Visitor

Monday, July 28, 2014

Selamat Lebaran!

Salaam people.

Alhamdulillah kita masih diberi kesempatan untuk merasakan hari raya idul fitri. 

Saya pribadi ingin memohon maaf yang sebesar-besarnya jika selama ini banyak salah. Taqaballahu minna wa minkum shiyamana wa shiyamakum. :)


Friday, July 18, 2014

How do you spent your last Ramadhan?

Salam alaykum :)

Malam hari ini coba ditengok langitnya. Indah, bukan? Aku sangat suka kegelapan malam. Karena di sana Allah ciptakan keindahan bulan yang menghiasi langit malam. Nikmat mana lagi yang ingin kau dustakan?

Tepatnya hari ini, tertanggal 17 Juli 2014. Malam ke 20 Ramadhan. Itu artinya sebentar lagi kita akan meninggalkan Ramadhan. Tentunya ini menjadi kerinduan yang terus-menerus bagi umat muslim. Bagaimana tidak, Allah memberikan 100x kebaikan di bulan suci ini dibanding bulan-bulan lainnya. Kalau kita perbanyak doa, shalat malam, mohon ampun, dzikir, membaca Al-Qur'an, in syaa Allah, kita akan jauh dari azab-Nya. 

Aku ingin sekadar sharing saja ya. Kebetulan internet di rumah lagi bener, nih. Jadi, sebetulnya dari awal masuk bulan Ramadhan, aku sudah niat untuk kembali mengkhatamkan juz amma. Dalam artian, aku mau selama 30 hari ini aku fokus menghafal. Aku malu, usia sudah hampir 22 tahun tapi juz 30-nya masih belum khatam-khatam juga. Sedangkan adik-adik hafizh Qur'an sudah bisa menghafalkan lebih dari 1 juz. Dengan niat itu, aku mau mantap menghafalkan. Bukan hanya menghafal, tapi aku berharap aku mampu memahami arti, merenungi dari setiap ayat-ayat yang kubacakan. Juga tak tertinggal, memperbaiki bacaanku. Walaupun aku belum memiliki murabbi lagi yang bisa mengajarkanku, setidaknya aku masih punya audio murathal dan aku bisa cek tajwidku dari situ. Mudah-mudahan Allah kabulkan aku memiliki suami yang hafidz dengan pemahaman hukum tajwid yang bagus. Aamiin. Hehehe.

Ohya, ini kuselipkan gambar yang sempat kufoto beberapa bulan lalu. Tepatnya...


11 bulan yang lalu, September 2013.


Kalian tahu nggak ini apa?

Semoga ini bukan riya'. Karena tujuanku memperlihatkan ini hanya untuk sharing ke kalian semua. Mungkin saja teman-teman bisa ambil ide ini untuk dipajang di rumah masing-masing. Ya, jadi ini adalah papan hafalan. Aku pajang di meja belajar. Supaya aku bisa bersemangat menghafalkan Al-Qur'an. Setiap kali aku sudah percaya diri hafal satu surah, aku tempelkan nama surahnya di papan ini. Aku buat berwarna-warni supaya cantik dan menarik. Jadi kalau sudah khatam, semuanya penuh deh. Nah, kebetulan sekarang aku mau memunculkan gambar berikutnya...

Ini adalah gambar yang baru saja kuambil beberapa menit lalu.


Dan satu lagi, aku ingin sharing cara menghafal dengan sistem hitung jari.


Jadi pada saat muraja'ah, teman-teman pegang tangan kanan masing-masing dan perhatikan ruas jari yang aku tuliskan angka berwarna merah. Setiap ayat tekan angkanya. Itu untuk menunjukkan ayat berapa. Kalau sudah masuk ayat 15, kembali ke angka 1. Dihitungnya seperti itu. Nah, ini seru banget loh. Teman-teman bisa coba pada saat menghafal ya. Semoga bermanfaat.

Tuesday, July 15, 2014

belajar dari kesalahan


14 Juli 2014

Setiap kejadian pasti ada hikmah yang bisa kita petik. Tepat hari itu, aku bergegas ke kampus untuk menyelesaikan sesuatu. Jadi ceritanya gini. Waktu minggu UAS kemarin, aku telat datang di salah satu mata kuliah umum. Dan pada saat itu, aku ngga diizinkan masuk karena listening ngga mungkin diulang. Mau ngga mau aku harus ikut ujian susulan. Aku langsung tanya sama Mbak Upi (yang biasa ngurusin perkuliahan anak-anak) kapan ujian susulan itu dimulai. Saat itu aku bener-bener lupa untuk daftar. Padahal sistemnya tinggal daftar terus nanti bisa langsung lihat jadwal. Batas pendaftaran cuma sampai tanggal 10 Juli 2014. Dan aku baru dateng ke kampus lagi tanggal 11 Juli 2014. Aku telat sehari dan aku sudah bayar buat ujian susulan. Nah, berhubung saat itu aku telat, akhirnya aku ditolak dan bahkan aku sempat menghubungi kajur dan aku ditolak lagi. Perasaanku saat itu ngga enak banget. Rasanya lemes juga. Karena itu berarti aku harus mengikhlaskan nilai E yang mungkin akan tercantum di KHS semester ini.

Aku turun ke tangga bawah dan cerita sama Pak Budi. Beliau ini yang ngurusin administrasi anak-anak. Kata Pak Budi, seharusnya bisa dibantu untuk dapat ujian susulan lagi. Tapi, kalau kajur udah bilang ngga bisa, berarti emang ngga bisa. Peraturan dibuat bukan untuk dilanggar. Aku hanya kurang teliti. Aku sama sekali ngga sadar ada kertas pengumuman tentang batas waktu pendaftaran itu. Ya, mau gimana lagi, aku harus siap nerima dan ngelihat KHS-ku ada rincian nilai UAS yang 0. Tapi aku masih bersyukur, itu hanya 1 mata kuliah saja.

Hari itu juga sebenarnya aku mau banget ketemu sama Indah, adikku. Dia lagi ada di kampus dan kita sempat smsan untuk ngerencanain pergi ke TMII bareng-bareng. Karena kita pengen lihat Hafizh Qur’an Trans7 bersama abi Bachtiar. Aku dan Indah memang lagi sama-sama sedang ada urusan di kampus kami. Jadi, setelah selesai kami bisa bertemu dan langsung berangkat ke TMII. Sayangnya, kita ngulur waktu. Pukul 11:40 semua belum bisa teratasi. Termasuk Indah. Aku memang sudah bisa langsung pulang. Karena akhirnya uang pendaftaran ujian susulan bisa didepositokan untuk bayar daftar ulang semester depan. Alhamdulillah. Walaupun sedikit kecewa karena penolakan tadi, aku tetap optimis dengan nilai IPK-ku. Aku sudah berusaha maksimal. Jalan terbaik dan solusi dari Pak Budi adalah dengan mengikuti re-test sebelum sidang nanti. Supaya nilaiku bisa diperbaiki.

Aku menerimanya. Apa pun itu. Aku harus bisa. Keikhlasan memang bukan bahasa lisan, tapi itu urusan hati. Semuanya kuserahkan sama Allah. Selama 1 semester ini, aku sudah berusaha untuk mendapatkan yang terbaik, memberikan yang terbaik, dan aku yakin hasilnya juga adalah yang terbaik. Dan sekalipun hari itu aku ngga jadi ketemu Indah, mungkin rasanya memang akan semakin menyebalkan karena betenya jadi double, hehehe. Tapi bukan itu. Beneran kok. Aku ngga sedang bete atau apalah. Hari itu aku ngga jadi ke TMII sama Indah. Aku bahkan sempat istirahat di masjid sampai 1 jam untuk nunggu kabar dari Indah. Aku akhirnya pulang dan minta izin ke dia walaupun aku tahu dia kepengen banget ketemu aku. Mungkin hari itu kita belum diizinin untuk bertemu.

Dari setiap kejadian itu, aku mencoba mencari celah. Celah agar aku tidak masuk di lubang yang sama. Satu pelajaran yang sangat penting yang dapat kita petik dari peristiwa itu. Belajar untuk lebih disiplin waktu. Kalau aku bisa lebih cepat datang ke kampus, aku yakin aku akan diperbolehkan masuk dan bahkan aku bisa datang lebih cepat dari dosennya. Dan persoalan ujian susulan itu pun tidak akan terjadi. Bahkan aku tidak perlu meminta uang ke Mama untuk daftar ujian susulan. Bismillah, semoga aku bisa belajar dari kesalahan ini. Aku tidak akan menyalahkan diri sendiri apalagi orang lain. Hanya rasanya wajar sebagai hamba, kita pasti melakukan kesalahan. Baik itu besar maupun kecil. Sengaja ataupun yang tidak disengaja. Tapi yang terbaik adalah kita bisa belajar memperbaiki diri. Itu sudah cukup. Kita tidak perlu menyesali sampai berlarut-larut.


Sekian cerita dariku. Semoga bermanfaat.
Wassalam.

Monday, July 14, 2014

new baby born


Alhamdulillah, pukul 12:45 AM tadi malam Dona baru melahirkan anak-anak yang manis dan lucu. Totalnya ada 4. Mohon doanya ya supaya semuanya sehat-sehat :)


Saturday, July 12, 2014

Impian

Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh



Menapak kaki di atas bumi milik Allah adalah sebuah nikmat yang harus terus kita syukuri. Betapa pun sakit dan kecewanya kita atas apa yang pernah terjadi, seharusnya tidak membuat kita lupa pada Rabb. Karena sungguh, Dialah yang menghapus air mata tangis kesedihan kita. Karena Dialah yang menggantikan pilu dan luka tersebut dengan bulir-bulir kebahagiaan.




Siapa pun pasti pernah merasa kehilangan semangat
Bahkan lebih dari itu
Aku pernah mengalaminya
Ketika sebuah harapan tiba-tiba hilang bak ditelan bumi
Aku belajar dari setiap kegagalan
Ratusan lembar naskahku ditolak mentah-mentah
Dan aku tahu di mana letak kesalahanku
Di situlah aku mulai bangkit
Mereka bilang aku harus bisa lebih baik lagi
Entah kapan aku bisa kembali
Dan menunjukkannya kepada mereka
Tapi satu yang kuyakini
Allah tidak akan menyia-nyiakan usaha hamba-Nya





Kalian tahu kan? Takdir itu memang sudah Allah yang mengatur. Tapi bukan berarti kita diam saja tanpa berusaha. Jika inginkan sesuatu, kejar. Lalu perbanyak doa. Perbaiki hubungan kita dengan Allah. Maka, itulah yang akan kau dapatkan. 

Aku punya mimpi untuk menjadi penulis dakwah. Hal yang harus kulakukan adalah dengan terus belajar, mencari ilmu, mencari murabbi, membaca buku, berkumpul dengan orang-orang shaleh, dan terus memperbaiki diri. Namun aku juga tidak menyalahkan siapa pun yang ingin menjadi penyanyi. Karena itu mimpi mereka. Tapi yang harus diingat adalah, apakah cita-cita itu bisa mengantarkan kita untuk lebih dekat kepada Rabb? Jika tidak, tinggalkanlah. Karena aku khawatir, nantinya hanya akan dunia saja yang dikejar.



:) ♥

Wednesday, July 9, 2014

Sujud Tilawah


Kemarin saya sempat melihat adik kecil Rasyid (Hafiz Indonesia 2014) usai membaca Suratul Alaq, ia bersujud—sujud tilawah namanya. Sebelumnya saya belum pernah mencaritahu atau bertanya kepada murabbi mengenai sujud tilawah ini. Ternyata, di dalam Al-Qur’an terdapat banyak ayat sajadah. Di antaranya:

QS. Al-A’raaf: 206
QS. Ar-Ra’d: 15
QS. Al-Nahl: 50
QS. Al-Isra’: 109
QS. Maryam: 58
QS. Al-Hajj: 18
QS. Al-Hajj: 77
QS. Al-Furqaan: 60
QS. An Naml: 26
QS. As-Sajdah: 15
QS. Shaad: 24
QS. Fushshilat: 38
QS. An-Najm: 62
QS. Al-Insyiqaq: 21
QS. Al-’Alaq: 19

Sujud tilawah dilakukan setelah kita membaca ayat-ayat sajadah.

Seperti pada hadist berikut ini:

“Apabila anak Adam membaca ayat Sajadah, lalu ia sujud; maka syaitan jatuh sambil menangis. Katanya, ‘Celaka aku! Anak Adam disuruh sujud, maka dia sujud, lalu mendapat syurga. Aku disuruh sujud, tetapi aku menolak, maka untukku neraka.’”
(HR Bukhari dan Muslim)

Hukum sujud tilawah adalah sunah mu’akad.

Dari Umar r.a; Pada suatu hari Jum’at, Rasulullah SAW membaca Surah An-Nahl di atas mimbar, maka ketika sampai pada ayat sajadah, baginda lalu turun dan sujud. Dan para hadirin juga turut melakukan sujud. Pada Jum’at berikutnya, dibacanya surah berkenaan, lalu apabila sampai pada ayat sajadah. Baginda SAW bersabda: “Wahai manusia, sebenarnya kita tidak diperintahkan (diwajibkan) sujud tilawah. Tetapi sesiapa bersujud, dia telah melakukan yang benar. Dan sesiapa yang tidak melakukannya, maka dia tidak mendapat dosa.” (HR. Bukhari)


Syarat Sujud Tilawah

Suci badan, pakaian dan tempat sujud
Menutup aurat
Menghadap kiblat
Sujud setelah selesai membaca ayat sajadah
Dalam shalat berjamaah, makmum wajib mengikuti imam bersujud tilawah. Gugur keahlian shalat berjamaah, jika tidak ikut bersujud



Bacaan Sujud Tilawah

Bacaannya adalah sebagai berikut: 


 “Aku bersujud kepada Allah yang menjadikanku, memberikan pendengaranku dan penglihatanku dengan kekuasaan-Nya dan kodrat-Nya. Maka Maha Suci Allah, Dialah sebaik-baik pencipta kejadian.”



BERIKUT ADALAH CONTOH SUJUD TILAWAH KETIKA SEDANG MEMBACA AL-QUR'AN DALAM KEADAAN DUDUK: http://www.youtube.com/watch?v=Vt_KPthvc0g

http://www.youtube.com/watch?v=CVk1XfVJshw

http://www.youtube.com/watch?v=f9-oQp3oO50



والله أعلم بالصواب

Sunday, July 6, 2014

Cerita Hafidz Qur'an

Sudah merupakan janji Allah bahwa Al-Qur'an akan dipelihara Allah. Di antaranya, di dada orang-orang muslim. Begitu banyak bukti, begitu banyak kisah tentang para penghafal Al-Qur'an dari mulai zaman Rasulullah hingga kini. Dari berbagai macam warna kulit, ras, dan bangsa, semuanya ada yang menjadi penghafal Al-Qur'an.

Patut berbanggalah para orangtua jika memiliki anak-anak yang hafizh. Karena mereka akan mendapatkan kemuliaan di hari akhir nanti. Namun, ada juga yang masih meragukan kun fayakuun. Allah subhanahu wata’ala menjanjikan bahwa setiap hamba-Nya yang berniat untuk mempelajari Al-Qur’an dan menghafalkannya, pasti akan dimudahkan. Mungkin sebagian pendapat para orangtua mengatakan bahwa sulit untuk mendidik anak-anak mereka menjadi hafizh jika orangtua tidak bisa membaca Al-Qur’an. Jujur saya harus katakan, saya pun sempat merasa seperti ini walaupun saya belum menjadi orangtua. Setidaknya, saya mencoba mempersiapkannya dari sekarang.

Jika para orang tua memasrahkan begitu saja anak-anak mereka pada sekolah tanpa mendampinginya di rumah dengan menjaga muroja'ah dan mengkondisikan lingkungan anak dengan Al-Qur'an serta bagaimana visi misi keluarga tersebut, tentu sangat bertentangan. Apakah mau jika hanya sekolah yang mendapat pahala? Hal ini dapat dilakukan dengan mengaitkan segala aktivitas dengan Al-Qur'an. Sebagai contoh, anak-anak diajak untuk melihat wisudawan-wisudawati yang ada di Gaza agar mereka tahu bahwa yang mereka lakukan juga dilakukan oleh banyak anak di berbagai belahan dunia.


Pagi ini saya akan sharing tentang artikel penghafal Qur’an. Mari kita simak.



Lelaki Kecil Penghafal Al-Qur’an
By Ibnu Abdil Bari | July 1, 2014

Fajar Abdurrahim Wahyudiono; Penyandang Cerebral Palsy yang Hafal Al-Qur’an

“Someone very special.”

Setiap orang sangat spesial. Spesial karena ialah yang keluar sebagai pemenangnya mengalahkan 120 juta lawannya. Maka, masing-masing orang pasti memiliki kelebihan dan keistimewaan yang menakjubkan. Bahkan, menurut Majdi Ubaid dalam 9 Asrâr li Hifzhil Qur’ânil Karîm—9 Rahasia Menghafal Al-Qur’anul Karim yang penulis terjemahkan, setiap orang berpontensi menjadi jenius minimal dalam satu atau dua kecerdasan dari sembilan kecerdasan yang ada: kecerdasan fisikal, kecerdasan musikal (suara), kecerdasan intrapersonal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan visual, kecerdasan logika-matematika, kecerdasan verbal-linguistik, dan kecerdasan intuitif/spiritual. Maka, di antara kewajiban orangtua terpenting adalah mengoptimalkan kecerdasan anak sesuai dengan potensi mereka. Salah satu bukti tentang hal ini adalah adinda Fajar Abdurrahim Wahyudiono. Lelaki kecil ini menjadi hafizh sejak usia dini, hanya dengan mendengar murattal dan bermain game Al-Qur’an.


Doa Yang Menggetarkan

Dari mana awal mula keajaiban Fajar ini? Jawaban yang bisa penulis berikan adalah dari doa ibunda, Henny, yang menggetarkan. Doa itu dilantunkan jauh hari sebelum Henny menikah. Iya, sebelum menikah. Menurut kisah yang disampaikan istri ketika menjadi guru privat Fajar, Henny pernah bercerita bahwa dulu dia membaca sebuah kisah seorang salaf dalam sebuah buku. Kisah itu bermula dengan doa yang dipanjatkan oleh seorang salaf untuk mendapatkan anak yang shalih. Salaf tersebut memanjatkan doa agar dikaruniai anak yang shalih, bahkan sebelum dia menikah. Hasilnya? Allah mengijabah doanya. Allah menerima pintanya, dengan mengaruniakan anak yang shalih kepadanya.
Terinspirasi dari kisah yang dibaca dari buku tersebut, Henny pun berdoa serupa. Di penghujung shalat, ia senantiasa melantunkan doa dengan hati penuh haru; agar Dia berkenan memberikan anak shalih—yang hafizhul Qur’an kepadanya. Maka, setelah menikah, terlahirlah putra pertamanya yang bernama Fajar. Ya, Fajar adalah wujud pengabulan Allah kepada doa Henny. Maka, betapa ajaibnya sebuah doa!.
Doa ini mengingatkan kita tentang pinta yang dipanjatkan oleh Fudhail bin Iyadh. Doa Abidul Haramain ini diabadikan oleh Adz-Dzahabi di dalam As-Siyar (8/445) dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (3/497). Doa itu berbunyi, “Allahumma anni ijtahadtu an u’addiba aliyyan, falam aqdir, fa-addibhu Anta li…., Duh Allah, aku sudah bersungguh-sungguh untuk mendidik Ali, putraku, tetapi aku tidak mampu. Maka, didiklah dia, untukku.”

Ajaib! Setelah berdoa seperti, Allah mengabulkan doa Fudhail. Dan kita pun tahu, bahwa Ali bin Fudhail bin Iyadh menjadi seorang ahli ibadah, zuhud, wara’ dan bertakwa. Bahkan Adz-Dzahabi mencatat dalam buku yang sama bahwa Ali bin Fudhail meninggal dunia karena mendengar ayat Al-Qur’an. Duhai, seberapa sering kita berdoa kepada Allah untuk kebaikan keluarga kita; untuk istri atau suami, anak-anak, orang tua, saudara-saudara kita?


Sebuah Ujian

Mungkin ada banyak hafizh cilik di dunia ini. Yang paling fenomenal tentunya, Muhammad Husain Tabataba’i—seorang bocah 7 tahun meraih gelar Doktor Honoris Causa dari Hijaz College Islamic University, Inggris, karena hafal dan paham Al-Qur’an. Ia mampu menghafal Al-Qur’an dan menerjemahkan ke bahasa Persia, menerangkan topik ayat Al-Qur’an, menafsirkan dan menjelaskan ayat Al-Qur’an, bercakap-cakap dengan menggunakan ayat Al-Qur’an dan menerangkan makna Al-Qur’an dengan metode isyarat tangan. Hasilnya? Menakjubkan! Nilainya 93: nilai yang menurut standart Hijaz College Islamic University, Inggris adalah peraih Doktor Kehormatan (honoris causa). Anak kelahiran Iran (Persia) ini bahkan dijadikan guru oleh Mohsen Qiraati (mufasir kontemporer Iran. Mohsen berkata, “Saya telah menggeluti Al-Qur’an selama lebih dari 20 tahun, namun kini kembali menjadi murid yang menulis catatan di buku pelajaran. Apapun yang ia (Husain) katakan, saya catat, saya bangga menjadi murid dari guru yang masih berusia 5 tahun ini.” Muhammad Husain Tabata’i memang menjadi mukjizat abad 20. Kita akui itu.

Tapi, menjadi hafizh kecil seperti Fajar yang merupakan buah hati dari pasangan Joko Wahyudiono dan Henny Sulistiyowati ini juga istimewa, dan merupakan mukjizat yang luar biasa. Kenapa? Setidaknya karena dua faktor; pertama, orangtua Fajar bukan hafizhul Qur’an—tidak memiliki basic penghafal Al-Qur’an, yang kedua, Fajar terkena cerebral palsy; kelumpuhan fungsi motorik akibat ada gangguan di otak. Tetapi, inilah bukti kebesaran Allah—betapa canggihnya otak manusia. Dalam keterbatasan itu, Fajar mampu menghafal Al-Qur’an melalui murattal yang diperdengarkan oleh orangtuanya, sejak lahir ke dunia.
Fajar, ia terlahir ke dunia secara premature. Karena terlahir prematur, Fajar kecil harus diletakkan di inkubator. Kemudian setelah, tidak sebagaimana bayi pada umumnya, Fajar mengalami keterlambatan tumbung kembang, lehernya baru bisa tegak di usia tujuh bulan dan baru duduk di usia setahun. Perkembangan yang lambat dianggap Henny masih dalam tahap kewajaran. Hingga ketika Fajar berusia setahun, orangtua Fajar, Henny dan Joko Wahyudionon, tahu bahwa Fajar menyandang cerebral palsy, Henny dan suaminya pun kaget. Suatu reaksi yang wajar dialami oleh semua orangtua.
Namun sekalipun demikian, Henny dan Joko yakin Allah menakdirkan yang terbaik untuk mereka. Mereka pun langsung mencari tahu tentang seluk-beluk cerebral palsy. Entah melalui internet, maupun yang lainnya. Selanjutnya, mereka langsung berupaya mencari penanganan yang tepat. Maka, Fajar mulai diterapi, baik untuk fisioterapi, terapi bicara hingga terapi berenang.
Jadi, di satu sisi ini merupakan ujian, namun di sisi yang lain juga karunia. Ujian karena Fajar menyandang cerebral palsy, namun juga karunia karena di samping keterbatasannya, Fajar memiliki pendengaran dan daya ingat yang sangat tajam sehingga bisa hafal Al-Qur’an.


Keajaiban

Saat Fajar berumur satu tahun, ia sempat terdeteksi memiliki gelombang kejang. Padahal sebelumnya Fajar tak pernah kejang. Begitu Fajar berusia empat tahun, gelombang kejang itu masih muncul, sampai kemudian Fajar berusia delapan tahun, gelombang kejang itu juga masih ada. Ajaibnya, hingga sekarang Fajar sama sekali tidak pernah mengalami kejang.

Karena penasaran, akhirnya Henny mencoba membawa Fajar untuk CT Scan dan ternyata memang ada kelainan di otak yang membuat Fajar memiliki rongga terbuka yang memungkinkan cairan untuk masuk ke otak. Dengan adanya kelainan itu, seharusnya Fajar mengalami kejang aktif dan hidrosefalus. Tapi itu semua tidak dialami oleh Fajar.
Dugaan Henny, kejang yang tidak dialami Fajar kemungkinan besar karena pengaruh hafalan Al-Qur’an yang dikuasai Fajar. Sebab, dari pengetahuan yang didapat Henny, menghafal Al-Qur’an dapat MENGHIDUPKAN sel-sel otak yang masih tidur. “Sel otak Fajar mungkin ada yang rusak, tetapi dapat tertutupi dengan sel yang baru karena teraktifkan lewat kemampuan Fajar menghafal Al-Qur’an.” Ujarnya.


Tiada Hari Tanpa Al-Qur’an

Henny sudah meyakini sejak lama bahwa Al-Qur’an adalah syifa’, penyembuh (Yunus: 57 dan Al-Isra’: 82). Maka, ketika ia melahirkan Fajar dalam kondisi prematur, ia pun langsung menyetelkan murattal Al-Qur’an untuk Fajar yang masih harus berada di inkubator. Bahkan, karena tidak bisa membersamai Fajar ketika itu, Henny menitipkan walkman kepada perawat yang menjaga Fajar agar berkenan memperdengarkan murattal yang ada di walkman tersebut. Dalam umurnya yang baru sehari, Fajar sudah langsung mendengar dua juz Al-Qur’an. Saat pulang ke rumah, Henny juga selalu mengisi telinga Fajar dengan untaian murattal Al-Qur’an, termasuk ketika tidur. Hari-hari Fajar pun selalu diisi dengan Al-Qur’an.

Hingga kemudian, ketika Fajar berusia tiga tahun, saat Fajar pertama kali berbicara, yang keluar dari lisannya adalah bacaan Al-Qur’an, sekalipun terputus-putus. Awalnya hanya bagian akhir surat, kemudian bagian awal dan akhir, lalu lama-kelamaan bagian awal, tengah dan akhir, hingga akhirnya Fajar bisa membaca satu ayat Al-Qur’an secara utuh. Niat awal Henny adalah agar Fajar terbiasa dengan Al-Qur’an. Akan tetapi, ternyata langkahnya itu dapat membuat Fajar hafal Al-Qur’an.

Henny lantas membelikan video murattal Al-Qur’an kepada Fajar. Tentunya yang ada gambar kartun, tulisan arab dan artinya. Fajar selalu senang bila disetelkan video ini, dan disetel berulang kali. Ternyata saat disetelkan video itu, telinganya menangkap rekaman lantunan ayat, dan matanya menangkap tulisan. Hingga saat usia Fajar empat tahun, Fajar tiba-tiba membuka mushaf Al-Qur’an.

Ketika itu, Henny sedang berada di dapur, dan sayup-sayup mendengar ada suara orang mengaji. Ternyata itu adalah suara Fajar. Awalnya Henny hanya mengira Fajar melantunkan ayat Al-Qur’an tanpa sesuai dengan bacaan Al-Qur’an yang dilihatnya. Tapi ternyata apa yang diucapkan Fajar sesuai dengan halaman yang sedang dibuka. Subhanallah!

“Bahkan pernah,” kata Joko, ayahanda Fajar, menambahkan, “...ada video yang antara suara dan tulisannya tidak sesuai, lalu Fajar menangis, dan kita tidak tahu kenapa Fajar menangis. Baru dikemudian hari, ternyata ada kesalahan dalam video tersebut. Fajar menangis karena suara dan tulisan yang ada di video itu tidak sesuai, dan karena Fajar belum bisa bicara ia hanya bisa menangis. Ketika tahu bahwa menangisnya Fajar karena adanya kesalahan itu, akhirnya kita mengganti videonya dengan yang baru, dan tidak ada cacatnya.”

Lebih dari itu, bagi seorang Fajar, Al-Qur’an ibarat mainan kesayangan. Ketika anak-anak seusianya sibuk dengan berbagai mainan seperti mobil-mobilan dan robot-robotan, Fajar lebih suka bercengkrama dengan Al-Qur’an. Kalau ditanya, ‘Mau dibelikan apa?’ Fajar selalu menjawab ingin mushaf Al-Qur’an atau vcd murattal Al-Qur’an.


Hafalan Yang Menakjubkan

Pendengaran Fajar begitu kuat, dan kemampuan menghafalnya juga sangat hebat. Pernah saat melihat tulisan Arab yang bukan merupakan ayat Al-Qur’an, Fajar biasanya akan bertanya pada Henny, apa bacaan tulisan tersebut. Keesokan harinya, Fajar sudah hafal tulisan tersebut.

Di lain kesempatan, Henny pernah berusaha menghafal hadits Arba’in An-Nawawiyah hadits kedua—hadits panjang perihal tanya Jibril kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam tentang Islam, Iman dan Ihsan. Sudah dua pekan, Henny belum hafal-hafal juga. Ternyata tanpa dinyana karena sering mendengar mamanya berusaha menghafal, tiba-tiba Fajar sudah hafal hadits tersebut.

Bahkan, penulis pernah mendengar sendiri tentang kemampuan menghafal Fajar. Waktu itu, ia memegang video player yang berisi bacaan banyak syaikh. Setelah memutar, ia langsung bisa menebak surat apa dan syaikh siapa. Ketika dipindah ke yang lain, Fajar juga langsung bisa menebak suratnya dan juga syaikhnya. Aku tertakjub. Kejadian ini juga disampaikan oleh pak Amy Faizal, guru pendamping Fajar di sekolahnya. Pak Faizal rutin menyetel murattal Al-Qur’an untuk Fajar dari telepon seluler miliknya. Fajar biasanya langsung bisa menebak surat yang diputar, bukan saja sejak permulaan ayat pertama, tapi bahkan sejak pembacaan basmalah di setiap surat. Jadi, dari nada dan tekanan saat pembacaan basmalah saja, Fajar sudah dapat mengetahui surat apa yang sedang diputar. Subhanallah.

Di antara contoh yang lain, Fajar yang dikenal ramah, mudah bersosialisasi, cepat beradaptasi ini termasuk orang yang paling mudah menghafal nama-nama teman sekolahnya. Fajar paling cepat sadar jika ada satu saja dari temannya yang tidak hadir. Ia juga dapat mengetahui kehadiran seseorang dari langkah kakinya saja. Ajaib!

Ketika Fajar berusia empat tahun, Henny mencoba mencarikan guru mengaji untuk Fajar, dan setelah mengetes bacaan Al-Qur’an Fajar selama enam bulan, guru pertama Fajar menyimpulkan bahwa di usia itu, Fajar sudah menghafal Al-Qur’an secara utuh, tapi belum bisa menghafal secara urut, dan bersama gurunya, teh Lana, Fajar berhasil menghafal 22 juz secara berurutan. Ini terjadi pada tahun 2012, dan sekarang Fajar sudah selesai dan berhak menjadi hafizhul Qur’an.

Dalam acara seminar The Miracle of Qur’an for Janin, pada hari Ahad, 30 Juni 2014, Fajar bersama kedua orangtuanya menjadi tamu kehormatan. Joko Wahyudiono, ayahanda Fajar menjelaskan bahwa Fajar sudah belajar terjemahan Al-Qur’an bahasa Indonesianya, dan sekarang bahkan sedang belajar terjemahan bahasa inggrisnya. “Mohon doanya.” katanya.

Ya Allah…, betapa kita begitu iri dengan Fajar. Betapa kita malu kepada lelaki kecil penyandang cerebral palsy tapi hafal Al-Qur’an ini—jauh melampaui dan mengalahkan kita-kita yang berfisik dan berbadan normal. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

« لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَتْلُوهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ، فَسَمِعَهُ جَارٌ لَهُ فَقَالَ لَيْتَنِى أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِىَ فُلاَنٌ فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَهْوَ يُهْلِكُهُ فِى الْحَقِّ، فَقَالَ رَجُلٌ لَيْتَنِى أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِىَ فُلاَنٌ فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ »

“Tidak boleh hasad kecuali kepada dua orang: (pertama) lelaki yang diajari Al-Qur’an oleh Allah, lalu ia membacanya sepanjang malam dan siang, lalu ada tetangganya yang mendengarnya, kemudian ia berkata, “Duhai, andai aku dikaruniai apa yang diberikan kepada si fulan, maka aku akan mengamalkan seperti apa yang biasa ia lakukan (membaca Al-Qur’an). (yang kedua) lelaki yang dikaruniai harta lalu ia menghabiskannya di jalan kebenaran. Kemudian ada orang yang mengatakan, ‘Seandainya aku dikarunia harta sebagaimana si fulan, maka aku pasti melakukan sebagaimana yang ia amalkan. ” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)


Metode Menghafizhkan Balita

Berdasarkan bacaan dari tulisan, dan wawacara kami dengan ibu Henny dan bapak Joko, kedua orang tua Fajar, kami menyimpulkan bahwa di antara faktor terpenting dalam menghafizhkan Fajar dalam usia dini, padahal ia menyandang cerebral palsy adalah:

Senantiasa memperdengarkan murattal semenjak kelahirannya—tentu lebih baik lagi jika ini dilakukan sejak dalam kandungan, karena memang janin di dalam kandungan sudah bisa merespon suara dari luar ketika sudah sempurna penciptaannya, yaitu empat bulan. Yang lebih unik, kalau biasanya orangtua menyetel juz amma secara berulang-ulang, berbeda dengan orangtua Fajar; keduanya menyetel semua juz Al-Qur’an, secara berurutan, tidak diputar acak. Karena menurut Majdi Ubaid, sebagaimana ditegaskan dalam 9 Asrar li Hijfzhil Qur’anil Karim, ketika mendengar Al-Qur’an, sejatinya bacaan tersebut tersimpan rapi di dalam otak. Sehingga semakin sering anak khatam mendengarkan murattal Al-Qur’an, maka itu akan menambah daya ingat anak tersebut terhadap ayat-ayat yang ia dengar.

Menghindari televisi. Televisi memang ada di rumah, tetapi hanya ditempatkan di gudang. Tidak pernah dihidupkan. Karena televisi sama sekali tidak mendidik, bahkan cenderung melemahkan dan mematikan potensi kekuatan otak anak. Kecuali untuk menyetel tayangan yang bermanfaat seperti pengetahuan Islam, kisah Rasulullah dan sahabat, Hafizh Cilik, dan shalat tarawih dari Mekah.

Selalu memberikan mainan yang berkaitan dengan Al-Qur’an, entah mushaf Al-Qur’an, walkman yang diisi murattal Al-Qur’an, video yang ada gambar hewan menirukan suara murattal, dan lain-lain.

Dukungan orangtua. Ini faktor yang terpenting. Tanpa dukungan orangtua yang mengarahkan anaknya yang masih balita untuk hafal Al-Qur’an, proyek yang menjadi impian hidup semua orang ini tidak akan bisa berhasil. Maka, orangtua menjadi faktor terpenting dalam menghafizhkan anak di usia dini. Karena merekalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Terutama dalam hal kontinuitas dan keistiqamahan dalam menyetel muratal tanpa lelah. Karena sejatinya, usia emas (golden age) anak memang ada pada umur 0 sampai 7/8 tahun. Di antara bentuk dukungan orangtua kepada anaknya adalah doa mereka untuk anak-anaknya. Munajat yang terlantun di bumi itu akan terdengar di langit, dan Allah pun akan mengijabah doa tersebut.


Kesimpulan

Akhir kata, penulis hanya ingin mengatakan, “someone very special.” 
Anak-anak menjadi istimewa dengan bakatnya masing-masing. Semua anak adalah cerdas, dan jenius di bidang kecerdasan yang menjadi minat dan bakatnya. Kita sebagai orangtua harus tahu potensi dan bakat anak kita.

Yang kedua, ‘ala kulli hal, siapapun kita, pasti bisa hafal Al-Qur’an, bahkan yang terkena cerebral palsy sekalipun. Fajar adalah salah satu buktinya. Kalau anak penyandang kelumpuhan fungsi motorik akibat ada gangguan di otak saja bisa hafal Al-Qur’an. Apalagi dengan kita-kita. Tentu lebih mampu, dan pasti bisa. Wallahul musta’an.

Semoga bermanfaat dan menjadi cambuk bagi kita, terutama bagi penulis sendiri tentunya.




Sepenuh cinta,

Abu Kayyisa Ulayya

Thursday, July 3, 2014

hello blogger

Assalam alaykum :)






Selamat malam semuanya x) Masya Allah aku rindu sekali menulis di sini. Fu fu fu. Tapi alhamdulillah kabar baik datang hari ini. Semua tugas kuliah dan UAS-ku sudah tuntas. Sekarang aku bisa fokus untuk menulis lagi yay :) :) dan untuk rangkuman tadabbur kemarin, Insya Allah akan menyusul ya.

Semuanya. Mohon maaf lahir bathin ya. Semoga semua amal ibadah kita bisa diterima oleh Allah. Aamiin. Aku pamit dulu ya ♥





LOVE,


@okutariani