Visitor

Sunday, October 19, 2014

Keindahan Diksi Al-Qur'an


Ketika mendengarkan seorang qari atau qariah yang melantunkan ayat suci Al-Qur’an, kita akan diam sejenak untuk mendengarkannya. Apa yang dirasakan? Tentu rasa nyaman, tenang, dan sampai-sampai rasanya mungkin ingin memejamkan mata. Tapi pernahkah kita sempat terbesit di kepala, sebenarnya apa saja sih keistimewaan Al-Qur’an itu? Mengapa hanya dengan mendengarkannya saja bisa sampai merasa rileks? Itu baru mendengarkan, apalagi untuk orang yang menghafalkannya, atau ahli dalam Al-Qur’an.

Pada kesempatan kali ini, saya akan berusaha merangkum isi dari kajian dengan judul ‘Keindahan Diksi Al-Qur’an’ yang dilaksanakan di Aula Gedung Pusat Studi Jepang, FIB UI Depok pada 27 September 2014. Alhamdulillah, Allah permudah lagi jalan saya untuk mencari ilmu yang bermanfaat. Tentunya, kita tidak bisa hanya mengandalkan buku dan internet saja ketika sedang belajar. Kita wajib mencari guru, ulama, ustadz, atau orang-orang yang sudah ahli dalam bidang yang ingin kita pelajari atau perdalam. Misalnya, dalam bidang Al-Qur’an. Berarti, kita harus mencari orang-orang yang jauh lebih paham mengenai apa-apa saja yang ada di dalam Al-Qur’an, keistimewaan apa saja yang ada di dalamnya, seperti itu.  

Dan itu pun terjadi dalam beberapa minggu belakangan ini. Saya penasaran, entah bagaimana saya menjelaskannya. Tapi bahkan saya sempat kehilangan kata-kata atau kosakata untuk menjabarkannya. Saya hanya merasakan bahwa siapa pun kita, dari mana pun asalnya, bagaimana pun masa lalunya, seburuk apa pun dia, ketika Al-Qur’an benar-benar bisa masuk ke dalam hatinya, hal yang dikhawatirkan serta merta hilang begitu saja.

Kejadian-kejadian yang ada di sekitar saya membuat saya sadar, bahwa keinginan kita untuk bisa benar-benar merasakan kemukjizatan Al-Qur’an membuat jalan demi jalan semakin terbuka. Tentunya ini jalan dari Allah ya. Karena Allah selalu berada di setiap kejadian-kejadian apa pun itu.

Pada saat narasumber membuka kajian ini dengan sedikit cerita mengenai hal-hal yang tersembunyi di dalam Al-Qur’an—misalnya, jumlah ayat yang dapat dikaitkan dengan kehidupan kita, atau makna yang sangat dalam—itu membuat pertanyaan saya di atas mulai sedikit demi sedikit terjawab.

Logikanya, kalau kita ingin merasakan keindahan atau mukjizat dari Al-Qur’an—tentu hal yang harus diupayakan adalah membacanya setiap hari. Tapi lihatlah diri kita, tidak perlu tengok orang lain dulu, coba untuk bercermin: Apakah bacaan kita masih banyak kurangnya? Atau masih minimalis? Musiman? Hanya dibaca di saat tertentu saja? Kalau ingat saja? Dan semacamnya. Sehingga itu yang menjadi sulit untuk kita bisa memahami bagaimana sih indahnya Al-Qur’an itu.

Coba sekarang kita buka Surah Al-Fajr.

Luar biasa. Ini salah satu bentuk kemukjizatan Al-Qur’an yang cocok dijadikan pengantar karena kita sudah memasuki bulan Dzulhijjah. Kalau kita hitung jumlah hurufnya di surah ini, ternyata sama dengan jumlah detik dalam 1 tahun. Kemudian, total ayatnya sama dengan jumlah hari dari 1 bulan—30 ayat. Di ayat pertama, Allah bersumpah dengan waktu subuh. Kemudian di ayat berikutnya, Allah bersumpah dengan sepuluh hari. Di dalam Islam, ada 10 hari yang luar biasa. Yaitu 10 hari terakhir bulan Ramadhan, 10 hari terakhir bulan Dzulhijjah, dan yang lainnya. Jadi karena itulah Allah jadikan sumpah.

Surah Al-Fajr itu memiliki 3 terminal. Terminal pertama, terkait 10 hari pertama atau terakhir bulan Ramadhan atau bulan Dzulhijjah. Terminal kedua, tentang nasib umat-umat terdahulu yang disiksa karena ibadahnya musiman. Misalnya, ketika nilainya bagus, baca Al-Qur’annya jadi sering. Tetapi jika sedang menurun nilainya, menurun juga keinginan untuk membaca Al-Qur’an. Sebenarnya, tidak ada seorang pun yang hidupnya dari A sampai Z selalu mulus. Ada saja orang-orang yang awal kehidupannya suram, buruk, gelap gulita, tetapi bisa saja Allah tunjukkan dengan cahaya-Nya yang terang. Dan ini masuk di terminal ketiga—yaitu penutupan dari surah ini.

“Wahai jiwa-jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.”
(QS. Al-Fajr: 27-28)

Kata Allah, kalau kita mau pulang, silakan. Allah ridha, kita pun ridha. Karena Allah tidak menilai manusia dari masa lalunya saja. Itu bukan menjadi tolak ukur utama. Maka apakah pantas, manusia yang fitrahnya pasti punya dosa, menilai manusia yang lain hanya dari masa lalu gelapnya saja? Contohnya seperti para pecandu narkoba, awal kehidupannya pahit, penuh duka, tetapi akhirnya Allah berikan kesempatan untuk bertaubat, lalu mereka bertaubat. Setelah itu, apakah mereka akan disebut sebagai pecandu narkoba lagi? Tidak. Jika pertaubatan itu sungguh-sungguh, bisa saja Allah ambil, Allah cabut nyawa mereka dalam keadaan khusnul khatimah, ketika sudah bertaubat dan hilanglah sudah keburukan-keburukan masa lalunya. 

Kalau kita sungguh ingin memperbaiki diri, dengan membenarkan shalatnya, merapikan bacaan Al-Qur’annya, siapa tahu Allah pun menutup akhir hidup kita seperti Allah menutup Surah Al-Fajr.


Membuktikan Keistimewaan Al-Qur’an

Mungkin banyak yang belum mengetahui bahwa ada seorang muslimah yang masih sangat muda tetapi sudah mendapatkan gelar doktor. Dialah Nur Azizah berkewarganegaraan Pakistan. Beliau masih berusia belasan tahun ketika lulus S3. SD cukup 1 tahun, SMP 1 tahun, SMA pun 1 tahun. Kuliah S1 40 hari langsung sidang, S2 40 hari dan S3 pun hanya membutuhkan waktu 40 hari. Beliau ini memiliki kecerdasan yang tidak dimiliki oleh anak-anak lainnya. Bahkan ia mampu menghitung ketinggian gunung tanpa menggunakan alat. Jangan heran, jika semua ini bermula dari Al-Qur’an. Ya, beliau ini adalah seorang penghafal Al-Qur’an di usianya yang masih sangat belia. Ia juga mengaku bahwa ia mendapatkan banyak isyarat ilmiah dari Al-Qur’an—seperti rumus kimia dan fisika.

Nur Azizah menjadikan Surah Al-Insyiqaq sebagai bahan disertasinya.

“..dan apabila bumi diratakan, dan mengeluarkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong.”
(QS. Al-Insyiqaq: 3-4)

Kalau kita kaitkan dengan kejadian nyata, sama seperti keserakahan manusia ketika memegang sebuah kekuasaan. Manusia merasa bumi ini milik bersama. Sehingga dengan bebasnya merauk hasil tambang, emas, batu bara yang terus-menerus dikeluarkan untuk hal-hal yang sifatnya duniawi. Sehingga wajar, suatu waktu bumi itu isi perutnya kosong.

Sungguh, jika boleh dikatakan, usia kita ini tidak cukup untuk meriset seluruh keajaiban dari Al-Qur'an. Karena teksnya tepat tetapi maknanya bergerak terus. Karena itu, tidak ditemukan satu kata pun dalam Al-Qur’an yang tidak mengandung unsur polisemi atau maknanya banyak. Sehingga jika kita membacanya hari ini, kita akan mendapatkan makna untuk hari ini. Demikian juga besok, kita akan menemukan makna yang lain. Al-Qur’an itu akan selalu enak dibaca. Maknanya pun sangat elastis. Dari zaman Nabi dulu sampai zaman kita ini, hingga seterusnya, Al-Qur’an itu ya sama saja. Tidak ada yang berubah. Bacaannya seperti itu. Hukum tajwidnya tetap sama. Begitu dilagukan pun tidak ada yang tidak enak didengar. Hanya mungkin metode belajarnya saja yang berubah. Kalau dulu, di masa Rasulullah tidak ada laptop, ponsel, atau internet, kita sekarang beruntung bisa akses Al-Qur’an bahkan di genggaman kita sendiri.   

Jadi, apa saja sih yang ajaib dan hebat dari Al-Qur’an?

Pertama, disebut mukjizat karena dari bagian bahasanya.
Kedua, beritanya.
Ketiga, sejarahnya.
Keeempat, isyarat ilmiahnya.
Kelima, hukum-hukumnya
Keenam, semuanya.

Seperti yang kita ketahui, bahasa Al-Qur’an itu adalah bahasa Arab. Al-Qur’an itu memiliki mukjizat yang sangat banyak. Mukjizat itu artinya mampu menaklukkan. Ketika Al-Qur’an hadir di antara masyarakat Arab yang sedang tertarik sekali membuat sastra atau puisi, sontak itu membuat semuanya terheran-heran. Pada saat itu, para sastrawan ternama menempelkan karya besar mereka di dinding Ka’bah. Namun, Nabi Muhammad mampu memberikan satu hal yang berbeda dari dunia sastra di Arab jahiliyah dulu. Biasanya, sastra Arab itu panjang-panjang kalimatnya. Keindahan pun dilihat dari diksi yang dipakainya. Tetapi, diksi Al-Qur’an pendek, simpel, namun maknanya panjang atau berpolisemi.

Qaf..”
“Apa ini?”
Yaasiin..”
“Wah, apa lagi ini??!”
Alif, lam, raa..

Orang Arab bingung. Nabi Muhammad hanya berkata dari satu huruf ke huruf yang lainnya. Baginda hanya membacakan sedikit dari apa yang ada di Al-Qur’an. Itulah yang membuat mereka semua kaget karena apa yang dilantunkan beliau sungguh dianggap seperti bukan buatan manusia.

Al-Qur’an itu memang menggunakan bahasa Arab. Tetapi bahasa Arab-nya Al-Qur’an dengan bahasa Arab biasa itu berbeda.

Mengapa kitab suci Al-Qur’an bahasanya memakai bahasa Arab? Sedangkan kitab suci lainnya bahasanya menggunakan bahasa masing-masing di setiap negara tersebut?

Karena Islam itu adalah agama yang rahmatan lil alaamin. Kalau rahmatan lil alaamin, berarti kitab sucinya dengan bahasa yang satu harus ada bahasa yang merekatkan seluruhnya untuk menyatukan identitas setiap penganut kitab suci tersebut. Coba kita bayangkan, betapa indahnya orang-orang Muslim yang melakukan shalat berjamaah di Masjidil Haram. Kalau kita keker memakai alat dari jarak beberapa kilometer, terlihat seperti kerumunan manusia yang sedang bersujud kepada Tuhannya. Keteraturan. Kerapihan. Kesamaan. Dan satu lagi, antara perempuan dan laki-laki tidak bercampur. Artinya, ada aturan yang membuat mereka disiplin. Hal inilah juga yang membuat beberapa peneliti di Amerika maupun Rusia tertarik untuk meneliti tentang Islam.

Nah, karena Islam itu adalah agama yang satu, tidak berpecah. Bukan agama yang ada cabangnya, ada akarnya, atau lain sebagainya. Maka, bahasa dari kitab sucinya pun satu. Yaitu, bahasa Arab. Yang merupakan fitrah. Artinya, siapapun yang ingin belajar, pasti bisa. Anggap saja orangnya sudah tua sekali, atau lidahnya tidak bisa berdengung, berqalqalah, atau bersengau—semua itu bisa dilalui karena Allah sudah janjikan kemudahan. Ngomong-ngomong saya pernah membaca sebuah artikel dan narasumbernya memberikan link mengenai orang Jepang yang mampu melafalkan ayat suci Al-Qur’an dengan sangat baik walaupun kita tahu keterbatasan mereka. Ya, orang Jepang itu tidak bisa fasih mengucapkan beberapa alfabet, seperti R, atau -ng dengan sengau. Indonesia, banyak sekali kosakata bersengaunya. Apalagi yang berakhiran R. Tapi buktinya, dengan ketekunan, keyakinan, kemauan dan niat yang sungguh-sungguh, beliau bisa berhasil. Al-Qur’an itu Allah mudahkan untuknya.

Masih mengenai bahasa yang satu—bahasa Arab, lihat juga bagaimana orang Islam di Amerika membaca Al-Qur’an, lalu bandingkan dengan orang Turki, orang Cina, orang India, orang Belanda membaca Al-Qur’an. Semuanya sama. Dengan bahasa Arab. Bukan terjemahan. Ini yang disebut dengan kesatuan bahasa, kesatuan cara beribadah, dan semua ini dilakukan di belahan dunia mana pun dengan cara yang dari dulu tidak pernah berubah.

Tetapi tahukah teman-teman, Injil yang dibaca oleh orang Indonesia itu ternyata bukan hasil terjemahan dari bahasa aslinya—bahasa Ibrani. Tapi terjemahan dari bahasa Inggris, dan bahasa Inggris ini merupakan terjemahan dari bahasa Greek. Greek tidak menerjemahkan langsung dari bahasa Ibrani. Melainkan dari bahasa mesir kuno. Jadi, banyak sekali transitnya. Seperti yang sudah saya pelajari selama belajar sastra, saya selalu menemukan keseleo-keseleo kecil dalam dunia terjemahan. Dan itu baru dari bahasa Inggris ke bahasa Jepang, misalnya. Apalagi ini yang sampai berkali-kali dilakukan penerjemahan sebrang bahasa.

Perhatikan juga bagaimana Al-Qur’an dan hadist memiliki banyak tafsiran. Ada yang menafsirkan ayat dengan ayat, ada juga yang ayat dengan hadist. Mengapa seperti itu? Tentu ini karena disebabkan oleh unsur polisemi.


Bahasa Al-Qur’an

Tidak ada seorang pun yang bisa menandingi keindahan Al-Qur’an. Ia bisa dipelajari oleh siapapun. Namun yang membedakannya adalah mendapatkan hidayah atau tidak. Narasumber mengatakan bahwa beliau pernah mendengar cerita dari sahabatnya. Saya tidak begitu dengar siapa namanya. Hanya saja, orang ini bukan orang Indonesia. Dan dia mempelajari Islam sudah lama. Ia juga menghafalkan ayat-ayat Al-Qur’an. Namun tahukah teman-teman, orang tersebut bukanlah seorang Muslim. Ya, begitu ditanya mengapa engkau tidak masuk Islam saja? Ia menjawab, “Khatamallahu alaa quluu bihiim wa aala sam ihim. Wa alaa absorihim gisyaawahu.” artinya, Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup.

Khatam dalam bahasa Arab mengandung arti seperti sudah ditutup atau stampel. Allah menggunakan kata khatam dalam ayat di atas karena mengandung makna sudah ditutup. Seperti stempel yang sudah tidak bisa dikembalikan lagi. Namun berbeda dengan kata khusnul khatimah—yaitu buku atau gerbang yang ditutup tapi bisa dibuka lagi. Mengapa? Karena begitu kita meninggal nanti akan ada saatnya kita dibangkitkan kembali. Tapi kalau khatam sudah tidak ada lagi. Jadi, diksi yang dipakai Allah pada kata khusnul khatimah adalah khatim bukan khatam.

Di dunia ini, manusia bisa saja menutupi kesalahan atau aib dari orang lain. Tapi, belum tentu ketika di akhirat. Bisa saja Allah buka kembali sehingga manusia lainnya bisa mengetahui aib-aib yang sudah ditutup di dunia.

Tahukah teman-teman, bahwa bahasa Arab itu sangat luas loh. Saya yang baru pemula 3 bulan saja sudah merasa berat sekali. Mulai dari verbanya yang terdiri dari 12 juta jenis. Seperti fa ala-yaf ulu-fa’la-fa’lan dan lain sebagainya. Semua jenisnya 12 juta dan itu baru huruf yang sehat yang tidak ada alif, wa dan ya. Bentuk morfologisnya terdiri dari 120 bentuk. Dari fa ala berubah menjadi 1250 bentuk. Sehingga wajar bahasa Arab di Al-Qur’an memiliki polisemi dan kalimat yang sangat anggun.

Namun, sesulit apa pun dan seberat apa pun cobaannya, bagi dia yang ingin bersungguh-sungguh untuk mempelajari Al-Qur’an atau bahasa Arab, Allah pasti akan mudahkan. Kalau Allah mudahkan, berarti logikanya, sebenarnya sulit. Tapi, Allah mudahkan. Nah, kalau sudah dimudahkan, berarti ada keterlibatan Allah di sini.

Sedikit cerita dari narasumber. Suatu saat Ibnu Mas’ud pernah didatangi oleh kawannya. Ia mengaku sedang galau dan ada masalah. Dan pada saat itu Ibnu Mas’ud hanya memberikan saran dengan 3 langkah. Pertama, bacalah Al-Qur’an. Jika belum selesai masalahnya, langkahkan kaki ke majelis Al-Qur’an—pelajari dan kajilah Al-Qur’an. Tapi, kalau belum selesai juga masalahnya, datangi Allah, cari waktu untuk berdua dengan Allah di saat semua orang sedang tertidur. Dan, kalau belum selesai juga masalahnya, mohonkan kepada Allah untuk meminta digantikan dengan hati yang baru. Karena hati yang seperti itu sudah tidak bisa lagi digunakan dan harus segera diganti.


Penjagaan Al-Qur’an

Al-Qur’an sudah Allah jamin penjagaannya. Jadi, kalau untuk ditanyakan kemukjizatannya, jangan sebut hanya untuk obat kesurupan atau ketika sakit bisa diruqyah. Karena itu adalah bagian terkecil dari apa yang bisa dilakukan oleh Al-Qur’an. Intinya, mukjizat Al-Qur’an itu terbagi dari bahasanya, bagaimana ragamnya, kosakatanya. Kemudian juga dari isyarat ilmiah. Al-Qur’an itu bukan ilmu pengetahuan, tetapi yang ada di dalamnya terdapat isyarat-isyarat ilmiah yang bisa diteliti. Contohnya di Surah Ar-Rahman mengenai 2 lautan yang tidak bercampur, yang satu asin, yang satunya lagi tawar. Dan yang terakhir adalah berita-berita ghaib yang sudah terbuktikan. Yaitu adanya cerita di dalam Al-Qur’an tentang raja besar Fir’aun, kaum Tsamud, dan juga kerajaan Saba. Dari sekian banyak atas apa yang disampaikan oleh Al-Qur’an, kebenaran sudah teruji 80% dan sisanya masih menunggu karena ilmu kita mungkin belum sampai. Apakah dengan pembuktian seperti itu pun masih membuat raga dan jiwa kita ragu untuk meyakininya?

Sebagai penutup, saya meminta teman-teman semua untuk membuka Al-Qur’annya Surah Al-Qamar ayat 17, 22, 32 dan 40.

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?”

Ayat ini diulang sebanyak 4 kali oleh Allah sebagai penekanan. Sama. Ayatnya sama. Hanya diulang saja. Seperti yang sudah pernah saya sampaikan di materi sebelumnya, dalam bahasa Arab itu, ketika kita mengulang lalu mengulang lagi berarti artinya adalah penekanan. Allah menekankan ke kita semua, tidak adakah yang ingin mengambil pelajaran dari Al-Qur’an? Berapa banyak orang yang meninggalkan atau menyepelekannya sehingga Tuhan mereka berganti menjadi harta, jabatan, uang, bahkan wanita?


Sumber:
Dr. Abdul Muta’ali, M.A., M.I.P.

Ust. Muh. Barqun, S.Q., M.A.

No comments:

Post a Comment