Visitor

Thursday, May 15, 2014

Makna Dibalik Suratul Fajr


Di Antara Dua Golongan

Manusia memang pembuat rencana yang sebenarnya tidak mampu merealisasikannya menjadi nyata kecuali atas izin Allah. Ingatlah bahwa segala apa pun yang terjadi di dunia ini, perkara kecil maupun besar, Allah berada di dalamnya, Allah mempunyai andil dalam setiap peristiwa di muka bumi ini.

Kehidupan di dunia hanya sekali dan sangat singkat. Banyak orang yang mengatakan mereka tidak ingin menyia-nyiakan kehidupan itu dan kemudian mereka bersegera untuk mencari ridha dan petunjuk Allah. Namun sebaliknya, ada pula orang-orang yang menganggap bahwa kehidupan yang sekali itu harus dinikmati sebaik-baiknya; caranya dengan bersenang-senang, tanpa perlu memikirkan antara yang haqq dan bathil; haram atau halal; dengan pola pikir liberalisme yang anti-agamis. Dua golongan ini sungguh banyak kita jumpai. Di dunia, orang-orang sibuk berbantah-bantah ketika mereka merasa paling benar. Apakah di akhirat kelak juga seperti itu?

“Sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain dan berbantah-bantahan.”
(QS. As-Shaffat [37]: 27)

“Lalu, sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya mencela-cela.”
(QS. Al-Qalam [68]: 30)

Keadilan yang hakiki hanyalah milik Allah. Sebagaimana ayat-ayat suci-Nya yang dapat menggetarkan hati manusia yang beriman. Mereka sungguh takut kepada Tuhannya. Dan karena itulah, mereka bersegera mungkin untuk menghindari perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah. Dan mendekatkan diri sebagai seorang hamba yang selalu membutuhkan Rabb-nya. Berbeda dengan mereka yang tidak merasa “diawasi” oleh Allah. Dengan mudahnya berbuat dosa dan memperbanyak serta tidak lagi memikirkan bagaimana mereka akan mempertanggung jawabkannya di hadapan Allah. Hati sudah berkarat hingga rapuh dan rusak. Bagaikan daun yang dimakan ulat dan habis. Tidak adanya iman di hati membuat mereka merasa “aman” terhadap apa saja yang diperbuatnya di dunia. Tanpa ada aturan, mereka bebas menumpang hidup di bumi yang bukan milik mereka.


Keadilan Allah Untuk Mereka

Seperti yang sudah pernah saya tulis di post sebelumnya mengenai tadabbur Suratul Qari’ah, di sini saya mengulang kembali bahwa keadaan huru-hara ketakutan dan kegelisahan yang membuat manusia tidak melirik satu sama lain hanyalah di Padang Mahsyar. Mereka tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Mereka mengerjakan sesuatu yang menyibukkan diri mereka. Keadaan mereka yang ketika di dunia dulu selalu mendustakan kebenaran, mereka tidak lain adalah orang-orang yang berwajah masam lagi menghitam. Penduduk bumi dan langit pun bersatu dan menundukkan kepala mereka. Tidak ada lagi air yang mengalir, tidak ada lagi kicauan burung di pagi hari, tidak ada lagi udara segar yang menyelimuti dinginnya malam, tidak ada lagi rintik-rintik hujan yang menenangkan, karena sudah berakhir kehidupan di dunia.

Pada saat itu, para malaikat turun dan berhimpun di Padang Mahsyar. Mereka berbaris dan membentuk tujuh barisan. Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah ra. Ia menyatakan, “Sesungguhnya Allah akan menyeru kepada langit dunia agar terbelah. Maka, langit itu terbelah dan mengeluarkan semua malaikat yang ada di sana. Selanjutnya, turunlah semua malaikat ke bumi dan mengelilingi penghuni bumi, kemudian langit kedua beserta isinya, lalu langit kedua beserta isinya, langit ketiga beserta isinya, langit keempat beserta isinya, langit kelima beserta isinya, langit keenam beserta isinya, dan langit ketujuh beserta isinya. Sehingga, terbentuklah tujuh barisan malaikat, di mana satu barisan mengelilingi barisan yang lainnya. Jadi, ke mana pun penduduk bumi pergi, mereka akan menemui ketujuh barisan malaikat tersebut.”

Keadaan yang begitu menakutkan karena menanti ketetapan Allah. Ketika itu, tidak ada makhluk yang sanggup berbicara kecuali atas izin Rabb-nya. Ibnu Abbas ra berkata, “Pada hari kiamat, Jibril as akan berdiri di hadapan Jabbar. Saat itu, bergetarlah urat-uratnya dengan dahsyat karena takut siksa Allah. Ia berkata, “Maha Suci Engkau, tidak ada Tuhan selain Engkau. Kami tidak menyembah-Mu, kecuali dengan sebenar-benar penyembahan kepada-Mu.”

Maha Suci Allah. Jibril saja takut pada hari itu. Bagaimana dengan kita yang setiap harinya melakukan perbuatan dosa? Akankah kita merasa aman dengan semua perbuatan yang sudah kita lakukan selama ini?

Jika hari itu tiba, maka tidak ada lagi kata ampun dan maaf yang dapat menyelamatkan kita. Menyesal tiada guna karena hanya Jahannam yang akan menemani orang-orang yang selama hidupnya di dunia berdusta.

Bacakanlah satu ayat suci yang kau ulang-ulangi untuk kuperdengarkan.
Kemudian teruskanlah sampai di ayat terakhir.
Inilah mengapa hari ini aku ingin mengambil pesan dan makna dari Suratul Fajr.
Salah satu surat yang sangat indah, yang menjadi favoritku.
Menangis aku dibuatnya.
Cara Allah menegur hamba-hamba-Nya sangat membuatku tertegun dan bergetar hingga masuk ke hatiku yang terdalam.
Surah ini adalah surah persembahan darimu untukku. Dan semoga kelak kita semua dimampukan Allah untuk memahami dan menghayati arti makna yang tersirat di dalamnya.

Wal fajr
Demi fajar,
Wal layaalin ‘asyr
Demi malam yang sepuluh,
Wasy syaf’i wal watr
Demi yang genap dan yang ganjil,
Wal laili idzaa yasr
Demi malam apabila berlalu
Hal fii dzaalika qosamul lidzii hijr
Adakah pada yang demikian terdapat sumpah (yang dapat diterima) bagi orang-orang yang berakal?
Alam taro kaifa fa’ala robbuka bi’aad
Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Ad?
Iroma dzaatil ‘imaad
(yaitu) penduduk Iram (ibu kota kaum ‘Ad) yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi,
Allatii lam yukhlaq mitsluhaa fil bilaad
Yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu di negeri-negeri lain,
Wa tsamuudal ladziina jaabush shokhro bil waad
Dan terhadap kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah,
Wa fir’auna dzil autaad
Dan terhadap kaum Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak (bangunan-bangunan yang besar),
Alladziina thoghou fil bilaad
Yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri,
Fa aktsaruu fiihal fasaad
Lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu
Fa shobba ‘alaihim robbuka sautho ‘adzaab
Karena itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka azab
Inna robbaka labil mirshood
Sungguh, Tuhanmu benar-benar mengawasi
Fa ammal ingsaanu idzaa mabtalaahu robbuhuu fa akromah, wa na’amahu fa yaquulu robbii akroman
Maka, adapun manusia apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, “Tuhanku telah memuliakanku.”
Wa amma idzaa mabtalaahu fa qodaro ‘alaihi rizqoh, fa yaquulu robbii ahaanan
Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, “Tuhanku menghinakanku.”
Kalla bal laa tukrimuunal yatiim
Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim,
Wa laa tahaadhuuna ‘alaa tho’aamil miskiin
Dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin,
Wa ta’kuluunat turaatsa aklal lammaa
Dan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampur-baurkan (yang halal dan yang haram),
Wa tuhibbuunal maala hubbang jammaa
Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan
Kalla idzaa dukkatil ardhu dakkang dakkaa
Sekali-kali tidak! Apabila bumi diguncangkan berturut-turut (berbenturan),
Wa jaa-a robbuka wal malaku shoffang shoffaa
Dan datanglah Tuhanmu; dan malaikat berbaris-baris
Wa jii-a yauma idzim bijahannam, yauma idziy yatadzakkarul ingsaanu wa annaa lahuudz dzikroo
Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; pada hari itu sadarlah manusia, tetapi tidak berguna lagi baginya kesadaran itu
Yaquulu yaa laitanii qoddamtu lihayaatii
Dia berkata, “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu mengerjakan kebajikan untuk hidupku ini.”
Fa yauma idzil laa yu’adzdzibu ‘adzaabahu ahad
Maka pada hari itu tiada seorang pun yang menyiksa seperti siksa-Nya,
Wa laa yuutsiqu watsaaqohuu ahad
Dan tiada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya
Yaa ayyatuhan nafsul muthmainnah
Wahai jiwa yang tenang!
Irji’ii ilaa robbiki roodhiyatam mardhiyyah
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya!
Fadkhulii fii ‘ibaadii
Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku,
Wadkhulii jannatii
Dan masuklah ke dalam surga-Ku!

Beberapa kali saya membaca artikel mengenai tanya-jawab orang-orang unbeliever dengan semua pernyataan mereka. Hal ini justru membuat saya semakin yakin tentang bagaimana Allah menggambarkan keadaan orang-orang yang selalu berselisih.
Seperti ini kisahnya.

Ada seorang atheis yang tidak percaya dengan Tuhan. Dia mengajak berdebat dengan orang alim mengenai ada atau tidak adanya Tuhan. Di antara pertanyaannya adalah, “Benarkah Tuhan itu ada?” dan “Jika ada, di manakah Tuhan itu?”

Ketika orang atheis itu menunggu bersama para penduduk di kampung tersebut, orang alim itu belum juga datang. Ketika orang atheis dan para penduduk berpikir bahwa orang alim itu tidak akan datang, barulah muncul orang alim tersebut.

“Maaf jika kalian menunggu lama. Karena hujan turun deras, maka sungai menjadi banjir, sehingga jembatannya hanyut dan saya tidak bisa menyeberang. Alhamdulillah, tiba-tiba ada sebatang pohon yang tumbang. Kemudian, pohon tersebut terpotong-potong ranting dan dahannya ketika jatuh, sehingga menjadi satu batang yang lurus dan menjadi perahu. Barulah saya bisa menyeberangi sungai dengan perahu tersebut.” ujar orang alim itu.

Si atheis dan juga para penduduk kampung tertawa.”Orang alim ini sudah gila rupanya. Masa pohon bisa jadi perahu dengan sendirinya? Mana bisa jika tidak ada yang membuatnya?!” jawab orang atheis sambil tertawa riuh.

Kemudian orang alim pun membalas, “Jika kalian percaya bahwa perahu tidak mungkin ada tanpa ada pembuatnya, mengapa kalian percaya bahwa bumi, langit dan seisinya tidak ada penciptanya? Mana yang lebih sulit, membuat perahu atau menciptakan bumi, langit dan seisinya?”

Mendengar perkataan orang alim tersebut, mereka terdiam dan tersadar bahwa mereka sudah terjebak dengan pernyataan mereka sendiri.

“Kalau begitu, jawab pertanyaanku yang kedua.” kata si atheis.

“Jika Tuhan itu ada, mengapa tidak kelihatan? Di mana Tuhan itu berada?”

Orang alim itu kemudian menampar pipi si atheis. “Ah! Kenapa kamu memukul saya? Sakit sekali!”

“Ah mana ada sakit. Saya tidak melihat sakit. Di mana sakitnya?” jawab si alim.

“Ini sakitnya di sini.” ujar si atheis sambil menunjuk pipinya.

“Tidak! Saya tidak melihatnya! Apakah para hadirin juga melihatnya?”

Orang-orang tersebut menjawab, “Tidak.”

“Nah, meski kita tidak bisa melihat sakit, bukan berarti sakit itu tidak ada. Begitu juga Tuhan. Karena kita tidak bisa melihat Tuhan, bukan berarti Tuhan itu tidak ada. Tuhan itu ada walaupun kita tidak mampu melihatnya. Tetapi kita bisa melihat dan merasakan ciptaan-Nya.” demikian orang alim itu berkata.

Pernahkah kita melihat ke arah sinar matahari yang tajam? Tidak hanya silaunya saja, mungkin mata kita bisa rusak jika memaksakan melihat sinar matahari tersebut. Pernahkah kita membayangkan bumi yang tetap berporos dan tidak jatuh. Padahal tidak ada tiang yang menyeimbangkannya. Bayangkan jika kita memegang bola kecil yang bentuknya seperti bumi kita. Kemudian kita lepaskan bola tersebut. Maka jatuhlah ia bergelinding ke sana ke mari. Tetapi kalau ada yang dua sumpit saja yang menjaganya agar tidak jatuh, maka bola tersebut tetap berdiri bersama si sumpit tersebut. Bagaimana dengan bumi? Tidak. Bumi tidak jatuh ke mana-mana. Bumi tetap ada dan Allah jaga sehingga manusia merasa aman tinggal di sana. Orang-orang beriman tidak memikirkan seperti apa Tuhan, di mana Tuhan, dan mengapa Tuhan tidak menampakkan diri. Tetapi, mereka memikirkan dan merenungkan semua ciptaan Allah yang begitu banyak.

Benda langit yang jauh jaraknya milyaran dari bumi, bahkan mungkin trilyunan tahun cahaya tidak pernah dilihat manusia secara kasat mata, NAMUN ADA. Berapa banyak atom/zharrah berukuran kecil bahkan inti atom (seperti sehelai rambut yang dibelah 1 juta kali sampai bentuk yang paling terkecil tidak bisa dibelah lagi) tidak bisa dilihat mata manusia namun ternyata benda itu ADA. Berapa banyak gelombang radio, listrik dan elektromagnetik yang tidak bisa dilihat namun kita merasakan bahwa hal itu ADA. Panca indera kita ini terbatas. Tidak bisa memaksakan untuk melihat segalanya yang ada di bumi ini. Jika saja pengandaian sebuah pesawat terbang, helikopter, alat pembangkit listrik dan radio ADA karena ada yang membuatnya, bagaimana dengan bumi dan isinya?

Lalu datanglah pernyataan kedua dari atheis lainnya, “Jika Tuhan memang benar ada, mengapa Tuhan membiarkan orang-orang berperang dan banyak yang meninggal? Mengapa Tuhan membiarkan orang kelaparan, miskin, sedangkan Dia malah enak-enakan tinggal di surga sambil memperhatikan manusia di bumi dan tidak berbuat apa-apa.”

Ini adalah salah satu contoh pola pikir manusia yang sudah dicampuri oleh pemikiran yang akan menyesatkan dirinya nanti di akhirat. Orang yang tidak memiliki ilmu akan berpikir sesuai dengan apa yang dilihatnya secara nyata atau riil. Apa yang tidak sanggup dilihatnya maka dianggap tidak ada. Sama seperti keberadaan Tuhan. Bahkan mereka menyalahkannya. Pembahasan ini tidak akan ada habis-habisnya sampai hari kiamat datang. Karena orang-orang yang berselisih ini akan terus melanjutkan perselisihannya hingga mereka melihat sendiri bagaimana bumi dan langit ini terbelah, kemudian terdengar sangkakala yang begitu dahsyatnya, dan mereka dikumpulkan di tempat yang mereka sendiri tidak tahu, barulah mereka sadar bahwa selama ini mereka telah terjerumus oleh pikiran-pikiran bodohnya selama ini. Orang-orang yang melihat atau menyaksikan neraka Jahannam dengan mata kepalanya sendiri berarti mereka sudah masuk di dalamnya. Naudzubillah, tsumma naudzubillah. Jangan sampai kita menjadi salah satu yang melihat neraka dengan ainul yaqiin. Percayalah, bahwa Allah pasti akan memperhitungkan keyakinan kita ini untuk nanti kita sampai di surga bersama para umat Rasulullah. Allahumma aamiin.


Teman-teman, Suratul Fajr mengingatkan kita bagaimana keadaan para pendusta dan kebahagiaan orang beriman dan beramal shaleh. Maka, janganlah kita buang-buang waktu untuk sesuatu yang tidak ada manfaatnya. Jika kita sudah berusaha untuk mengajak orang lain untuk berbuat kebaikan namun mereka masih tetap mengejek, mencela, atau menghinakan kita karena ucapan-ucapan kita, doakanlah mereka. Kelak, doa itu akan kembali lagi ke kita. Karena hidayah bukanlah berada di tangan kita, tetapi hidayah hanyalah milik Allah. Maka dari itu, kita hanya perlu mengingatkan, sekali lagi, hanya mengingatkan.

No comments:

Post a Comment