Visitor

Sunday, July 6, 2014

Cerita Hafidz Qur'an

Sudah merupakan janji Allah bahwa Al-Qur'an akan dipelihara Allah. Di antaranya, di dada orang-orang muslim. Begitu banyak bukti, begitu banyak kisah tentang para penghafal Al-Qur'an dari mulai zaman Rasulullah hingga kini. Dari berbagai macam warna kulit, ras, dan bangsa, semuanya ada yang menjadi penghafal Al-Qur'an.

Patut berbanggalah para orangtua jika memiliki anak-anak yang hafizh. Karena mereka akan mendapatkan kemuliaan di hari akhir nanti. Namun, ada juga yang masih meragukan kun fayakuun. Allah subhanahu wata’ala menjanjikan bahwa setiap hamba-Nya yang berniat untuk mempelajari Al-Qur’an dan menghafalkannya, pasti akan dimudahkan. Mungkin sebagian pendapat para orangtua mengatakan bahwa sulit untuk mendidik anak-anak mereka menjadi hafizh jika orangtua tidak bisa membaca Al-Qur’an. Jujur saya harus katakan, saya pun sempat merasa seperti ini walaupun saya belum menjadi orangtua. Setidaknya, saya mencoba mempersiapkannya dari sekarang.

Jika para orang tua memasrahkan begitu saja anak-anak mereka pada sekolah tanpa mendampinginya di rumah dengan menjaga muroja'ah dan mengkondisikan lingkungan anak dengan Al-Qur'an serta bagaimana visi misi keluarga tersebut, tentu sangat bertentangan. Apakah mau jika hanya sekolah yang mendapat pahala? Hal ini dapat dilakukan dengan mengaitkan segala aktivitas dengan Al-Qur'an. Sebagai contoh, anak-anak diajak untuk melihat wisudawan-wisudawati yang ada di Gaza agar mereka tahu bahwa yang mereka lakukan juga dilakukan oleh banyak anak di berbagai belahan dunia.


Pagi ini saya akan sharing tentang artikel penghafal Qur’an. Mari kita simak.



Lelaki Kecil Penghafal Al-Qur’an
By Ibnu Abdil Bari | July 1, 2014

Fajar Abdurrahim Wahyudiono; Penyandang Cerebral Palsy yang Hafal Al-Qur’an

“Someone very special.”

Setiap orang sangat spesial. Spesial karena ialah yang keluar sebagai pemenangnya mengalahkan 120 juta lawannya. Maka, masing-masing orang pasti memiliki kelebihan dan keistimewaan yang menakjubkan. Bahkan, menurut Majdi Ubaid dalam 9 Asrâr li Hifzhil Qur’ânil Karîm—9 Rahasia Menghafal Al-Qur’anul Karim yang penulis terjemahkan, setiap orang berpontensi menjadi jenius minimal dalam satu atau dua kecerdasan dari sembilan kecerdasan yang ada: kecerdasan fisikal, kecerdasan musikal (suara), kecerdasan intrapersonal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan visual, kecerdasan logika-matematika, kecerdasan verbal-linguistik, dan kecerdasan intuitif/spiritual. Maka, di antara kewajiban orangtua terpenting adalah mengoptimalkan kecerdasan anak sesuai dengan potensi mereka. Salah satu bukti tentang hal ini adalah adinda Fajar Abdurrahim Wahyudiono. Lelaki kecil ini menjadi hafizh sejak usia dini, hanya dengan mendengar murattal dan bermain game Al-Qur’an.


Doa Yang Menggetarkan

Dari mana awal mula keajaiban Fajar ini? Jawaban yang bisa penulis berikan adalah dari doa ibunda, Henny, yang menggetarkan. Doa itu dilantunkan jauh hari sebelum Henny menikah. Iya, sebelum menikah. Menurut kisah yang disampaikan istri ketika menjadi guru privat Fajar, Henny pernah bercerita bahwa dulu dia membaca sebuah kisah seorang salaf dalam sebuah buku. Kisah itu bermula dengan doa yang dipanjatkan oleh seorang salaf untuk mendapatkan anak yang shalih. Salaf tersebut memanjatkan doa agar dikaruniai anak yang shalih, bahkan sebelum dia menikah. Hasilnya? Allah mengijabah doanya. Allah menerima pintanya, dengan mengaruniakan anak yang shalih kepadanya.
Terinspirasi dari kisah yang dibaca dari buku tersebut, Henny pun berdoa serupa. Di penghujung shalat, ia senantiasa melantunkan doa dengan hati penuh haru; agar Dia berkenan memberikan anak shalih—yang hafizhul Qur’an kepadanya. Maka, setelah menikah, terlahirlah putra pertamanya yang bernama Fajar. Ya, Fajar adalah wujud pengabulan Allah kepada doa Henny. Maka, betapa ajaibnya sebuah doa!.
Doa ini mengingatkan kita tentang pinta yang dipanjatkan oleh Fudhail bin Iyadh. Doa Abidul Haramain ini diabadikan oleh Adz-Dzahabi di dalam As-Siyar (8/445) dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (3/497). Doa itu berbunyi, “Allahumma anni ijtahadtu an u’addiba aliyyan, falam aqdir, fa-addibhu Anta li…., Duh Allah, aku sudah bersungguh-sungguh untuk mendidik Ali, putraku, tetapi aku tidak mampu. Maka, didiklah dia, untukku.”

Ajaib! Setelah berdoa seperti, Allah mengabulkan doa Fudhail. Dan kita pun tahu, bahwa Ali bin Fudhail bin Iyadh menjadi seorang ahli ibadah, zuhud, wara’ dan bertakwa. Bahkan Adz-Dzahabi mencatat dalam buku yang sama bahwa Ali bin Fudhail meninggal dunia karena mendengar ayat Al-Qur’an. Duhai, seberapa sering kita berdoa kepada Allah untuk kebaikan keluarga kita; untuk istri atau suami, anak-anak, orang tua, saudara-saudara kita?


Sebuah Ujian

Mungkin ada banyak hafizh cilik di dunia ini. Yang paling fenomenal tentunya, Muhammad Husain Tabataba’i—seorang bocah 7 tahun meraih gelar Doktor Honoris Causa dari Hijaz College Islamic University, Inggris, karena hafal dan paham Al-Qur’an. Ia mampu menghafal Al-Qur’an dan menerjemahkan ke bahasa Persia, menerangkan topik ayat Al-Qur’an, menafsirkan dan menjelaskan ayat Al-Qur’an, bercakap-cakap dengan menggunakan ayat Al-Qur’an dan menerangkan makna Al-Qur’an dengan metode isyarat tangan. Hasilnya? Menakjubkan! Nilainya 93: nilai yang menurut standart Hijaz College Islamic University, Inggris adalah peraih Doktor Kehormatan (honoris causa). Anak kelahiran Iran (Persia) ini bahkan dijadikan guru oleh Mohsen Qiraati (mufasir kontemporer Iran. Mohsen berkata, “Saya telah menggeluti Al-Qur’an selama lebih dari 20 tahun, namun kini kembali menjadi murid yang menulis catatan di buku pelajaran. Apapun yang ia (Husain) katakan, saya catat, saya bangga menjadi murid dari guru yang masih berusia 5 tahun ini.” Muhammad Husain Tabata’i memang menjadi mukjizat abad 20. Kita akui itu.

Tapi, menjadi hafizh kecil seperti Fajar yang merupakan buah hati dari pasangan Joko Wahyudiono dan Henny Sulistiyowati ini juga istimewa, dan merupakan mukjizat yang luar biasa. Kenapa? Setidaknya karena dua faktor; pertama, orangtua Fajar bukan hafizhul Qur’an—tidak memiliki basic penghafal Al-Qur’an, yang kedua, Fajar terkena cerebral palsy; kelumpuhan fungsi motorik akibat ada gangguan di otak. Tetapi, inilah bukti kebesaran Allah—betapa canggihnya otak manusia. Dalam keterbatasan itu, Fajar mampu menghafal Al-Qur’an melalui murattal yang diperdengarkan oleh orangtuanya, sejak lahir ke dunia.
Fajar, ia terlahir ke dunia secara premature. Karena terlahir prematur, Fajar kecil harus diletakkan di inkubator. Kemudian setelah, tidak sebagaimana bayi pada umumnya, Fajar mengalami keterlambatan tumbung kembang, lehernya baru bisa tegak di usia tujuh bulan dan baru duduk di usia setahun. Perkembangan yang lambat dianggap Henny masih dalam tahap kewajaran. Hingga ketika Fajar berusia setahun, orangtua Fajar, Henny dan Joko Wahyudionon, tahu bahwa Fajar menyandang cerebral palsy, Henny dan suaminya pun kaget. Suatu reaksi yang wajar dialami oleh semua orangtua.
Namun sekalipun demikian, Henny dan Joko yakin Allah menakdirkan yang terbaik untuk mereka. Mereka pun langsung mencari tahu tentang seluk-beluk cerebral palsy. Entah melalui internet, maupun yang lainnya. Selanjutnya, mereka langsung berupaya mencari penanganan yang tepat. Maka, Fajar mulai diterapi, baik untuk fisioterapi, terapi bicara hingga terapi berenang.
Jadi, di satu sisi ini merupakan ujian, namun di sisi yang lain juga karunia. Ujian karena Fajar menyandang cerebral palsy, namun juga karunia karena di samping keterbatasannya, Fajar memiliki pendengaran dan daya ingat yang sangat tajam sehingga bisa hafal Al-Qur’an.


Keajaiban

Saat Fajar berumur satu tahun, ia sempat terdeteksi memiliki gelombang kejang. Padahal sebelumnya Fajar tak pernah kejang. Begitu Fajar berusia empat tahun, gelombang kejang itu masih muncul, sampai kemudian Fajar berusia delapan tahun, gelombang kejang itu juga masih ada. Ajaibnya, hingga sekarang Fajar sama sekali tidak pernah mengalami kejang.

Karena penasaran, akhirnya Henny mencoba membawa Fajar untuk CT Scan dan ternyata memang ada kelainan di otak yang membuat Fajar memiliki rongga terbuka yang memungkinkan cairan untuk masuk ke otak. Dengan adanya kelainan itu, seharusnya Fajar mengalami kejang aktif dan hidrosefalus. Tapi itu semua tidak dialami oleh Fajar.
Dugaan Henny, kejang yang tidak dialami Fajar kemungkinan besar karena pengaruh hafalan Al-Qur’an yang dikuasai Fajar. Sebab, dari pengetahuan yang didapat Henny, menghafal Al-Qur’an dapat MENGHIDUPKAN sel-sel otak yang masih tidur. “Sel otak Fajar mungkin ada yang rusak, tetapi dapat tertutupi dengan sel yang baru karena teraktifkan lewat kemampuan Fajar menghafal Al-Qur’an.” Ujarnya.


Tiada Hari Tanpa Al-Qur’an

Henny sudah meyakini sejak lama bahwa Al-Qur’an adalah syifa’, penyembuh (Yunus: 57 dan Al-Isra’: 82). Maka, ketika ia melahirkan Fajar dalam kondisi prematur, ia pun langsung menyetelkan murattal Al-Qur’an untuk Fajar yang masih harus berada di inkubator. Bahkan, karena tidak bisa membersamai Fajar ketika itu, Henny menitipkan walkman kepada perawat yang menjaga Fajar agar berkenan memperdengarkan murattal yang ada di walkman tersebut. Dalam umurnya yang baru sehari, Fajar sudah langsung mendengar dua juz Al-Qur’an. Saat pulang ke rumah, Henny juga selalu mengisi telinga Fajar dengan untaian murattal Al-Qur’an, termasuk ketika tidur. Hari-hari Fajar pun selalu diisi dengan Al-Qur’an.

Hingga kemudian, ketika Fajar berusia tiga tahun, saat Fajar pertama kali berbicara, yang keluar dari lisannya adalah bacaan Al-Qur’an, sekalipun terputus-putus. Awalnya hanya bagian akhir surat, kemudian bagian awal dan akhir, lalu lama-kelamaan bagian awal, tengah dan akhir, hingga akhirnya Fajar bisa membaca satu ayat Al-Qur’an secara utuh. Niat awal Henny adalah agar Fajar terbiasa dengan Al-Qur’an. Akan tetapi, ternyata langkahnya itu dapat membuat Fajar hafal Al-Qur’an.

Henny lantas membelikan video murattal Al-Qur’an kepada Fajar. Tentunya yang ada gambar kartun, tulisan arab dan artinya. Fajar selalu senang bila disetelkan video ini, dan disetel berulang kali. Ternyata saat disetelkan video itu, telinganya menangkap rekaman lantunan ayat, dan matanya menangkap tulisan. Hingga saat usia Fajar empat tahun, Fajar tiba-tiba membuka mushaf Al-Qur’an.

Ketika itu, Henny sedang berada di dapur, dan sayup-sayup mendengar ada suara orang mengaji. Ternyata itu adalah suara Fajar. Awalnya Henny hanya mengira Fajar melantunkan ayat Al-Qur’an tanpa sesuai dengan bacaan Al-Qur’an yang dilihatnya. Tapi ternyata apa yang diucapkan Fajar sesuai dengan halaman yang sedang dibuka. Subhanallah!

“Bahkan pernah,” kata Joko, ayahanda Fajar, menambahkan, “...ada video yang antara suara dan tulisannya tidak sesuai, lalu Fajar menangis, dan kita tidak tahu kenapa Fajar menangis. Baru dikemudian hari, ternyata ada kesalahan dalam video tersebut. Fajar menangis karena suara dan tulisan yang ada di video itu tidak sesuai, dan karena Fajar belum bisa bicara ia hanya bisa menangis. Ketika tahu bahwa menangisnya Fajar karena adanya kesalahan itu, akhirnya kita mengganti videonya dengan yang baru, dan tidak ada cacatnya.”

Lebih dari itu, bagi seorang Fajar, Al-Qur’an ibarat mainan kesayangan. Ketika anak-anak seusianya sibuk dengan berbagai mainan seperti mobil-mobilan dan robot-robotan, Fajar lebih suka bercengkrama dengan Al-Qur’an. Kalau ditanya, ‘Mau dibelikan apa?’ Fajar selalu menjawab ingin mushaf Al-Qur’an atau vcd murattal Al-Qur’an.


Hafalan Yang Menakjubkan

Pendengaran Fajar begitu kuat, dan kemampuan menghafalnya juga sangat hebat. Pernah saat melihat tulisan Arab yang bukan merupakan ayat Al-Qur’an, Fajar biasanya akan bertanya pada Henny, apa bacaan tulisan tersebut. Keesokan harinya, Fajar sudah hafal tulisan tersebut.

Di lain kesempatan, Henny pernah berusaha menghafal hadits Arba’in An-Nawawiyah hadits kedua—hadits panjang perihal tanya Jibril kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam tentang Islam, Iman dan Ihsan. Sudah dua pekan, Henny belum hafal-hafal juga. Ternyata tanpa dinyana karena sering mendengar mamanya berusaha menghafal, tiba-tiba Fajar sudah hafal hadits tersebut.

Bahkan, penulis pernah mendengar sendiri tentang kemampuan menghafal Fajar. Waktu itu, ia memegang video player yang berisi bacaan banyak syaikh. Setelah memutar, ia langsung bisa menebak surat apa dan syaikh siapa. Ketika dipindah ke yang lain, Fajar juga langsung bisa menebak suratnya dan juga syaikhnya. Aku tertakjub. Kejadian ini juga disampaikan oleh pak Amy Faizal, guru pendamping Fajar di sekolahnya. Pak Faizal rutin menyetel murattal Al-Qur’an untuk Fajar dari telepon seluler miliknya. Fajar biasanya langsung bisa menebak surat yang diputar, bukan saja sejak permulaan ayat pertama, tapi bahkan sejak pembacaan basmalah di setiap surat. Jadi, dari nada dan tekanan saat pembacaan basmalah saja, Fajar sudah dapat mengetahui surat apa yang sedang diputar. Subhanallah.

Di antara contoh yang lain, Fajar yang dikenal ramah, mudah bersosialisasi, cepat beradaptasi ini termasuk orang yang paling mudah menghafal nama-nama teman sekolahnya. Fajar paling cepat sadar jika ada satu saja dari temannya yang tidak hadir. Ia juga dapat mengetahui kehadiran seseorang dari langkah kakinya saja. Ajaib!

Ketika Fajar berusia empat tahun, Henny mencoba mencarikan guru mengaji untuk Fajar, dan setelah mengetes bacaan Al-Qur’an Fajar selama enam bulan, guru pertama Fajar menyimpulkan bahwa di usia itu, Fajar sudah menghafal Al-Qur’an secara utuh, tapi belum bisa menghafal secara urut, dan bersama gurunya, teh Lana, Fajar berhasil menghafal 22 juz secara berurutan. Ini terjadi pada tahun 2012, dan sekarang Fajar sudah selesai dan berhak menjadi hafizhul Qur’an.

Dalam acara seminar The Miracle of Qur’an for Janin, pada hari Ahad, 30 Juni 2014, Fajar bersama kedua orangtuanya menjadi tamu kehormatan. Joko Wahyudiono, ayahanda Fajar menjelaskan bahwa Fajar sudah belajar terjemahan Al-Qur’an bahasa Indonesianya, dan sekarang bahkan sedang belajar terjemahan bahasa inggrisnya. “Mohon doanya.” katanya.

Ya Allah…, betapa kita begitu iri dengan Fajar. Betapa kita malu kepada lelaki kecil penyandang cerebral palsy tapi hafal Al-Qur’an ini—jauh melampaui dan mengalahkan kita-kita yang berfisik dan berbadan normal. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

« لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَتْلُوهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ، فَسَمِعَهُ جَارٌ لَهُ فَقَالَ لَيْتَنِى أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِىَ فُلاَنٌ فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَهْوَ يُهْلِكُهُ فِى الْحَقِّ، فَقَالَ رَجُلٌ لَيْتَنِى أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِىَ فُلاَنٌ فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ »

“Tidak boleh hasad kecuali kepada dua orang: (pertama) lelaki yang diajari Al-Qur’an oleh Allah, lalu ia membacanya sepanjang malam dan siang, lalu ada tetangganya yang mendengarnya, kemudian ia berkata, “Duhai, andai aku dikaruniai apa yang diberikan kepada si fulan, maka aku akan mengamalkan seperti apa yang biasa ia lakukan (membaca Al-Qur’an). (yang kedua) lelaki yang dikaruniai harta lalu ia menghabiskannya di jalan kebenaran. Kemudian ada orang yang mengatakan, ‘Seandainya aku dikarunia harta sebagaimana si fulan, maka aku pasti melakukan sebagaimana yang ia amalkan. ” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)


Metode Menghafizhkan Balita

Berdasarkan bacaan dari tulisan, dan wawacara kami dengan ibu Henny dan bapak Joko, kedua orang tua Fajar, kami menyimpulkan bahwa di antara faktor terpenting dalam menghafizhkan Fajar dalam usia dini, padahal ia menyandang cerebral palsy adalah:

Senantiasa memperdengarkan murattal semenjak kelahirannya—tentu lebih baik lagi jika ini dilakukan sejak dalam kandungan, karena memang janin di dalam kandungan sudah bisa merespon suara dari luar ketika sudah sempurna penciptaannya, yaitu empat bulan. Yang lebih unik, kalau biasanya orangtua menyetel juz amma secara berulang-ulang, berbeda dengan orangtua Fajar; keduanya menyetel semua juz Al-Qur’an, secara berurutan, tidak diputar acak. Karena menurut Majdi Ubaid, sebagaimana ditegaskan dalam 9 Asrar li Hijfzhil Qur’anil Karim, ketika mendengar Al-Qur’an, sejatinya bacaan tersebut tersimpan rapi di dalam otak. Sehingga semakin sering anak khatam mendengarkan murattal Al-Qur’an, maka itu akan menambah daya ingat anak tersebut terhadap ayat-ayat yang ia dengar.

Menghindari televisi. Televisi memang ada di rumah, tetapi hanya ditempatkan di gudang. Tidak pernah dihidupkan. Karena televisi sama sekali tidak mendidik, bahkan cenderung melemahkan dan mematikan potensi kekuatan otak anak. Kecuali untuk menyetel tayangan yang bermanfaat seperti pengetahuan Islam, kisah Rasulullah dan sahabat, Hafizh Cilik, dan shalat tarawih dari Mekah.

Selalu memberikan mainan yang berkaitan dengan Al-Qur’an, entah mushaf Al-Qur’an, walkman yang diisi murattal Al-Qur’an, video yang ada gambar hewan menirukan suara murattal, dan lain-lain.

Dukungan orangtua. Ini faktor yang terpenting. Tanpa dukungan orangtua yang mengarahkan anaknya yang masih balita untuk hafal Al-Qur’an, proyek yang menjadi impian hidup semua orang ini tidak akan bisa berhasil. Maka, orangtua menjadi faktor terpenting dalam menghafizhkan anak di usia dini. Karena merekalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Terutama dalam hal kontinuitas dan keistiqamahan dalam menyetel muratal tanpa lelah. Karena sejatinya, usia emas (golden age) anak memang ada pada umur 0 sampai 7/8 tahun. Di antara bentuk dukungan orangtua kepada anaknya adalah doa mereka untuk anak-anaknya. Munajat yang terlantun di bumi itu akan terdengar di langit, dan Allah pun akan mengijabah doa tersebut.


Kesimpulan

Akhir kata, penulis hanya ingin mengatakan, “someone very special.” 
Anak-anak menjadi istimewa dengan bakatnya masing-masing. Semua anak adalah cerdas, dan jenius di bidang kecerdasan yang menjadi minat dan bakatnya. Kita sebagai orangtua harus tahu potensi dan bakat anak kita.

Yang kedua, ‘ala kulli hal, siapapun kita, pasti bisa hafal Al-Qur’an, bahkan yang terkena cerebral palsy sekalipun. Fajar adalah salah satu buktinya. Kalau anak penyandang kelumpuhan fungsi motorik akibat ada gangguan di otak saja bisa hafal Al-Qur’an. Apalagi dengan kita-kita. Tentu lebih mampu, dan pasti bisa. Wallahul musta’an.

Semoga bermanfaat dan menjadi cambuk bagi kita, terutama bagi penulis sendiri tentunya.




Sepenuh cinta,

Abu Kayyisa Ulayya

No comments:

Post a Comment