Visitor

Tuesday, November 10, 2015

Kajian Remaja: Kalian Wajib Ikut!

Assalamualaykum wr. wb.



Minggu ini ada kajian menarik khusus buat remaja yang 'haus' akan ilmu agama. Yuk ramaikan dengan membawa sanak saudara atau kerabat terdekat supaya kita bisa berkumpul mencari ilmu bersama di majelis ini.

Insya Allah akan diadakan di AQL Islamic Center, 14/11/15, dengan tema "Sorry, Gue Sibuk" tadabbur Surah Abasa: 33-42 bersama Ust. Hendra Hudaya, Lc. 

Insya Allah saya juga akan hadir untuk merangkum hasil tadabbur-nya. 

Wassalam.


Wednesday, November 4, 2015

Kedahsyatan Uban

Kemarin, aku melihat rambut Mamaku yang sudah mulai beruban. Agak sedikit sedih sih sejujurnya. Karena itu artinya Mamaku sudah semakin tua. Tua itu kan ditandai dengan tumbuhnya uban. Tapi walau tak semua uban artinya tua sih. Ada juga kan anak kecil yang sudah ubanan.
Nah, perihal mengenai uban ini ternyata ada ulasan menarik lho dari sudut pandang Islam. Yuk dibaca.

---------

Ternyata, dalam rambut yang mulai beruban, menyimpan kedahsyatan yang banyak tak disadari. Apa saja kedahsyatan itu? Mari kita simak ulasan di bawah ini.

Pertama, uban itu mengingatkan kita akan dekatnya ajal. Coba kita perhatikan orang-orang tua di sekeliling kita--tentunya yang sudah tua renta (beruban). Kita pasti akan mengira secara logis bahwa umurnya sudah tidak akan lama lagi. 


Kedua, uban menjadikan kita tak lagi rakus terhadap dunia. Kalau melihat diri kita sendiri sudah mulai tumbuh uban, setidaknya kita bisa berpikir bukan bahwa apa yang kita capai di dunia ini nantinya akan hilang juga seiring berjalannya waktu? Dengan kata lain tidak abadi.


Ketiga, uban akan menjadi cahaya di hari kiamat.


Keempat, munculnya uban akan mendorong kita untuk lebih giat beramal. Dengan menyadari usia kita semakin tua, tentu pikiran kita akan lebih fokus pada amal-amal yang selama ini sudah kita kerjakan. Apakah semua itu cukup untuk menjadi penyelamat kita dari api neraka? Apakah amal-amal tersebut sudah lillahi ta'ala?


Kelima, uban akan memancarkap sikap tabah dan wibawa.

Dalam Al-Qur'an disebutkan,

أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ ۖ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِير

"Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolong pun." (QS. Fathir: 37)

Ibnu Katsir rahimahullah, menerangkan dalam kitab tafsir beliau, bahwa para ulama tafsir seperti Ibnu Abbas, Ikrimah, Qatadan, Ibnu ‘Uyainah dan yang lainnya, menjelaskan bahwa maksud Allah dalam ayat di atas adalah uban. (Tafsir Ibnu Katsir 6/542)

Karena lumrahnya uban muncul di usia senja. Jadilah uban itu sebagai pengingat manusia bahwa ia berada di penghujung kehidupan dunia, menanti tamu yang pasti datang dan tak disangka-sangka. Nabi Muhammad shallallahu’alaihiwasallam bersabda:

أعمار أمتي ما بين الستين إلى لسبعين، وأقلهم من يجوز ذلك

"Umur umatku di antara 60 ke 70 tahun, dan tidak banyak yang melebihi daripada itu." (HR. Imam Tirmizi)

Munculnya uban membuat kita sadar bahwa keberadaan kita di dunia ini tidaklah selamanya. Hanya sebentar bila dibandingkan kehidupan selanjutnya--yaitu alam akhirat. Yang satu hari di sana sama dengan lima puluh ribu tahun di dunia. Angan-angan kosong pun pupus. Ketamakan terhadap kemilau harta mulai berkurang. Kita lebih disibukkan oleh hal-hal yang pasti. Hari-hari kita menjadi lebih produktif untuk mempersiapkan bekal akhirat.

Sufyan Ats-Tsauri berkata,

الزهد في الدنيا قصر الأمل، ليس بأكل الغليظ ولا لبس العباء

“Zuhud terhadap dunia akan menupuskan angan-angan kosong. Ia tak lagi berlebihan dalam hal makanan dan pakaian.”

Dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَنْتِفُوا الشَّيْبَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَشِيبُ شَيْبَةً فِي الْإِسْلَامِ إِلَّا كَانَتْ لَهُ نُورًا يَوْمَ الْقِيَامَة

“Janganlah mencabut uban. Tidaklah seorang muslim yang memiliki sehelai uban, melainkan uban tersebut akan menjadi cahaya baginya pada hari kiamat nanti.” (HR. Abu Daud 4204. Hadist ini dishahihkan al-Albani dalam Shahih Targhib wa Tarhib, 2091)

Dalam riwayat lain disebutkan,

أنه نور المؤمن

“Sesungguhnya uban itu cahaya bagi orang-orang mukmin.”

Ka’b bin Murroh radhiallahu’anhu berkata, ”Saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ شَابَ شَيْبَةً فِي الإِسْلامِ كَانَتْ لَهُ نُورًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa yang telah beruban dalam Islam, maka dia akan mendapatkan cahaya di hari kiamat.” (HR. Tirmidzi No. 1634. Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shohih Tirmizi)

Oleh karena itu, orang yang mencabut ubannya, ia akan kehilangan cahaya di hari kiamat. Uban menyadarkan orang-orang yang berakal untuk lebih semangat dalam kebajikan. Membuatnya semakin peka terhadap hak-hak Rabb-nya dan hak-hak sesama makhluk. Waktunya ia habiskan untuk kebaikan, ibadahnya pun menjadi lebih baik dan sempurna.

Ibnu Abid Dun-ya meriwayatkan dengan sanadnya. Bakr bin Abdillah Al-Muzani berkata,

إذا أردت أن تنفعك صلاتك فقل: لعلي لا أصلي بعدها

“Bila Anda ingin mendapat manfaat dari shalat Anda, maka katakanlah pada diri Anda: Barangkali setelah ini aku tidak akan shalat lagi.”

Rupanya uban membuat seorang lebih tampak tabah dan berwibawa. Sikapnya tenang ketika berbicara, berbuat serta bermuamalah dengan orang lain. Oleh karena itu, Islam memerintahkan kepada kita untuk menghormati orang-orang yang sudah tua.

Dari Abu Musa Al-‘Asy’ari radhiyallahu’anhu, dia berkata,”Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ مِنْ إِجْلَالِ اللهِ إِكْرَامَ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ

“Sesunguhnya termasuk dari pengagungan kepada Alloh ialah menghormati orang muslim yang sudah beruban (orangtua)." (HR. Abu Dawud dari Hadist Abu Musa ra; Hadist Hasan)

Yaitu dengan memuliakannya bila ia berkumpul dengan kita dalam satu majelis, bersikap sopan dan santun kepadanya dan berusaha menjadi pendengar yang baik ketika dia berbicara, serta mengambil faidah dari lika-liku kehidupan yang telah ia lalui. (Lihat: ‘Aunul Ma’buud 13/192)

Dalam riwayat lain dijelaskan, dari Sa’id bin Musayyib, beliau berkata:

كام ابراهيم أول من ضيف الضيف وأول الناس كَانَ إِبْرَاهِيمُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَّلَ النَّاسِ ضَيَّفَ الضَّيْفَ وَأَوَّلَ النَّاسِ اخْتَتَنَ وَأَوَّلَ النَّاسِ قَصَّ الشَّارِبَ وَأَوَّلَ النَّاسِ رَأَى الشَّيْبَ فَقَالَ يَا رَبِّ مَا هَذَا فَقَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَقَارٌ يَا إِبْرَاهِيمُ فَقَالَ يَا رَبِّ زِدْنِي وَقَارًا

“Ibrahim adalah orang pertama yang menjamu tamu, orang pertama yang berkhitan, orang pertama yang memotong kumis, dan orang pertama yang melihat uban lalu berkata: Apakah ini wahai Tuhanku?, Maka Allah berfirman: Kewibawaan wahai Ibrahim, Ibrahim berkata: Wahai Tuhanku, tambahkan aku kewibawaan itu.” (HR. Bukhori dalam Al-Adabul Mufrod 120, Imam Malik dalam Al-Muwatto’ 9/58)

Berangkat dari kedahsyatan-kedahsyatan di ataslah, kemudian jumhur ulama (mayoritas ulama) menyimpulkan, bahwa hukum mencabut uban adalah makruh. Pendapat ini dirajihkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah. Bahkan ada pula ulama yang menghukumi haram. Seperti Al-Baghowi rahimahullah, beliau menyatakan,”Seandainya mau dikatakan haram karena adanya larangan yang tegas mengenai hal ini, maka ini tidak mustahil. Tidak ada bedanya antara mencabut uban pada rambut kepala maupun jenggot.” (red. Imam Nawawi rahimahullah menukil pernyataan ini dalam Al-Majmu’)

Ibnu Muflih juga menyatakan, “Ada kemungkinan yang menunjukkan bahwa mencabut uban itu hukumnya haram.” (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab: 1/292, Al-Furu’: 1/131)

Namun dalam masalah ini pendapat yang diutamakan (Insya Allah) adalah pendapat yang menyatakan makruh.

Wallahu a’lam bis showab.

Sumber: Muslim.Or.Id

Tuesday, November 3, 2015

The Virtues of Studying the Qur’an


The Prophet (sal Allahu alaihi wa sallam) said, “Any group of people that assemble in one of the Houses of Allah to study the Qur’an, tranquility will descend upon them, mercy will engulf them, angels will surround them and Allah will make mention of them to those (the angels) in His proximity.”
[Sahih Muslim]

Friday, October 16, 2015

New Face

Akhir-akhir ini, saya akan sangat jarang update di blog ini.



Berkenaan dengan itu, silakan baca artikel terbaru saya di Moeslema.






Dan tunggu artikel-artikel lainnya, ya.



Salam,
Lidya Oktariani


Thursday, July 2, 2015

kehidupan di jepang part 1

Kerja di Jepang enak ya, gajinya "gede". Ngga kaya di Indonesia, gajinya rendah.

Yakin?


Sebagai mahasiswi Sastra Jepang jurusan Budaya, saya wajib banget belajar dan memahami budaya Jepang akhir-akhir ini (re: budaya pop). Begitu pun juga waktu saya suka sharing sama sahabat saya, Akane, yang baru saja menjadi shakaijin atau pekerja kantoran di Jepang. Istilah shakaijin di sini menggambarkan bahwa orang tersebut telah mengalami metamorfosa dari mahasiswa menjadi pekerja. Dan kehidupan yang sebenarnya baru akan dimulai setelah menjadi shakaijin.

Kalian tahu ngga? Rata-rata pekerja di Jepang mendapatkan gaji per bulan sebesar 200.000 - 400.000 yen lho! Jika dirupiahkan menjadi Rp. 20.000.000 - Rp. 40.000.000. Besar? Ya, kalau dipakai untuk hidup di Indonesia sangat besar. Masalahnya, kita ngga bisa membandingkan gaji dan biaya hidup di Jepang dengan gaji dan biaya hidup di Indonesia. 

Ketika saya bertanya ke sahabat saya tentang gaji orang Jepang, rupanya yang kita bilang "gede" itu buat mereka biasa saja. Nih ya, bagi yang sudah punya mobil ada biaya pajak per bulan yang berkisar 10.000 yen atau Rp. 1.000.000, tergantung merk sih. Lalu, biaya internet di smartphone sekitar 10.000 yen juga atau Rp. 1.000.000 per bulan. Lalu, mereka yang sudah bekerja di perusahaan, setiap hari, setiap jam makan siang selalu berkumpul bersama teman maupun senior di perusahaan yang sama. Pertanyaan saya pada saat itu, "Kalau kamu bawa bekal dari rumah, misalnya bento gitu. Kan jauh lebih hemat daripada harus setiap hari makan di kantin." Ya, memang tidak ada masalah sih kalau mau bawa bekal dari rumah. Tapi inilah budaya. Orang Jepang sangat segan untuk "berbeda" dari kelompoknya. Perasaan yang ngga enak itu yang membuat mereka mau ngga mau, suka ngga suka harus ngikut sama tradisi Jepang. Kalau dihitung-hitung, sekali makan di restoran kira-kira 1000 - 2000 yen per orang atau Rp. 100.000 - Rp. 200.000. Itu juga tergantung sama pilihan menu makanannya. Kalau ikan dan daging biasanya lebih mahal. Kalau cuma sayur sedikit lebih murah. Berarti, sebulan bisa menghabiskan kira-kira 30.000 yen atau Rp. 3.000.000 untuk makan siang saja. 

Kalau dari sudut pandang orang Indonesia, sayang juga ya sebulan untuk makan siang saja menghabiskan Rp. 3.000.000, kan uangnya bisa ditabung. Tapi sayangnya, orang Jepang ngga bisa seperti itu. Sekalipun mereka sedang tiris pun akan tetap memaksakan diri makan bersama kerabat kerja karena budaya yang sudah lekat di masyarakat Jepang.

Nah, kalau kita hitung-hitung biaya hidup per bulan para shakaijin ini belum ditambah tax, mungkin kita akan kaget sendiri. Rupanya, gaji yang Rp. 20.000.000 - Rp. 40.000.000 itu benar-benar cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan sesekali berbelanja sepatu atau baju di toko.

Jadi, saran saya, jangan pernah membandingkan gaji yang besar itu dengan biaya hidup di Indonesia. Karena keduanya saling bertolak belakang. Kita tahu biaya hidup di Indonesia tidak segila di Jepang. Mau makan murah, bergizi, ada. Mau makan mahal, bergizi, ada. Mau makan sedang-sedang saja juga banyak. Itulah yang membuat orang Jepang tertarik dengan Indonesia. Unik dan merupakan salah satu tempat yang nyaman untuk ditinggali. 

Selain pekerja kantoran, ada juga pekerja part time atau baito. Gajinya berapa ya kira-kira? 

Bagi orang Jepang, pekerja baito itu gajinya sangat rendah. Karena pekerja baito ini sebenarnya hanya cocok untuk mahasiswa yang masih kuliah. Lumayan untuk mengisi uang jajan. Tapi kalau sudah menjadi shakaijin dan punya tanggung jawab yang lebih besar, jangan berharap bisa bertahan hidup hanya dengan mengandalkan baito. Apalagi mereka digaji dengan gaji per jam. Rata-rata sekitar 700 - 1000 yen atau Rp. 70.000 - Rp. 100.000 per jam. Sebulan bisa dapat 50.000 - 70.000 yen atau Rp. 5.000.000 - Rp. 7.000.000.

Ohya, untuk lebih lengkapnya, saya ada artikel tentang bagaimana biaya hidup di Jepang, silakan cek ya: 


https://ppichiba.wordpress.com/2011/01/27/biaya-di-jepang-mahal/

http://blog.gaijinpot.com/gpod-11-cost-living-tokyo/#comment-1701141120


Sebagai simpulannya, kita memang wajib banget, kudu bersyukur jadi orang Indonesia yang tinggal di Indonesia. Kenapa? Persentase orang yang bunuh diri karena stres dari pekerjaan maupun biaya hidup tidak tinggi. Beda di Jepang, banyak orang yang meninggal ataupun bunuh diri karena sudah tidak kuat lagi hidup di Jepang. Pekerjaan menyiksa mereka setiap hari, belum lagi harus memenuhi kebutuhan rumah tangga bagi yang sudah menikah dan memiliki anak. Didesak lagi oleh budaya Jepang yang harus "meninggikan" atasan, tidak boleh berkata "tidak" pada atasan, mengikuti semua aturan dan kemauan "atasan", sehingga berbohong menjadi hal yang biasa bagi masyarakat Jepang. Nama budayanya adalah tatemae. Kebalikannya honne.

Saya sama sahabat saya itu selalu menerapkan budaya honne. Saya bukan orang Jepang, dan selamanya saya akan tetap menjadi warga negara Indonesia. Oleh sebab itu, saya tidak akan menerapkan tatemae selama saya masih tinggal di Indonesia. Mungkin itulah mengapa orang Jepang akan sangat terkejut bergaul dengan orang Indonesia yang jujurnya kebangetan, hehehe.

Sekian ulasan saya mengenai gaji dan biaya hidup di Jepang. Sampai bertemu di artikel berikutnya, ya.

Wednesday, July 1, 2015

belajar bahasa

Salaam everyone.


Hari ini tepat masuk tanggal 1 Juli ya. Tidak terasa memang waktu itu cepat sekali berlalunya, ya. Ngomong-ngomong, mumpung lagi ada waktu senggang, aku mau update blog lagi. Entah kenapa ya, blogku ini tuh udah jadi sesuatu yang menempel di aku banget. Aku register blog ini dari tahun 2008, jadi kerasa banget kalau zaman baheula dulu tuh masih suka alay-alay-nya nge-blog. Untungnya sih sudah kuhapus, hihi. Dan ngomongin soal blog, aku pengen cerita sedikit mengenai belajar bahasa. Mungkin postingan selanjutnya akan sering aku update mengenai pembelajaran bahasa. Yap, aku mau belajar bahasa lain lagi. Belum berani ke Eropa sih, baru Asia dulu, hehe. Aku lagi persiapan untuk les bahasa Korea, nih.

Jadi, ceritanya, aku punya sahabat macam sahabat dunia maya gitu. Namanya Aci. Dia ini udah kedoktrin banget sama hal-hal yang berbau Korea. Akhirnya Aci ambil les dan ikut ujian bahasa Korea. Menurutku sih, Korea ga sulit untuk dipelajari. Apalagi cara menulisnya. Lebih susah Jepang loh. Aci udah jago banget dan udah punya beberapa anak murid. Kebetulan, aku juga seorang guru les private. Muridku ada 3. Jadi setiap minggu aku selalu menyempatkan buat soal dan materi. Lumayan sih kalau jadi guru itu, jadi belajar lagi.

Beberapa waktu lalu, Aci cerita sama aku kalau dia sama teman-temannya mau pergi ke Jepang. Tapi masalahnya Aci ngga bisa bahasa Jepang sama sekali. Mungkin ini bukan kebetulan ya, ini udah qodarullah, aku nawarin Aci untuk les sama aku. Aci langsung kegirangan. Terus, aku coba tanya ke Aci apa dia bisa ngajarin aku bahasa Korea atau ngga? Ternyata kita sama-sama guru les private, Yaudah deh, akhirnya kita berencana untuk tukeran ilmu di bulan Agustus mendatang, insyaAllah. Aku perlu persiapan matang untuk belajar percakapan Korea setidaknya, siapatahu Allah mengizinkan aku berangkat ke sana dengan gratis, hehehe.

Karena Aci mau ngajarin aku bahasa Korea, biaya lesnya jadi gratis. Dan kami berencana belajar selama 4 jam kurang lebih. Istirahat mungkin 15 menit cukup ya. Aku jadi ngga sabar untuk buat materi baru karena Aci benar-benar buta huruf Jepang. Ya, beginilah aku. Selalu suka sama pelajaran bahasa. Dari dulu. Dari kecil bahkan. Kalau kita menguasai bahasa asing, aku yakin deh, akan sangat mudah kita untuk jalan-jalan keliling dunia tanpa harus takut tersesat atau dibohongi orang. Setidaknya, pada saat kita belajar bahasa, perhatikan juga pelajaran tentang budaya. Dua hal itu penting. Kalau kita cuma ngandelin bahasa tanpa mengenal budaya, kita bisa di-'injak' sama mereka secara ngga langsung. Tapi kalau kita kenal keduanya, setidaknya kita bisa was-was sama cultureshock.


Segitu saja ceritaku hari ini. Nanti disambung lagi ya.

Monday, June 29, 2015

give me Your Hidayah, oh Allah

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Sudah sekian lama sepertinya aku belum sempat update blog ini. Maaf ya. Ada beberapa sahabat yang memang mempertanyakan 'ketidakmunculan' aku ini. Sebenarnya bukan berniat untuk menghilang, tapi karena ada banyak hal yang dikerjakan, jadi sepertinya tidak sempat menulis apa-apa di sini. Anyway, aku mau sedikit cerita tentang hidayah. 

Kenapa kita harus berdakwah?

Kalau kita lihat bagaimana tauladan Rasulullah SAW, yang pada saat itu mendoakan dan mendakwahkan Islam di depan para pemuka kafir quraisy, termasuk Ummar ibn Khattab yang dulunya beliau ini benci sekali kepada Islam. Rasulullah SAW berharap jika mereka masuk Islam, maka akan ada pemuka atau pembesar yang bisa membela beliau kelak, untuk membela agama ini. Allah kabulkan doa Rasulullah SAW.

Yang Rasul dakwahi itu adalah kaum kafir, yang notabenenya ingkar pada Allah, tidak percaya Allah. Tetapi urusan hidayah adalah hak preogatif Allah. Sungguh, lihat betapa Abu Thalib yang selama 23 tahun mendampingi Rasul, apa ia beliau meninggal dalam keadaan Islam? Tidak kan? Dan apakah Rasul berhenti mendakwahi dan mendoakan Abu Thalib? Tidak sekali pun. Tapi Allah yang tidak berkehendak Abu Thalib masuk Islam. Itulah hak Allah. Allah lebih mengerti dan tahu yang terbaik bagi setiap hamba-Nya.

Tapi, Hindun, yang saat Perang Uhud membunuh Hamzah dan memakan jantungnya, Allah berikan kesempatan mendapatkan hidayah. Jadi, tidak akan pernah ada yang sia-sia dalam berdakwah.

Sahabatku, kalau kita lihat bagaimana umat terdahulu menanggapi hidayah Allah, tentu kita bisa berpikir bahwa dakwah itu penting. Islam adalah agama yang rahmatan lil' alaamin. Kita ini umat Islam bersatu, bukan untuk bercerai-berai. Jadi, bisa terbayang tidak bahagianya ketika ada seorang dua orang muallaf yang menjadi saudara kita?

Di akhir zaman ini, akan banyak terjadi perpecahbelahan antar umat. Sudah terlihat mungkin tanda-tandanya. Kita, akan memiliki fondasi yang kuat jika tauhid kita juga kuat. Dan dakwah adalah hal yang wajib dilakukan umat Islam. Dakwah merupakan bentuk rasa syukur kita yang telah lebih dulu merasakan nikmat Islam. Oleh sebab itu, jika kita lihat bagaimana semangat Rasulullah SAW dalam berdakwah, di hadapan orang-orang yang selalu menghina, menghujat, membenci beliau, beliau tetap berhuznudhan kepada Allah bahwa Allah pasti akan memberikan hidayah-Nya kepada orang-orang yang dipilih-Nya. Tugas kita mendakwahi umat, hidayah biar Allah yang atur.

Dan tahukah kamu, bahwa Allah senang melihat hamba-Nya berusaha keras, tetap berpikiran positif, tetap pada keimanan, sehingga walaupun Allah berikan sedikit 'sentilan' untuk para pendakwah, sampai-sampai mereka berkata, "Duh, berat sekali berada di jalan dakwah ini.", di situlah Allah akan melihat kesungguhan kita. Jangan pernah berhenti untuk terus berada di jalan ini. Jika kita merasa masih kurang baik dalam hal pengetahuan agama, bolehlah kita katakan 'yuk belajar bersama'. Mendakwahi bukan berarti menggurui kok. Bukan berarti para pendakwah itu sudah yang paling benar. Maka dari itu, itulah mengapa, kita, butuh sama yang namanya asupan ilmu agama. Itu penting. Kalau kita dakwah tapi tidak tahu ilmunya, nah bagaimana kita mau berdakwah ke umat? Bagaimana kita memperkenalkan Allah dan Rasul kalau kita saja belum mengenal lebih dalam Allah dan Rasul kita?

Aku, sahabat-sahabat pendakwah, dan kalian semua, pasti akan diuji sama Allah. Allah itu sangat sayang sama kita. Allah Maha Baik. Siapa sangka, Allah yang kasih kita ujian ini, buat pribadi kita tambah kuat, tambah kuat lagi. Allah pengen tunjukkin ke kita, kalau kita itu TIDAK LEMAH. Kita mampu melewati segala macam ujian dakwah ini. Ingat loh, kita tidak beristirahat dalam berdakwah. Istirahat kita nanti di Surganya Allah, insya Allah. Rezeki terbaik dan karunia terbesar dari Allah untuk kita, jika kelak kita mampu meyakinkan diri ini bahwa kita sanggup untuk tetap berada di jalan dakwah. Maka dari itu sahabat, kalau ada dari kalian yang merasa putus asa dalam berdakwah, sementara niat itu muncul karena Allah semata, insya Allah, nanti akan ada jalan keluarnya kok. Aku pun sangat percaya itu. Karena aku sendiri sedang mengalaminya. Benar-benar berat. Sungguh berat. Tidak mau berhenti rasanya, sungguh aku merasa kalau Allah pasti akan berikan kemudahan setelah ini. Jadi, tidak boleh berputus asa ya dari rahmat Allah. 

Dia selalu melihat kita, melihat usaha kita, sampai kita mati nanti, kalau kita tetap berusaha, Allah akan hitung sebagai amal shalih. So, keep up the energy ya guys. Semoga kita dikuatkan iman Islamnya, semoga kita dikuatkan untuk tidak menyerah dalam berdakwah. Aamiin.

Cukup sekian cuap-cuap dari aku. Selamat menjalankan ibadah puasa. Dan perbanyak doa. Doakan saudara-saudara kita yang kita sayangi. Baik mereka yang kafir maupun yang muslim. Jika berdoa untuk mereka yang kafir, doakanlah agar mereka diberikan hidayah. Jika berdoa untuk mereka yang muslim, doakanlah agar mereka tetap berada di jalan yang lurus, jalannya Allah. Insya Allah qobul.


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Saturday, April 18, 2015

it's difficult to understand japanese

Assalamu'alaikum pals :)




Hari ini aku akan bercerita sedikit mengenai sulitnya mengerti dan memahami orang Jepang. Sebenarnya sih, bagian terpenting dari mata kuliah budaya di kampus itu adalah bagaimana kita bisa mempraktikkan ilmunya ketika berbicara atau berhubungan langsung dengan orang Jepang. Misalnya, kita mengerti budaya A, begitu kita punya teman orang Jepang, kita bisa mempraktikkan budaya A itu sebagai salah satu pembuktian kalau kita memang pernah belajar budaya Jepang.

Mengenai budaya itu sendiri, rasanya ga afdol kalau kita cuma belajar dari buku, dosen, atau dari internet. Beberapa bulan yang lalu, aku berkenalan dengan seorang teman dari Jepang namanya Akane. Dia ini partner language-ku. Kita banyak sharing tentang budaya (karena kebetulan aku mahasiswi budaya), selain itu aku juga memperkenalkan budaya Indonesia yang menurut dia aneh luar biasa karena dia baru pertama kali tahu tentang Indonesia. Ya wajar sih. Bagi orang Jepang, budaya Indonesia itu benar-benar berbeda dengan negaranya sendiri. Aku memaklumkan keadaan itu karena aku juga banyak belajar budaya. Tapi, hanya ada satu hal yang belum bisa aku mengerti dan aku terima sampai sekarang ini. Hal itu pun yang aku tanyakan ke Akane.


"Aku ngga ngerti kenapa orang Jepang itu suka sekali bekerja. Bahkan sampai ada budaya karoshi atau mati karena kelelahan bekerja. Bagiku, mungkin, bagi kami orang Indonesia, bekerja itu memang wajar untuk memenuhi kebutuhan hidup, apalagi sebagai kepala keluarga. Tapi, bekerja dan uang itu kan bukan segalanya. Kalau sampai sakit, terus meninggal, yang sedih kan juga keluarga yang ditinggalkan. Kenapa orang Jepang ngga bisa punya pemikiran seperti itu? Kenapa mereka juga terlalu mendahulukan kepentingan bersama (perusahaan), bahkan di saat 'sekarat' pun, apa mereka masih harus memikirkan urusan pekerjaan daripada dirinya sendiri?"


Akane pun menjawab dengan singkat, "Me, too. Understanding Japanese is difficult."


Beberapa kali di sela-sela percakapan kami, aku berkata, "Apa dengan menjadi orang Jepang harus punya 'topeng' untuk ditunjukkan kepada orang Jepang lainnya?"


"Yes. That's possible to being a mask man somehow."


Benar sih. Jepang itu sangat menghargai hasil karya orang lain, ucapan, dan bahkan sangat menjaga perasaan sesamanya. Untuk menjadi manusia Jepang yang sesungguhnya, kita kudu tahu dulu aturan-aturan ketika 'bermain' sama orang Jepang. Waktu itu Akane pernah cerita sama aku bahwa dia hampir ngga pernah berkata 'enggak' ke orang Jepang ketika diajak jalan atau pergi ke suatu tempat. Walaupun ya, pada saat itu dia benar-benar sedang tidak mau melakukan hal tersebut. Malas, katanya. Tapi kata 'malas' itu jika diucapkan akan jadi sangat tidak sopan. Mau bagaimana lagi, itulah Jepang. Penuh dengan 'topeng'. Walaupun awalnya sih dengan niat untuk menjaga perasaan sesama orang Jepang. Tapi buat orang Indonesia, jujur itu lebih baik, bukan?

Pernah aku diceritakan juga sama dosen budayaku. Beliau ini pernah bertanya ke tamu Jepang yang pada saat itu sedang homestay di rumah beliau. 


"Kamu benar-benar mau ikut ke pesta pernikahan saudaraku? Jauh dan akan sangat capek loh."


"Ah, tidak apa-apa. Saya tidak akan capek kok. Pasti akan menyenangkan."


Beberapa jam kemudian setelah sampai di pesta pernikahan. Si orang Jepang ini bercucuran keringat dan hampir pingsan. Di saat-saat seperti itu, si orang Jepang ini berkata, "Ah, aku sangat menikmati pesta ini."


Aku mengacungkan jempol buat orang Jepang pada kasus ini. 


Berhubung aku masih tinggal di Indonesia, tentu aku mau lebih banyak menerapkan budaya Indonesia dan sampai kapan pun aku ngga mau jadi orang asing. Cukup tahu dan paham bagaimana budaya Jepang dan menangani beberapa kasus budaya, buatku itu sudah sangat wajar. Tidak perlu juga menjadi orang lain yang bukan diri kita sendiri. Hal-hal baik yang bisa kita tiru dari Jepang, jadikan pelajaran, jadikan contoh. Sebaliknya, hal-hal kurang baik dari Jepang tidak perlu kita contoh. 

Sebenarnya, punya teman orang Jepang itu menyenangkan. Cuma terkadang, kita butuh banyak bersabar dan berkorban untuk mengalah. Dalam hal ini, aku selalu mengalah untuk terus memakai bahasa mereka dan menerapkan budaya mereka ketika sedang bersama mereka. Tapi, berbeda ketika aku main sama teman-temanku yang orang Indonesia, aku hanya akan menerapkan budaya Indonesia dengan bahasa yang biasa sehari-hari aku gunakan. Hal ini bukan berarti orang yang belajar bahasa dan budaya asing menjadi punya dua karakter yang berbeda ketika mereka switch bahasa. Kata Akane, aku tetap menjadi aku yang orang Indonesia walaupun di saat aku berbicara sama dia dengan bahasa Jepang. Yang membedakan hanyalah suasananya. Memang kelihatan seperti orang lain pada saat aku berbicara bahasa Indonesia dengan orang Indonesia di depan Akane. Tapi, untuk karakter asli, sifat, watak dan kebiasaan aku, walaupun pakai bahasa Indonesia maupun Jepang aku tetap menjadi Lidya yang ia kenal, begitu katanya.

Menyenangkan bukan punya pengalaman seperti ini?

Sulit memang untuk mengerti keseluruhan pola pikir dan budaya Jepang. Bertahun-tahun belajar pun aku masih sering bertanya-tanya. Dan satu hal yang menurut orang Jepang itu menyenangkan atau mungkin hal yang tidak bisa dipercaya, yaitu ketika mereka bisa berbicara jujur di depan orang asing (orang luar). Aku pernah meminta kepada Akane untuk berterus terang jika memang ada hal yang tidak dia suka. Dan lucunya, dia terlampau jujur di depan aku sampai-sampai aku pernah sakit hati dibuatnya, hehehe. Tapi ini sakit hati yang ringan kok. Mungkin, karena ini baru pertama kali aku punya teman dekat orang Jepang dan begitu kami dekat, kok malah semakin ke sini semakin mirip orang Indonesia yang blak-blak-an ngomongnya. Seru. Dan ini adalah hal yang paling menyenangkan dari semua mata kuliah budaya Jepang di kampus.


Dan, kalian tahu ngga?


Walaupun orang Jepang sudah berpuluh-puluh tahun tinggal di Indonesia, sampai kapan pun mereka akan tetap mengaku dirinya sebagai Japanese. Walaupun 95% budaya Jepang sudah tidak lagi diterapkan olehnya, mereka tetap akan menjadi Japanese sampai mati. Aku dan Akane masih memakai kabe atau tembok yang menekankan bahwa aku orang Indonesia, kamu orang Jepang. Tapi bukan berarti, dengan adanya hal tersebut membuat kita tidak bisa menjadi sahabat buat mereka. Justru dengan adanya tembok tersebut, perbedaan yang ada akan jadi banyak pelajaran penting buat kita. At least, kita bisa belajar menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing, bukan hanya dari segi watak asli tapi juga budaya yang berbeda yang terkadang kita tidak bisa menerimanya. 



Sekian dulu tulisanku hari ini. Mudah-mudahan bisa disambung lagi nanti dengan tema yang berbeda dan tentunya tetap berbagi pengalaman ya. Dan buat teman-teman yang punya cita-cita belajar di Jepang, satu pesanku saja untuk kalian: pelajarilah bahasa Jepang dan pertajamlah kemampuan bahasa Inggris kalian. Karena orang Jepang sulit menerima orang asing yang tidak bisa bahasa Jepang, mereka jauh lebih mempertimbangkan kita yang bisa bahasa Jepang daripada yang hanya mampu berbicara bahasa Inggris. Apalagi yang bisa dua bahasa tersebut. Semangat ya :)

Sebagai penutup, aku mau kasih kata-kata, nih.



"Janganlah Jepang, keliling dunia pun akan sangat memungkinkan jika kamu selalu meminta dan hanya yakin kepada Allah."



Wassalamu'alaikum.

Monday, March 23, 2015

hadith of the day



Abu Hurairah RA reported: The Prophet (sallallaahu ’alayhi wa sallam) said, “When Allah loves a slave, calls out Jibril and says: ‘I love so-and-so; so love him’. Then Jibril loves him. After that he (Jibril) announces to the inhabitants of heavens that Allah loves so-and-so; so love him; and the inhabitants of the heavens (the angels) also love him and then make people on earth love him.”
(Bukhari and Muslim)

Thursday, February 26, 2015

nowadays

Sejak 8 Februari 2015 kemarin, Mamaku pergi ke Pekanbaru menemui kakak perempuanku karena baru saja melahirkan bayi laki-laki yang alhamdulillah sehat. Mau tidak mau, ya aku harus mau, hehe. Aku tinggal sendirian saja di rumah, Mama sudah cukup lama juga di Pekanbaru. Tapi syukurlah, aku sudah tidak ada kuliah lagi dan aku hanya tinggal menyelesaikan skripsiku saja. Sekarang-sekarang ini, aku juga sedang disibukkan oleh pekerjaan baruku. Bukan fulltimer sih, tapi ini pengalaman yang seru banget buatku.

Aku sama Mama akrab banget. Bahkan kamar saja berdua loh. Tapi sekarang aku sudah semakin dewasa dan aku harus bisa mandiri. Mulai dari membersihkan rumah, kamar, menyapu, mengepel, bersihkan kamar mandi, cuci baju, setrika baju, jemur baju, cuci beras, masak nasi, beli beras begitu habis, ke pasar belanja, dan masih banyak lagi kegiatan aku di rumah tanpa Mama. Semua itu seakan jadi lesson buat aku. Aku menganggap ini bukan beban. Justru malah anugerah. Nantinya akan sangat bermanfaat kalau aku menikah nanti.

Ngomong-ngomong, dari sekian banyak pekerjaan rumah yang aku kerjakan, ternyata yang paling sulit itu memasak ya. Aku pernah loh masak nasi goreng dan rasanya aneh-aneh gitu. Entahlah apanya yang salah. Tapi rasanya itu malah bikin mual. Ya Allah, maafkan aku.

Anyway, aku sekarang lagi di restoran dekat rumah yang ada wifi-nya. Aku kangen banget nulis blog. Rasanya kayak sudah bertahun-tahun ngga pernah nulis blog lagi. Kalau ada waktu, aku akan sempatkan untuk cerita lebih banyak lagi.




Sekian, sampai jumpa lagi ya.


Wassalam

Untitled

Assalamu'alaikum wr. wb.



Alhamdulillah, akhirnya di awal tahun 2015 ini aku bisa menyempatkan untuk meng-updated isi blogku yang kebanyakan notabene curhat sepertinya, hehe. Banyak sekali sebenarnya yang ingin diceritakan, tapi kupikir akan lebih baik jika kita kerucutkan saja isi tulisannya dengan satu tema yang konkrit. Hari ini aku mau sedikit memberikan opiniku mengenai isu yang sedang marak akhir-akhir ini. Ya, ini berkaitan erat dengan agamaku--Islam.

Beberapa pekan lalu, aku sempat berdiskusi dengan sahabat-sahabatku yang mayoritas warga negara Jepang, ada juga sih yang orang Indonesia. Bahasa penghantar kami hanya bahasa Jepang dan sedikit Inggris. Mereka belum fasih berbahasa Indonesia, jadi mau tidak mau harus kami yang mengalah. Perihal mengenai isu ISIS yang sedang naik daun, rupanya di Jepang sendiri ternyata banyak media yang mengembor-gemborkan berita tersebut. Dan mayoritas, hantai--tidak setuju.

Mengapa?

Jelas mereka tidak suka dengan keberadaan ISIS, karena ISIS telah membunuh 2 warga Jepang yang "katanya" tidak bersalah. Oleh karena warga Jepang memang sangat setia satu sama lain, mereka merasa dirugikan oleh kelompok ISIS tersebut. Dan sejak saat itulah nama Islam di mata orang Jepang semakin buruk. Mungkin bukan hanya Jepang, tapi di negara-negara lainnya. 

Pertanyaan demi pertanyaan muncul. Aku dan sahabatku mencoba untuk menjelaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman. Beruntunglah sahabat kami yang orang Jepang itu bisa memahami keadaan Islam sesungguhnya. Mereka tahu betul, bahwa Islam bukan agama yang menjerumuskan pada perkelahian apalagi pembunuhan. Semua masalah ini pasti ada akarnya dan penyebabnya harus diketahui dengan pasti, tidak boleh asal bicara dan men-judge Islam begini, Islam begitu. 

Menurutku, berita yang ditampilkan di TV Jepang maupun media lainnya membuat semua orang takut dan berpikiran buruk pada Islam. Karena ISIS disebut juga Isuramu-koku dalam bahasa Jepang atau negara Islam, sehingga ini menjadikan "trauma" sendiri bagi mereka yang melihat berita tersebut tanpa tahu kebenarannya. Walaupun begitu, aku bukan berarti ikutan hantai atau malah membenarkan mereka. Sungguhlah, ilmuku masih belum seberapa dan aku belum berani memberikan kejelasan atas kekeliruan ini. Aku pun masih ingin terus menelusuri apa yang sebenarnya terjadi pada ISIS. Pernah juga dijelaskan secara detail oleh salah seorang temanku, tapi tetap saja sulit untuk dicerna. 

Aku cukup memberikan komentarku kepada mereka yang meminta kejelasan. Dan mereka mengangguk mengerti.

Keadaan seperti ini membuatku tak bisa menahan diri untuk menangis sedih, dan hanya Allah-lah tempat yang paling tepat untuk mengadukan semua keluh-kesah ini. Saat ini, Islam sedang banyak sekali diuji. Berita-berita miring dari pihak lain entah itu pihak yang berusaha membetulkan, atau justru menjatuhkan membuat umat Islam semakin terpuruk dan saling mengadu domba. Kenyataan ini aku lihat langsung di salah satu akun pribadiku. Aku memang tidak banyak muncul dan berkomentar di sana. Tapi aku hanya memperhatikan saja. Bagaimana tanggapan orang-orang dan apa saja yang ada di benak mereka perihal masalah ini. 

Aku, cuma ingin berbagi sama kalian. Kesedihan yang kurasakan atas 'perpecahan' ini membuatku ingin bercuap-cuap di sini. Walau aku tidak memihak pada siapa pun dan aku tidak mau menyudutkan satu pihak, tapi aku tetap merasa bahwa ini pasti akan selesai pada saatnya nanti. Ingat kan, bahwa 1 biji zarah yang ada di muka bumi ini pun Allah ketahui, apalagi persoalan sebesar ini. Sungguh, Allah tahu mana yang benar dan mana yang salah. Kita ini yang sok tahu. Kita ini yang terlalu percaya diri dengan kemampuan atau ilmu yang kita miliki. Maka dari itu, aku merasa tidak pantas untuk membenarkan si A, atau membenarkan si B. Sungguhlah, ini benar-benar cobaan untuk kita semua.

Tidak hanya sampai di situ rupanya. Aku melihat juga akhir-akhir ini muncul berita simpang siur mengenai Valentine's day. "We're Muslim and we're not celebrating Valentine."

Beberapa orang yang kukenal merasa kalimat tersebut terkesan janggal. Mengapa membawa nama Islam, lagi?

Di mata mereka, Valentine hanya sebatas tradisi yang seharusnya tidak perlu dikaitkan oleh agama. Kalau tidak ingin merayakan, toh diam saja dan tidak perlu berkicau di dunia maya sambil menambahkan kata "Islam" atau "Muslim". Begitu kata mereka.

Ini bukan bercanda, tapi serius. Banyak sekali komentar miring yang setuju dengan pendapat barusan. Lagi-lagi, Islam dianggap agama yang tidak toleran dan lain sebagainya. Apalagi, ini semua berasal dari warga negara kita sendiri--yang mayoritas penduduk Muslim terbanyak di dunia. Mau bilang apa? Desas-desus macam ini sebenarnya harus bisa dijelaskan berdasarkan dalil yang terkait serta bukan hanya dari opini masyarakat awam, apalagi sekadar pendapat yang masuk di akal. Islam sudah sangat menjaga keharmonisan, kerukunan, dan perdamaian. Kalau kita mau teliti lebih lanjut, banyak sekali kitab-kitab yang memang menjelaskan perkara toleransi maupun hukum dalam Islam.

Kalau sudah ada dalil yang didapatkan dari kitab Allah, sudah ada guru yang amanah dalam menyampaikan kebenaran, dan sudah ada sahabat yang shalih yang dipercaya ilmunya baik untuk menyelesaikan perkara ini, bolehlah kita meluruskan apa yang sebenarnya kurang dari statement sebelumnya. Manusia boleh punya pendapat, apalagi yang masuk di akal, begitulah Allah menciptakan kita untuk berpikir. Tapi kita harus ingat, semua akar dari segala ilmu yang kita miliki sekarang adalah dari Allah. Kita kembalikan lagi kepada-Nya. Jangan sampai kita sudah merasa pintar tanpa Allah. Merasa tidak perlu belajar lagi. Merasa diri ini paling benar. Kalau sudah begitu, pasti yang masuk bukan lagi kata hati yang baik tapi bisikan setan.

Islam sangat menjaga. Bukan merusak. 

Apa yang dikatakan mereka tentang tidak merayakan Valentine merupakan bukti cinta dan kasih sayang kepada Nabi Muhammad SAW. Mengapa demikian? Sungguh, yang patut dicontoh dan yang sangat pantas ditiru akhlaknya adalah beliau. Baginda Rasulullah semasa hidupnya tidak pernah menghakimi orang lain, tidak pernah berbuat yang tidak senonoh kepada umat agama lain, beliau justru menyayangi orang-orang yang membencinya yang setiap hari meludahi beliau. Baginda Rasulullah pun sangat taat kepada Allah. Sangat taat pada perintah Allah. Sehingga, tidak pernah sekali pun beliau merayakan suatu perayaan yang sifatnya jauh dari hukum Allah. Budaya itu hanya sebagai penghantar hidup kita. Bukan untuk dijadikan pedoman hidup. Kita boleh memahami budaya dan menghargainya, tapi kita harus ingat bahwa saat ini kita sudah masuk di fase di mana dunia penuh fitnah dan kehancuran iman. Jadi, kita harus lebih berhati-hati menjaga lisan agar jangan sampai menyakiti perasaan hati orang lain.

Berhusnudzanlah kepada saudara-saudara kita. 

Mungkin mereka melakukan 'penolakan' tersebut untuk menjaga diri mereka dari segala macam maksiat. Mungkin mereka tidak ingin mengotori keimanan dengan kemaksiatan. Justru, yang harusnya kita lakukan adalah bercermin. Bukan menghakimi orang lain. 

Sudah cukup pantaskah kita untuk menyalahkan orang lain?


Atau memang, justru kita yang sedang terlena untuk berbuat dusta?


Lisan itu sungguh tajam. Enteng sekali berucap ini-itu tanpa pikir panjang. Istighfar, mungkin kita belum benar, belum baik. Lebih baik kita perbaiki diri dulu, tambah ilmu dan terus merasa kecil supaya tidak berhenti belajar.