Visitor

Thursday, May 1, 2014

Materi Tauhid Sesi 28: Cari Allah Dulu Part 1

Kalau kita mengetuk pintu-Nya Allah itu nggak akan pernah tertutup. Selalu terbuka.

Sebut saja Bu Miranti, punya masalah keuangan. Ia belum belajar tauhid, bahwa ikhtiar itu memang satu keharusan, namun memulainya bersama Allah itu juga satu keharusan. Rezeki di tangan Allah. Perkenan-Nya adalah kehendak-Nya. Segala ikhtiar bisa berhasil bila Dia mengizinkan ikhtiar itu berhasil. Dan sebaliknya.

Carilah Allah dulu. Biarlah Dia yang membuka segala-galanya untuk kita. Biarlah nanti Dia yang membimbing langkah kita. Biarlah Dia yang mengatur segalanya untuk kita. Yang demikian bila kita menyandarkan semua urusan kepada-Nya.

Jadi, disebut pasrah itu ternyata juga di depan. Bukan di belakang. Laa hawla itu sejak dari depan. Bukan ketika mentok baru menyebut laa hawla.

Sama seperti kebanyakan kita, Bu Miranti ini lalu mengetuk pintu manusia. Ia ambil kertas, dan ia tulis siapa saja “kandidat” yang bisa ia mintakan pertolongan. Sebut saja juga ada tiga kandidat: Ibu Jameel, Ibu Hendy, Ibu Budi. Semua ini dipikirnya Bu Miranti bisa memberinya pertolongan. Tapi yang terjadi malah sebaliknya: kehinaan, kemaluan, kesia-siaan, atau kalaupun tidak, ia akan jadi... kelamaan.

“Halo, assalamu’alaikum, ada Ibu Jameelnya?” tanya Bu Miranti dari ujung seberang telepon. Dalam “daftar kandidat” nama Ibu Jameel ini paling atas.
“Dari siapa? Ya, saya sendiri.” jawab Bu Jameel renyah. Ramah.
“Dari Bu Miranti, bu...”
“Bu Miranti yang mana ya?” suaranya Bu Jameel mulai berubah agak nggak ramah. Barangkali bertanya sambil berkernyit.
“Eh, maaf. Saya Ibu Miranti teman pengajian ibu. Di Ketapang.”
“Oooooh. Ibu Miranti itu. Kenapa????!!! Mau pinjam uang lagi???!!”

Lemaslah Bu Miranti ini. Memang benar ia mau minjam uang lagi. Dan memang benar ia punya hutang. Tadinya ia mau ngomong kalau masih boleh nambah, please ditambahin. Ternyata kejadiannya malah nggak ngenakin.

Begitulah adanya kalau kita minta tolong sama manusia. Nggak selalu manusia itu bersikap baik dan bersedia menolong. Hanya Allah-lah yang nggak peduli status hamba-Nya, seberapa dosanya, mau dia sering ngecewain apa nggak, Allah selalu menerima.

Dan sebenarnya, buat seorang muslim, ia pasti tahu dengan ilmunya, bahwa pertolongan Allah itu “sudah” diturunkan. Kalau tidak, tentu tidak selamat dengan dosa-dosa kita dan kesalahan-kesalahan kita. Justru karena pertolongan Allah-lah kita ini masih diberi-Nya kesempatan hidup. Masih diberi-Nya waktu untuk memperbaiki diri dan memperbaiki kesalahan kita dan mengejar keburukan. Dan seorang muslim pun tahu bahwa ketika doa dipanjatkan, sesungguhnya saat itu doa sudah terkabulkan. Hanya dalam bentuk yang lain. Kata Rasulullah, tidak ada satu doa pun yang dipanjatkan hamba Allah kecuali itu menjadi kebaikan buat dirinya sendiri. Bilamana Allah belum mengabulkan, maka Allah akan tolak bala dengan doa itu, di tempat yang ia tidak mintakan keselamatan. Dan atau Allah akan beri kebaikan di tempat yang tiada ia minta sebagai kebaikan baginya. Atau, Allah jadikan doa itu sebagai wasilah penambah derajatnya. Alhamdulillah, baik benar Allah ini. Teramat baik.

Bu Miranti, yang sedang ada masalah keuangan, terus mencari pertolongan manusia. Dia, sebagaimana kita-kita, menganggap “namanya juga ikhtiar”. Pinjam-pinjam pun dilakoni. Apalagi urusan suami dan anak. Begitu mungkin pikir Bu Miranti.

Tapi Bu Miranti melupakan Allah. Mestinya ia menaruh Allah di urutan paling pertama yang harus ia datangi.

Baik, kita teruskan kisahnya. Setelah gagal dengan Bu Miranti, rupanya ia pantang mundur, pantang menyerah. Dia maju terus ke list nomor dua. Yaitu Bu Hendy.

“Halo, assalamu’alaikum.”
Wa’alaikumussalam.”
“Ibu Hendynya ada?”
“Ini dari siapa?”
“Ini dari Bu Miranti.”
Di seberang sana, yang menerima telepon ini bicara. Percakapannya didengar sama Bu Miranti.
“Bu, ada telpon...”
“Dari siapa?”
“Katanya Bu Miranti.”
“Ah, bilang sajalah saya lagi istirahat. Palingan mau minjem duit lagi!”

Lemaslah sudah Bu Miranti ini. Ia sadar ia memang suka banyak minjemnya sama orang lain. Tapi nggak urung ia nyesek juga “dibeginikan” orang. Apalagi ia lagi benar-benar butuh bantuan.

Tanpa menunggu diberitahu, Bu Miranti langsung menutup gagang teleponnya.

Namun, ikhtiar tetap ikhtiar. Ia harus pol ikhtiarnya. Ia melaju ke list berikutnya. List  ketiga.

Bu Budi menjadi orang ketiga yang dimintai tolong oleh Bu Miranti. Mudah-mudahan ketemu jalannya.

Assalamu’alaikum...”
Wa’alaikumussalam. Iya, dengan Bu Budi di sini. Di situ dengan siapa?”
“Dengan Bu Miranti.”
“Oh, alhamdulillah. Bu Miranti kebeneran loh. Saya lagi nyari temen buat ngobrol. Saya itu kok ya lagi sedih banget.”
“Sedih kenapa Bu Budi?”
“Sedih. Suami saya lagi butuh biaya berobat. Anak-anak saya butuh biaya sekolah dan kuliah. Duh, pusing.”
“Oooohh...”
“Bu Miranti, boleh nggak kalau saya pinjam uang?”

Wah, Bu Miranti tambah lemas. Orang terakhir yang ia telepon, malah bermasalah. Ia kepengen minjem uang, malah kemudian jadi yang dijadikan target meminjam. Pusing.

“Eh, eh, sama Bu Budi. Saya pun tadinya mau sama Bu Budi. Ya sudahlah, kita sama-sama berdoa ya.”
Suara di ujung sana pun sama kecewanya.

Hanya ada satu pintu yang begitu diketuk, terbuka, malah mengundang kita masuk untuk meminta kepada si Pemilik pintu ini. Yaitu pintunya Allah. Kalau kita mengetuk pintu manusia, tak sering kita ini kecewanya. Ada yang pura-pura, ada yang benar-benar kasihan, ada yang memang ikhlas membantu tapi tidak bisa setiap saat, ada yang harus kena omel dulu baru ditolong, ada yang belum ngomong apa-apa udah langsung diusir. Nah loh. Begitulah manusia. Tapi coba kalau kita ketuk pintu Allah. Allah sendiri yang meminta hamba-hamba-Nya untuk berdoa dan menjanjikan untuk dikabulkan. Hanya saja kita harus belajar sabar menanti. Allah itu senang kalau kita lagi sabar. Pasti dikasih yang lebih baik dari yang kita minta.

No comments:

Post a Comment