Visitor

Thursday, February 26, 2015

nowadays

Sejak 8 Februari 2015 kemarin, Mamaku pergi ke Pekanbaru menemui kakak perempuanku karena baru saja melahirkan bayi laki-laki yang alhamdulillah sehat. Mau tidak mau, ya aku harus mau, hehe. Aku tinggal sendirian saja di rumah, Mama sudah cukup lama juga di Pekanbaru. Tapi syukurlah, aku sudah tidak ada kuliah lagi dan aku hanya tinggal menyelesaikan skripsiku saja. Sekarang-sekarang ini, aku juga sedang disibukkan oleh pekerjaan baruku. Bukan fulltimer sih, tapi ini pengalaman yang seru banget buatku.

Aku sama Mama akrab banget. Bahkan kamar saja berdua loh. Tapi sekarang aku sudah semakin dewasa dan aku harus bisa mandiri. Mulai dari membersihkan rumah, kamar, menyapu, mengepel, bersihkan kamar mandi, cuci baju, setrika baju, jemur baju, cuci beras, masak nasi, beli beras begitu habis, ke pasar belanja, dan masih banyak lagi kegiatan aku di rumah tanpa Mama. Semua itu seakan jadi lesson buat aku. Aku menganggap ini bukan beban. Justru malah anugerah. Nantinya akan sangat bermanfaat kalau aku menikah nanti.

Ngomong-ngomong, dari sekian banyak pekerjaan rumah yang aku kerjakan, ternyata yang paling sulit itu memasak ya. Aku pernah loh masak nasi goreng dan rasanya aneh-aneh gitu. Entahlah apanya yang salah. Tapi rasanya itu malah bikin mual. Ya Allah, maafkan aku.

Anyway, aku sekarang lagi di restoran dekat rumah yang ada wifi-nya. Aku kangen banget nulis blog. Rasanya kayak sudah bertahun-tahun ngga pernah nulis blog lagi. Kalau ada waktu, aku akan sempatkan untuk cerita lebih banyak lagi.




Sekian, sampai jumpa lagi ya.


Wassalam

Untitled

Assalamu'alaikum wr. wb.



Alhamdulillah, akhirnya di awal tahun 2015 ini aku bisa menyempatkan untuk meng-updated isi blogku yang kebanyakan notabene curhat sepertinya, hehe. Banyak sekali sebenarnya yang ingin diceritakan, tapi kupikir akan lebih baik jika kita kerucutkan saja isi tulisannya dengan satu tema yang konkrit. Hari ini aku mau sedikit memberikan opiniku mengenai isu yang sedang marak akhir-akhir ini. Ya, ini berkaitan erat dengan agamaku--Islam.

Beberapa pekan lalu, aku sempat berdiskusi dengan sahabat-sahabatku yang mayoritas warga negara Jepang, ada juga sih yang orang Indonesia. Bahasa penghantar kami hanya bahasa Jepang dan sedikit Inggris. Mereka belum fasih berbahasa Indonesia, jadi mau tidak mau harus kami yang mengalah. Perihal mengenai isu ISIS yang sedang naik daun, rupanya di Jepang sendiri ternyata banyak media yang mengembor-gemborkan berita tersebut. Dan mayoritas, hantai--tidak setuju.

Mengapa?

Jelas mereka tidak suka dengan keberadaan ISIS, karena ISIS telah membunuh 2 warga Jepang yang "katanya" tidak bersalah. Oleh karena warga Jepang memang sangat setia satu sama lain, mereka merasa dirugikan oleh kelompok ISIS tersebut. Dan sejak saat itulah nama Islam di mata orang Jepang semakin buruk. Mungkin bukan hanya Jepang, tapi di negara-negara lainnya. 

Pertanyaan demi pertanyaan muncul. Aku dan sahabatku mencoba untuk menjelaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman. Beruntunglah sahabat kami yang orang Jepang itu bisa memahami keadaan Islam sesungguhnya. Mereka tahu betul, bahwa Islam bukan agama yang menjerumuskan pada perkelahian apalagi pembunuhan. Semua masalah ini pasti ada akarnya dan penyebabnya harus diketahui dengan pasti, tidak boleh asal bicara dan men-judge Islam begini, Islam begitu. 

Menurutku, berita yang ditampilkan di TV Jepang maupun media lainnya membuat semua orang takut dan berpikiran buruk pada Islam. Karena ISIS disebut juga Isuramu-koku dalam bahasa Jepang atau negara Islam, sehingga ini menjadikan "trauma" sendiri bagi mereka yang melihat berita tersebut tanpa tahu kebenarannya. Walaupun begitu, aku bukan berarti ikutan hantai atau malah membenarkan mereka. Sungguhlah, ilmuku masih belum seberapa dan aku belum berani memberikan kejelasan atas kekeliruan ini. Aku pun masih ingin terus menelusuri apa yang sebenarnya terjadi pada ISIS. Pernah juga dijelaskan secara detail oleh salah seorang temanku, tapi tetap saja sulit untuk dicerna. 

Aku cukup memberikan komentarku kepada mereka yang meminta kejelasan. Dan mereka mengangguk mengerti.

Keadaan seperti ini membuatku tak bisa menahan diri untuk menangis sedih, dan hanya Allah-lah tempat yang paling tepat untuk mengadukan semua keluh-kesah ini. Saat ini, Islam sedang banyak sekali diuji. Berita-berita miring dari pihak lain entah itu pihak yang berusaha membetulkan, atau justru menjatuhkan membuat umat Islam semakin terpuruk dan saling mengadu domba. Kenyataan ini aku lihat langsung di salah satu akun pribadiku. Aku memang tidak banyak muncul dan berkomentar di sana. Tapi aku hanya memperhatikan saja. Bagaimana tanggapan orang-orang dan apa saja yang ada di benak mereka perihal masalah ini. 

Aku, cuma ingin berbagi sama kalian. Kesedihan yang kurasakan atas 'perpecahan' ini membuatku ingin bercuap-cuap di sini. Walau aku tidak memihak pada siapa pun dan aku tidak mau menyudutkan satu pihak, tapi aku tetap merasa bahwa ini pasti akan selesai pada saatnya nanti. Ingat kan, bahwa 1 biji zarah yang ada di muka bumi ini pun Allah ketahui, apalagi persoalan sebesar ini. Sungguh, Allah tahu mana yang benar dan mana yang salah. Kita ini yang sok tahu. Kita ini yang terlalu percaya diri dengan kemampuan atau ilmu yang kita miliki. Maka dari itu, aku merasa tidak pantas untuk membenarkan si A, atau membenarkan si B. Sungguhlah, ini benar-benar cobaan untuk kita semua.

Tidak hanya sampai di situ rupanya. Aku melihat juga akhir-akhir ini muncul berita simpang siur mengenai Valentine's day. "We're Muslim and we're not celebrating Valentine."

Beberapa orang yang kukenal merasa kalimat tersebut terkesan janggal. Mengapa membawa nama Islam, lagi?

Di mata mereka, Valentine hanya sebatas tradisi yang seharusnya tidak perlu dikaitkan oleh agama. Kalau tidak ingin merayakan, toh diam saja dan tidak perlu berkicau di dunia maya sambil menambahkan kata "Islam" atau "Muslim". Begitu kata mereka.

Ini bukan bercanda, tapi serius. Banyak sekali komentar miring yang setuju dengan pendapat barusan. Lagi-lagi, Islam dianggap agama yang tidak toleran dan lain sebagainya. Apalagi, ini semua berasal dari warga negara kita sendiri--yang mayoritas penduduk Muslim terbanyak di dunia. Mau bilang apa? Desas-desus macam ini sebenarnya harus bisa dijelaskan berdasarkan dalil yang terkait serta bukan hanya dari opini masyarakat awam, apalagi sekadar pendapat yang masuk di akal. Islam sudah sangat menjaga keharmonisan, kerukunan, dan perdamaian. Kalau kita mau teliti lebih lanjut, banyak sekali kitab-kitab yang memang menjelaskan perkara toleransi maupun hukum dalam Islam.

Kalau sudah ada dalil yang didapatkan dari kitab Allah, sudah ada guru yang amanah dalam menyampaikan kebenaran, dan sudah ada sahabat yang shalih yang dipercaya ilmunya baik untuk menyelesaikan perkara ini, bolehlah kita meluruskan apa yang sebenarnya kurang dari statement sebelumnya. Manusia boleh punya pendapat, apalagi yang masuk di akal, begitulah Allah menciptakan kita untuk berpikir. Tapi kita harus ingat, semua akar dari segala ilmu yang kita miliki sekarang adalah dari Allah. Kita kembalikan lagi kepada-Nya. Jangan sampai kita sudah merasa pintar tanpa Allah. Merasa tidak perlu belajar lagi. Merasa diri ini paling benar. Kalau sudah begitu, pasti yang masuk bukan lagi kata hati yang baik tapi bisikan setan.

Islam sangat menjaga. Bukan merusak. 

Apa yang dikatakan mereka tentang tidak merayakan Valentine merupakan bukti cinta dan kasih sayang kepada Nabi Muhammad SAW. Mengapa demikian? Sungguh, yang patut dicontoh dan yang sangat pantas ditiru akhlaknya adalah beliau. Baginda Rasulullah semasa hidupnya tidak pernah menghakimi orang lain, tidak pernah berbuat yang tidak senonoh kepada umat agama lain, beliau justru menyayangi orang-orang yang membencinya yang setiap hari meludahi beliau. Baginda Rasulullah pun sangat taat kepada Allah. Sangat taat pada perintah Allah. Sehingga, tidak pernah sekali pun beliau merayakan suatu perayaan yang sifatnya jauh dari hukum Allah. Budaya itu hanya sebagai penghantar hidup kita. Bukan untuk dijadikan pedoman hidup. Kita boleh memahami budaya dan menghargainya, tapi kita harus ingat bahwa saat ini kita sudah masuk di fase di mana dunia penuh fitnah dan kehancuran iman. Jadi, kita harus lebih berhati-hati menjaga lisan agar jangan sampai menyakiti perasaan hati orang lain.

Berhusnudzanlah kepada saudara-saudara kita. 

Mungkin mereka melakukan 'penolakan' tersebut untuk menjaga diri mereka dari segala macam maksiat. Mungkin mereka tidak ingin mengotori keimanan dengan kemaksiatan. Justru, yang harusnya kita lakukan adalah bercermin. Bukan menghakimi orang lain. 

Sudah cukup pantaskah kita untuk menyalahkan orang lain?


Atau memang, justru kita yang sedang terlena untuk berbuat dusta?


Lisan itu sungguh tajam. Enteng sekali berucap ini-itu tanpa pikir panjang. Istighfar, mungkin kita belum benar, belum baik. Lebih baik kita perbaiki diri dulu, tambah ilmu dan terus merasa kecil supaya tidak berhenti belajar.