Visitor

Monday, May 5, 2014

Tadabbur Al-Qur'an

Materi Tadabbur QS. Al-Qari’ah ayat 1-11
 3 Mei 2014

Oleh Ustadz Umar Makka, Lc


Pendahuluan
Kalau membahas tentang Hari Kiamat, kira-kira apa yang ada di pikiran teman-teman?
Bergidik ngerikah?
Lebih baik nggak dengar?
Atau?

Mungkin juga ketika kita membaca Al-Qur’an di beberapa surah seperti Al-Qiyamah, Al-Qari’ah, Al-Haqqah, Al-Ghasyiyah, At-Takwir dan An-Naba. Perhatikan bagaimana ayat-ayat Al-Qur’an menggambarkan hari kedahsyatan yang sudah pasti akan terjadi. Tidak ada yang mampu memprediksikan kapan kita akan bertemu dengan hari tersebut. Namun, tanda-tandanya sudah semakin terlihat jelas. Bagaimanakah para muslim seharusnya menanggapi pola masyarakat akhir zaman? Pada kesempatan kali ini, saya ingin mengajak teman-teman untuk tidak hanya sekadar membaca, tapi juga merasakan bagaimana hari kedahsyatan itu terjadi.

“Sesungguhnya di antara hari kalian yang paling utama adalah Hari Jum’at. Di hari itu, Adam diciptakan, di hari itu, Adam meninggal, di hari itu, tiupan sangkakala pertama dilaksanakan, di hari itu pula, tiupan sangkakala kedua dilakukan.”
(HR. Abu Daud)


Fase Pertama: Guncangan Dahsyat Dari Tiupan Sangkakala Yang Pertama


Hari itu...
Kita mendengar dengan pendengaran yang sangat jelas. Tiupan pertama pada sangkakala oleh malaikat Israfil, yang kemudian tiupan tersebut begitu dahsyatnya mengguncang dan membuat kaget para penghuni langit dan bumi. Keguncangan hari itu Allah gambarkan, ibu-ibu yang menyusui kemudian meninggalkan anaknya, melemparkan anaknya pada saat itu pula. Kemudian guncangan saat itu adalah kita melihat ibu-ibu yang hamil melahirkan bayi-bayi yang mereka kandung, karena begitu hebatnya guncangnya kondisi tersebut. Lalu kita melihat orang-orang itu seperti mabuk, ketakutan, sungguh mereka tidak mabuk. Tetapi, siksaan Allah pada hari itu sangat dahsyat.

Al-Qari’ah. Mal qa’riah. Wa maa adrakamal qari’ah.
Hari Kiamat. Apakah Hari Kiamat itu? Dan tahukah kamu apakah Hari Kiamat itu?

Tiga ayat pertama ini menggambarkan tentang kondisi guncangan pada Hari Kiamat yang kemudian mematikan seluruh makhluk. Amerika kemudian tenggelam. Tidak ada saat itu. Cina yang katanya begitu kuat pun akan berada di bawah tanah. Israel yang begitu sombongnya pada saat itu lenyaplah sudah apa yang mereka bangga-banggakan. Tersisalah dua makhluk, yaitu malaikat maut dan Israfil. Lalu Allah berkata, “Wahai malaikat maut, cabutlah nyawa Israfil!” lalu dicabutlah nyawa Israfil. Kemudian Allah berkata, “Siapa yang tersisa dari ciptaan-Ku wahai malaikat maut?” malaikat maut menjawab, “Hambamu yang hina ini ya Rabb.” Maka Allah berkata, “Matilah engkau wahai malaikat maut!” dan matilah ia.

Seluruh makhluk sudah binasa. Allah membiarkan seperti ini hingga 40 tahun lamanya. Allah berkata ketika malaikat maut sudah mati, “Dan tidak ada yang tersisa, semua akan sirna, akan hancur. Dan pada hari ini kepunyaan siapakah kekuasaan hari ini? Punya siapakah kekuatan hari ini? Mana mereka orang-orang yang thagut itu? Mana mereka orang-orang yang pembangkang? Mana mereka para penguasa? Mana para penentang itu yang menolak hukum-hukum-Ku? Ke mana orang-orang yang dulu mengira hartanya akan membuat mereka kekal? Mana penguasa-penguasa yang dzalim itu, yang menghalang-halangi orang untuk mendatangi agama-Ku?”


Fase Kedua: Tiupan Sangkakala Kedua Yang Membangkitkan Manusia Dari Kubur


Yauma yakuununnaa sukal faraa syilmab’tsus. Wa takuunul jibaalukal ihnil mangfusy.
Pada hari itu manusia seperti laron-laron yang beterbangan. Dan gunung-gunung pada hari itu seperti bulu yang dihambur-hamburkan.

Para ulama kemudian mengatakan bahwa ayat keempat dan kelima menggambarkan kondisi ketika dibunyikan tiupan sangkakala yang kedua. Semua makhluk telah dimatikan. Dan semua manusia pada akhirnya akan menjadi tulang-belulang, akan sirna, kecuali satu tulang, yang tertinggal dari setiap makhluk—yaitu tulang ekor. Dari tulang inilah kemudian manusia akan dibangkitkan kembali. Ketika itu, kita dibangkitkan dari kuburan pada tiupan sangkakala kedua, kita akan dihamburkan, dibangkitkan seperti laron-laron yang beterbangan. Bukan satu per satu, tetapi dalam satu waktu bersamaan. Wa akhrajatil ardhu atshqalahaa. Lalu bumi mengeluarkan isi-isinya. Maka bumi kemudian seperti memuntahkan isinya, yang ada di dalamnya. Lalu kita beterbangan hilir-mudik hingga sampai di Padang Mahsyar. Anggapan kita pada saat itu bahwa telah lewatlah guncangan besar di tiupan pertama bukan berarti berakhirnya siksaan. Namun akan lebih dahsyat lagi yang akan terjadi setelahnya. Maka mohonlah perlindungan pada hari itu kepada Allah subhana wa ta’ala.


Fase Ketiga: Berkumpulnya Semua Makhluk Di Padang Mahsyar


Yauma yungfakhu fissuuri fata’ tuuna afwaajaa. Wa futihatissamaa u’ fakaanat abwaabaa. Wa suyyiratil jibaalu fakaanat saroobaa. Inna jahannama kaanat mirshodaa. Litthaagiina ma ‘abaa.
Pada hari ketika sangkakala ditiup, lalu manusia datang berbondong-bondong ke Padang Mahsyar. Kemudian langit pun mulai terbuka seperti menjadi pintu-pintu. Gunung yang kalian kira itu kokoh tidak bergoyang pada hari itu kemudian bergerak. Ketika manusia sudah sampai di Padang Mahsyar, mirshad itu sudah siap-siap mengintai. Neraka Jahannam itu sudah melihat siapa orang-orang yang akan masuk ke dalamnya. Tempat kembalinya bagi thagut, bagi orang-orang yang pembangkang pada syariat-syariat Allah di dunia.

Lalu kita datang kepada Mahsyar dengan wajah yang berbeda-beda. Ada yang masam, ada yang ceria, ada juga yang ketakutan hingga keringatnya menenggelamkan dirinya. Fase-fase kiamat itu, mulai dari ketika tiupan pertama, hingga tiupan kedua, dan ketika kita digiring beterbangan entah ke mana dan sampailah pada saat itu kita ke tempat yang tidak pernah diketahui sebelumnya. Di sana, di tempat itu, sungguh kita mengira tadinya akan aman karena guncangan telah berakhir. Ya Rabb, lindungilah orang-orang mukmin, lindungilah orang-orang beriman dari siksaan dan ketakutan di Padang Mahsyar hingga hari penghisaban. Detik-detik kiamat itu sangatlah susah, sangatlah berat. Kita mengira ini akan terjadi sekali saja setelah itu kita dibebaskan. Tidak. Tidak ada lagi istirahat, tenang-tenang, santai-santai. Tidak ada lagi yang bisa tertawa, bercanda, bahkan menangis ketakutan saja tidak cukup menggambarkan kesulitan yang kita rasakan. Namun ada orang-orang yang wajahnya berseri menantikan janji Tuhannya. Ya Rabb, tak mengapa aku dicela, dihina, disakiti, difitnah oleh orang-orang dzalim karena aku mempertahankan hijabku ini. Ya Rabb, tak mengapa aku diusir oleh orangtuaku sendiri karena ingin menjalankan perintah-Mu, karena ingin menjalankan syari’at-Mu. Tiadalah mengapa aku bersakit-sakit di dunia, hingga aku yakin bahwa Engkau akan membalasnya, hingga aku menunggu hari di mana Engkau akan memberiku balasan atas apa yang kuperjuangkan selama aku hidup di dunia. Selain orang-orang yang ceria, ada juga mereka yang ketakutan, tubuhnya menggigil panas dingin. Ketika di Padang Mahsyar, mereka tidak kuasa menahan siksaan yang Allah berikan. Ternyata, ia sudah melihat neraka Jahannam yang sebentar lagi akan dimasukinya.

Pada hari itu, tidak bergunalah lagi taubatmu!
Pada hari itu, sia-sialah maaf yang kau utarakan pada Tuhanmu!
Sudah terlambat, wahai manusia!

Di hari yang menegangkan itu, mata kita mulai membelalak karena langit-langit telah berubah menjadi layar yang mempertontonkan apa-apa yang pernah dikerjakan kita selama di dunia. Allah perlihatkan orang-orang dzalim yang ketika muda menjadi pejabat, menjadi penguasa, kemudian ia korupsi, ia memakan harta haram, ia lupa berzakat, ia mengambil harta anak yatim. Semua Allah perlihatkan kepada seluruh makhluk yang saat itu berkumpul di Padang Mahsyar.Bahkan ada orang yang keringatnya sampai mata kaki. Kita semua yang dikumpulkan tidak akan memakai satu helai pun pakaian. Namun ketakutan dan ketegangan pada hari itu jauh lebih dahsyat mengalahkan pikiran-pikiran buruk.


Fase Keempat: Detik-Detik Menjelang Penghisaban


Tibalah matahari didekatkan oleh Allah hingga 1 mil. Maka tidak heran ada orang yang belum masuk neraka namun sudah disiksa oleh Allah yang keringatnya sampai menenggelamkan dirinya. Kecuali ada 7 kelompok pada hari di mana matahari didekatkan, Allah lindungi mereka dan mereka tidak kepanasan apalagi merasa susah. Diantara 7 golongan ini, ada remaja-remaja yang sudah istiqomah, yang sudah kuat dengan Al-Qur’an, yang sudah kencang dengan sunnah-sunnah, yang sudah kokoh dengan tauhidnya, yang sudah kebal akan celaan, cacian, makian, penghinaan dari orang-orang yang membangkang perintah Allah. Mereka-mereka ini adalah orang-orang yang terpilih, orang-orang yang sejak muda berhijrah, meninggalkan kesenangan duniawi, hingga mereka ditertawakan oleh teman-temannya, mereka ini dikatakan kuno, bodoh, terlalu fanatik, tidak gaul, dan semacamnya. Tetapi mereka sabar, mereka tetap mempertahankan hijab mereka, mereka tetap menjalankan syari’at dan memperjuangkan agama Allah walaupun seluruh penduduk di negeri itu banyak yang dzalim, banyak yang tidak taat, namun mereka inilah yang akan dilindungi oleh Allah, sungguh, mereka adalah orang-orang yang wajahnya berseri-seri ketika sampai pada Tuhannya.

Fa ammaaman tsakulat mawaa dziinuhu. Fahuwa fii issyatirraadhiyahu.
Maka adapun orang yang berat timbangan kebaikannya. Maka dia berada dalam kehidupan yang menyenangkan.

Setelah fase kita berada di Padang Mahsyar, mulailah kita dihisab, ditimbang amal kebaikan dan keburukannya. Dihisablah kita dengan cara dipanggil satu per satu menghadap Allah. Tidak ada orang di antara kalian kecuali akan berbicara kepada Allah sendiri, secara langsung, tidak ada penerjemah antara dia dan Allah. Pada hari itu, kita akan sungguh-sungguh menghadap Allah dengan perasaan yang berbeda-beda.

Abdurahman bin Malik!

Majulah Abdurahman.

“Ya Rabbi, saya akan diperlihatkan aib-aib saya yang sudah ditutup selama di dunia. Hari ini saya akan melihat segala amal kebaikan maupun keburukan yang pernah saya kerjakan selama saya hidup di dunia di depan seluruh makhluk.”

Pada hari itu, Abdurahman melihat sisi kanannya. Lalu berkata, “Masya Allah Maha Benar Allah, pahala tadabburku sudah kulihat hari ini. Ya Allah, ini pahala shalatku mulai kulihat hari ini. Ya Rabbi, ternyata perjuanganku selama ini tidak Engkau sia-siakan.”

Namun ketika ia melihat sisi kirinya. Ia berkata, “Ya Rabbi, tetapi pada hari itu ketika aku tinggalkan tadabbur Qur’an, aku pergi melakukan perbuatan sia-sia, ternyata hari ini pun juga Engkau balas semuanya.”

Lalu ia melihat ke depan. Maka ia tidak melihat kecuali neraka Jahannam. Maka kata Rasulullah, “Berlindunglah dari api neraka walau dengan satu biji buah kurma.”

Pada hari itu sungguh mulut kita sudah terkunci karena hanya akan bisa bersaksi ketika kita masih hidup di dunia. Maka mulailah tangan ini bersaksi di hadapan Allah. “Ya Rabbi, aku di dunia dipergunakan oleh orang ini untuk membuka lembaran-lembaran mushaf-Mu di tengah malam ketika semua orang sedang tertidur.”

Kemudian kaki pun mulai bersaksi,“Ya Rabbi, ketika di hari Sabtu banyak orang-orang yang lebih senang menghabiskan waktunya untuk hura-hura, di mana orang mengejar dunia, Ya Rabbi dia langkahkan aku ke suatu tempat untuk mentadabburi ayat-ayat suci-Mu.”

Dan telinga pun bersaksi, “Ya Rabbi, aku diperdengarkan oleh orang ini musik lebih sering daripada Al-Qur’an.”

Lalu mata pun mulai bersaksi, “Ya Rabbi, aku dipandang ke laptop, ke handphone untuk menjawab semua status-status dan chat dari orang-orang, serta melihat update-an di Twitter, Facebook lebih banyak ketimbang membuka mushaf dan membaca ayat-ayat suci-Mu.”

Bergilirlah kemudian tangan yang bersaksi, “Ya Rabbi, selama di dunia aku dipergunakan tidak untuk membuka mushaf-Mu, bahkan lebih senang memegang gadget daripada Al-Qur’an. Sedikit-sedikit mencari handphone, tetapi tidak Al-Qur’an. Sedikit-sedikit was-was siapa yang BBM atau Whatsapp, tetapi tidak Al-Qur’an.”

Bagi orang-orang yang beriman, Allah akan berkata kepadanya, “Di dunia, Aku telah menutup aib-aibmu dari semua manusia, maka hari ini juga Aku akan menutup aibmu di depan semua makhluk. Dan ambillah kitabmu dengan tangan kananmu.”

Ingatlah hadits Rasulullah yang mengatakan, “Tidaklah salah satu dari kalian masuk ke dalam surga karena amal-amalnya, tetapi karena rahmat Allah subhanahu wa ta’ala.”

Pada hari itu, ada orang yang khawatir apakah ia akan mengambil kitabnya dari tangan kiri atau dari tangan kanan. Karena jika ia hitung-hitung perbuatan baiknya di dunia, maka tidak cukuplah ia untuk sampai masuk ke surga. 7 hari dalam seminggu, ia hanya menyempatkan satu hari untuk tadabbur Al-Qur’an dan selebihnya ia habiskan harinya untuk berbuat maksiat. Ia datangi pacarnya ke rumah, ia dekati kekasihnya itu yang diakui sangat disayanginya dengan alasan ingin bersilaturahim namun apakah itu dapat mendatangkan pahala? Tidak. Justru itu akan membawanya, menggiringnya ke neraka karena mendekati zina. “Ya Rabbi, kalau hitung-hitunganku, sungguh aku tidak layak untuk mendapatkan kitabku dari tangan kanan. Aku lebih banyak menghabiskan hari-hariku untuk mendengarkan musik, untuk mendengarkan gosip, untuk melihat wanita-wanita yang bukan mahramku dengan mata kepala ini. Ya Rabbi, aku lebih banyak jauh dari Al-Qur’an, aku lebih sering memegang gadget-ku dan melihat update-an status teman-temanku daripada membuka mushaf-Mu.”

Ternyata, usaha-usaha yang pernah ia lakukan selama di dunia ini membawakan rahmat Allah menuju surga. Lalu berkatalah ia di depan semua umat manusia, semua makhluk, “Wahai seluruh makhluk, lihatlah hari ini Allah rezekikan aku untuk mengambil kitab dengan tangan kanan. Padahal hari ini aku yakin bahwa aku akan mengambil kitabku dari tangan kiri.”

Ia kembali teringat ketika teman-temannya mengajak, “Ya Abdurahman! Sekarang adalah waktunya senang-senang. Kita masih muda, kita masih sehat, kita masih diberikan banyak kemampuan. Mengapa tidak kau pergunakan hari-hari mudamu untuk menikmati kesenangan? Mengapa kau malah memilih bercapek-capek jalan kaki, hujan-hujan, dan bahkan jatuh terpeleset karena licinnya jalanan hanya untuk datang ke majelis ta’lim? Untuk apa ya Abdurahman? Sungguh bodohnya dirimu menghabiskan waktu untuk menjadi seperti orang udik, orangtua yang tidak modern, tidak gaul. Sungguh kau ini ketinggalan zaman! Kalau kau ingin bertaubat, nanti saja! Ketika sudah tua, ketika sudah bau tanah, nanti akan ada waktunya kita untuk bertaubat. Tapi sekarang, senang-senanglah dengan kita.”

Abdurahman tetap kuat pada prinsipnya. Ia tetap jalan menuju majelis untuk mentadabburi ayat Al-Qur’an di hari Sabtu, di tengah teman-temannya yang sedang sibuk ber-weekend dan ia tolak semua ajakan teman-temannya.

Ternyata, Allah membalas kebaikannya! Hampir-hampir ia tidak percaya pada apa yang barusan ia saksikan! Karena benar-benar ia yakin bahwa ia tidak akan memegang kitabnya dengan tangan kanan. Tetapi rahmat Allah-lah yang sungguh membawanya kepada surga.

Wa ammaman khoffat mawaa zhiinuhu. Faummuhu hawiyahu. Wa maa adrakamaa hiyahu. Naarun haamiyahu.
Dan adapun orang yang ringan timbangan kebaikannya. Maka tempat kembalinya adalah di neraka Hawiyah. Dan tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu? Yaitu api yang sangat panas.

Dipanggillah orang yang berikutnya.

Roberto bin Fernando!

Majulah ia ke hadapan Allah.

Tiba-tiba ia mendapatkan kitabnya dari belakang punggungnya sebelah kiri. Mulailah Roberto ketakutan. Maka saat itu ia sadar, ia tahu bahwa ia adalah orang yang paling celaka. Maka kemudian ia membalik kepada manusia dan berteriak, “Seandainya hari ini aku tidak ditakdirkan menerima kitabku dari tangan kiri. Seandainya hari ini aku tidak mengetahui bagaimana hisabku. Seandainya cukup sampai di kitab ini tidak ada setelahnya. Sungguh, hari ini adalah hari yang begitu mencelakakanku!”

Allah berkata, “Ambillah kitabmu dari sebelah kiri.”dan kemudian Allah meminta neraka untuk menggiringnya masuk ke dalam. “Lemparkanlah, masukkanlah ia ke neraka Jahim yang memanggang dan membakar seluruh tubuhnya dan janganlah ada belas kasihan kamu untuk memberhentikannya.”

Melihat orang-orang yang telah dihisab, bergetarlah diri kita jika tersebutkan nama yang merujuk pada kita hingga bergeraklah tubuh kita ini menghadap Allah seperti orang-orang tadi. Pada fase penghisaban, semua umat manusia, semua makhluk was-was apakah mereka akan mendapatkan kitabnya dari sebelah kanan atau mereka akan mendapatkan kitabnya dari sebelah kiri. Setelah itu, masuklah kita pada fase berikutnya—yaitu mizan.

Timbangan pada hari itu memiliki dua sisi. Pahala-pahala shalat kita kemudian ditimbang. Seberapa berat pahala shalat, puasa, zakat, memberikan makan fakir miskin, orang dhuafa, anak yatim, atau bagaimana kualitas sunnah-sunnah yang kita tegakkan. Semuanya akan ditimbang dengan neraca keadilan milik Allah azza wa Jalla. Pada hari itu, sungguh kita akan benar-benar melihat pahala kebaikan yang kita kerjakan selama di dunia dan juga bagaimana beratnya dosa-dosa meninggalkan shalat, puasa, berzakat, menjalani pacaran yang belum kita taubatkan, atau lebih banyaknya kita mengejar dunia yang sudah pasti akan punah, tetapi kita lupa pada dzat yang kekal, yaitu Allah.

Rasulullah shallallahu wa’alihi wa sallam pernah bersabda, “Jangan pernah menganggap remeh kebaikan walau itu kecil.”

Bisa jadi yang akan memasukkanmu ke surga adalah yang kecil-kecil itu.

Ada satu hamba Allah yang memiliki satu kebaikan dan yang sisanya adalah maksiat. Ia datang kepada Allah dengan satu kebaikan tersebut. “Ya Rabbi, selama saya di dunia saya lebih banyak berbuat maksiat dan saya hanya memiliki satu kebaikan.” maka malaikat pun memasukkannya ke dalam surga. Malaikat itu berkata, “Ya Rabbi, masukkanlah ia ke dalam surga karena ia telah membantu orang lain menyingkirkan batu kecil agar tidak menghalangi jalan.” lalu kemudian Allah mengabulkannya.

Selanjutnya kita akan menuju shiraatal mustakim.

Orang-orang yang sudah ketakutan akan masuk neraka karena sudah tahu ia mengambil kitabnya dengan tangan kiri, dan ketika ditimbang pahala ternyata lebih berat dosanya, neraka Jahannam itu sudah siap-siap melumat para penghuninya. Maka ketakutan orang-orang tersebut, tempat curhatnya, tempat mencurahkan rasa khawatir, rasa takutnya adalah neraka yang menyala-nyala. Ialah satu-satunya tempat yang akan membelai-belai, memeluk orang-orang dzalim tersebut. Bukan lagi ibunya yang penuh kasih sayang, bukan lagi teman-temannya yang peduli padanya, tidak ada selebihnya selain neraka yang akan merangkulnya kuat-kuat.


Ya Rabb, lindungilah kami dari dahsyatnya Hari Kiamat.
Ya Rabb, jauhkanlah kami dari api neraka.
Ya Rabb, dekatkanlah kami pada surgamu.
Ya Rabb, terimalah amal ibadah kami, ampunilah kami, maafkanlah kekhilafan kami.
Ya Rabb, kami memohon kepada-Mu karena hanya Engkaulah yang dapat mengabulkan doa-doa kami. Karena hanya Engkau-lah yang akan memberikan kami rahmat-Mu.
Ya Rabb, jadikanlah kami orang-orang yang beriman, yang bertakwa, yang beristiqomah menjalani perintah-Mu, menjadi syari’at-Mu, dan bersabar dari segala macam ancaman di dunia. Serta yakin, yakin, bahwa Engkau akan membalas kebaikan kami, ketulusan kami, cinta kami, kasih sayang kami hanya kepada Engkau, ya Rabb.
Allahumma aamiin.


Ikhwatifillah, jadikanlah Surah Al-Qari’ah sebagai surah yang mampu mengingatkan kita pada dahsyatnya, hebatnya Hari Kiamat. Jadikanlah ia sebagai renungan kita, pengingat kita akan kematian dan hari penghisaban, dan segeralah untuk berlindung kepada Allah, karena hanya Dia saja yang mampu melindungi kita dari siksaan-siksaan setelah kita dibangkitkan dari alam kubur menuju Padang Mahsyar—yang sungguh kala itu banyak orang-orang berdosa yang sudah merasakan siksa padahal mereka belum sampai di neraka. Pelajaran-pelajaran dari Al-Qur’an seharusnya membuat kita semakin cinta, semakin rindu, semakin dibuat candu untuk terus dibaca, dimengerti, dipahami, ditadabburi, diamalkan, didakwahkan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. In syaa Allah, bi’ithnillah kita akan kembali bertemu, kembali berjumpa, kembali ber-reunidi surganya Allah, aamiin.

Allahumma aamiin.


Sedikit persembahan dari saya:

No comments:

Post a Comment