Visitor

Saturday, May 24, 2014

How Can I Get The Dunya Things?

Assalamu’alaikum pals.

I’m really sorry for the lately post (TT) I dunno if I have more time for blogging or not because until this is the end of June, it seems I can’t access internet (my modem is broke). So, ahlan wa sahlan ‘a hectic week’. This is I get to call, “reading data, books, statistic” to finish my proposal in the end of June.

Today in syaa Allah I’m gunna share this ayah and describe it.
From Qur’an, Surah Al-Qashash verse 60.


“Dan apa saja (kekayaan, jabatan, keturunan) yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kesenangan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang ada di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Tidakkah kamu mengerti?”



Sebuah kesempatan yang didapatkan anak manusia atas izin Allah. Di hari-hari mudanya, mereka bisa merasakan kenikmatan dunia. Yakni mendapatkan uang yang banyak, ketenaran, dikenal dan dipuja banyak orang, dipercaya oleh ribuan masyarakat (untuk memimpin), dan bisa menikmati indahnya dunia dengan beberapa kali merasakan perjalanan mulai dari negara A sampai negara Z. Bahkan bisa membeli barang A hingga barang Z.

Di kesempatan kali ini, in syaa Allah aku akan memaparkan dua jenis anak manusia yang sudah pasti hidupnya akan dikelilingi oleh kesenangan dunia. Sesuai dengan ayat yang kusebutkan di atas. Siapa sajakah mereka?


Pertama, seorang pemimpin yang memimpin bukan karena niat lilaahi ta’ala.


Jangan heran kalau kita melihat suatu negeri yang makmur dan sentausa itu dikarenakan pemimpin yang amanah. Jika seorang pemimpin memiliki visi misi dan tujuan yang semata-mata untuk menjalankan perintah Allah, tentu negeri itu pasti akan terselamatkan. Korupsi, KKN, perzinahan, perampokan, kriminalitas, seks bebas, penyalahgunaan narkoba, dan berbagai masalah lainnya akan jauh dari negeri yang pemimpinnya takut hanya kepada Allah azza wa Jalla.

Dan karena itulah, aku sangat menyayangkan keadaan di negeri ini jika masih saja mereka-mereka yang punya jabatan, hanya memikirkan kesenangan duniawi. Mungkin memang mereka berilmu, memiliki pengetahuan yang cukup luas, tapi apakah ilmu mereka mampu membawanya dekat kepada Allah? Jika tidak, percuma saja ilmu yang mereka miliki.

Yang berat bukanlah untuk mengemban tugas penting dan tanggung jawab kepada masyarakat yang dipimpinnya. Tetapi pertanggung jawaban kepada Allah. Nanti ketika kita semua sudah berada di Padang Mahsyar, kita semua akan menyaksikan bahwa sekecil biji zarah (atom) pun akan dipertanggung jawabkan. Apalagi ini, tugas sebagai pemimpin di dunia.


Kedua, idola yang dipuja orang banyak.


Mungkin teman-teman di sini ada yang sudah pernah membaca postinganku beberapa bulan lalu tentang arti kata “idola”. Nah, apa sih sebenarnya idola itu? Tidak lain adalah sesembahan atau berhala bagi manusia yang akan memujanya. Nah loh, gawat dong. Ya, jelas. Mungkin yang menjadi idola tidak akan paham atau tidak memikirkan hal ini. Karena bagi mereka, ya itulah “mimpi”. Mimpi untuk menjadi juara, pemenang, idola, yang bisa memberikan persembahan bagi masyarakat yang memuja mereka. Sebenarnya tidak ada larangan kita untuk bermimpi. Apalagi memiliki tujuan hidup yang positif. Misalnya memiliki rumah besar atau mobil, mendapatkan beasiswa ke luar negeri, bisa memberikan hal-hal bermanfaat untuk orang banyak ketika berceramah. Itu sah-sah saja. Karena memang dunia ini Allah sediakan dengan semua kelebihan dan kekurangan di dalamnya. Kita boleh bermimpi memiliki ini, memiliki itu, mendapatkan ini, mendapatkan itu. Tapi satu hal yang harus diingat, semua yang kita cita-citakan itu apakah benar tujuannya untuk mendapatkan ridha Allah semata? Atau hanya untuk menyenangkan diri sendiri dan nantinya akan terkubur oleh kenikmatan-kenikmatan yang sifatnya sementara?


Terlarut dalam kesenangan hingga menyebabkan kita semakin lupa kepada Allah bukan lagi bisa disebut sebagai kebahagiaan. Tetapi musibah. Teorinya mudah, jika suatu kesenangan itu mampu membuat kita dekat dengan Allah, maka itulah kesenangan yang dirahmati Allah. Tetapi jika sebaliknya, kesenangan itu justru membuat kita jauh dengan Allah, maka musibahlah yang akan terjadi.

Berkenaan dengan duniawi, kemarin aku juga baru saja mendapatkan pengetahuan baru tentang zuhud.


“Zuhud itu bukanlah engkau melepaskan dunia dari tanganmu, sementara ia masih ada di hatimu. Akan tetapi, zuhud itu adalah engkau lepaskan dunia dari hatimu meski ia ada di tanganmu.”

(Ibnul Qayyim, Thariqul Hijratain, 454)


Apa yang disebutkan tentang zuhud di atas persamaannya adalah dengan seseorang yang tidak menjadikan dunianya itu masuk dalam hatinya. Tetapi ia tetap bisa meraihnya di tangannya. Bukan berarti juga kita “meninggalkan” hal-hal duniawi untuk mendapatkan akhirat. Bukan berarti juga kita tidak mementingkan dan mempedulikan duniawi untuk mendapatkan akhirat. Tetapi kita tetap bisa mendapatkan keduanya, walaupun dunia TIDAK MENJADI PRIORITAS UTAMA. Dunia itu tempat kita untuk mencari rezeki, mencari keridhaan Allah, mencari kesenangan yang dapat menghantarkan kita ke Allah, jadi toh wajar saja kalau kita ingin ini-itu selama tidak menjadikan hal tersebut adalah suatu kewajiban. Yang harus diingat adalah kita tidak boleh menduakan Allah dengan sesuatu hal yang sifatnya tidak abadi.

Teman-teman, Islam tidak mengenal adanya pemujaan selain daripada Allah. Islam tidak mengenal adanya penyembahan selain daripada Allah. Hal-hal lain yang berkaitan dengan pemujaan, penyembahan, walaupun sifatnya terselubung atau transparan, termasuk dalam bentuk-bentuk kesyirikan. Dan kalau kita sudah masuk perlahan-lahan dalam hal pemujaan selain daripada Allah, itu berarti kita sudah mulai ada perbuatan syirik yang nantinya akan diperhitungkan jika tidak segera bertaubat.

Antara tauhid dan perbuatan syirik itu ibarat kutub utara dan kutub selatan. Sangat jauh. Kita tidak boleh mencampuradukkan ketauhidan kita dengan persekutuan kepada Allah. Dan kalau bicara tauhid, rasanya hati ini menggebu-gebu. Karena nikmatnya bertauhid itu tidak bisa lagi disamakan dengan keindahan apa yang kita lihat di muka bumi ini. Walaupun banyak sekali surga dunia yang menggiurkan. Tapi itu sama sekali tidak membuat orang beriman melirik dan jatuh ke dalamnya. Seperti apa yang pernah dikatakan Syeikh Fikri Thoriq di KSNS MNC Muslim, orang-orang beriman itu bukanlah mereka yang mengaku MUSLIM atau pun mereka yang KTP-nya Islam. Tetapi orang-orang beriman itu berbuat sebagaimana apa yang diperintahkan Allah, dan bertindak seperti apa yang disunnahkan Rasulullah, dan menjaga nilai-nilai ketauhidan dalam dirinya dari unsur-unsur syirik. Bukanlah disebut mukmin jika mereka hanya mengaku keislaman mereka tanpa pembuktian. Ingatlah, bahwa Allah tidak pernah menyia-nyiakan amal baik kita walaupun itu sekecil biji atom yang sudah tidak terjangkau lagi oleh penglihatan kita. Percaya, yakin, ilmunya adalah yakin. Bahwa keyakinan kita ini yang akan membawa kita menuju rahmat lilaahi ta’ala. Aamiin.


Teman-temanku, intinya pada siang hari ini adalah bagaimana kita belajar untuk mendapatkan dunia tidak dengan hati kita yang memprosesnya. Tetapi masukkanlah Allah pertama-tama di hati kita, dan jadikanlah tauhid kita bersih sebersih-bersihnya hingga tak ada lagi unsur-unsur lain yang menodainya. Dengan begitu, apa pun yang menjadi cita-cita kita di dunia akan terhitung sebagai amalan shalih. Kalau sebaliknya, memasukkan dunia ke dalam hati, maka apa pun yang kita kerjakan dan hasilkan nanti, itu akan jauh sekali dari rahmat Allah. Karena pada dasarnya, kita tidak berniat untuk menjadikan impian kita itu sebagai ibadah. Hanya sebatas, ya ini impian saya dan saya akan berusaha untuk mewujudkannya. Itu hanya berarti selama di dunia saja. Nanti begitu hari perhitungan, kesuksesan-kesuksesan yang kita capai itu tidak berarti apa-apa.

Wallahu’alam bisshawab.

No comments:

Post a Comment