Visitor

Sunday, September 14, 2014

Mari ‘Bercanda’ Dengan Allah



Pernah tidak teman-teman merasa seperti ini.

Ketika ingin sesuatu, teman-teman berdoa dan melakukan banyak ibadah untuk menunjang doa teman-teman agar dijabah. Setiap kali berdoa, selalu serius dan lama. Tapi, kenapa ya kayaknya Allah belum juga menjawab doa yang satu ini?

Pertanyaan mulai muncul satu per satu.

Apa mungkin ada yang salah dalam diri saya?
Ataukah saya masih ada hutang dosa yang belum dibayar?
Atau memang Allah belum mengizinkan?
Ah, bingung...

Nah, pada kesempatan kali ini, saya ingin sedikit memberikan satu gambaran tentang bagaimana cara Allah mengabulkan doa kita. Dengan cara-Nya, yang tidak diduga-duga. Mudah-mudahan dari cerita ini bisa menjadi inspirasi teman-teman semua untuk lebih yakin dengan ‘cara’-Nya.

Begini. Jujur saja, beberapa dari teman saya sering sekali cerita tentang pengalaman mereka selama mengenal Allah. Sudah sejauh mana mereka mengenal Allah? Dan apakah mereka benar-benar sudah merasa dekat dengan Allah?

Di saat dekat dengan seseorang, pasti kita akan merasa nyaman dan tidak mau jauh-jauh dari dia. Sedih maupun senang, berbagi cerita. Tentu seperti itu yang akan terjadi, yang akan terbangun ketika kita sedang bersama sahabat. Begitu juga dengan Allah. Kalau kita ingin dekat sama Allah, kita harus sering ngobrol dan curhat apa pun masalah kita ke Dia. Bukankah kita ini membutuhkan Allah? Kita bukan apa-apa loh tanpa-Nya. Dan hebatnya, Allah itu tidak pilih-pilih. Dia membantu siapa pun yang meminta kepada-Nya—tanpa pandang bulu. Mau hamba-Nya itu datang hanya setahun sekali, atau hanya datang pada hari Jum’at saja, Allah tetap bantu.

Masih tidak percaya?

Coba perhatikan cerita berikut ini ya.


---

Salam. Nama saya, sebut saja Bunga. Saya kuliah di Universitas A. Dan saat ini saya sedang menulis skripsi sebagai prasyarat sidang. Beberapa tahun yang lalu, saya pernah berkenalan dengan seorang pria bernama, sebut saja Daun. Dia baik sekali dan banyak menginspirasi saya. Diam-diam saya menyukainya. Tapi, namanya juga manusia, pasti pernah khilaf. Ya, saya pernah melupakan Allah untuk urusan cowok ini. Gegara saya suka sama dia, saya jadi jarang sekali curhat ke Allah. Curhatnya ke dia melulu. Mungkin Allah marah, atau Allah sedang rindu curhatan saya.

Nah, karena semakin akrab, saya dan dia memutuskan untuk menikah. Di saat semua persiapan sudah disiapkan, tiba-tiba orangtuanya tidak setuju karena beberapa alasan. Saya shock bukan main. Allah benar-benar ‘marah’, pikir saya begitu.

Karena stres dan frustasi, akhirnya saya memutuskan untuk menyendiri beberapa waktu. Saya tidak mau diganggu. Sekalipun itu dia yang menghubungi.

Tidak berapa lama setelah kejadian itu, tiba-tiba hujan deras. Hanya selisih beberapa jam setelah hujan, saya melihat sesuatu yang indah di tepi jalan. Ya, itu pelangi! Pertama kalinya saya melihat pelangi seindah itu. Indah sekali. Saya tersenyum melihatnya. Dan kembali teringat oleh sosok yang pernah menginspirasi saya sejauh ini. Jujur saja, saya tiba-tiba kangen. Kangen akut pokoknya. Bukan kepada dia yang kini sudah pergi. Tapi, saya rindu ‘bercanda’ dengan Allah.

Berbulan-bulan berlalu. Dan akhirnya...

Siang itu saya memutuskan untuk membeli sesuatu yang bisa diberikan dan berguna untuk orang lain. Siapa lagi kalau bukan si Daun. Ya, saya datang ke kampusnya diam-diam. Sepanjang perjalanan, saya cuma ngobrol sama Allah. Habisnya saya sudah rindu banget sama Dia. Sudah berapa lama saya tinggalkan Dia?

“Ya Allah...
Kayaknya saya sudah lama banget nggak seperti ini. Saya rindu. Sungguh deh.
Tapi ya Allah...
Engkau kan tahu, hari ini saya bawa Al-Qur’an untuk saya kasihkan ke si Daun. Bantu saya ya Allah. Saya mohon sekali. Saya kepengen banget nih ngasih Qur’an ini ke dia. Siapatahu ini bisa mempermudahnya menghafalkan Al-Qur’an.”

Saya ngomong dalam hati. Cukup Allah dan saya saja yang tahu. Dan itu sangat menyenangkan. Main rahasia-rahasia-an sama Allah itu seru, beneran loh. Nah, terus akhirnya saya pergi ke suatu tempat yang paling bisa buat saya tenang. Ya, apalagi kalau bukan mushola. Saya shalat dulu deh di sana. Tenang banget. Agak sepi sih jamaahnya.

Selesai shalat, saya ngobrol lagi. Akrab banget.

“Ya Allah, dulu, saya songong banget ya dan merasa yakin kalau si Daun itu jodoh saya. Padahal saya belum minta restu-Mu. Bagaimana bisa terjadi pernikahan kalau tanpa restu-Mu?

Hari ini...
Ya...
Hari ini saya datang lagi kepada-Mu. Saya tahu kemarin-kemarin itu salahnya saya. Dan saya baru sadar sekarang.  

Ya Allah, boleh tidak saya minta sesuatu? Gampang kok. Begini, pertemukan saya dengan si Daun ya, ya Allah. Di manapun lokasinya, yang penting di kampus ini deh. Saya cuma pengen ngasih Qur’an ini doang kok. Habis itu saya pulang deh. Gimana, ya Allah? Boleh nggak? Boleh, ya? Hehe.”

15 menit berlalu. Saya jalan ke dekat perpustakaan tanpa berpikir apa-apa. Di ujung jalan sana, tiba-tiba kaki saya lemas bukan main. Bagaimana tidak, baru beberapa menit yang lalu setelah saya ‘bercanda’ sama Allah, eh, tahu-tahunya mata saya melihat ke sudut ruangan yang di sana berdiri seorang pria memakai jaket hitam. Dia itu si Daun!!!! Iya, beneran. Allah yang gerakkan kaki saya ini ke dekat perpustakaan dan akhirnya berhenti di beberapa langkah setelah melihat si Daun. Karena saya masih kaget, akhirnya saya kembali berjalan menjauhinya. Lagi-lagi, saya ‘bercanda’ sama Allah.

“Yang tadi itu... beneran ya Allah?”

Saya jalan lagi menelusuri anak tangga. Tanpa pikir panjang, saya menyebrang ke dekat masjid. Loh. Loh. Kok saya malah ke masjid? Bukannya saya tadi sudah shalat? Saya juga bingung nih, kenapa saya ke masjid ya? Padahal tadi tidak mikir mau lewat sini.

Ternyata, saya baru sadar, inilah cara Allah. Benar-benar murni bukan karena kesoktahuan saya. Ini yang gerakkan Allah. Begitu saya jalan mendekati lobi masjid, saya tiba-tiba terhentak dan mata saya tertuju pada satu titik.

Titik itu adalah titik di mana saya bisa merasakan kedamaian seperti ketika saya mengenal si Daun. Bukan karena saya telah jatuh cinta, tapi karena saya kagum sama kuasanya Allah. Bagaimana tidak, Allah nitipin si Daun sama saya beberapa tahun. Setelah itu, saya jauh lebih mengenal Allah dan lebih dekat lagi. Karena ‘titipan’ itu, saya bisa menjadi seperti yang sekarang.

Kaki saya 100x lebih lemas daripada yang tadi. Yang pada saat saya ketemu si Daun di dekat perpustakaan. Bedanya, waktu itu dia tidak lihat saya. Tapi, kali ini, di dekat masjid, kami saling bertatap-tatapan.

Masih dalam suasana tidak percaya, saya menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang ia lontarkan. Sudah berapa lama kami tidak saling menyapa, apalagi bertemu. Tapi, tahukah kalian siapa yang menggerakkan kaki saya dan kakinya si Daun?

Allah...

Jujur saya, setelah bertemu dengannya di dekat perpustakaan dan dia tidak melihat saya, sebenarnya saya berjalan menuju stasiun kereta untuk pulang. Kenapa? Toh saya sudah bingung bukan main gimana caranya bisa bicara sama si Daun. Saya pasrah. Benar-benar saya serahkan ke Allah. Terserah deh maunya Allah kayak gimana. Yang penting, saya bahagia bisa dekat seperti ini lagi sama Allah.

Dan benar, saya pasrahkan apapun hasilnya. Al-Qur’an masih saya pegang. Harapan juga masih tersimpan. Tapi, saya tetap yakin bahwa Allah tahu yang terbaik. Dan lihatlah bagaimana cara Allah mempertemukan saya dengan dia.

Kaki ini...

Kaki ini sebenarnya melangkah beberapa meter ke tujuan yang ada di pikiran saya: stasiun kereta. Saya mau pulang. Saya mau pulang.

Bukan karena menyerah dan tidak mau usaha. Tapi karena saya sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa. Biarlah Allah yang bantu. Dengan cara-Nya, sesuka-Nya.

Dan benar. Yang terjadi adalah pertemuan singkat yang tidak diduga. Awalnya begini, saya mau lewat di jalan yang dilewati oleh motor dan mobil. Tapi pada saat itu, Allah kasih penghalang. Akhirnya saya cari jalan lain untuk bisa sampai di stasiun. Lewatlah dan melangkahlah kaki ini menelusuri jalan-jalan kecil dekat dengan masjid. Kebetulan, saya sempat memasuki kawasan ikhwan yang saat itu sedang sepi. Muncullah si Daun dengan tiba-tiba di hadapan saya. Ia baru saja selesai shalat. Dan saya berhasil memberikan Al-Qur’an itu kepadanya.

---

Kisah di atas adalah kisah nyata yang saya tidak bisa sebutkan nama asli dari si pelaku. Di sini saya mengambil pelajaran. Bahwa sekeras apa pun keinginan dan obsesi kita, jangan pernah yakin kalau kita bisa mengerjakan itu semua tanpa-Nya. Libatkan Allah. Jangan duakan Dia dengan sesuatu apa pun. Yakinlah bahwa Allah sudah mengatur semuanya dengan sangat indah. Walaupun terkadang kita melihatnya dari sisi yang tidak mengenakkan, namun itulah cara-Nya.

Allah itu senang ‘bercanda’ dengan kita. Di saat kita serius, Allah malah bercanda. Tapi di saat kita sedang bercanda, Allah serius, Allah kabulkan. Allah juga senang melihat kita deg-deg-an, panik dulu. Habis itu ada saja yang bikin bersyukur banget. Itu yang terjadi pada kisah di atas. Wanita yang saya ceritakan mengaku memang merasa bercanda dengan Allah. Bahkan ia mengatakannya sambil tersenyam-senyum kecil. Seperti bercanda dengan orangtua. Bahasa yang digunakan saat ngobrol dengan Allah pun, tidak begitu baku, tapi tetap sopan. Jadi layaknya seperti merasa teman, sudah dekat, sudah akrab. Ia hanya meminta untuk dipertemukan lagi dengan laki-laki yang pernah disukainya dulu. Hanya itu kok. Hanya ingin memberikan hadiah kecil.

Tapi secara logika, sungguh mungkin banyak yang mengira ini cuma rekayasa atau ngarang-ngarang. Karena apa? Kampusnya besar. Mampu menampung puluhan ribu manusia. Orang-orangnya beragam. Bunga bahkan tidak punya nomer telepon si Daun. Tidak tahu Daun ini ada di mana. Pikirnya, ya hanya Allah sajalah yang tahu. Ia hanya bermodal itu. Dan satu lagi, jarak dari tempat ia shalat dengan fakultas si Daun lumayan menguras energi alias jauh. Orang awam bilang, kemungkinannya kecil bisa ketemu si dia kalau kita benar-benar sudah tidak kontakan lagi. Tapi apa yang terjadi? Cukup 15 menit saja berselang bercandaan sama Allah, eh orangnya muncul depan mata.

Namun, ini bukan berarti menjadi patokan utama kalau kita harus ‘bercanda’ terus sama Allah. Tetap harus ingat, bahwa kita ini hamba. Dan hamba tugasnya adalah menghamba hanya kepada Allah, taat, dan jangan menyosor duluan semaunya. Mintalah kepada-Nya. Sungguh, Allah itu mendengar. Sangat mendengarkan. Dan jangan anggap masalah sebagai masalah. Musibah sebagai musibah. Allah berikan masalah dan musibah untuk mengetes hamba-Nya. Bukan karena tidak peduli, justru sangat peduli. Kado dari Allah atas kelulusan kita itu bisa jauh melebihi apa yang pernah bayangkan sebelumnya.



Bagaimana teman-teman?

Semoga kisah ini bisa membuat kita semua sadar bahwa kita ini sangat kecil dan sangat membutuhkan Allah. Mohon maaf jika ada kata yang salah, selebihnya saya ingin mengucapkan terimakasih untuk teman-teman yang sudah menyempatkan waktunya membaca tulisan saya. Tunggu kisah berikutnya, ya.

No comments:

Post a Comment