Visitor

Saturday, April 18, 2015

it's difficult to understand japanese

Assalamu'alaikum pals :)




Hari ini aku akan bercerita sedikit mengenai sulitnya mengerti dan memahami orang Jepang. Sebenarnya sih, bagian terpenting dari mata kuliah budaya di kampus itu adalah bagaimana kita bisa mempraktikkan ilmunya ketika berbicara atau berhubungan langsung dengan orang Jepang. Misalnya, kita mengerti budaya A, begitu kita punya teman orang Jepang, kita bisa mempraktikkan budaya A itu sebagai salah satu pembuktian kalau kita memang pernah belajar budaya Jepang.

Mengenai budaya itu sendiri, rasanya ga afdol kalau kita cuma belajar dari buku, dosen, atau dari internet. Beberapa bulan yang lalu, aku berkenalan dengan seorang teman dari Jepang namanya Akane. Dia ini partner language-ku. Kita banyak sharing tentang budaya (karena kebetulan aku mahasiswi budaya), selain itu aku juga memperkenalkan budaya Indonesia yang menurut dia aneh luar biasa karena dia baru pertama kali tahu tentang Indonesia. Ya wajar sih. Bagi orang Jepang, budaya Indonesia itu benar-benar berbeda dengan negaranya sendiri. Aku memaklumkan keadaan itu karena aku juga banyak belajar budaya. Tapi, hanya ada satu hal yang belum bisa aku mengerti dan aku terima sampai sekarang ini. Hal itu pun yang aku tanyakan ke Akane.


"Aku ngga ngerti kenapa orang Jepang itu suka sekali bekerja. Bahkan sampai ada budaya karoshi atau mati karena kelelahan bekerja. Bagiku, mungkin, bagi kami orang Indonesia, bekerja itu memang wajar untuk memenuhi kebutuhan hidup, apalagi sebagai kepala keluarga. Tapi, bekerja dan uang itu kan bukan segalanya. Kalau sampai sakit, terus meninggal, yang sedih kan juga keluarga yang ditinggalkan. Kenapa orang Jepang ngga bisa punya pemikiran seperti itu? Kenapa mereka juga terlalu mendahulukan kepentingan bersama (perusahaan), bahkan di saat 'sekarat' pun, apa mereka masih harus memikirkan urusan pekerjaan daripada dirinya sendiri?"


Akane pun menjawab dengan singkat, "Me, too. Understanding Japanese is difficult."


Beberapa kali di sela-sela percakapan kami, aku berkata, "Apa dengan menjadi orang Jepang harus punya 'topeng' untuk ditunjukkan kepada orang Jepang lainnya?"


"Yes. That's possible to being a mask man somehow."


Benar sih. Jepang itu sangat menghargai hasil karya orang lain, ucapan, dan bahkan sangat menjaga perasaan sesamanya. Untuk menjadi manusia Jepang yang sesungguhnya, kita kudu tahu dulu aturan-aturan ketika 'bermain' sama orang Jepang. Waktu itu Akane pernah cerita sama aku bahwa dia hampir ngga pernah berkata 'enggak' ke orang Jepang ketika diajak jalan atau pergi ke suatu tempat. Walaupun ya, pada saat itu dia benar-benar sedang tidak mau melakukan hal tersebut. Malas, katanya. Tapi kata 'malas' itu jika diucapkan akan jadi sangat tidak sopan. Mau bagaimana lagi, itulah Jepang. Penuh dengan 'topeng'. Walaupun awalnya sih dengan niat untuk menjaga perasaan sesama orang Jepang. Tapi buat orang Indonesia, jujur itu lebih baik, bukan?

Pernah aku diceritakan juga sama dosen budayaku. Beliau ini pernah bertanya ke tamu Jepang yang pada saat itu sedang homestay di rumah beliau. 


"Kamu benar-benar mau ikut ke pesta pernikahan saudaraku? Jauh dan akan sangat capek loh."


"Ah, tidak apa-apa. Saya tidak akan capek kok. Pasti akan menyenangkan."


Beberapa jam kemudian setelah sampai di pesta pernikahan. Si orang Jepang ini bercucuran keringat dan hampir pingsan. Di saat-saat seperti itu, si orang Jepang ini berkata, "Ah, aku sangat menikmati pesta ini."


Aku mengacungkan jempol buat orang Jepang pada kasus ini. 


Berhubung aku masih tinggal di Indonesia, tentu aku mau lebih banyak menerapkan budaya Indonesia dan sampai kapan pun aku ngga mau jadi orang asing. Cukup tahu dan paham bagaimana budaya Jepang dan menangani beberapa kasus budaya, buatku itu sudah sangat wajar. Tidak perlu juga menjadi orang lain yang bukan diri kita sendiri. Hal-hal baik yang bisa kita tiru dari Jepang, jadikan pelajaran, jadikan contoh. Sebaliknya, hal-hal kurang baik dari Jepang tidak perlu kita contoh. 

Sebenarnya, punya teman orang Jepang itu menyenangkan. Cuma terkadang, kita butuh banyak bersabar dan berkorban untuk mengalah. Dalam hal ini, aku selalu mengalah untuk terus memakai bahasa mereka dan menerapkan budaya mereka ketika sedang bersama mereka. Tapi, berbeda ketika aku main sama teman-temanku yang orang Indonesia, aku hanya akan menerapkan budaya Indonesia dengan bahasa yang biasa sehari-hari aku gunakan. Hal ini bukan berarti orang yang belajar bahasa dan budaya asing menjadi punya dua karakter yang berbeda ketika mereka switch bahasa. Kata Akane, aku tetap menjadi aku yang orang Indonesia walaupun di saat aku berbicara sama dia dengan bahasa Jepang. Yang membedakan hanyalah suasananya. Memang kelihatan seperti orang lain pada saat aku berbicara bahasa Indonesia dengan orang Indonesia di depan Akane. Tapi, untuk karakter asli, sifat, watak dan kebiasaan aku, walaupun pakai bahasa Indonesia maupun Jepang aku tetap menjadi Lidya yang ia kenal, begitu katanya.

Menyenangkan bukan punya pengalaman seperti ini?

Sulit memang untuk mengerti keseluruhan pola pikir dan budaya Jepang. Bertahun-tahun belajar pun aku masih sering bertanya-tanya. Dan satu hal yang menurut orang Jepang itu menyenangkan atau mungkin hal yang tidak bisa dipercaya, yaitu ketika mereka bisa berbicara jujur di depan orang asing (orang luar). Aku pernah meminta kepada Akane untuk berterus terang jika memang ada hal yang tidak dia suka. Dan lucunya, dia terlampau jujur di depan aku sampai-sampai aku pernah sakit hati dibuatnya, hehehe. Tapi ini sakit hati yang ringan kok. Mungkin, karena ini baru pertama kali aku punya teman dekat orang Jepang dan begitu kami dekat, kok malah semakin ke sini semakin mirip orang Indonesia yang blak-blak-an ngomongnya. Seru. Dan ini adalah hal yang paling menyenangkan dari semua mata kuliah budaya Jepang di kampus.


Dan, kalian tahu ngga?


Walaupun orang Jepang sudah berpuluh-puluh tahun tinggal di Indonesia, sampai kapan pun mereka akan tetap mengaku dirinya sebagai Japanese. Walaupun 95% budaya Jepang sudah tidak lagi diterapkan olehnya, mereka tetap akan menjadi Japanese sampai mati. Aku dan Akane masih memakai kabe atau tembok yang menekankan bahwa aku orang Indonesia, kamu orang Jepang. Tapi bukan berarti, dengan adanya hal tersebut membuat kita tidak bisa menjadi sahabat buat mereka. Justru dengan adanya tembok tersebut, perbedaan yang ada akan jadi banyak pelajaran penting buat kita. At least, kita bisa belajar menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing, bukan hanya dari segi watak asli tapi juga budaya yang berbeda yang terkadang kita tidak bisa menerimanya. 



Sekian dulu tulisanku hari ini. Mudah-mudahan bisa disambung lagi nanti dengan tema yang berbeda dan tentunya tetap berbagi pengalaman ya. Dan buat teman-teman yang punya cita-cita belajar di Jepang, satu pesanku saja untuk kalian: pelajarilah bahasa Jepang dan pertajamlah kemampuan bahasa Inggris kalian. Karena orang Jepang sulit menerima orang asing yang tidak bisa bahasa Jepang, mereka jauh lebih mempertimbangkan kita yang bisa bahasa Jepang daripada yang hanya mampu berbicara bahasa Inggris. Apalagi yang bisa dua bahasa tersebut. Semangat ya :)

Sebagai penutup, aku mau kasih kata-kata, nih.



"Janganlah Jepang, keliling dunia pun akan sangat memungkinkan jika kamu selalu meminta dan hanya yakin kepada Allah."



Wassalamu'alaikum.