Visitor

Thursday, May 15, 2014

Tadabbur Al-Qur'an

Materi Tadabbur QS. Al-Adiyat ayat 1-11
 10 Mei 2014

HARTA TIDAK AKAN MENGEKALKANMU


Oleh Ustadz Hendra Hudaya, Lc


Pendahuluan

Ketika kita lahir ke muka bumi ini, kita tidak membawa apa-apa selain tubuh yang tidak dikenakan satu helai pakaian pun. Pada saat itu, kita hanya menangis karena baru pertama kali merasakan udara dunia. Kita tidak lagi di dalam perut ibu yang gelap dan tidak bebas bergerak. Bayi yang baru lahir itu tidak tahu apa-apa. Hanya merasakan bahwa ia membutuhkan dekapan kasih sayang ibu. Sudah dengan fitrahnya ia mencari-cari air susu ibunya. Sehingga tumbullah ia menjadi balita, bisa berjalan walau kadang terjatuh, kemudian bangkit lagi, kemudian berlari, dan menjadi remaja yang tangguh.

Hari demi hari dilalui dengan penuh semangat. Bak kuda perang yang memercikkan api dari pangkal kakinya. Tapi ketika itu ia mulai berkenalan dengan dunia luar. Bertemu dengan teman seangkatan kerja. Mulai mendapatkan gaji sendiri. Merasakan nikmatnya bisa berbelanja apa yang kita butuhkan dengan uang hasil keringat sendiri. Maka datanglah waktu pada saat ia mulai menginginkan hal yang berbeda. Ia sudah memiliki harta yang diperolehnya dengan mudah. Kini, ia sudah disibukkan dengan kesenangan duniawi yang menyita waktunya. Termasuk pada harta yang diagung-agungkan. Rupanya, manusia yang tadinya hanya segumpal darah yang melekat dan menjadi daging, dia sudah berubah menjadi makhluk yang kikir! Melupakan Tuhannya. Menduakan Tuhannya. Menjadikan tuhan-tuhan lain yang tidak bisa memberinya manfaat.

Pemuda ini tidak lagi ingat akan masa-masanya dulu ketika ia benar-benar membutuhkan dekapan ibunya yang hangat. Ia lupa bahwa ia pernah menyusu pada ibunya yang kini sudah tua renta. Ia tidak lagi mengingat betapa besar rasa sayang ibunya kepadanya. Setelah dewasa, ia asik dengan kehidupannya. Mendekati perempuan yang satu ke perempuan yang lain. Naik jabatan. Jalan-jalan ke luar negeri. Meninggalkan ibunya sendirian di panti jompo. Dan berbuat curang dalam keuangan kantor.

Dialah yang tadinya hanya SEGUMPAL DARAH! Yang kemudian berubah menjadi makhluk keji dan jahat. Allah telah berikan kesuksesan dan kesenangan hidup. Allah juga telah berikan ia harta yang seharusnya dapat mengingatkannya akan nikmat Allah dan bersyukur. Namun, semua itu sia-sia. Ia tidak lagi mampu untuk merasakan manisnya iman dan tauhid.

Pernahkah teman-teman melihat cerita yang mirip dengan kisah di atas? Kalau kita lihat keadaan para pejabat tinggi di negeri ini, mungkin kita akan menemukan kisah yang serupa. Setelah diberikan kepercayaan untuk menduduki kursi jabatan, bebaslah ia berkuasa. Sehingga lupa pada amanah awalnya. Rusak sudah hati yang tadinya bersih. Segumpal darah yang tadinya tidak bisa apa-apa berubah menjadi singa yang mengaum kelaparan!


Pendekatan Makna Surah

Jika membaca dan menghayati ayat-ayat dari Surah Al-Adiyat ini, maka lihatlah bahwa teguran Allah terhadap orang-orang yang kufur nikmat sangatlah keras.

Innal ingsaana lirabbihi lakanuud.
Sesungguhnya, manusia itu sangat ingkar, tidak berterimakasih kepada Tuhannya.

Wa innahu alaa dzalika lasyahid.
Dan sungguh manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya.

Kepada nikmat yang telah sampai pada mereka, mereka anggap itu adalah hadiah dari Tuhan mereka dan ketika musibah yang datang, mereka anggap Tuhan mereka sedang menghinakan mereka. Terhadap nikmat apa saja orang-orang ingkar?

Salah satunya yang akan dikupas di sini adalah persoalan harta.

Wa innahu lihubbil khoiri lasyadid.
Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.

Ketika itu, manusia rela menjadikan uang sebagai tuhan. Jika tidak ada uang, matilah mereka rasanya. Tidak ada semangat hidup, tidak ada gairah, bahkan cenderung stres. Namun, ada juga yang mengira hidupnya aman-aman saja karena kecukupan harta. Bahkan mereka merasa tidak ada masalah atau beban. Walaupun sebenarnya masalah yang paling besar bagi mereka adalah jauh dari Rabb-nya dan dekat kepada harta mereka. Kecintaan terhadap harta yang terlalu berlebihan akan membuat mereka lupa bahkan kepada keluarganya sendiri. Sering kita lihat bagaimana seorang pria yang sudah kaya dan merasa memiliki kekuasaan, bisa berbuat sewenang-wenang seperti berselingkuh atau korupsi. Dia anggap ini kesenangan. Padahal sebenarnya itu adalah musibah. Ketika harta membuatnya lupa, setan tertawa terbahak-bahak. Seketika itu, setan merangkulnya sangat erat dan membisikinya, “Kau memang saudaraku!”

Afala ya’lamu idzaa bu’sira maa fil qubur.
Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur.

Wa hussila maa fisshudur.
Dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada.

Namun ketika ia akhirnya sadar malaikat pencabut nyawa telah datang kepadanya, ia lemas tiada daya. Memohon ampun namun terlambat. Ditinggalkanlah istri dan anak-anaknya. Harta dan jabatan yang dimilikinya semasa hidup tiadalah berarti karena di alam kubur ia menjadi seperti bayi yang baru lahir—yang tidak bisa berbuat apa-apa; tidak memakai baju sehelai pun; dan hanya bisa terus menyesali perbuatannya. Menangis pun tak sanggup. Maka, harta itu lenyap beserta tubuhnya yang mulai digerogoti oleh semut dan serangga di dalam tanah.

Barulah kali itu ia tersadar bahwa HARTA TIDAK AKAN MEMBAWANYA KEKAL. Bahkan kain putih yang dikenakannya sudah menjadi kecoklat-coklatan dan bau. Temannya tiada mengingat. Bahkan yang setia datang ke kuburannya sudah semakin sedikit. Gadget, rumah mewah, uang, TV, mobil, perempuan-perempuan cantik, baju-baju bermerk, sepatu mahal, tas, hingga rekening di bank yang bermilyar-milyar sudah tidak berguna lagi. Padahal dulu kakinya sangat kuat jalan berpuluh-puluh mil, tapi tidak digerakkan ke rumah Allah, masjid. Lengannya tidak ada yang cacat dan masih bisa menulis dengan baik dan mengambil apa pun dengan tangan kanan, tapi tidak digunakan untuk memegang dan membaca Al-Qur’an. Tubuhnya sehat bugar dan selalu rajin ke tempat-tempat fitnes namun jarang sekali memenuhi panggilan Allah dengan shalat di masjid, padahal shalat sungguh lebih dari sekadar menyehatkan tubuh. Matanya yang tidak rabun ia gunakan untuk melihat aurat wanita yang saat itu jalan menghampirinya. Ini dianggapnya sebuah ‘nikmat’ dan menertawakan pria yang jalan dalam keadaan menundukkan pandangan. Telinganya yang mampu mendengar dengan jelas disumpel oleh headset sehingga yang selalu didengarkan adalah musik-musik yang membuatnya merasa ‘hidup’ namun tidak pernah sekali pun telinganya diperdengarkan oleh ayat-ayat suci Al-Qur’an sehingga ‘mati’ sudah jiwanya. Semua organ tubuh yang sehat dipergunakan untuk hal yang sia-sia olehnya. Hingga sang malaikat pencabut nyawa datang menghampirinya dengan amarah yang besar. Ia menjadi ketakutan dan berusaha menghindar namun tidak bisa.

Harta yang dipikirnya mampu membuat hidupnya senang, bahagia, tanpa susah, tidak ada beban justru malah membutakan mata hatinya dari keindahan iman dan taqwa kepada Allah. Masih banyak lagi kisah pemuda maupun pemudi yang meninggal dalam keadaan seperti itu. Tidakkah kita miris jika itu terjadi pada saudara kita sendiri? Atau bahkan orangtua kita?

Inna rabbahum bihim lauma idzillakhobir.
Sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka.


Beberapa kali saya mendatangi kuliah tadabbur dan saya pun baru menyadari bahwa halal dan haramnya suatu harta itu menjadi pertimbangan penting bagi setiap muslim. Kita perlu menanyakan istri, suami, anak, ayah maupun ibu tentang harta yang diperolehnya. Jika itu berasal dari hal-hal musyrik maupun haram, wajiblah kita mengingatkannya. Karena sesuap saja kita makan dari harta haram, maka di perut kita ini akan penuh oleh luapan-luapan api yang akan menggiring kita ke neraka. Naudzubillah, tsumma naudzubillah. Maka dari itu, jangan takut untuk menanyakannya kepada keluarga. Bersyukurlah jika kita mendapati keluarga kita memperoleh harta yang halal. Berkah dari Allah pasti akan terasa setelahnya. Karena sungguh, Allah tahu apa saja yang kita perbuat selama di dunia. Semoga kelak nanti keadaan kita tidak seperti orang-orang yang kufur nikmat, in syaa Allah. Aamiin.

No comments:

Post a Comment