Visitor

Thursday, May 15, 2014

Sex Education in Indonesia

Assalam folks J

Kelas hari ini (13 Mei 2014), membahas tentang kependudukan Jepang dan masyarakat yang berubah karena beberapa faktor. Ada yang menarik dari hasil diskusi kami kali ini. Teman-teman semuanya semangat dan tidak ada yang tidur. Bahkan kayaknya, semua memperhatikan dengan jeli. Mulai dari pengaruh pertumbuhan ekonomi yang pesat di tahun 1960-an, masyarakatnya mulai berubah menjadi kurang rasa sosial, hingga merasa kesepian walaupun sudah mendapatkan kebebasan. Sebenarnya, tema kali ini sangat erat hubungannya dengan tema skripsi yang mau kuambil. Kebetulan hari ini aku baru dapat kabar dari seorang teman bahwa ia memutuskan untuk mengambil non-skrip. Aku tetap berusaha untuk yakin mengambil jalur skripsi. Banyak rupanya alasan teman-temanku yang mengambil non-skrip karena takut kelamaan lulusnya, takut skripsi nggak selesai, takut ini, takut itu, tapi buat orang beriman, nggak ada yang boleh ditakuti kecuali Allah. J

Balik lagi ke topik yang tadi, Jepang.

Aku dan teman-teman sangat senang masuk ke kelas budaya. Karena semua terlihat antusias menjawab pertanyaan dosen dan menyanggah pendapat beliau. Aku mengambil tema skripsi ‘bankonka’ yaitu gejala penundaan pernikahan yang menjadi masalah besar di Jepang. Sedangkan kelas Risma-sensei hari ini juga membahas tentang bagaimana masyarakat Jepang yang mengalami perubahan akibat ekonomi, politik, pendidikan, maupun modernisasinya.


Jepang dan Masyarakatnya

Masalah di Jepang itu rumit. Masyarakatnya, terutama. Sejak teknologi semakin canggih, mereka jarang sekali ngobrol secara langsung. Biasanya, mereka lebih banyak berkomunikasi lewat jejaring sosial atau sms. Generasi muda semakin berpikir kritis. Begitu juga dengan para wanitanya. Mereka tidak mau kalah dengan laki-laki. Mereka merasa, sejak diberlakukannya high education for women in Japan, para wanita ini merasa pantas untuk mendapatkan karir yang tinggi. Setelah itu, mereka bisa memuaskan diri mereka dengan jalan-jalan ke luar negeri, beli ini-itu, kebutuhan terpenuhi, dan tidak lagi minta ke orangtua atau suami. Maka dari itu, mereka menunda pernikahan. Beda banget ya kalau di Indonesia. Para wanita usia 23 tahun ke atas biasanya sudah siap-siap cari jodoh, hehe. Iya kan? Ya, begitulah Jepang. Mereka punya ideologi yang tidak bisa disamakan dengan kita yang beragama. Karena merasa pintar, punya status, jadilah mereka ini masuk di dunia kerja sampai tiba waktunya menikah. Mungkin mereka baru memikirkan menikah di saat usia sudah mulai masuk kepala 3. Ada juga sih yang tidak menikah sama sekali karena sayang kalau keluar dari kantornya.

Dari beberapa gejala sosial yang menyebabkan masalah besar di Jepang, ada lagi ‘parasaitu singuru’—yaitu mereka anak-anak muda yang tidak mau menikah dan juga tetap tinggal bersama orangtua mereka. Bisa kebaca kan dari kosakatanya? Ya, mereka ini seperti benalu yang manja dan tidak mau lepas dari orangtua.

Dari kedua gejala ini, melahirkan masalah baru, yaitu ‘shoshika’—penurunan jumlah kelahiran anak. Di Jepang, akan jarang sekali kita melihat anak kecil bersama orangtua mereka. Bahkan kalau anak kecil menangis kencang di kereta, atau cuma sekadar membawa anak ke restoran, mereka takut loh. Iya, jadi di Jepang itu paling anti sama anak kecil. Entah mengapa. Bahkan sampai ada restoran yang melarang membawa anak kecil masuk ke dalamnya. Makanya, begitu mereka datang ke Indonesia, mereka terheran-heran karena orang-orang Indonesia sangat ramah. Mereka bisa bawa anaknya ke kantor dan teman-teman kantor malah senang kalau ada anak kecil. Kadang suka dicubit, digendong, dipeluk, dicium, dan lain sebagainya. ITU INDONESIA. Beda sama Jepang. Di Tokyo terutama, kita hanya akan sering melihat orang-orang kantoran hilir-mudik. Bener-bener jarang anak kecilnya.

Ternyata begitu besar masalah yang terjadi di Jepang. Kalau aku diberikan kesempatan melanjutkan studi, aku ingin sekali meneliti permasalahan yang baru-baru ini terjadi di Jepang. Memang sepertinya minatku hanya tertuju di budaya, kemasyarakatan sosial dan arts. Aku tidak begitu suka ekonomi dan politik. Aku memilih mundur kalau sedang membahas itu. Tapi masalah yang terjadi di Jepang tidak jauh dari pengaruh ekonomi dan setelah kalahnya Jepang dari Perang Dunia II.


Jepang dan Hubungan Relasinya

Muenshakai merupakan masalah baru yang ada di Jepang sejak mereka semakin disibukkan oleh pekerjaan dan tidak lagi memikirkan silaturahim sesama keluarga dan kerabat. Sehingga muncullah istilah baru, ‘muenshi’. Yaitu mati sendiri. Banyak para lansia di Jepang yang akhirnya meninggal dalam keadaan tidak diketahui oleh keluarganya. Jepang berubah. Ya, betul sekali. Kalau dulu kekerabatan di Jepang masih erat dan kompak, sekarang semakin longgar. Mereka sudah individualis. Walaupun di beberapa situasi mereka sangat terlihat ganbari.

Kalau melihat keadaan yang memprihatinkan seperti ini, bagaimana pendapat kalian?

Rupanya semakin sedikitnya anak yang lahir dan meningkatnya jumlah manula membuat pemerintah Jepang jadi stres sendiri. Karena pemerintah pasti akan memikirkan untuk memberikan tunjangan kepada para lansia yang semakin banyak. Sedangkan anak-anak penerus generasi bangsa, sudah semakin menurun. Sekolah-sekolah pun jadi sepi dan di universitas biasanya sudah mulai menerima mahasiswa asing karena saking sedikitnya populasi di Jepang itu. Kita harus bersyukur tinggal di Indonesia yang masih memiliki agama. Dengan adanya fondasi agama, tentu kita punya jalan hidup, a way of life, mau ke mana kita dalam hidup itu. Baik itu Islam, Kristen, Buddha, dan Hindu sekalipun. Semuanya punya peraturan yang harus ditaati. Tidak seperti Jepang yang meyakini dua keyakinan sekaligus. Secara shinto dan buddha.


Anak-anak di Jepang

Walaupun keberadaan anak-anak di Jepang ini menurun drastis, tapi bukan berarti tidak ada sama sekali. Yang membuatku tertarik pada sistem edukasi di Jepang adalah keterbukaannya. Begini, coba kita bandingkan dari sistem yang ada di Indonesia ya. Kalau di Jepang, bahkan untuk usia SMP sampai SMA, anak-anak sudah diajarkan, diberikan banyak penyuluhan untuk sex education. Tidak hanya lewat video dan beberapa ilustrasi, tapi mereka juga bersedia untuk curhat, atau memberikan pengarahan kepada anak-anak agar mereka tahu tentang proses melahirkan.

Keterbukaan itu yang membuat mereka tidak malu untuk bertanya tentang hal yang berbau seks. Anak-anak di Jepang yang sudah diberikan penyuluhan seperti itu tidak lagi berpikir itu hal yang tabu. Berbeda seperti di Indonesia. Kalau anak SD atau SMP di Indonesia mereka hanya mendapatkan pengetahuan seks yang sederhana dari pelajaran Biologi. Selebihnya, mungkin mereka lebih senang mencari tahu sendiri. Dan ini yang bahaya jika orangtua tidak mengawasi. Walaupun di Jepang lebih terbuka daripada di Indonesia, namun tetap saja usia 17 tahun anak-anak perempuan di Jepang sudah banyak yang melepaskan keperawanannya. Sekali lagi, ini karena tidak ada fondasi yang kuat untuk mencegah perbuatan itu. Lalu bagaimana dengan anak-anak Indonesia?

Seorang teman di kelasku dan dosenku bercerita tentang bagaimana keadaan anak-anak Indonesia sekarang-sekarang ini. Coba lihat sekeliling, anak SD yang sedang main-main di restoran, mereka lebih senang megang gadget dan tidak berbicara dengan orangtuanya. Begitu juga permainan masa kecil seperti karet, gobak sodor, dan galaksin sudah jarang yang memainkan. Pengaruh yang besar dari social media mampu menyita perhatian anak-anak kecil ini. Instagram, Facebook dan Twitter juga mereka sudah punya. Sehingga segala informasi bisa diketahui dengan cepat dan praktis. Begitu juga pengetahuan tentang seks. Anak-anak SD dan SMP di Indonesia hampir setengahnya bisa dikatakan pernah mengalami kissing dan lainnya. Bahkan yang lebih parah dari itu. Teman saya juga bercerita ia pernah melihat anak-anak SD terutama anak perempuan (masih mengenakan seragam putih merah) pulang sekolah, merokok, sambil menertawai teman-temannya yang bertengkar di parit. Lalu mereka mem-video-kannya. Betapa mirisnya.


Seberapa Pentingkah Sex Education?

Perbandingan yang saya sudah jabarkan dari anak-anak Jepang dan Indonesia mungkin teman-teman sudah bisa memberikan opini dan pendapat masing-masing. Kalau di Jepang, mereka “bebas” karena tidak ada “agama” yang mengaturnya. Kalau di Indonesia, “tidak bebas” dan masih dianggap tabu namun pendidikan agama sudah dijadikan nomor ke sekian. Hal pertama yang harus dipikirkan matang-matang oleh para ibu ketika melahirkan anak mereka adalah tanggung jawab. Dosenku menekankan kata tersebut. Ya, tanggung jawab bukan sekadar memberikan makan, sekolah, pakaian, dll. Tetapi bagaimana cara mendidik anak dengan baik agar tidak “rusak” nantinya. Kalau anak-anak itu buat masalah, seperti misalnya narkoba atau seks bebas, siapa yang nantinya akan dimintai pertanggung jawaban? Tentu orangtuanya.

Kita, sebagai (calon) orangtua, seharusnya sudah memiliki konsep untuk mendidik anak dan bagaimana caranya untuk keluar dari masalah-masalah sosial yang banyak terjadi sekarang-sekarang ini. Makanya, komunikasi antara anak dan orangtua itu sangat penting. Ustadz Bachtiar pernah menasihati, bahwa para bapak ‘menangis’ ketika melihat anak-anaknya ‘takut’ berkomunikasi dengannya. Jangan mencontoh Jepang yang anti relasi. Bahkan sampai-sampai orangtua meninggal sendiri di rumah mereka. Berbahagialah karena Indonesia masih erat hubungan kekeluargaannya. Bahkan gotong royongnya masih kuat. Kalau sudah komunikasi terbangun baik, in syaa Allah kita tidak akan mengalami kesulitan yang akan dihadapi. Rundingan dengan orangtua juga penting. Misalnya pada saat ingin masuk sekolah, kerja, atau mencari pasangan hidup. Percaya deh, dibalik orang-orang sukses itu ada orangtua yang hebat. Mereka itu yang hubungan dengan keluarganya baik dan senantiasa mendoakan.

Nah, kalau sudah begini, pikirkan juga bagaimana caranya memberitahu anak tentang sex education dan buatlah sesantai mungkin. Tidak perlu seperti di-interview atau di sidang. Anak-anak ini pasti bisa terbuka dan mencurahkan isi hatinya kalau orangtua sudah dianggap sebagai sahabat. Tidak kaku dan menyenangkan. Berbeda dengan anak-anak yang tidak ada komunikasi dengan orangtuanya. Mereka cenderung mencaritahu ini-itu sendiri. Bahkan kalau mereka menanyakan ke orangtua mereka, mereka merasa malu dan tabu. Membahas tentang seks ini pasti memang membutuhkan banyak cara yang tepat agar tersampaikan dengan baik.

Bagaimana menurut kalian?
Apakah sex education itu penting?
Dan apakah kalian berpikir bahwa sebaiknya anak-anak tidak perlu tahu dari orangtuanya, cukup cari tahu sendiri saja?

Silakan isi jawaban kalian di kolom comment ya.

Kutunggu J

1 comment:

  1. asslmualaikum ka lidya :)) menurutku pentng banget loh sex education itu. malah kalo bisa dari keluarga sudah dtanamkan , jangan hanya dari sekolah saja . mengingat sifatnya begitu sensitif , aku rasa sih dibutuhkan pendekatan khusus untuk edukasinya :)

    ReplyDelete