Visitor

Saturday, May 24, 2014

How Can I Get The Dunya Things?

Assalamu’alaikum pals.

I’m really sorry for the lately post (TT) I dunno if I have more time for blogging or not because until this is the end of June, it seems I can’t access internet (my modem is broke). So, ahlan wa sahlan ‘a hectic week’. This is I get to call, “reading data, books, statistic” to finish my proposal in the end of June.

Today in syaa Allah I’m gunna share this ayah and describe it.
From Qur’an, Surah Al-Qashash verse 60.


“Dan apa saja (kekayaan, jabatan, keturunan) yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kesenangan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang ada di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Tidakkah kamu mengerti?”



Sebuah kesempatan yang didapatkan anak manusia atas izin Allah. Di hari-hari mudanya, mereka bisa merasakan kenikmatan dunia. Yakni mendapatkan uang yang banyak, ketenaran, dikenal dan dipuja banyak orang, dipercaya oleh ribuan masyarakat (untuk memimpin), dan bisa menikmati indahnya dunia dengan beberapa kali merasakan perjalanan mulai dari negara A sampai negara Z. Bahkan bisa membeli barang A hingga barang Z.

Di kesempatan kali ini, in syaa Allah aku akan memaparkan dua jenis anak manusia yang sudah pasti hidupnya akan dikelilingi oleh kesenangan dunia. Sesuai dengan ayat yang kusebutkan di atas. Siapa sajakah mereka?


Pertama, seorang pemimpin yang memimpin bukan karena niat lilaahi ta’ala.


Jangan heran kalau kita melihat suatu negeri yang makmur dan sentausa itu dikarenakan pemimpin yang amanah. Jika seorang pemimpin memiliki visi misi dan tujuan yang semata-mata untuk menjalankan perintah Allah, tentu negeri itu pasti akan terselamatkan. Korupsi, KKN, perzinahan, perampokan, kriminalitas, seks bebas, penyalahgunaan narkoba, dan berbagai masalah lainnya akan jauh dari negeri yang pemimpinnya takut hanya kepada Allah azza wa Jalla.

Dan karena itulah, aku sangat menyayangkan keadaan di negeri ini jika masih saja mereka-mereka yang punya jabatan, hanya memikirkan kesenangan duniawi. Mungkin memang mereka berilmu, memiliki pengetahuan yang cukup luas, tapi apakah ilmu mereka mampu membawanya dekat kepada Allah? Jika tidak, percuma saja ilmu yang mereka miliki.

Yang berat bukanlah untuk mengemban tugas penting dan tanggung jawab kepada masyarakat yang dipimpinnya. Tetapi pertanggung jawaban kepada Allah. Nanti ketika kita semua sudah berada di Padang Mahsyar, kita semua akan menyaksikan bahwa sekecil biji zarah (atom) pun akan dipertanggung jawabkan. Apalagi ini, tugas sebagai pemimpin di dunia.


Kedua, idola yang dipuja orang banyak.


Mungkin teman-teman di sini ada yang sudah pernah membaca postinganku beberapa bulan lalu tentang arti kata “idola”. Nah, apa sih sebenarnya idola itu? Tidak lain adalah sesembahan atau berhala bagi manusia yang akan memujanya. Nah loh, gawat dong. Ya, jelas. Mungkin yang menjadi idola tidak akan paham atau tidak memikirkan hal ini. Karena bagi mereka, ya itulah “mimpi”. Mimpi untuk menjadi juara, pemenang, idola, yang bisa memberikan persembahan bagi masyarakat yang memuja mereka. Sebenarnya tidak ada larangan kita untuk bermimpi. Apalagi memiliki tujuan hidup yang positif. Misalnya memiliki rumah besar atau mobil, mendapatkan beasiswa ke luar negeri, bisa memberikan hal-hal bermanfaat untuk orang banyak ketika berceramah. Itu sah-sah saja. Karena memang dunia ini Allah sediakan dengan semua kelebihan dan kekurangan di dalamnya. Kita boleh bermimpi memiliki ini, memiliki itu, mendapatkan ini, mendapatkan itu. Tapi satu hal yang harus diingat, semua yang kita cita-citakan itu apakah benar tujuannya untuk mendapatkan ridha Allah semata? Atau hanya untuk menyenangkan diri sendiri dan nantinya akan terkubur oleh kenikmatan-kenikmatan yang sifatnya sementara?


Terlarut dalam kesenangan hingga menyebabkan kita semakin lupa kepada Allah bukan lagi bisa disebut sebagai kebahagiaan. Tetapi musibah. Teorinya mudah, jika suatu kesenangan itu mampu membuat kita dekat dengan Allah, maka itulah kesenangan yang dirahmati Allah. Tetapi jika sebaliknya, kesenangan itu justru membuat kita jauh dengan Allah, maka musibahlah yang akan terjadi.

Berkenaan dengan duniawi, kemarin aku juga baru saja mendapatkan pengetahuan baru tentang zuhud.


“Zuhud itu bukanlah engkau melepaskan dunia dari tanganmu, sementara ia masih ada di hatimu. Akan tetapi, zuhud itu adalah engkau lepaskan dunia dari hatimu meski ia ada di tanganmu.”

(Ibnul Qayyim, Thariqul Hijratain, 454)


Apa yang disebutkan tentang zuhud di atas persamaannya adalah dengan seseorang yang tidak menjadikan dunianya itu masuk dalam hatinya. Tetapi ia tetap bisa meraihnya di tangannya. Bukan berarti juga kita “meninggalkan” hal-hal duniawi untuk mendapatkan akhirat. Bukan berarti juga kita tidak mementingkan dan mempedulikan duniawi untuk mendapatkan akhirat. Tetapi kita tetap bisa mendapatkan keduanya, walaupun dunia TIDAK MENJADI PRIORITAS UTAMA. Dunia itu tempat kita untuk mencari rezeki, mencari keridhaan Allah, mencari kesenangan yang dapat menghantarkan kita ke Allah, jadi toh wajar saja kalau kita ingin ini-itu selama tidak menjadikan hal tersebut adalah suatu kewajiban. Yang harus diingat adalah kita tidak boleh menduakan Allah dengan sesuatu hal yang sifatnya tidak abadi.

Teman-teman, Islam tidak mengenal adanya pemujaan selain daripada Allah. Islam tidak mengenal adanya penyembahan selain daripada Allah. Hal-hal lain yang berkaitan dengan pemujaan, penyembahan, walaupun sifatnya terselubung atau transparan, termasuk dalam bentuk-bentuk kesyirikan. Dan kalau kita sudah masuk perlahan-lahan dalam hal pemujaan selain daripada Allah, itu berarti kita sudah mulai ada perbuatan syirik yang nantinya akan diperhitungkan jika tidak segera bertaubat.

Antara tauhid dan perbuatan syirik itu ibarat kutub utara dan kutub selatan. Sangat jauh. Kita tidak boleh mencampuradukkan ketauhidan kita dengan persekutuan kepada Allah. Dan kalau bicara tauhid, rasanya hati ini menggebu-gebu. Karena nikmatnya bertauhid itu tidak bisa lagi disamakan dengan keindahan apa yang kita lihat di muka bumi ini. Walaupun banyak sekali surga dunia yang menggiurkan. Tapi itu sama sekali tidak membuat orang beriman melirik dan jatuh ke dalamnya. Seperti apa yang pernah dikatakan Syeikh Fikri Thoriq di KSNS MNC Muslim, orang-orang beriman itu bukanlah mereka yang mengaku MUSLIM atau pun mereka yang KTP-nya Islam. Tetapi orang-orang beriman itu berbuat sebagaimana apa yang diperintahkan Allah, dan bertindak seperti apa yang disunnahkan Rasulullah, dan menjaga nilai-nilai ketauhidan dalam dirinya dari unsur-unsur syirik. Bukanlah disebut mukmin jika mereka hanya mengaku keislaman mereka tanpa pembuktian. Ingatlah, bahwa Allah tidak pernah menyia-nyiakan amal baik kita walaupun itu sekecil biji atom yang sudah tidak terjangkau lagi oleh penglihatan kita. Percaya, yakin, ilmunya adalah yakin. Bahwa keyakinan kita ini yang akan membawa kita menuju rahmat lilaahi ta’ala. Aamiin.


Teman-temanku, intinya pada siang hari ini adalah bagaimana kita belajar untuk mendapatkan dunia tidak dengan hati kita yang memprosesnya. Tetapi masukkanlah Allah pertama-tama di hati kita, dan jadikanlah tauhid kita bersih sebersih-bersihnya hingga tak ada lagi unsur-unsur lain yang menodainya. Dengan begitu, apa pun yang menjadi cita-cita kita di dunia akan terhitung sebagai amalan shalih. Kalau sebaliknya, memasukkan dunia ke dalam hati, maka apa pun yang kita kerjakan dan hasilkan nanti, itu akan jauh sekali dari rahmat Allah. Karena pada dasarnya, kita tidak berniat untuk menjadikan impian kita itu sebagai ibadah. Hanya sebatas, ya ini impian saya dan saya akan berusaha untuk mewujudkannya. Itu hanya berarti selama di dunia saja. Nanti begitu hari perhitungan, kesuksesan-kesuksesan yang kita capai itu tidak berarti apa-apa.

Wallahu’alam bisshawab.

Saturday, May 17, 2014

Ajihara Japanese Restaurant

Assalamu'alaikum fellas ♥



Khayfa halukum? Alhamdulillah ana bi khair.

Beberapa waktu lalu, aku sempat menonton acara televisi yang menampilkan salah satu chef kesukaan aku, Harada-san. Nah, aku baru tahu nih kalau beliau ternyata punya restoran sendiri. Bahkan kabarnya beliau ini sudah tinggal di Indonesia sejak tahun 1987.

Lama di Indonesia, membuatnya betah dan tak ingin pulang. Aku pernah belajar tentang salah satu fenomena pada masyarakat Jepang yang seperti Harada-san ini. Namanya apa ya, aku lupa. Pokoknya kasusnya adalah orang Jepang yang sudah kelamaan tinggal di luar negeri sampai-sampai begitu datang kembali ke negeri asalnya, mereka sudah tidak 'diterima'. Kejadian ini juga terjadi pada dosenku. Beliau sudah berbelas tahun tinggal di Jakarta dan menikah dengan orang Indonesia. Anaknya ada 2, lucu-lucu dan aku pernah menggendong mereka. Dosenku ini mengaku ia sudah tidak mau lagi pulang ke Jepang lantaran sudah dianggap turis asing sama orang Jepang sendiri. Wah, kasihan ya. Masa sih warga negaranya dianggap 'orang lain'. Ya, begitulah Jepang, hehehe.

Ngomongin soal kisah chef Harada, kita fokus dulu sama restoran dan masakannya yuk. Namanya AJIHARA RESTAURANT, terletak di wilayah Kemang, Jakarta Selatan. Lumayan jauh nih dari rumahku. Tapi melihat referensinya sih, kayaknya menarik untuk dikunjungi. Sebenarnya aku sangat ingin ke sana bukan hanya sekadar ingin nyobain masakan chef-nya, tapi juga ingin ngobrol banyak sama beliau. Maklumlah, saat ini aku sedang asyik meneliti pola hidup masyarakat Jepang mulai dari yang modern maupun yang tradisionil. Jadi, aku senang banget kalau dapat kesempatan untuk meng-interview langsung.

Ohya teman-teman, ini beberapa foto makanan yang ada di Ajihara. 


Sushi Moriawase


Ayo siapa yang lapar ya? Aku! Aku! Ya sebenarnya aku suka banget sushi walaupun nggak begitu sering mampir ke sushi resto. Tapi mungkin aku nggak berani makan sushi di Jepang. Kalau di Indonesia dan sudah dapat 'izin' bahwa sushinya halal, aku mau banget makan. Selain kandungan di dalamnya banyak vitamin dan bersih, makan sushi juga bebas dari gorengan yang banyak minyaknya dan gula.


Chicken Teriyaki Bento

  
Nah kalau yang satu ini mungkin teman-teman jauh lebih sering melihatnya ya. Karena bento itu khas Jepang banget. Mirip apa ayo? Yap, HOKA-HOKA BENTO. Melihat bento yang begitu rapi, mencium wangi nasinya yang pulen, dan ayamnya yang khas banget, rasanya laper beneran. Jepang itu memang super duper kreatif. Bahkan mereka memikirkan bagaimana caranya agar bisa tetap mengkonsumsi sayuran di dalam bento sekalipun. Makanya, nggak heran kalau masakan jepang jarang ada yang digoreng-goreng atau banyak gulanya. Yang ada malah asam dan pahit untuk ocha. Betul kan? Beda dengan masakan Indonesia yang rasanya iroiro. Ada manis yang manis banget, asin, bahkan pedas pun bisa sampai lidahnya panas. Jepang nggak kayak gitu. Di sinilah serunya berkuliner makanan Jepang. Sekali-kali kita lepaskan itu kebiasaan makan makanan manis dan pedasnya. Kita berpindah dulu di masakan Jepang yang rasanya mungkin tawar dan tidak begitu 'cadas'.


Ramen Sadako


Yang terakhir, ada ramen sadako. Ini khusus untuk pecinta mie. Ayo dicoba dicoba. Terakhir aku makan ramen kapan ya? Lupa. Tapi memang benar sih, mie ala Indonesia itu bedaaaaaaaaaaaaaaaaaa banget sama mie ala Jepang alias ramen. Yang nggak bagus tuh mie instan. Aku jadi keinget lagi curhatan dosenku tentang mie instan yang beliau konsumsi hampir setiap hari. "Suki dakara, yoku mie tabemashita." ucapnya sambil menghela napas panjang. Ya, kasian. Masa tiap hari makan mie. Nggak bagus juga untuk kesehatan dan pencernaan. Alhasil, beberapa kali dosenku nggak masuk ngajar karena ada masalah dengan lambungnya. Duh, bahaya ya teman-teman. Jangan keseringan makan mie tuh warning

Berhubung ketiga referensi makanannya sudah kujelaskan di atas, kali ini aku mau menampilkan foto chef-nya.




Ini diaaaaaaaaaaaaaa penampakan Harada-san yang jenaka dan suka lawak :---------D


Yay! Si bapak yang satu ini memang sudah jago banget bahasa Indonesianya. Waktu diwawancara sama Ruben Onsu, sempat beberapa kali nggak mudeng. Pas ditanya tentang pengalaman, beliau bingung. "Ha?" dan refleks aku ngomong, "KEIKEN!!!" yang hanya kuteriakkan di depan televisi. Mama pun terheran-heran melihatku, hehehe. Iya, chef Harada ini lucu kalau lagi nggak mudeng dan gaya bicaranya khas sekali. Sudah seperti orang Indonesia pokoknya. And well, satu pelajaran penting yang dapat kita petik dari sosok Harada-san ini. Kono hito, Indonesia ni kitara, "Indonesia no koto suki ni narimashita. Indonesia-jin wa hontou ni shinsetsu desukara ne. Watashi wa Nihonjin desukedo, itsuka kitto hontou ni Indonesia-jin ni naritai desu." to iimashita. WAH :D 

Jadi, teman-teman. Kita patut berbangga sama negeri kita sendiri. Di sinilah kita lahir, di sinilah tempat kita dibesarkan, di sini juga kita bisa habiskan waktu berkumpul bersama keluarga. Buat apa tinggal di luar negeri dan senang-senang di sana, kalau di Indonesia saja sebenarnya sudah menyenangkan. Bersyukurlah bahwa negeri ini Allah makmurkan dengan segala macam kelebihan. Seperti hutan tropis, berbagai hewan dan tumbuh-tumbuhan, 2 musim yang tidak 'merepotkan', kekayaan alam, dan masih banyak lagi kelebihan-kelebihan lain yang bisa kita temui di Indonesia ini. Satu lagi, Indonesia kita luas. Sangat luas. Dibandingkan negara-negara lain di Asia, terutama Asia Tenggara, Indonesia itu luas. Banyak pulau-pulau kecilnya. Banyak objek wisata yang menarik. Walaupun masih banyak juga kekurangan, tapi bukan berarti itu jadi alasan untuk kita nggak cinta sama negara sendiri kan? 

Membandingkan bagaimana suhu dan musim di Jepang atau bahkan negara 4 musim lainnya, Indonesia merupakan salah satu negara yang suhunya stabil dan tidak 'merepotkan'. Lihat bagaimana panasnya Jepang kalau sedang benar-benar musim panas. Lembabnya. Makanan mudah membusuk. Ke mana-mana harus selalu bawa payung karena terik matahari yang menyengat. Belum lagi kalau sedang musim salju/dingin. Jangan harap kita sanggup ke luar rumah karena bisa jadi di luar sedang ada badai. Sedangkan Indonesia, apakah pernah didatangi badai salju? Tidak kan? Kita di sini memang tidak pernah merasakan salju, tapi tahukah kamu bahwa orang-orang yang tinggal di negara 4 musim terkadang iri loh dengan kita. Sebenarnya kita tidak perlu mempersiapkan musim-musim yang akan datang karena pada saat musim kemarau dan hujan, di sini kita tidak terlalu menyusahkan. Panas pun tidak begitu panas. Pada saat musim hujan pun, hanya perlu was-was banjir saja. Biarpun begitu, temanku mengaku senang bisa tinggal di Indonesia, mau makan apa saja ada. Dari segala penjuru dunia, bisa dicari di Indonesia. Buah? Buanyak. Dan harganya efisien. Coba cari buah melon di Jepang kalau nggak kalian melotot sama harganya yang nggak masuk diakal. 


Sekian dulu ya sharing-nya hari ini. Kalau di soundcloud, aku bilangnya 'sekian dulu ya cuap-cuap saya'. Mudah-mudahan kita bisa ketemu lagi di segmen berikutnya. Cus dulu ya. Babai. 




Salam.

Friday, May 16, 2014

Pertemuan Yang Tak Terduga Part IV




Dear adikku Indah Pratiwi
Tulisan ini kuperutukkan untukmu
Semoga kamu suka dan tetap semangat mengerjakan skripsi ya J



[Warning! Sebelum membaca tulisan ini, sempatkan sambil mem-play soundcloud-ku ya. Biar berasa serunya! CLICK!]



Grand Launching ODOJ, Istiqlal, 4 Mei 2014

Hari itu aku terlambat untuk datang pagi ke Istiqlal. Padahal jarak dari rumahku ke sana tidak begitu jauh. Hanya perlu jalan kaki sebentar ke halte bus lalu sampailah aku di masjid yang sudah bertahun-tahun tak pernah kukunjungi itu.

Kupegangi ponselku sedari tadi. Tapi tidak ada balasan apa pun dari adikku. Sepertinya dia sedang sibuk. Namun ia sempat mengganti status, “At Istiqlal, Grand Launching ODOJ”. Aku, lagi-lagi yang hanya bisa melihat statusnya menundukkan kepala lemas. Apakah benar kami akan bertemu di masjid ini? Tapi, apa mungkin? Mana bisa! Sejauh ini, aku dan beberapa teman se-grupku saja belum bertemu. Kami kehilangan sinyal! Belum lagi ramainya orang-orang yang berkunjung ke sini. Ribuan pengunjung bahkan puluhan ribu mungkin sudah memadati area masjid ini. Aku berusaha untuk mencari tempat untuk shalat. Tapi perasaanku tak tenang. Aku menengok kanan-kiri, dia tak ada di sini.

Semua yang datang ke acara ini, harus memakai busana serba putih. Alhamdulillah, Allah mempertemukan aku setelah 2 jam mencari-cari, tetapi bukan dengan Indah, aku bertemu dua saudariku se-grup.



Aku senang. Kami juga menyempatkan untuk berfoto bersama dan ini kali pertamanya kami berjumpa secara langsung. Biasanya hanya berkomunikasi lewat Whatsapp saja. Tapi ke mana adikku itu. Di mana dia. Aku terus mencari-cari.

Setelah kedua saudariku, Mba Zubaedah dan Teh Neneng izin pulang, barulah aku naik ke lantai 2 untuk mencari tempat shalat. Rencananya setelah itu aku akan pulang. Kupikir, aku akan sesegera mungkin pulang ke rumah karena tidak mungkin juga bertemu dengan adikku. Karena pertama, jumlah jamaah yang hadir pada saat itu sangat sangat sangat banyak. Penuh sekali. Bahkan aku sempat didorong oleh orang lain yang berebut naik ke tangga. Kalau tidak hati-hati, mungkin bisa kehilangan sesuatu di tas.

Aku sudah membuang harapanku jauh-jauh untuk bertemu adikku hari itu. Yang penting aku bisa shalat dan pulang. Namun, tiba-tiba...

Begitu aku melangkahkan kaki menuju tempat utama, aku terus berjalan, kedua kaki ini terasa begitu ringan, dan... INDAH!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Kami berteriak seketika bola mata yang bertemu tanpa diprediksi sebelumnya. Kerudung putih, baju lengan panjang dan rok yang serasi. Subhanallah. Aku mau menangis rasanya. Sontak kami langsung berpelukan tidak lepas. Aku tidak ingin melepasnya. Rasanya aku tidak percaya ini yang terjadi. Kupikir tadinya... ah sudahlah. Manusia hanya bisa memprediksikan. Dan manusia hanya mampu berencana tanpa bisa merealisasikannya menjadi nyata selain dengan izin Allah. Dan yang barusan tadi merupakan pertemuan tak terduga untuk keempat kalinya.

Pertemuan ini...

Ya, pertemuan ini yang amat singkat.

Sebagaimana orang-orang beriman mengibaratkan sebentarnya dunia seperti singkatnya waktu di antara adzan dan iqamah, kami berjumpa di titik itu.

Langkah kaki yang sedikit gontai mulai membuatku lemas. Karena aku hampir hampir tak percaya bisa menemukannya di tengah ribuan masyarakat yang memenuhi seisi masjid. Aku tiba-tiba membayangkan seperti foto yang pernah kuberikan padanya beberapa waktu lalu. Dua orang sahabat perempuan yang memfoto diri mereka dari belakang ketika sedang sama-sama melihat Ka’bah. Dan mereka saling berpelukan dari samping, menggandeng tangan satu sama lain, erat. Impianku dan adikku untuk bisa merasakan Ka’bah begitu nyata di pelupuk mata kami hingga air mata itu terjatuh untuk kesekian kalinya.

Oh, Allah...

Kabulkanlah doa kami.

Pertemukanlah kami dengan izin-Mu, dengan taufiq-Mu, hingga sungguh kami benar-benar bisa melihat Ka’bah dengan mata kepala kaki kami. Jiwa dan raga ini hanyalah titipan sementara. Ini adalah milikmu. Kapan saja Engkau akan membawanya ke mana pun Engkau mau, kami siap. Kami takkan lelah untuk meminta.

Sebagaimana hari itu. 4 Mei 2014. Aku kembali bertemu dengan adikku setelah pertemuan di tanggal 24 Maret 2014 untuk ketujuh kalinya. Sekarang, sudah 8 kali kami bertemu. 8 kali pula ia menemaniku untuk terus mengingat-Mu wahai Allah.

Berat langkah kakiku untuk menjauh darinya ketika kami berhenti untuk salam perpisahan sementara di halte bus. Ia akan melanjutkan perjalanannya pulang sementara kami berbeda arah. Walau begitu, aku yakin, Engkau yang akan menjaganya. Lebih dari aku menjaganya. Tenanglah hati ini. Hadiah yang begitu tak disangka-sangka Engkau beri tepat di saat aku memakai baju serba putih. Semoga kelak, kami kan bertemu kembali mengenakan jubah yang sama—putih ihram, sesaat sebelum kami tiba di kota yang dari puluhan kilometer sudah tercium wanginya. Kami merindukan. Saling merindukan.

Ya Rabb...

Jadikanlah kami sahabat, saudara, adik dan kakak, keluarga yang akan kembali berkumpul di Jannah.

Kami yakin, sejauh apa pun jarak kami saat ini, sesibuk apa pun yang kami kerjakan sampai saat ini, kami sebenarnya tidak jauh. Begitu dekat. Karena kami selalu ingin berada di dekat-Mu ya Rabb.

Karena Engkaulah yang mendekatkan hati kami kepada-Mu.

Itulah kado terindah di hari yang begitu berkah. Semoga kelak engkau diberikan umur dan juga kehidupan yang diridhai-Nya.

Jangan lupakan kakakmu ya, adikku.

Kelak ketika saatnya tiba kau dan aku akan berkeluarga, pastikan bahwa keluarga kita yang satu ini tetap tidak dilupakan.

Ternyata, indah sekali ukhuwah islamiya itu.

Saling menguatkan, saling mendoakan.




A milad wishes for you and for your family, be better in this 22! ♥


From your sister,


@okutariani

Thursday, May 15, 2014

Tadabbur Al-Qur'an

Materi Tadabbur QS. Al-Adiyat ayat 1-11
 10 Mei 2014

HARTA TIDAK AKAN MENGEKALKANMU


Oleh Ustadz Hendra Hudaya, Lc


Pendahuluan

Ketika kita lahir ke muka bumi ini, kita tidak membawa apa-apa selain tubuh yang tidak dikenakan satu helai pakaian pun. Pada saat itu, kita hanya menangis karena baru pertama kali merasakan udara dunia. Kita tidak lagi di dalam perut ibu yang gelap dan tidak bebas bergerak. Bayi yang baru lahir itu tidak tahu apa-apa. Hanya merasakan bahwa ia membutuhkan dekapan kasih sayang ibu. Sudah dengan fitrahnya ia mencari-cari air susu ibunya. Sehingga tumbullah ia menjadi balita, bisa berjalan walau kadang terjatuh, kemudian bangkit lagi, kemudian berlari, dan menjadi remaja yang tangguh.

Hari demi hari dilalui dengan penuh semangat. Bak kuda perang yang memercikkan api dari pangkal kakinya. Tapi ketika itu ia mulai berkenalan dengan dunia luar. Bertemu dengan teman seangkatan kerja. Mulai mendapatkan gaji sendiri. Merasakan nikmatnya bisa berbelanja apa yang kita butuhkan dengan uang hasil keringat sendiri. Maka datanglah waktu pada saat ia mulai menginginkan hal yang berbeda. Ia sudah memiliki harta yang diperolehnya dengan mudah. Kini, ia sudah disibukkan dengan kesenangan duniawi yang menyita waktunya. Termasuk pada harta yang diagung-agungkan. Rupanya, manusia yang tadinya hanya segumpal darah yang melekat dan menjadi daging, dia sudah berubah menjadi makhluk yang kikir! Melupakan Tuhannya. Menduakan Tuhannya. Menjadikan tuhan-tuhan lain yang tidak bisa memberinya manfaat.

Pemuda ini tidak lagi ingat akan masa-masanya dulu ketika ia benar-benar membutuhkan dekapan ibunya yang hangat. Ia lupa bahwa ia pernah menyusu pada ibunya yang kini sudah tua renta. Ia tidak lagi mengingat betapa besar rasa sayang ibunya kepadanya. Setelah dewasa, ia asik dengan kehidupannya. Mendekati perempuan yang satu ke perempuan yang lain. Naik jabatan. Jalan-jalan ke luar negeri. Meninggalkan ibunya sendirian di panti jompo. Dan berbuat curang dalam keuangan kantor.

Dialah yang tadinya hanya SEGUMPAL DARAH! Yang kemudian berubah menjadi makhluk keji dan jahat. Allah telah berikan kesuksesan dan kesenangan hidup. Allah juga telah berikan ia harta yang seharusnya dapat mengingatkannya akan nikmat Allah dan bersyukur. Namun, semua itu sia-sia. Ia tidak lagi mampu untuk merasakan manisnya iman dan tauhid.

Pernahkah teman-teman melihat cerita yang mirip dengan kisah di atas? Kalau kita lihat keadaan para pejabat tinggi di negeri ini, mungkin kita akan menemukan kisah yang serupa. Setelah diberikan kepercayaan untuk menduduki kursi jabatan, bebaslah ia berkuasa. Sehingga lupa pada amanah awalnya. Rusak sudah hati yang tadinya bersih. Segumpal darah yang tadinya tidak bisa apa-apa berubah menjadi singa yang mengaum kelaparan!


Pendekatan Makna Surah

Jika membaca dan menghayati ayat-ayat dari Surah Al-Adiyat ini, maka lihatlah bahwa teguran Allah terhadap orang-orang yang kufur nikmat sangatlah keras.

Innal ingsaana lirabbihi lakanuud.
Sesungguhnya, manusia itu sangat ingkar, tidak berterimakasih kepada Tuhannya.

Wa innahu alaa dzalika lasyahid.
Dan sungguh manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya.

Kepada nikmat yang telah sampai pada mereka, mereka anggap itu adalah hadiah dari Tuhan mereka dan ketika musibah yang datang, mereka anggap Tuhan mereka sedang menghinakan mereka. Terhadap nikmat apa saja orang-orang ingkar?

Salah satunya yang akan dikupas di sini adalah persoalan harta.

Wa innahu lihubbil khoiri lasyadid.
Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.

Ketika itu, manusia rela menjadikan uang sebagai tuhan. Jika tidak ada uang, matilah mereka rasanya. Tidak ada semangat hidup, tidak ada gairah, bahkan cenderung stres. Namun, ada juga yang mengira hidupnya aman-aman saja karena kecukupan harta. Bahkan mereka merasa tidak ada masalah atau beban. Walaupun sebenarnya masalah yang paling besar bagi mereka adalah jauh dari Rabb-nya dan dekat kepada harta mereka. Kecintaan terhadap harta yang terlalu berlebihan akan membuat mereka lupa bahkan kepada keluarganya sendiri. Sering kita lihat bagaimana seorang pria yang sudah kaya dan merasa memiliki kekuasaan, bisa berbuat sewenang-wenang seperti berselingkuh atau korupsi. Dia anggap ini kesenangan. Padahal sebenarnya itu adalah musibah. Ketika harta membuatnya lupa, setan tertawa terbahak-bahak. Seketika itu, setan merangkulnya sangat erat dan membisikinya, “Kau memang saudaraku!”

Afala ya’lamu idzaa bu’sira maa fil qubur.
Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur.

Wa hussila maa fisshudur.
Dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada.

Namun ketika ia akhirnya sadar malaikat pencabut nyawa telah datang kepadanya, ia lemas tiada daya. Memohon ampun namun terlambat. Ditinggalkanlah istri dan anak-anaknya. Harta dan jabatan yang dimilikinya semasa hidup tiadalah berarti karena di alam kubur ia menjadi seperti bayi yang baru lahir—yang tidak bisa berbuat apa-apa; tidak memakai baju sehelai pun; dan hanya bisa terus menyesali perbuatannya. Menangis pun tak sanggup. Maka, harta itu lenyap beserta tubuhnya yang mulai digerogoti oleh semut dan serangga di dalam tanah.

Barulah kali itu ia tersadar bahwa HARTA TIDAK AKAN MEMBAWANYA KEKAL. Bahkan kain putih yang dikenakannya sudah menjadi kecoklat-coklatan dan bau. Temannya tiada mengingat. Bahkan yang setia datang ke kuburannya sudah semakin sedikit. Gadget, rumah mewah, uang, TV, mobil, perempuan-perempuan cantik, baju-baju bermerk, sepatu mahal, tas, hingga rekening di bank yang bermilyar-milyar sudah tidak berguna lagi. Padahal dulu kakinya sangat kuat jalan berpuluh-puluh mil, tapi tidak digerakkan ke rumah Allah, masjid. Lengannya tidak ada yang cacat dan masih bisa menulis dengan baik dan mengambil apa pun dengan tangan kanan, tapi tidak digunakan untuk memegang dan membaca Al-Qur’an. Tubuhnya sehat bugar dan selalu rajin ke tempat-tempat fitnes namun jarang sekali memenuhi panggilan Allah dengan shalat di masjid, padahal shalat sungguh lebih dari sekadar menyehatkan tubuh. Matanya yang tidak rabun ia gunakan untuk melihat aurat wanita yang saat itu jalan menghampirinya. Ini dianggapnya sebuah ‘nikmat’ dan menertawakan pria yang jalan dalam keadaan menundukkan pandangan. Telinganya yang mampu mendengar dengan jelas disumpel oleh headset sehingga yang selalu didengarkan adalah musik-musik yang membuatnya merasa ‘hidup’ namun tidak pernah sekali pun telinganya diperdengarkan oleh ayat-ayat suci Al-Qur’an sehingga ‘mati’ sudah jiwanya. Semua organ tubuh yang sehat dipergunakan untuk hal yang sia-sia olehnya. Hingga sang malaikat pencabut nyawa datang menghampirinya dengan amarah yang besar. Ia menjadi ketakutan dan berusaha menghindar namun tidak bisa.

Harta yang dipikirnya mampu membuat hidupnya senang, bahagia, tanpa susah, tidak ada beban justru malah membutakan mata hatinya dari keindahan iman dan taqwa kepada Allah. Masih banyak lagi kisah pemuda maupun pemudi yang meninggal dalam keadaan seperti itu. Tidakkah kita miris jika itu terjadi pada saudara kita sendiri? Atau bahkan orangtua kita?

Inna rabbahum bihim lauma idzillakhobir.
Sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka.


Beberapa kali saya mendatangi kuliah tadabbur dan saya pun baru menyadari bahwa halal dan haramnya suatu harta itu menjadi pertimbangan penting bagi setiap muslim. Kita perlu menanyakan istri, suami, anak, ayah maupun ibu tentang harta yang diperolehnya. Jika itu berasal dari hal-hal musyrik maupun haram, wajiblah kita mengingatkannya. Karena sesuap saja kita makan dari harta haram, maka di perut kita ini akan penuh oleh luapan-luapan api yang akan menggiring kita ke neraka. Naudzubillah, tsumma naudzubillah. Maka dari itu, jangan takut untuk menanyakannya kepada keluarga. Bersyukurlah jika kita mendapati keluarga kita memperoleh harta yang halal. Berkah dari Allah pasti akan terasa setelahnya. Karena sungguh, Allah tahu apa saja yang kita perbuat selama di dunia. Semoga kelak nanti keadaan kita tidak seperti orang-orang yang kufur nikmat, in syaa Allah. Aamiin.

Indonesia Berdoa Untuk Masa Depan Lebih Baik

Wahai Allah, berselang beberapa hari telah terjadi sebuah pemilihan umum
Sebuah mekanisme penataan negara yang masih jauh dari ideal menurut sistem Islam
Tapi baru itulah yang ada di negeri ini
Berikanlah kepada semua komponen umat Islam agar mereka kembali memohon pertolongan kepada-Mu
Membersihkan hati, meluruskan niat, mengumpulkan data-data, informasi dan analisis inteligen yang lebih akurat agar mereka siap memenangkan Islam
Kami belajar dari apa yang dialami saudara-saudara kami umat muslim di Mesir
529 tokoh-tokoh ulama hafidzul Qur’an dibunuh oleh orang-orang kuffar itu
Semoga mereka semua termasuk yang syahid
Ya Allah, Ya Rahman, kalau kami melihat dari mata kepala kami dan akal kami tentang keadaan umat Islam saat ini, betapa lemahnya, hati yang tidak bersih, kesombongan, merasa lebih senior, merasa lebih banyak pengikut, merasa paling punya otoritas, semoga itu tidak kami miliki karena kami ingin yang mulia yang Engkau ridhai
Ya Allah, kalaulah ada proses-proses menuju kemenangan di negeri ini, catatlah bahwa kami adalah bagian dari barisan jihad
Berikan kepada kami jiwa jihad, sebagaimana ashabul kahfi
Mereka, pemuda-pemuda yang hanya mengharapkan keridhaan-Mu
Jadikan pemuda-pemudi yang hadir di sini orang-orang yang beriman sebagaimana yang telah dikisahkan di dalam Al-Qur’an
Dunia yang serba materialistik, sesuatu yang selalu ditanyakan berapa honor yang akan diterima, pandangan kebenaran yang bukan berasaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah, semoga bukan itu yang akan menjadi cara hidup kami
Ya Allah, bagi kami yang sudah berumah tangga, berikan kepada kami kemampuan untuk menjadikan keluarga kami sakinah, mawadah, dan warahmah
Agar lahir anak-anak yang shaleh dan shalehah dalam jumlah yang banyak, yang mereka akan menghafalkan Al-Qur’an, dan mereka siap membela agama-Mu
Bagi kami yang masih gadis dan bujang, pada waktunya pertemukan kami dengan jodoh yang baik, semoga dia bagian daripada jalan hidup kami, untuk menjalani hidup bahagia dunia dan akhirat
Wahai Allah, semoga sore ini sore yang bersejarah bagi kami
Q-Gen
Generasi Qur’an
Semoga bukan hanya simbol dan nama kebanggaan tertulis dalam kaus dan jaket
Tapi dia merupakan yang menyatu dengan darah daging kami
Sehingga kami akan tunjukkan kepada sejarah negeri ini dan generasi di belakang kami
Masih ada barisan pemuda-pemudi Islam yang siap membela Islam karena Engkau semata-mata ya Allah
Berjuang demi Islam sampai kematian menjemput kami
Jadikanlah jiwa ini menjadi hal yang menyatu sebagaimana Abdurahman bin Auf
Yang menyerahkan seluruh hartanya untuk jihad di jalan-Mu ya Allah
Sebagaimana Nasibah Al-Anshori
Yang menghadang belasan panah di perang Uhud, sehingga darah bersimbah dari badannya
Menjelang ia pingsan ia meminta kepada Rasul, “Ya Rasul, doakan agar aku termasuk orang yang ikhlas dan berjihad sehingga aku bisa berdekatan dengan engkau di surga nanti.”
Kami di ruangan ini manusia yang penuh dosa ya Allah
Kami masih suka menyakiti hati ayah dan ibu kami
Kami suka lalai untuk meringankan beban ayah ibu kami
Ibu, bapak, ayah, umi, abi
Maafkanlah kalau anakmu masih belum maksimal menunjukkan bakti dan pelayanan sebagai putera-puteri yang shaleh shalehah
Sore ini kami mencoba memantapkan hati
Kami mengawali dengan niat yang baik
Kami buktikan dengan prestasi belajar di sekolah dan kampus kami
Bahwa kami adalah putera-puteri terbaik yang memiliki IPK di atas 3,5 atau mungkin 4
Ya Allah, bimbinglah kami agar kami terhindar dari bisikan setan yang terkutuk
Gejolak nafsu yang merusak
Teman-teman yang mengajak pada kejahatan
Berikan kepada kami kekuatan untuk terus berjihad membela agama-Mu
Detik-detik menentukan sampai pemilihan presiden
Semoga majelis AQL ini bisa menjadi tempat para penyeru al-fallah, kemenangan Islam
Ya Allah, di penghujung akhir doa kami, berikan kekuatan kaum muslimin yang ada di Palestina
Kalianlah saudara-saudara kami yang tangan dan kaki kami tak sanggup mencapainya saat ini
Tapi doa kami sungguh ingin dilayangkan
Semoga kalian tetap bertahan di benteng Islam
Hidup mulia atau mati syahid
Ampuni kami ya Allah, terlalu banyak kami memohon dan meminta
Semoga kesadaran akan beriring dengan kesediaan bekerja untuk Islam
Dan tahapan-tahapan kerja menuju pada solusi
Sehingga kami tidak meratapi dan prihatin kepada kejahatan musuh-musuh
Kami akan membuat perhitungan terhadap mereka yang memusuhi Islam
Dan akan melihat kemuliaan Islam bersama kami


Oleh Ustadz Alfian Tanjung
“Peran Remaja Bagi Kebangkitan Umat”
12 April 2014

Makna Dibalik Suratul Fajr


Di Antara Dua Golongan

Manusia memang pembuat rencana yang sebenarnya tidak mampu merealisasikannya menjadi nyata kecuali atas izin Allah. Ingatlah bahwa segala apa pun yang terjadi di dunia ini, perkara kecil maupun besar, Allah berada di dalamnya, Allah mempunyai andil dalam setiap peristiwa di muka bumi ini.

Kehidupan di dunia hanya sekali dan sangat singkat. Banyak orang yang mengatakan mereka tidak ingin menyia-nyiakan kehidupan itu dan kemudian mereka bersegera untuk mencari ridha dan petunjuk Allah. Namun sebaliknya, ada pula orang-orang yang menganggap bahwa kehidupan yang sekali itu harus dinikmati sebaik-baiknya; caranya dengan bersenang-senang, tanpa perlu memikirkan antara yang haqq dan bathil; haram atau halal; dengan pola pikir liberalisme yang anti-agamis. Dua golongan ini sungguh banyak kita jumpai. Di dunia, orang-orang sibuk berbantah-bantah ketika mereka merasa paling benar. Apakah di akhirat kelak juga seperti itu?

“Sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain dan berbantah-bantahan.”
(QS. As-Shaffat [37]: 27)

“Lalu, sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya mencela-cela.”
(QS. Al-Qalam [68]: 30)

Keadilan yang hakiki hanyalah milik Allah. Sebagaimana ayat-ayat suci-Nya yang dapat menggetarkan hati manusia yang beriman. Mereka sungguh takut kepada Tuhannya. Dan karena itulah, mereka bersegera mungkin untuk menghindari perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah. Dan mendekatkan diri sebagai seorang hamba yang selalu membutuhkan Rabb-nya. Berbeda dengan mereka yang tidak merasa “diawasi” oleh Allah. Dengan mudahnya berbuat dosa dan memperbanyak serta tidak lagi memikirkan bagaimana mereka akan mempertanggung jawabkannya di hadapan Allah. Hati sudah berkarat hingga rapuh dan rusak. Bagaikan daun yang dimakan ulat dan habis. Tidak adanya iman di hati membuat mereka merasa “aman” terhadap apa saja yang diperbuatnya di dunia. Tanpa ada aturan, mereka bebas menumpang hidup di bumi yang bukan milik mereka.


Keadilan Allah Untuk Mereka

Seperti yang sudah pernah saya tulis di post sebelumnya mengenai tadabbur Suratul Qari’ah, di sini saya mengulang kembali bahwa keadaan huru-hara ketakutan dan kegelisahan yang membuat manusia tidak melirik satu sama lain hanyalah di Padang Mahsyar. Mereka tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Mereka mengerjakan sesuatu yang menyibukkan diri mereka. Keadaan mereka yang ketika di dunia dulu selalu mendustakan kebenaran, mereka tidak lain adalah orang-orang yang berwajah masam lagi menghitam. Penduduk bumi dan langit pun bersatu dan menundukkan kepala mereka. Tidak ada lagi air yang mengalir, tidak ada lagi kicauan burung di pagi hari, tidak ada lagi udara segar yang menyelimuti dinginnya malam, tidak ada lagi rintik-rintik hujan yang menenangkan, karena sudah berakhir kehidupan di dunia.

Pada saat itu, para malaikat turun dan berhimpun di Padang Mahsyar. Mereka berbaris dan membentuk tujuh barisan. Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah ra. Ia menyatakan, “Sesungguhnya Allah akan menyeru kepada langit dunia agar terbelah. Maka, langit itu terbelah dan mengeluarkan semua malaikat yang ada di sana. Selanjutnya, turunlah semua malaikat ke bumi dan mengelilingi penghuni bumi, kemudian langit kedua beserta isinya, lalu langit kedua beserta isinya, langit ketiga beserta isinya, langit keempat beserta isinya, langit kelima beserta isinya, langit keenam beserta isinya, dan langit ketujuh beserta isinya. Sehingga, terbentuklah tujuh barisan malaikat, di mana satu barisan mengelilingi barisan yang lainnya. Jadi, ke mana pun penduduk bumi pergi, mereka akan menemui ketujuh barisan malaikat tersebut.”

Keadaan yang begitu menakutkan karena menanti ketetapan Allah. Ketika itu, tidak ada makhluk yang sanggup berbicara kecuali atas izin Rabb-nya. Ibnu Abbas ra berkata, “Pada hari kiamat, Jibril as akan berdiri di hadapan Jabbar. Saat itu, bergetarlah urat-uratnya dengan dahsyat karena takut siksa Allah. Ia berkata, “Maha Suci Engkau, tidak ada Tuhan selain Engkau. Kami tidak menyembah-Mu, kecuali dengan sebenar-benar penyembahan kepada-Mu.”

Maha Suci Allah. Jibril saja takut pada hari itu. Bagaimana dengan kita yang setiap harinya melakukan perbuatan dosa? Akankah kita merasa aman dengan semua perbuatan yang sudah kita lakukan selama ini?

Jika hari itu tiba, maka tidak ada lagi kata ampun dan maaf yang dapat menyelamatkan kita. Menyesal tiada guna karena hanya Jahannam yang akan menemani orang-orang yang selama hidupnya di dunia berdusta.

Bacakanlah satu ayat suci yang kau ulang-ulangi untuk kuperdengarkan.
Kemudian teruskanlah sampai di ayat terakhir.
Inilah mengapa hari ini aku ingin mengambil pesan dan makna dari Suratul Fajr.
Salah satu surat yang sangat indah, yang menjadi favoritku.
Menangis aku dibuatnya.
Cara Allah menegur hamba-hamba-Nya sangat membuatku tertegun dan bergetar hingga masuk ke hatiku yang terdalam.
Surah ini adalah surah persembahan darimu untukku. Dan semoga kelak kita semua dimampukan Allah untuk memahami dan menghayati arti makna yang tersirat di dalamnya.

Wal fajr
Demi fajar,
Wal layaalin ‘asyr
Demi malam yang sepuluh,
Wasy syaf’i wal watr
Demi yang genap dan yang ganjil,
Wal laili idzaa yasr
Demi malam apabila berlalu
Hal fii dzaalika qosamul lidzii hijr
Adakah pada yang demikian terdapat sumpah (yang dapat diterima) bagi orang-orang yang berakal?
Alam taro kaifa fa’ala robbuka bi’aad
Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Ad?
Iroma dzaatil ‘imaad
(yaitu) penduduk Iram (ibu kota kaum ‘Ad) yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi,
Allatii lam yukhlaq mitsluhaa fil bilaad
Yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu di negeri-negeri lain,
Wa tsamuudal ladziina jaabush shokhro bil waad
Dan terhadap kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah,
Wa fir’auna dzil autaad
Dan terhadap kaum Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak (bangunan-bangunan yang besar),
Alladziina thoghou fil bilaad
Yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri,
Fa aktsaruu fiihal fasaad
Lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu
Fa shobba ‘alaihim robbuka sautho ‘adzaab
Karena itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka azab
Inna robbaka labil mirshood
Sungguh, Tuhanmu benar-benar mengawasi
Fa ammal ingsaanu idzaa mabtalaahu robbuhuu fa akromah, wa na’amahu fa yaquulu robbii akroman
Maka, adapun manusia apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, “Tuhanku telah memuliakanku.”
Wa amma idzaa mabtalaahu fa qodaro ‘alaihi rizqoh, fa yaquulu robbii ahaanan
Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, “Tuhanku menghinakanku.”
Kalla bal laa tukrimuunal yatiim
Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim,
Wa laa tahaadhuuna ‘alaa tho’aamil miskiin
Dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin,
Wa ta’kuluunat turaatsa aklal lammaa
Dan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampur-baurkan (yang halal dan yang haram),
Wa tuhibbuunal maala hubbang jammaa
Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan
Kalla idzaa dukkatil ardhu dakkang dakkaa
Sekali-kali tidak! Apabila bumi diguncangkan berturut-turut (berbenturan),
Wa jaa-a robbuka wal malaku shoffang shoffaa
Dan datanglah Tuhanmu; dan malaikat berbaris-baris
Wa jii-a yauma idzim bijahannam, yauma idziy yatadzakkarul ingsaanu wa annaa lahuudz dzikroo
Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; pada hari itu sadarlah manusia, tetapi tidak berguna lagi baginya kesadaran itu
Yaquulu yaa laitanii qoddamtu lihayaatii
Dia berkata, “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu mengerjakan kebajikan untuk hidupku ini.”
Fa yauma idzil laa yu’adzdzibu ‘adzaabahu ahad
Maka pada hari itu tiada seorang pun yang menyiksa seperti siksa-Nya,
Wa laa yuutsiqu watsaaqohuu ahad
Dan tiada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya
Yaa ayyatuhan nafsul muthmainnah
Wahai jiwa yang tenang!
Irji’ii ilaa robbiki roodhiyatam mardhiyyah
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya!
Fadkhulii fii ‘ibaadii
Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku,
Wadkhulii jannatii
Dan masuklah ke dalam surga-Ku!

Beberapa kali saya membaca artikel mengenai tanya-jawab orang-orang unbeliever dengan semua pernyataan mereka. Hal ini justru membuat saya semakin yakin tentang bagaimana Allah menggambarkan keadaan orang-orang yang selalu berselisih.
Seperti ini kisahnya.

Ada seorang atheis yang tidak percaya dengan Tuhan. Dia mengajak berdebat dengan orang alim mengenai ada atau tidak adanya Tuhan. Di antara pertanyaannya adalah, “Benarkah Tuhan itu ada?” dan “Jika ada, di manakah Tuhan itu?”

Ketika orang atheis itu menunggu bersama para penduduk di kampung tersebut, orang alim itu belum juga datang. Ketika orang atheis dan para penduduk berpikir bahwa orang alim itu tidak akan datang, barulah muncul orang alim tersebut.

“Maaf jika kalian menunggu lama. Karena hujan turun deras, maka sungai menjadi banjir, sehingga jembatannya hanyut dan saya tidak bisa menyeberang. Alhamdulillah, tiba-tiba ada sebatang pohon yang tumbang. Kemudian, pohon tersebut terpotong-potong ranting dan dahannya ketika jatuh, sehingga menjadi satu batang yang lurus dan menjadi perahu. Barulah saya bisa menyeberangi sungai dengan perahu tersebut.” ujar orang alim itu.

Si atheis dan juga para penduduk kampung tertawa.”Orang alim ini sudah gila rupanya. Masa pohon bisa jadi perahu dengan sendirinya? Mana bisa jika tidak ada yang membuatnya?!” jawab orang atheis sambil tertawa riuh.

Kemudian orang alim pun membalas, “Jika kalian percaya bahwa perahu tidak mungkin ada tanpa ada pembuatnya, mengapa kalian percaya bahwa bumi, langit dan seisinya tidak ada penciptanya? Mana yang lebih sulit, membuat perahu atau menciptakan bumi, langit dan seisinya?”

Mendengar perkataan orang alim tersebut, mereka terdiam dan tersadar bahwa mereka sudah terjebak dengan pernyataan mereka sendiri.

“Kalau begitu, jawab pertanyaanku yang kedua.” kata si atheis.

“Jika Tuhan itu ada, mengapa tidak kelihatan? Di mana Tuhan itu berada?”

Orang alim itu kemudian menampar pipi si atheis. “Ah! Kenapa kamu memukul saya? Sakit sekali!”

“Ah mana ada sakit. Saya tidak melihat sakit. Di mana sakitnya?” jawab si alim.

“Ini sakitnya di sini.” ujar si atheis sambil menunjuk pipinya.

“Tidak! Saya tidak melihatnya! Apakah para hadirin juga melihatnya?”

Orang-orang tersebut menjawab, “Tidak.”

“Nah, meski kita tidak bisa melihat sakit, bukan berarti sakit itu tidak ada. Begitu juga Tuhan. Karena kita tidak bisa melihat Tuhan, bukan berarti Tuhan itu tidak ada. Tuhan itu ada walaupun kita tidak mampu melihatnya. Tetapi kita bisa melihat dan merasakan ciptaan-Nya.” demikian orang alim itu berkata.

Pernahkah kita melihat ke arah sinar matahari yang tajam? Tidak hanya silaunya saja, mungkin mata kita bisa rusak jika memaksakan melihat sinar matahari tersebut. Pernahkah kita membayangkan bumi yang tetap berporos dan tidak jatuh. Padahal tidak ada tiang yang menyeimbangkannya. Bayangkan jika kita memegang bola kecil yang bentuknya seperti bumi kita. Kemudian kita lepaskan bola tersebut. Maka jatuhlah ia bergelinding ke sana ke mari. Tetapi kalau ada yang dua sumpit saja yang menjaganya agar tidak jatuh, maka bola tersebut tetap berdiri bersama si sumpit tersebut. Bagaimana dengan bumi? Tidak. Bumi tidak jatuh ke mana-mana. Bumi tetap ada dan Allah jaga sehingga manusia merasa aman tinggal di sana. Orang-orang beriman tidak memikirkan seperti apa Tuhan, di mana Tuhan, dan mengapa Tuhan tidak menampakkan diri. Tetapi, mereka memikirkan dan merenungkan semua ciptaan Allah yang begitu banyak.

Benda langit yang jauh jaraknya milyaran dari bumi, bahkan mungkin trilyunan tahun cahaya tidak pernah dilihat manusia secara kasat mata, NAMUN ADA. Berapa banyak atom/zharrah berukuran kecil bahkan inti atom (seperti sehelai rambut yang dibelah 1 juta kali sampai bentuk yang paling terkecil tidak bisa dibelah lagi) tidak bisa dilihat mata manusia namun ternyata benda itu ADA. Berapa banyak gelombang radio, listrik dan elektromagnetik yang tidak bisa dilihat namun kita merasakan bahwa hal itu ADA. Panca indera kita ini terbatas. Tidak bisa memaksakan untuk melihat segalanya yang ada di bumi ini. Jika saja pengandaian sebuah pesawat terbang, helikopter, alat pembangkit listrik dan radio ADA karena ada yang membuatnya, bagaimana dengan bumi dan isinya?

Lalu datanglah pernyataan kedua dari atheis lainnya, “Jika Tuhan memang benar ada, mengapa Tuhan membiarkan orang-orang berperang dan banyak yang meninggal? Mengapa Tuhan membiarkan orang kelaparan, miskin, sedangkan Dia malah enak-enakan tinggal di surga sambil memperhatikan manusia di bumi dan tidak berbuat apa-apa.”

Ini adalah salah satu contoh pola pikir manusia yang sudah dicampuri oleh pemikiran yang akan menyesatkan dirinya nanti di akhirat. Orang yang tidak memiliki ilmu akan berpikir sesuai dengan apa yang dilihatnya secara nyata atau riil. Apa yang tidak sanggup dilihatnya maka dianggap tidak ada. Sama seperti keberadaan Tuhan. Bahkan mereka menyalahkannya. Pembahasan ini tidak akan ada habis-habisnya sampai hari kiamat datang. Karena orang-orang yang berselisih ini akan terus melanjutkan perselisihannya hingga mereka melihat sendiri bagaimana bumi dan langit ini terbelah, kemudian terdengar sangkakala yang begitu dahsyatnya, dan mereka dikumpulkan di tempat yang mereka sendiri tidak tahu, barulah mereka sadar bahwa selama ini mereka telah terjerumus oleh pikiran-pikiran bodohnya selama ini. Orang-orang yang melihat atau menyaksikan neraka Jahannam dengan mata kepalanya sendiri berarti mereka sudah masuk di dalamnya. Naudzubillah, tsumma naudzubillah. Jangan sampai kita menjadi salah satu yang melihat neraka dengan ainul yaqiin. Percayalah, bahwa Allah pasti akan memperhitungkan keyakinan kita ini untuk nanti kita sampai di surga bersama para umat Rasulullah. Allahumma aamiin.


Teman-teman, Suratul Fajr mengingatkan kita bagaimana keadaan para pendusta dan kebahagiaan orang beriman dan beramal shaleh. Maka, janganlah kita buang-buang waktu untuk sesuatu yang tidak ada manfaatnya. Jika kita sudah berusaha untuk mengajak orang lain untuk berbuat kebaikan namun mereka masih tetap mengejek, mencela, atau menghinakan kita karena ucapan-ucapan kita, doakanlah mereka. Kelak, doa itu akan kembali lagi ke kita. Karena hidayah bukanlah berada di tangan kita, tetapi hidayah hanyalah milik Allah. Maka dari itu, kita hanya perlu mengingatkan, sekali lagi, hanya mengingatkan.