Visitor

Sunday, August 10, 2014

asking about dog


Menyebalkan memang jika kita berdebat dengan orang yang mudah emosian dan keras kepala. Beberapa waktu yang lalu saya pernah ditanya sama seorang teman mengenai hewan anjing. Bagaimanakah hukum fikihnya? Can we pet a dog as a Muslim? Duh, kenapa sih Islam itu ribet banget?! Gue suka anjing dan gue mau memelihara mereka di rumah. Tapi kenapa Islam melarang itu? Apa salah anjing? Mereka 'kan juga makhluk ciptaan Allah? 

Well, to be honest, saya bukan seseorang yang ahli dalam hal hukum-hukum Islam. Saya pun masih belajar dan akan terus belajar. Mengenai hal ini, saya punya beberapa poin penting yang bisa disimpulkan.


1. "Anjing itu hewan yang menyenangkan. Kasihan dong para pecinta anjing yang agamanya Islam. Tersiksa dengan ribuan alasan tidak boleh memeliharanya lantaran air liur yang najis."


Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
من أمسك كلبا فإنه ينقص كل يوم من عمله قيراط إلا كلب حرث أو ماشية
“Barangsiapa memelihara anjing, maka amalan sholehnya akan berkurang setiap harinya sebesar satu qiroth (satu qiroth adalah sebesar gunung uhud), selain anjing untuk menjaga tanaman atau hewan ternak.”

Ibnu Sirin dan Abu Sholeh mengatakan dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,


إلا كلب غنم أو حرث أو صيد


Selain anjing untuk menjaga hewan ternak, menjaga tanaman atau untuk berburu.”

Abu Hazim mengatakan dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كلب صيد أو ماشية


Selain anjing untuk berburu atau anjing untuk menjaga hewan ternak.” 
(HR. Bukhari)
[Bukhari: 46-Kitab Al Muzaro’ah, 3-Bab Memelihara Anjing untuk Menjaga Tanaman]

Dari hadist di atas, saya menyimpulkan bahwa hanya beberapa uzur syar'i saja yang bisa memperbolehkan kita untuk memelihara anjing. Namun, hal ini perlu dibicarakan oleh ulama atau guru yang lebih paham. Hukum Allah itu sudah sempurna. Jangan sampai kita lebih mengikuti hawa nafsu yang menyesatkan, daripada 'nurut' sama Allah.


2. "Bolehkah memelihara anjing dengan maksud untuk menjaga rumah? Karena rumah saya sering kemalingan."


Ibnu Qudamah rahimahullah pernah berkata,
وَإِنْ اقْتَنَاهُ لِحِفْظِ الْبُيُوتِ ، لَمْ يَجُزْ ؛ لِلْخَبَرِ .وَيَحْتَمِلُ الْإِبَاحَةَ .وَهُوَ قَوْلُ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ ؛ لِأَنَّهُ فِي مَعْنَى الثَّلَاثَةِ ، فَيُقَاسُ عَلَيْهَا .وَالْأَوَّلُ أَصَحُّ ؛ لِأَنَّ قِيَاسَ غَيْرِ الثَّلَاثَةِ عَلَيْهَا ، يُبِيحُ مَا يَتَنَاوَلُ الْخَبَرُ تَحْرِيمَهُ . قَالَ الْقَاضِي : وَلَيْسَ هُوَ فِي مَعْنَاهَا ، فَقَدْ يَحْتَالُ اللِّصُّ لِإِخْرَاجِهِ بِشَيْءِ يُطْعِمُهُ إيَّاهُ ، ثُمَّ يَسْرِقُ الْمَتَاعَ .
“Tidak boleh untuk maksud itu (anjing digunakan untuk menjaga rumah dari pencurian) menurut pendapat yang kuat berdasarkan maksud hadits (tentang larangan memelihara anjing). Dan memang ada pula ulama yang memahami bolehnya, yaitu pendapat ulama Syafi’iyah (bukan pendapat Imam Asy Syafi’i, pen). Karena ulama Syafi’iyah menyatakan anjing dengan maksud menjaga rumah termasuk dalam tiga maksud yang dibolehkan, mereka simpulkan dengan cara qiyas (menganalogikan). Namun pendapat pertama yang mengatakan tidak boleh, itu yang lebih tepat. Karena selain tiga tujuan tadi, tetap dilarang. Al Qodhi mengatakan, “Hadits tersebut tidak mengandung makna bolehnya memelihara anjing untuk tujuan menjaga rumah. Si pencuri bisa saja membuat trik licik dengan memberi umpan berupa makanan pada anjing tersebut, lalu setelah itu pencuri tadi mengambil barang-barang yang ada di dalam rumah”. (Al Mughni, 4/324)
Walaupun sebagian ulama membolehkan memanfaatkan anjing untuk menjaga rumah, namun itu adalah pendapat yang lemah yang menyelisihi hadits yang telah dikemukakan di atas.

Sebagian orang berpendapat bahwa dengan adanya anjing di rumah, rumah akan aman dan pencuri tidak akan berani masuk ke dalam. Sebenarnya, kita tidak perlu repot-repot mencari cara agar rumah tidak mudah kemalingan karena jawabannya satu, ketakwaan. Allah telah mengatakan bahwa barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, dia akan memperoleh kemenangan. Jangankan cuma masalah rumah yang sering kemalingan, Allah akan siapkan rumah di surga nanti bagi mereka yang selalu bertakwa kepada Allah.


Allah Ta’ala berfirman,
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3). Ath Thobari rahimahullah mengatakan, “Barangsiapa bertakwa pada Allah dan menyandarkan urusannya pada Allah, maka Allah yang mencukupinya.” (Tafsir Ath Thobari, 23/46)

Dan bangunkanlah jiwa-jiwa penghafal Al-Qur'an di rumah. Karena dengan itulah, setan tidak akan berani masuk ke dalam hati manusia yang selalu mengingat Allah. Bahaya apapun yang akan mengancam, termasuk kemalingan dan pencurian di rumah, akan dijauhkan oleh Allah. 


3. "Mengapa menyentuh anjing saja dianggap najis? Padahal yang najis itu air liurnya. Tapi mengapa Islam dengan kakunya melarang kita untuk mengelus-elus anjing?"

Memang betul. Yang najis itu bukan anjingnya. Namun perlu kita ingat, ketika kita ingin menggunakan wadah yang berisi air yang airnya sempat terminum oleh anjing, air di wadah tersebut harus ditumpahkan. Namun jika wadah tersebut khusus untuk anjing, maka tidak perlu disucikan.

"Sucinya wadah kalian apabila dijilat anjing, adalah dengan dibasuh sebanyak tujuh kali, basuhan pertama dengan debu." (HR. Muslim, No. 279)

Dengan dalil yang jelas, shahih, dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, kita bisa pertahankan pendapat kita. Hanya saja kita sangat perlu ilmu yang haqq. Tidak sembarang kita mencari ilmu untuk mendapatkan kebenaran. 

"Hal demikian, karena asal pada setiap benda adalah suci, maka tidak boleh menyatakan sesuatu najis atau haram kecuali berdasarkan dalil."

Majmu Fatawa, 21/530.

Mendengar penjelasan saya tentang hukum memelihara anjing, teman saya yang bertanya itu sedikit marah karena ia merasa Islam terlalu melarangnya sebagai seorang Muslim untuk memelihara hewan yang sangat disukainya. Karena kalau kita memelihara anjing, sudah pasti kita satu rumah dengannya. Dan sudah pasti banyak kegiatan yang akan dilalui bersamanya. Dengan begitu, kita justru akan lebih sering dan lebih mudah terkena air liurnya. Itu yang menjadi masalah utama dari memelihara anjing.


4. "Ini sih namanya terlalu fanatik sama agama. Banyak loh cerita tentang keluarga Muslim yang memelihara anjing. Dan mereka fine-fine aja."

Doktrin semacam ini sering sekali saya dengar. Dan saya merasakan ini hanya semacam 'hasutan' agar kita bisa 'lolos' dari hukum Allah. Kita hidup di mana memangnya? Di bumi Allah, bukan? Bahkan sekali pun kita pergi ke planet Mars, Pluto, Saturnus atau planet apapun itu, tetap saja toh mereka milik Allah. Dan Allah sudah mengaturnya agar kita selamat dan aman. Tinggal kitanya yang mau ngikut apa tidak.

Masalah fanatik dan terlalu mudah ketakutan sama yang halal-haram, riba, dosa-tidak berdosa, sebenarnya itu yang membedakan mana yang beriman dan mana yang tidak. Orang yang takut sama Allah, sudah pasti was-was kalau ketemu sama yang haram, yang berbau riba, atau menyentuh yang mendekati dosa. Karena itulah, orang beriman menjauhi hal-hal yang Allah tidak suka, termasuk 3 hal di atas. Berbeda dengan orang-orang yang memang Islam secara KTP, tetapi menomorduakan hukum Allah. Orang-orang seperti ini sering sekali disebutkan di dalam Al-Qur'an. 

Tentang mereka, muslim yang memelihara anjing dan membuat statement 'melegakan' buat para pecinta anjing, biarlah Allah yang menilai. Hanya Allah yang lebih mengetahui atas apa-apa yang telah kita perbuat di dunia ini. Dosa atau tidak dosa bukan ketentuan kita untuk meng-judge. Kewajiban kita hanya memberikan nasihat yang baik dan tetap berperilaku sebagaimana akhlak Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam.


5. "Sungguh kasihan nasib sang anjing. Dan teganya Tuhan menciptakan satu makhluk yang hanya untuk dijauhi. Janganlah kita berpatokan kepada satu hadist tapi Qur'an itu pedoman kita. Carilah di dalam Qur'an apakah ada yang namanya binatang anjing dilarang untuk dipelihara? Jangan terlalu munafik, bagaimana jika ada ular yang akan mematuk kita lalu anjing itu menyelamatkan kita dari patukan si ular? Tidak ada satu pun yang Tuhan ciptakan dengan sia-sia walaupun sekecil zarrah. Itu yang tertulis di dalam Al-Qur'an. Coba kita berpikir lebih jauh. Jangan merasa diri paling suci, paling benar."

Dari 1 doktrin berpindah ke doktrin lainnya. Hanya Al-Qur'an dan As-Sunnah yang akan menjadi pedoman hidup kita. Dan sampai kapan pun, kebenaran itu hanyalah milik Allah. Ucapan-ucapan orang yang tidak memiliki ilmu dengan yang memiliki ilmu itu sangat berbanding terbalik. Semua akar pola pikirnya berasal dari logika, logika dan logika. Logika yang masuk akal. Bukan sesuatu yang membuatnya menerawang -- atau dengan kata lain, samar-samar. Kita hidup tidak hanya berpatokan pada logika. Orang pintar yang memiliki pengetahuan sains, ilmu bumi, fisika, kedokteran, atau apapun itu tidak menjamin mereka mampu membedakan mana yang haqq dan mana yang bathil. Karena kemampuan itu hanya akan ditemukan dari orang-orang yang mendapatkan hikmah. Jadi sudah jelas, pengetahuan ilmu dunia itu hanya akan menjadi nomer 2. Sedangkan yang pertama adalah ilmu agama. Dengan berpatokan pada Al-Qur'an dan hadist Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam, hidup kita akan jauh lebih baik daripada orang-orang yang tidak memiliki aturan atau memilih menggunakan aturan hidup liberal. 


----

Ahmad Khan: This was utter rubbish from the Muslim political bigots. Even I as a Muslim is ashamed about this. There’s nothing wrong if you touched a dog. If you touched it, you always can wash it later. Have they forgotten about the ashabul kahfi story with their loyal dog named qitmir? Even the Quran says the dog was promised a place in heaven by Almighty God.
Zann Remon: You are right, bro.
Abdul Razak Abdullah: Well, I like dogs. Some Muslim families in the Middle East have dogs. By the way, I want either a husky or a shepherd.
Mohd Amiruddin: God created fire in the world not to be touched, but fire is beneficial in its own way. Dogs are like that; it doesn’t mean that you cannot touch it at all, you can. However, God’s creations are not in vain. There are benefits that we may not know of.
Azman A Hamid: You use fire as an analogy? The biggest difference is that you get burned by touching fire, but you don't if you touch a dog.
There are ‘ulamas’ who say that there is no problem touching a dog and there are those who say it’s disallowed. Think outside the box. What harm is there with a dog? Ask questions if you are not sure and not just follow blindly.
Hazirah Morsidi: Dogs and pigs are only haram for consumption of Muslims. They are considered unclean by most Muslims as the older and previous generations don't want to go through the cleansing rituals if a Muslim were to touch one.
The cleansing ritual is cleaning the body part with one part of yellow soil (ant hill’s dirt) and seven parts water. This is quite bothersome so someone in the past decided to avoid doing this by avoiding contact at all cost. But if both the dog and the person are dry then there is no need for the cleansing ritual to be done at all.
Only if one party is wet when in contact with the other that the ritual must be done.
These busybodies need to rearrange their priorities, why would they be so damn busy with this matter when other more important ones need more of their attention? 
--- 

See that?

Tidak semua opini masyarakat bisa kita telan dalam-dalam hanya karena merasa sama dengan pendapat kita. Saya di sini yang sering nulis dan buat artikel pun sangat sering melakukan kesalahan. Apalagi dalam kehidupan sehari-hari. Mohon maaf sebesar-besarnya jika ada perasaan yang tidak enak dan menyinggung hati. Karena sungguh, sebenarnya saya tidak mau menghakimi teman-teman yang suka sama anjing. Tujuan saya hanya ingin berbagi. Andai ucapan saya salah, mohon dibetulkan. Tentunya dengan ilmu yang syar'i. Saya juga tidak ingin teman-teman jadi berpecah belah hanya karena masalah anjing. Karena akhirnya, teman saya yang bertanya itu memilih untuk diam dan mengikuti apa yang saya sarankan. Semua pilihan itu ada di masing-masing kita. Dan tentu tidak salah jika kita ingin mencoba untuk lebih 'nurut' sama Allah, kan? 

:-)



Sumber: 
http://islamqa.info/id/69840 
http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/hukum-memelihara-anjing.html

No comments:

Post a Comment