Visitor

Sunday, September 7, 2014

Kalau Kau Tidak Mau Mendatangi-Ku Tepat Waktu, Bagaimana Aku Akan Menjawab Doamu Tepat Waktu?


Aku sempat terpikir, bagaimanakah mungkin seseorang yang dihutangi temannya merasa biasa-biasa saja kalau terlalu lama tidak dibayar. Nah, itu baru sama manusia. Wajar saja kalau sedang dihutangi, pasti ditagih jika belum membayar. Tapi pernah tidak terbayang jika itu terjadi pada manusia dan Tuhannya?

Semisal, saya mengecewakan sahabat saya sendiri karena terlambat datang ke acara ulang tahunnya. Diminta datang jam 5 sore, saya datangnya jam 7 malam. Berarti terlambat 2 jam. Marahnya bukan main. Karena saya diminta untuk jadi panitia di acara tersebut. Dianggap penting. Tapi saya malah terlambat. Pertanyaannya, bagaimanakah keadaannya jika kita terlambat untuk mendatangi Allah?

Sepele mungkin kelihatannya. Hanya sebatas shalat saja kok. Kan waktunya masih panjang. Mungkin beberapa dari kita ada yang berpikiran seperti ini juga. Tapi, kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi selanjutnya, kan? Padahal, perkara shalat itu jauh lebih penting dari dunia dan seisinya. Jauh lebih penting daripada urusan pesta ulang tahun sahabat. Jauh lebih penting daripada pernikahanmu sendiri.

Jika saya sudah menjabarkan kisah di atas dengan perandaian hutang dan terlambat datang ke acara sahabat, bagaimana dengan shalat kita?

Bisakah kita membayangkan marahnya Allah jika manusia saja bisa sampai bermusuhan hanya karena masalah hutang yang belum dibayar? Allah memang tidak sama dengan kita. Tetapi yang harus diingat, kita tidak boleh menomorduakan datang ke Allah dalam keadaan se-urgent apa pun. Utamakan Allah. Dahulukan Allah. Karena bagaimana Allah akan mendahulukan kita, mengabulkan doa-doa kita, memberikan apa yang kita butuhkan, menjawab kegelisahan kita, kalau kita tidak segera datang ke Dia.

Allah meminta kita untuk datang dan menceritakan semua kejadian, baik itu yang pahit maupun manis kepada-Nya sehari 5 waktu tidak dengan tujuan untuk memberatkan hamba-Nya. Justru sebaliknya, kita seharusnya bersyukur Allah memberikan kesempatan sehari sebanyak 5 kali untuk berdoa, curhat, meminta apapun yang kita butuhkan DENGAN GRATIS.

Beberapa teman saya yang noni, pernah berkata begini:

“Saya iri sama kamu. Tuhan kamu meminta untuk beribadah kepada-Nya sehari 5 kali. Kamu bisa minta apa saja. Sedangkan aku? Seminggu cuma sekali.”

“Saya masih penasaran sama hijabnya orang Islam. Kalau dipikir-pikir, hijab itu sebenarnya bisa memuliakan perempuan. Karena dengan hijab yang benar, perempuan itu terlihat jauh lebih berharga dan tidak sembarang. Berbeda dengan yang berpakaian minim, laki-laki manapun yang melihatnya bisa langsung mikir yang macam-macam. Ya wajar, karena di mata lelaki, wanita yang berpakaian minim itu akan menjadi sorotan dan pemuas nafsunya. Bisa disimpulkan, sebenarnya hijab itu baik untuk perempuan dengan agama apapun.”

Ya, saya pun bersyukur menjadi perempuan berhijab. Karena setelah merasakan betapa nyamannya menutup aurat, saya juga bisa merasakan Allah begitu dekat dengan saya. Bukan hanya itu saja, yang biasanya suka menggoda saya ketika lewat di jalan, sudah diganti dengan salam.

Begitu juga dengan shalat tepat waktu. Datangi Dia tepat pada waktunya. Minta apapun tanpa perlu orang lain mengetahuinya. Allah tidak akan membocorkan rahasia kita. Allah-lah yang paling tahu bagaimana isi hati kita sebenarnya. Jadi, biarlah hanya Allah yang memahami hal-hal yang sulit untuk kita pahami. Saya pernah merasakan ini. Ketika saya tidak tahu lagi harus datang ke mana. Ketika semua orang terasa seperti menjauh dari saya—atau saya merasa tidak punya kawan. Saya hanya ingin mencari yang mampu mengerti saya. Dan jawabannya ada pada shalat. Ketika menangis, mengadu, memohon ampun, rasanya begitu dekat. Rasanya tidak mau melepaskan. Setelah itu, apa yang terjadi selanjutnya biarlah Allah yang mengatur. Jangan kita yang sok mengatur dan yakin betul sama apa yang akan terjadi besok.

Begitu pun ketika saya mengeluarkan unek-unek saya ke Allah.

Saya ceritakan saja semuanya. Apa yang buat saya gelisah. Perihal duniawi. Ternyata saya hanya perlu lebih dekat lagi ke Allah. Kalau jauh sedikit saja, ya kalian pun tahu jawabannya.


Jadi, apapun yang terjadi, pentingkanlah pertemuan kita bersama Allah. Sujudmu itu mungkin tidak berarti apa-apa bagi manusia. Tapi, untuk apa mencari perhatian manusia? Kalau kita sedang naik-naiknya, dipuji, tetapi jika sedang turun, apakah semuanya akan tetap membela? Belum tentu. Justru yang banyak adalah menghina. Namanya juga manusia.

Itulah mengapa kita harus bertuhan. Bertauhid. Karena dengan bertauhid, berarti kita bisa belajar untuk menyerahkan hidup dan mati kita untuk Allah saja. Dengan begitu, Allah akan senantiasa datang tepat waktu ke kita, mengabulkan doa-doa, menjabah keinginan, memberikan apa yang kita butuhkan dan melancarkan usaha kita.

No comments:

Post a Comment