Visitor

Tuesday, July 15, 2014

belajar dari kesalahan


14 Juli 2014

Setiap kejadian pasti ada hikmah yang bisa kita petik. Tepat hari itu, aku bergegas ke kampus untuk menyelesaikan sesuatu. Jadi ceritanya gini. Waktu minggu UAS kemarin, aku telat datang di salah satu mata kuliah umum. Dan pada saat itu, aku ngga diizinkan masuk karena listening ngga mungkin diulang. Mau ngga mau aku harus ikut ujian susulan. Aku langsung tanya sama Mbak Upi (yang biasa ngurusin perkuliahan anak-anak) kapan ujian susulan itu dimulai. Saat itu aku bener-bener lupa untuk daftar. Padahal sistemnya tinggal daftar terus nanti bisa langsung lihat jadwal. Batas pendaftaran cuma sampai tanggal 10 Juli 2014. Dan aku baru dateng ke kampus lagi tanggal 11 Juli 2014. Aku telat sehari dan aku sudah bayar buat ujian susulan. Nah, berhubung saat itu aku telat, akhirnya aku ditolak dan bahkan aku sempat menghubungi kajur dan aku ditolak lagi. Perasaanku saat itu ngga enak banget. Rasanya lemes juga. Karena itu berarti aku harus mengikhlaskan nilai E yang mungkin akan tercantum di KHS semester ini.

Aku turun ke tangga bawah dan cerita sama Pak Budi. Beliau ini yang ngurusin administrasi anak-anak. Kata Pak Budi, seharusnya bisa dibantu untuk dapat ujian susulan lagi. Tapi, kalau kajur udah bilang ngga bisa, berarti emang ngga bisa. Peraturan dibuat bukan untuk dilanggar. Aku hanya kurang teliti. Aku sama sekali ngga sadar ada kertas pengumuman tentang batas waktu pendaftaran itu. Ya, mau gimana lagi, aku harus siap nerima dan ngelihat KHS-ku ada rincian nilai UAS yang 0. Tapi aku masih bersyukur, itu hanya 1 mata kuliah saja.

Hari itu juga sebenarnya aku mau banget ketemu sama Indah, adikku. Dia lagi ada di kampus dan kita sempat smsan untuk ngerencanain pergi ke TMII bareng-bareng. Karena kita pengen lihat Hafizh Qur’an Trans7 bersama abi Bachtiar. Aku dan Indah memang lagi sama-sama sedang ada urusan di kampus kami. Jadi, setelah selesai kami bisa bertemu dan langsung berangkat ke TMII. Sayangnya, kita ngulur waktu. Pukul 11:40 semua belum bisa teratasi. Termasuk Indah. Aku memang sudah bisa langsung pulang. Karena akhirnya uang pendaftaran ujian susulan bisa didepositokan untuk bayar daftar ulang semester depan. Alhamdulillah. Walaupun sedikit kecewa karena penolakan tadi, aku tetap optimis dengan nilai IPK-ku. Aku sudah berusaha maksimal. Jalan terbaik dan solusi dari Pak Budi adalah dengan mengikuti re-test sebelum sidang nanti. Supaya nilaiku bisa diperbaiki.

Aku menerimanya. Apa pun itu. Aku harus bisa. Keikhlasan memang bukan bahasa lisan, tapi itu urusan hati. Semuanya kuserahkan sama Allah. Selama 1 semester ini, aku sudah berusaha untuk mendapatkan yang terbaik, memberikan yang terbaik, dan aku yakin hasilnya juga adalah yang terbaik. Dan sekalipun hari itu aku ngga jadi ketemu Indah, mungkin rasanya memang akan semakin menyebalkan karena betenya jadi double, hehehe. Tapi bukan itu. Beneran kok. Aku ngga sedang bete atau apalah. Hari itu aku ngga jadi ke TMII sama Indah. Aku bahkan sempat istirahat di masjid sampai 1 jam untuk nunggu kabar dari Indah. Aku akhirnya pulang dan minta izin ke dia walaupun aku tahu dia kepengen banget ketemu aku. Mungkin hari itu kita belum diizinin untuk bertemu.

Dari setiap kejadian itu, aku mencoba mencari celah. Celah agar aku tidak masuk di lubang yang sama. Satu pelajaran yang sangat penting yang dapat kita petik dari peristiwa itu. Belajar untuk lebih disiplin waktu. Kalau aku bisa lebih cepat datang ke kampus, aku yakin aku akan diperbolehkan masuk dan bahkan aku bisa datang lebih cepat dari dosennya. Dan persoalan ujian susulan itu pun tidak akan terjadi. Bahkan aku tidak perlu meminta uang ke Mama untuk daftar ujian susulan. Bismillah, semoga aku bisa belajar dari kesalahan ini. Aku tidak akan menyalahkan diri sendiri apalagi orang lain. Hanya rasanya wajar sebagai hamba, kita pasti melakukan kesalahan. Baik itu besar maupun kecil. Sengaja ataupun yang tidak disengaja. Tapi yang terbaik adalah kita bisa belajar memperbaiki diri. Itu sudah cukup. Kita tidak perlu menyesali sampai berlarut-larut.


Sekian cerita dariku. Semoga bermanfaat.
Wassalam.

No comments:

Post a Comment