Visitor

Saturday, May 3, 2014

Mimpi Buruk Santia

Satu tahun sudah perjalanan Santia menjadi hafidzah. Pemudi penuh misterius itu kini memantapkan hatinya untuk berhijab. Sebagai seorang muslimah, sudah seharusnya ia tidak mempertontonkan aurat yang bisa dinikmati oleh banyak orang. Santia adalah seorang penyanyi jalanan yang akhirnya menemukan jati diri setelah bertemu dengan Gabriel di kafe tempat ia menyanyi. Suaranya emas bukan main. Apalagi penampilannya yang selalu memukau. Gabriel sengaja datang untuk Santia karena satu hal.

Santia masih terlalu muda untuk menjadi istri Gabriel. Usianya pada saat itu baru beranjak 13 tahun. Ia tidak sekolah. Fokusnya hanya pada menyanyi saja. Lentik bulu matanya dan hidung mancungnya membuat Gabriel jatuh hati. Namun, pria mualaf 7 tahun silam itu mengaku bahwa ia tidak jatuh hati pada Santia. Tetapi justru ia menyaku bagaimana suara halusnya yang powerfull mampu menggelegarkan seluruh isi di relung hatinya. Gabriel tahu, Santia adalah gadis biasa yang mempunyai bakat luar biasa. Ketika diwawancara, Santia mengaku, ia tidak pernah jatuh cinta seperti rasa cintanya kepada musik. Kini, ia menyadari, bahwa musik yang telah menjauhkannya pada Al-Qur’an, dan Tuhannya.

Gabriel menikahi gadis berkacamata coklat itu pada saat usianya 30 tahun dan Santia berumur 17 tahun. Beberapa hari sebelum menikah, Santia hendak membuang semua kaset dan CD rekaman juga beberapa penyanyi favoritnya ke tempat sampah. Kemudian Gabriel berkata, “Jangan dibuang, Dik.”

“Loh kenapa bang?”
“Simpan saja semua itu. Nanti kau akan tahu alasannya.”

5 hari pernikahan mereka. Santia kembali bertanya,

“Bang... Santia bingung.”
“Apa yang kau bingungkan?”
“Abang sudah bertahun-tahun belajar Islam. Abang juga sudah hafal Al-Qur’an. Abang sudah jadi mualaf. Santia malu. Santia dari kecil diajari shalat dan mengaji, tapi Santia jarang mendekatkan diri ke Allah. Tapi abang, yang sejak kecil sudah kenal lagu-lagu gereja, jadi panitia acara misa dan natal, tiba-tiba saja sekarang sudah jadi hafidz.”
“Lalu apa yang kau bingungkan?”
“Mengapa Allah pertemukan kita bang?”
“Sebenarnya kau sudah tahu jawabannya.”
“Apa?”
“Abang...”
“Ya...”
“Mengapa sampai hari ke-5 kau tak juga membacakanku Al-Qur’an walau hanya sedikit. Aku hanya tahu bahwa kau seorang hafidz dari saudara dan teman-temanmu.”
“Begini, adikku sayang...
Pertama, abang tidak ingin mentak mentok ngomong ke kamu, ‘I am a hafidz’. No. I will never say that. Yang kedua, abang sebenarnya seneng kamu banyak komunikasi dengan keluarga abang dan hubungan kamu sama mereka jadi baik semenjak kamu yang aktif nanya-nanya ke mereka sebelum kita nikah. Tiga, mungkin ada satu hal yang belum kau ketahui selain abang aktif di kegiatan gereja dulu.
Sebenarnya, abang pun sama dengan dirimu, sayang...
I’m a singer...
Abang... belum mau menyuarakan suara abang ini untuk membaca Al-Qur’an atau menyanyi di hadapanmu.
Abang takut kau nanti jadi kembali ingat seperti kau menyanyi di jalanan dulu.”
“Abang................................”
“........................”
“Ya, adikku?”
“Please, jujurlah. Sekarang saatnya abang sumbangkan suara abang untuk istrimu. Aku ingin dengar.”
“Satu hal lagi yang perlu kau ketahui...”
“Apa bang?”
“Abang tidak suka kau menyanyi di depan orang banyak kecuali abang dan kedua orangtuamu. Paham?”
“Ya... Tapi, mengapa?”
“Karena....
Abang tidak kuat untuk menyanyi lagi.”
“Hah?”
“Jika abang menyanyi lagi. Abang tidak bisa tidak menyanyikan lagu gereja. Karena abang akan menangis ketika menyanyikan lagu rohani itu.”
“Apa yang membuat abang menangis????!!!!”
“Karena abang...
Abang...
Abang ingin kau ikut menyanyi bersama abang di gereja nanti. Kita akan memohon pada Tuhan agar hubungan kita diberkahi.”
“APAAAA????!!”

*gubrak*

Santia jatuh dari tempat tidurnya. Dan ia menarik napas dalam-dalam.

Astaghfirullah!!!! Mimpi apa aku barusan??? Siapa itu Gabriel??? Kenapa dia menikah denganku??? Kenapa dia memintaku dan mengajakku untuk menyanyi bersama di gereja??? Kenapaaaaaa???!!! AAAAHHH!!”

Mimpi Santia tersebut menyadarkannya bahwa ia sudah 22 tahun menekuni bidang musik. Karirnya melonjak tinggi setelah masuk di grup musik yang rata-rata temannya adalah penyanyi gereja—sama seperti Gabriel. Di dalam mimpinya, Santia benar-benar mengenakan hijab panjang dan sering melafalkan ayat Al-Qur’an. Santia adalah gadis keturunan Jawa-Madura yang berkulit sawo matang. Orangtuanya selalu mendidiknya dengan telaten dan penuh kesabaran. Santia selalu menolak jika mereka memintanya untuk shalat.Santia anak yang pembangkang. Ia rela memukul ibunya dan pergi dari rumah hanya karena ingin mengambil job menyanyi di kafe malam. Selama 22 tahun itu, ia meninggalkan sesuatu yang menjadikan nyawanya masih tetap ada hingga kini. Tuhannya. Ia melupakan Tuhannya.

Santia mengambil air wudhu. Ia terheran-heran, mengapa ia masih mengingat betul cara mengambil wudhu tersebut? Dan bagaimana mungkin ia bisa ingat gerakan shalat dan bacaannya padahal sudah bertahun-tahun tidak pernah shalat? Dan yang lebih mengherankannya lagi, ia sangat fasih melafalkan ayat demi ayat yang membuatnya menangis perlahan. Ia mengadu pada Allah. Mimpi buruknya barusan adalah pertanda. Bahwa ia telah lama meninggalkan Sang Khalik—jauh dari rahmat-Nya.

Gadis pirang itu berbenah diri. 5 tahun setelahnya, persis ketika ia merasakan seperti kembali masuk ke dalam mimpi buruknya itu yang memperkenalkannya pada Gabriel. Tapi kini, ia tidak berharap bahwa sosok Gabriel itu benar-benar ada. Justru ia bergidik ngeri ketika mendengar nama Gabriel. Laki-laki aneh nan misterius itu membuatnya trauma. Sebenarnya, Gabriel di dalam mimpinya adalah seorang pendeta yang menyamar hebat menjadi muslim. Dan konyolnya, keluarga Gabriel adalah keluarga pendeta yang mempelajari Islam sejak lama. Begitulah cara mereka ‘merekrut’ calon pengikut Isa Almasih. Makanya, Santia begitu bingung mengapa sampai pada saat itu ia belum pernah mendengarkan Gabriel membacakan Al-Qur’an. Rasa cinta dan baktinya kepada Tuhannya mampu membuatnya menangis ketika menyanyikan lagu-lagu rohani. Itulah sebabnya Gabriel melarang Santia menyanyi atau mendengarkan ia menyanyi.

Satu pelajaran yang dapat kita ambil dari cerita Santia.

Janganlah tertipu dengan mudahnya oleh rayuan atau bahkan ‘kedok’ pria yang seolah-olah terlihat sangat alim dan paham agama. Karena sesungguhnya, kedalaman hati seseorang tidak akan pernah kita ketahui. Senyumnya kadang berarti marah. Atau bahkan sentuhan lembutnya bisa berarti ia sedang menajamkan pisau dari belakang badan. Berhati-hatilah dengan apa yang kita perbuat sekarang. Karena itu pasti akan menjadi ‘feedback’ di masa depan jika tidak diperbaiki. 

Dan ingat, cara Allah menurunkan hidayah pada hamba-hamba-Nya beragam. Bisa jadi ‘mimpi buruk’ Santia menjadi salah satunya. Dan mungkin saja, teman-teman ada yang pernah mengalami kejadian serupa atau pernah mendengar cerita hidayah seperti ini.

Ngeri memang, ketika kita sudah ‘masuk’ dalam ‘kandang macan’. Sulit untuk keluar lagi. Atau jika ingin keluar, dibutuhkan banyak pengorbanan yang tidak jarang menghabiskan nyawa. Seperti pada mimpi Santia yang menikah dengan pendeta berkedok hafidz. Awalnya ia menunjukkan kepintaran dan pengetahuan agamanya pada Santia yang awam. Karena rajinnya membaca buku sejarah agama Islam dan fiqh, Santia pun percaya bahwa Gabriel adalah seorang mualaf yang hafidz. Bahkan penampilannya pun tidak kelihatan seperti seorang pendeta! Setelah berhasil mendapatkan Santia dan membawa kabur Santia ke Maluku agar lepas dari orangtua dan keluarganya, mulailah ‘siksaan’ itu dilakukan. Santia tidak berani mengingat betapa horornya mimpinya itu. Ia hanya terus bersyukur, dan terus bersyukur, bahwa Gabriel dan pasukannya ternyata hanyalah mimpi.


03/05/2014
1:18 am

Grogol Petamburan

No comments:

Post a Comment