Visitor

Wednesday, October 8, 2014

Q&A Edisi 1

Dear sahabat kesayangan, saya lagi buka forum Q&A secara private di e-mail nih. Mungkin kalian yang punya pertanyaan seputar Islam, saya akan coba jawab di sini dan saya akan coba jelaskan secara rinci. Ini ada satu pertanyaan yang masuk dan maaf saya tidak sebutkan namanya. Oke, untuk teman-teman yang ingin pertanyaannya masuk di blog saya, boleh langsung e-mail ke: 

lydiaoktariani@gmail.com 


Ditunggu. Kirim yang banyak ya :D



Q: Kenapa sih, Islam itu aturannya banyak dan ketat? Kenapa juga Islam membolehkan penganutnya makan daging kurban (sapi dan kambing), tapi babi tidak boleh?

A: Oke saya akan coba jelaskan menurut yang saya tahu ya. 

Pertama, daging babi itu menampung beberapa jenis cacing dan bakteri penyakit. Ada cacing pita, cacing spiral, cacing tambang, bakteri TBC, virus kudis, bakteri kolera, parasit protozoa balantidium coli dan masih banyak yang lainnya.

Kedua, daging babi itu terlalu empuk. Jadi daging babi mengandung banyak lemak yang mengakibatkan sulit dicerna. Akibatnya, zat gizi tidak dapat dimanfaatkan tubuh. Selain itu daging babi juga banyak mengandung kolesterol yang nantinya bisa menyebabkan penyakit stroke dan jantung.

Ketiga, menurut Prof. A. V. Nalbandov (penulis buku Adaptif Physiology on Mammals and Birds) mengatakan bahwa kantung urine babi sering bocor. Sehingga bisa merembes ke dalam daginya. Akibatnya, daging babi tercemar kotorannya sendiri yang seharusnya dibuang bersama urine.

Keempat, babi merupakan pembawa penyakit flu burung dan flu babi.

Kelima, di dalam tubuh babi, virus H1N1 dan H2N1 yang semula tidak ganas dapat bermutasi menjadi H1N1/H5N1. Virus ini sangat berbahaya dan dapat mematikan di tubuh manusia. 

Keenam, research ilmiah di Cina dan Swedia menyimpulkan bahwa daging babi merupakan penyebab utama kanker anus dan usus besar. Selain itu, memakan daging babi juga bisa menularkan cacing pita yang dapat berpindah ke manusia. Ini dapat mengakibatkan pengerasan urat nadi, naiknya tekanan darah dan nyeri dada yang mencekam.

Ketujuh, fakta tentang hewan babi salah satunya adalah babi memakan semua apa yang dilihatnya di depan mata, kemudian jika sudah kenyang dimuntahkan, lalu dimakan lagi. Bahkan babi juga memakan kotorannya sendiri. 

Dan kalian tahu? Cacing-cacing bahkan telurnya yang ada di dalam daging babi ini tidak akan mati meski daging dimasak dalam suhu 100 derajat celcius. Terdapat juga parasit yang terbentuk seperti butiran-butiran telur dalam usus babi. Parasit fascioleplis buski hidup di usus halus babi dalam waktu yang lama. Ketika terjadi percampuran antara usus dan tinja, parasit ini akan berada dalam waktu tertentu yang bersifat cair yang bisa memindahkan penyakit pada manusia.

Nah, untuk membuktikannya bahwa di dalam daging babi itu banyak mengandung cacing/parasit yang berbahaya, boleh di cek di link berikut ini:


Dan sadarkah kita bahwa hewan babi itu tidak mempunyai leher? Ya, saya sendiri juga baru menyadarinya. Jadi, bagaimana bisa disembelih jika tidak ada leher? Dan dari semua penelitian-penelitian mengenai fakta hewan babi yang dilakukan di beberapa negara besar, seperti: Amerika, Cina, Prancis -- mengatakan bahwa daging babi adalah daging yang sangat tidak baik jika dikonsumsi oleh manusia. 99% mengatakan hal yang sama. Para dokter, ahli medis, peneliti pun setuju dengan kebenaran Al-Qur'an yang sudah ada dari berabad-abad yang lalu.

Allah sudah menjelaskan tentang haramnya daging babi jauh sebelum penelitian-penelitian modern itu ada. Dan apa pun yang Allah minta kita untuk menjauhinya, pasti akan berdampak baik untuk kita. Begitu pun sebaliknya jika Allah meminta kita untuk melakukan ini, melakukan itu, adalah atas dasar ilmu-Nya yang tidak bisa disamakan oleh kemampuan berpikir dan nalar kita. Allah mengharamkan daging babi karena Allah tahu itu akan sangat berbahaya bagi kita ketika mengkonsumsinya. Juga, Allah pun tahu daging sapi dan daging kambing baik untuk kita makan oleh sebab itu Allah tidak mengharamkannya. 

"Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur'an? Kalau kiranya Al-Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya."
(QS. An-Nisa: 82)

Sungguh, Allah itu sayang sama kita. Makanya, kita nurut saja sama aturannya Allah. Segala apa pun yang Dia perintahkan, pasti mengandung hikmah. Tapi kalau kita masih mau melanggar apa yang dilarang-Nya, tunggu saja sampai kita benar-benar menerima akibat buruknya. Seperti pada contoh yang tadi, memakan daging babi misalnya.

Jadi, walaupun kelihatannya Islam itu banyak aturan, banyak mengekang, sebenarnya itu adalah cara Allah menjaga kita. 

Sama seperti orangtua dan anak. 

Misalnya, orangtua membebaskan anaknya main ke mana saja, pulang jam berapa saja, berteman dengan siapa saja. Nah, si anak ini kesenengan. Akhirnya dia pulang tengah malam, habis dari diskotik, minum alkohol sama teman-temannya dan mabuk bersama. Orangtuanya santai saja. 'Kan sudah dibebaskan. Beberapa bulan kemudian, si anak sakit parah. Karena apa? Ya, karena tidak punya aturan itu. Akibat dari minum alkohol, berteman dengan orang-orang yang suka main ke diskotik, pulang tengah malam jadi sering masuk angin, bajunya pendek-pendek digodain laki-laki. 

APA ITU YANG DINAMAKAN KASIH SAYANG?

Beda sama Allah. Allah minta kita untuk memakai hijab bagi perempuan yang sudah baliq. Kalau Allah tidak sayang, Allah tidak akan minta kita untuk berhijab dan membiarkan kita memakai baju sesukanya (mau pendek, sempit, ketat) dan mungkin juga akan membiarkan kita untuk menonjolkan diri ke publik (konsumsi laki-laki) misalnya dalam ajang kecantikan. TAPI APA? ALLAH TIDAK SEPERTI ITU. Allah minta kita berhijab yang menutupi seluruh tubuh kecuali bagian wajah dan telapak tangan. Allah juga minta kita untuk tidak menonjolkan diri di hadapan publik. Untuk apa kita berada di atas catwalk? Mau pamer kecantikan? Mau jadi konsumsi masyarakat? Saya toh justru ngelihatnya jadi agak menyayat hati. Soalnya, disitu wanita terlihat seperti permen lolipop yang dikerubungi lalat. 

Dan begitulah cara Allah menjaga kita dari hal yang buruk.



Wallahu'alam bisshawab. 

1 comment: