saya mengenai gaji dan biaya hidup di Jepang. Sampai bertemu di artikel berikutnya, ya.

Wednesday, July 1, 2015

belajar bahasa

Salaam everyone.


Hari ini tepat masuk tanggal 1 Juli ya. Tidak terasa memang waktu itu cepat sekali berlalunya, ya. Ngomong-ngomong, mumpung lagi ada waktu senggang, aku mau update blog lagi. Entah kenapa ya, blogku ini tuh udah jadi sesuatu yang menempel di aku banget. Aku register blog ini dari tahun 2008, jadi kerasa banget kalau zaman baheula dulu tuh masih suka alay-alay-nya nge-blog. Untungnya sih sudah kuhapus, hihi. Dan ngomongin soal blog, aku pengen cerita sedikit mengenai belajar bahasa. Mungkin postingan selanjutnya akan sering aku update mengenai pembelajaran bahasa. Yap, aku mau belajar bahasa lain lagi. Belum berani ke Eropa sih, baru Asia dulu, hehe. Aku lagi persiapan untuk les bahasa Korea, nih.

Jadi, ceritanya, aku punya sahabat macam sahabat dunia maya gitu. Namanya Aci. Dia ini udah kedoktrin banget sama hal-hal yang berbau Korea. Akhirnya Aci ambil les dan ikut ujian bahasa Korea. Menurutku sih, Korea ga sulit untuk dipelajari. Apalagi cara menulisnya. Lebih susah Jepang loh. Aci udah jago banget dan udah punya beberapa anak murid. Kebetulan, aku juga seorang guru les private. Muridku ada 3. Jadi setiap minggu aku selalu menyempatkan buat soal dan materi. Lumayan sih kalau jadi guru itu, jadi belajar lagi.

Beberapa waktu lalu, Aci cerita sama aku kalau dia sama teman-temannya mau pergi ke Jepang. Tapi masalahnya Aci ngga bisa bahasa Jepang sama sekali. Mungkin ini bukan kebetulan ya, ini udah qodarullah, aku nawarin Aci untuk les sama aku. Aci langsung kegirangan. Terus, aku coba tanya ke Aci apa dia bisa ngajarin aku bahasa Korea atau ngga? Ternyata kita sama-sama guru les private, Yaudah deh, akhirnya kita berencana untuk tukeran ilmu di bulan Agustus mendatang, insyaAllah. Aku perlu persiapan matang untuk belajar percakapan Korea setidaknya, siapatahu Allah mengizinkan aku berangkat ke sana dengan gratis, hehehe.

Karena Aci mau ngajarin aku bahasa Korea, biaya lesnya jadi gratis. Dan kami berencana belajar selama 4 jam kurang lebih. Istirahat mungkin 15 menit cukup ya. Aku jadi ngga sabar untuk buat materi baru karena Aci benar-benar buta huruf Jepang. Ya, beginilah aku. Selalu suka sama pelajaran bahasa. Dari dulu. Dari kecil bahkan. Kalau kita menguasai bahasa asing, aku yakin deh, akan sangat mudah kita untuk jalan-jalan keliling dunia tanpa harus takut tersesat atau dibohongi orang. Setidaknya, pada saat kita belajar bahasa, perhatikan juga pelajaran tentang budaya. Dua hal itu penting. Kalau kita cuma ngandelin bahasa tanpa mengenal budaya, kita bisa di-'injak' sama mereka secara ngga langsung. Tapi kalau kita kenal keduanya, setidaknya kita bisa was-was sama cultureshock.


Segitu saja ceritaku hari ini. Nanti disambung lagi ya.