Visitor

Friday, May 16, 2014

Pertemuan Yang Tak Terduga Part IV




Dear adikku Indah Pratiwi
Tulisan ini kuperutukkan untukmu
Semoga kamu suka dan tetap semangat mengerjakan skripsi ya J



[Warning! Sebelum membaca tulisan ini, sempatkan sambil mem-play soundcloud-ku ya. Biar berasa serunya! CLICK!]



Grand Launching ODOJ, Istiqlal, 4 Mei 2014

Hari itu aku terlambat untuk datang pagi ke Istiqlal. Padahal jarak dari rumahku ke sana tidak begitu jauh. Hanya perlu jalan kaki sebentar ke halte bus lalu sampailah aku di masjid yang sudah bertahun-tahun tak pernah kukunjungi itu.

Kupegangi ponselku sedari tadi. Tapi tidak ada balasan apa pun dari adikku. Sepertinya dia sedang sibuk. Namun ia sempat mengganti status, “At Istiqlal, Grand Launching ODOJ”. Aku, lagi-lagi yang hanya bisa melihat statusnya menundukkan kepala lemas. Apakah benar kami akan bertemu di masjid ini? Tapi, apa mungkin? Mana bisa! Sejauh ini, aku dan beberapa teman se-grupku saja belum bertemu. Kami kehilangan sinyal! Belum lagi ramainya orang-orang yang berkunjung ke sini. Ribuan pengunjung bahkan puluhan ribu mungkin sudah memadati area masjid ini. Aku berusaha untuk mencari tempat untuk shalat. Tapi perasaanku tak tenang. Aku menengok kanan-kiri, dia tak ada di sini.

Semua yang datang ke acara ini, harus memakai busana serba putih. Alhamdulillah, Allah mempertemukan aku setelah 2 jam mencari-cari, tetapi bukan dengan Indah, aku bertemu dua saudariku se-grup.



Aku senang. Kami juga menyempatkan untuk berfoto bersama dan ini kali pertamanya kami berjumpa secara langsung. Biasanya hanya berkomunikasi lewat Whatsapp saja. Tapi ke mana adikku itu. Di mana dia. Aku terus mencari-cari.

Setelah kedua saudariku, Mba Zubaedah dan Teh Neneng izin pulang, barulah aku naik ke lantai 2 untuk mencari tempat shalat. Rencananya setelah itu aku akan pulang. Kupikir, aku akan sesegera mungkin pulang ke rumah karena tidak mungkin juga bertemu dengan adikku. Karena pertama, jumlah jamaah yang hadir pada saat itu sangat sangat sangat banyak. Penuh sekali. Bahkan aku sempat didorong oleh orang lain yang berebut naik ke tangga. Kalau tidak hati-hati, mungkin bisa kehilangan sesuatu di tas.

Aku sudah membuang harapanku jauh-jauh untuk bertemu adikku hari itu. Yang penting aku bisa shalat dan pulang. Namun, tiba-tiba...

Begitu aku melangkahkan kaki menuju tempat utama, aku terus berjalan, kedua kaki ini terasa begitu ringan, dan... INDAH!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Kami berteriak seketika bola mata yang bertemu tanpa diprediksi sebelumnya. Kerudung putih, baju lengan panjang dan rok yang serasi. Subhanallah. Aku mau menangis rasanya. Sontak kami langsung berpelukan tidak lepas. Aku tidak ingin melepasnya. Rasanya aku tidak percaya ini yang terjadi. Kupikir tadinya... ah sudahlah. Manusia hanya bisa memprediksikan. Dan manusia hanya mampu berencana tanpa bisa merealisasikannya menjadi nyata selain dengan izin Allah. Dan yang barusan tadi merupakan pertemuan tak terduga untuk keempat kalinya.

Pertemuan ini...

Ya, pertemuan ini yang amat singkat.

Sebagaimana orang-orang beriman mengibaratkan sebentarnya dunia seperti singkatnya waktu di antara adzan dan iqamah, kami berjumpa di titik itu.

Langkah kaki yang sedikit gontai mulai membuatku lemas. Karena aku hampir hampir tak percaya bisa menemukannya di tengah ribuan masyarakat yang memenuhi seisi masjid. Aku tiba-tiba membayangkan seperti foto yang pernah kuberikan padanya beberapa waktu lalu. Dua orang sahabat perempuan yang memfoto diri mereka dari belakang ketika sedang sama-sama melihat Ka’bah. Dan mereka saling berpelukan dari samping, menggandeng tangan satu sama lain, erat. Impianku dan adikku untuk bisa merasakan Ka’bah begitu nyata di pelupuk mata kami hingga air mata itu terjatuh untuk kesekian kalinya.

Oh, Allah...

Kabulkanlah doa kami.

Pertemukanlah kami dengan izin-Mu, dengan taufiq-Mu, hingga sungguh kami benar-benar bisa melihat Ka’bah dengan mata kepala kaki kami. Jiwa dan raga ini hanyalah titipan sementara. Ini adalah milikmu. Kapan saja Engkau akan membawanya ke mana pun Engkau mau, kami siap. Kami takkan lelah untuk meminta.

Sebagaimana hari itu. 4 Mei 2014. Aku kembali bertemu dengan adikku setelah pertemuan di tanggal 24 Maret 2014 untuk ketujuh kalinya. Sekarang, sudah 8 kali kami bertemu. 8 kali pula ia menemaniku untuk terus mengingat-Mu wahai Allah.

Berat langkah kakiku untuk menjauh darinya ketika kami berhenti untuk salam perpisahan sementara di halte bus. Ia akan melanjutkan perjalanannya pulang sementara kami berbeda arah. Walau begitu, aku yakin, Engkau yang akan menjaganya. Lebih dari aku menjaganya. Tenanglah hati ini. Hadiah yang begitu tak disangka-sangka Engkau beri tepat di saat aku memakai baju serba putih. Semoga kelak, kami kan bertemu kembali mengenakan jubah yang sama—putih ihram, sesaat sebelum kami tiba di kota yang dari puluhan kilometer sudah tercium wanginya. Kami merindukan. Saling merindukan.

Ya Rabb...

Jadikanlah kami sahabat, saudara, adik dan kakak, keluarga yang akan kembali berkumpul di Jannah.

Kami yakin, sejauh apa pun jarak kami saat ini, sesibuk apa pun yang kami kerjakan sampai saat ini, kami sebenarnya tidak jauh. Begitu dekat. Karena kami selalu ingin berada di dekat-Mu ya Rabb.

Karena Engkaulah yang mendekatkan hati kami kepada-Mu.

Itulah kado terindah di hari yang begitu berkah. Semoga kelak engkau diberikan umur dan juga kehidupan yang diridhai-Nya.

Jangan lupakan kakakmu ya, adikku.

Kelak ketika saatnya tiba kau dan aku akan berkeluarga, pastikan bahwa keluarga kita yang satu ini tetap tidak dilupakan.

Ternyata, indah sekali ukhuwah islamiya itu.

Saling menguatkan, saling mendoakan.




A milad wishes for you and for your family, be better in this 22! ♥


From your sister,


@okutariani

No comments:

Post a Comment