Visitor

Sunday, April 27, 2014

Tadabbur Al-Qur'an

Materi Tadabbur QS. At-Takatsur ayat 1-8
 26 April 2014

Oleh Ustadz Hendra Hudaya, Lc


Pendahuluan


Teman-teman yang dirahmati Allah, apakah kalian pernah merasakan barang sehari tidur di ranjang yang mewah, makan dengan makanan yang beragam, membeli apa pun yang kita mau, memakai baju dan tas yang bermerk, punya banyak gadget, bebas jalan-jalan ke luar negeri maupun dalam negeri, atau bahkan tidak pernah kekurangan harta dan keinginan yang selalu tercapai?

Bagaimana rasanya?

Apakah semua materi yang kita pergunakan sungguh-sungguh dapat membahagiakan hati kita?

Atau malah sebaliknya, membuat kita susah.

Ada orang kaya yang iri dan berkata kepada orang miskin:

“Sungguh beruntungnya kau wahai orang miskin. Tidak perlu berpusing-pusing memikirkan akan digunakan untuk apa uang sebanyak yang saya punya. Bahkan sampai ada perasaan takut karena uang yang saya simpan di bank atau di rumah akan hilang. Kau hanya perlu menjalani hidup yang sederhana tanpa memikirkan uang dan harta benda yang kau miliki.”

Ya, begitulah kira-kira ilustrasinya. Orang-orang kaya itu semakin didekatkan dengan harta benda dan kesenangan duniawi, mereka akan cenderung takut kehabisan atau khawatir hartanya akan dicuri, diambil oleh orang lain. Sedangkan orang-orang yang tidak memiliki kebanyakan harta, mereka tidak perlu cemas akan kehilangan materi. Karena memang hidup mereka biasa dijalani dengan kesederhanaan. Makan seadanya, tas dan baju yang digunakan tidak bermerk, bahkan ponsel tidak punya, tidur di ranjang yang tidak empuk, dan lain sebagainya.

Orang-orang beriman tidak memikirkan statusnya apakah mereka kaya atau mereka miskin. Tetapi mereka meyakini bahwa kekayaan harta benda, kesenangan duniawi atau kesulitan ekonomi, kekurangan rezeki adalah takdir yang Allah gariskan pada setiap hamba-hamba-Nya. Mereka itulah yang tidak pernah merasa bangga akan kesenangan-kesenangan yang sifatnya akan membawa mereka pada kehancuran. Melainkan mereka bersyukur dan selalu merendahkan diri mereka kepada Allah. Hanya kepada Allah. Bersujud memohon ampun, memohon dilancarkan rezeki, dan memohon untuk tidak menjadi sombong atas harta-harta yang mereka miliki selama ini.


Pendalaman Surah

Surah At-Takatsur adalah termasuk karakter Al-Makkiyah. Yang biasanya ditandai dengan kata “kalla”. Karakteristik Makkiyah ini adalah surah-surah yang diturunkan sebelum hijrah. Sedangkan Madaniyyah adalah surah-surah yang diturunkan setelah Rasulullah berhijrah ke Madinah. Jadi, patokannya adalah bukan karena tempat, tetapi pada masa. Biasanya surah-surah Makkiyah itu mengandung nilai-nilai keimanan. Madaniyyah menjelaskan hukum-hukum. Surah ini mengantarkan tadabbur pada kali ini mengenai pemantapan keimanan kita.

Alhaakumuttakaatsur. Yang menjadi sorotan disini adalah kata ‘melalaikan’.

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,”

Kata “bermegah-megahan” di sini bisa disederhanakan dengan kata “berlebih-lebihan”. Aplikasinya bisa jadi banyak bekerja, banyak tidur, banyak makan banyak dan tertawa. Banyak ibadah, bagus tidak? Belum tentu. Bukan sekadar banyak atau kuantitasnya, tapi juga perhatikan kualitasnya. Kalau bicara dzikir, justru banyak itu perlu. Fazkurullaha dzikran katsira. Tapi kalau amal, titik beratnya bukan di kuantitas. Ahsanu amalaa. Amalan yang paling baik, paling berkualitas. Tajahudnya sih banyak, tapi tidak karena Allah atau ikhlas, ya percuma saja.

Hatta zultumul makobir. Sampai kalian menziarahi tempat untuk dikuburkan. Qobrun adalah kuburan dalam bahasa Arab. Ternyata, kata “kuburan” tersebut diadaptasi dari bahasa Arab yaitu qobrun. Ini sebatas ilustrasi. Yang hanya kiasan dari kematian. Sampai kalian mendatangi kematian masing-masing. Makna kematian di sini diwakili dengan kata al-makobir. Karena tempat itu hanya sebatas dipendamnya jasad yang sudah meninggal. Kita tidak tahu ruh kita ada di mana. Di dalam Al-Quran pun dijelaskan bahwasanya ruh kita setelah meninggal itu hanya Allah saja yang tahu. Malaikat pun tidak tahu. Rasul pun tidak tahu. Jadi, makna dibalik makobir, bukan terletak pada kuburannya. Tetapi kematian. Sampai kalian mendatangi ajal masing-masing. Sebenarnya bukan ajal yang datang kepada kita. Tapi justru kita yang mendatangi ajal tersebut. Kematian itu sudah ditetapkan. Kita ini sedang berjalan menuju ajal masing-masing. Seperti itulah kira-kira ilustrasinya.

Kalla saufata’ lamuun, tsumma kalla saufata’ lamuun. Kata “kalla” ini menunjukkan pengingkaran yang bergitu banyak. Manusia itu terlalaikan dengan dunia, hingga akhirnya Allah memberikan statement “kalla”—sekali-sekali tidak, jangan begitu. Kalian kelak akan mengetahui balasan apa yang kalian perbuat di dunia ini. Diulang lagi, dua kali, ini ta’qid atau penegasan. Di dalam bahasa Arab, jika ada kata yang diulang dua kali atau bahkan lebih itu menunjukkan penekanan. Seperti ayat fabbi ayyi alaa i’Rabbi kumma tukadzziban dalam Al-Qur’an, Ar-Rahman yang diulang sebanyak 31 kali. Pengulangan kata ini menunjukkan banyaknya manusia yang mengingkari nikmat Allah. Sebagaimana dua ayat dalam Surah At-Takatsur yaitu kalla saufata’ lamuun, tsumma kalla saufata’ lamuun, memberikan penekanan pada dua kaum. Ayat ketiga ditunjukkan untuk orang-orang kafir. “Janganlah begitu (orang-orang kafir), kelak kamu akan mengetahui akibat perbuatanmu itu.” dan ayat keempat, “Dan janganlah begitu (orang-orang beriman) kelak kamu akan mengetahui.”

Ini merupakan tafsir dari Ibnu Katsir.

Kalla lauta’lamuun na ilmalyaqiin.
Ilmal yaqiin adalah orang-orang yang meyakini adanya hari kiamat atau hari pembalasan walau kita tidak melihatnya secara kasat mata. Sedangkan ainul yaqiin, adalah keyakinan akan neraka, hari kiamat, atau penyiksaan karena perbuatan yang dilakukan di dunia setelah mereka bisa melihat langsung dengan mata kepala mereka sendiri. Naudzubillah tsumma naudzubillah. Jangan sampai kita berkeyakinan kalau sudah melihat langsung neraka itu seperti apa. Berarti kita sudah masuk ke dalam neraka tersebut dan menjadi penghuni neraka. Di hari itu, ketika orang-orang berkata, “Oh. Jadi beneran neraka dan surga itu ada ya?” sudah tidak berguna sama sekali. Penyesalan mereka sia-sia. Karena Allah sudah tidak lagi menerima pertaubatan mereka. Sedangkan yang paling rendah adalah keragu-raguan. Yaitu mereka yang benar-benar tidak meyakini adanya hari pembalasan. Maka dari itu Allah mengancam mereka dengan ilmal yaqiin.

Modal kita adalah yakin tidak dengan ayat ini? Berbeda dengan orang-orang bagi kafir, mereka menganggap ayat-ayat Allah ini adalah semacam bualan belaka.

Latarawunnal jahiim. “Sungguh kalian benar-benar akan melihat neraka Jahim. Ayat ini juga masih menekankan bahwa benar-benar al-jahim di sini adalah menggunakan ma’rifah. Atau yang artinya “sudah jelas”. Mengapa tidak memakai naqirah, atau pakai tanwin, misalkan latarawunnal jahiiman. Karena sudah jelas dan sudah ada. Kalau pakai naqirah, berarti maknanya masih umum, tidak tahu benar ada atau tidak ada. Melainkan dengan ma’rifah yang berarti sesuatu itu sudah jelas adanya.

Ayat berikutnya, tsumma latarawunnaha ainal yaqiin. Kalimat ini menerangkan adanya jeda, atau “kemudian”, ada jeda statement pertama dengan pernyataan selanjutnya. Untuk mereka yang terlalaikan karena dunianya, belum tentu yakin akan bertemu dengan siksa api neraka jahim. Karena mereka harus melihat dulu seperti apa siksaan itu. Naudzubillah tsumma naudzubillah. “Kemudian sungguh kalian itu (orang-orang yang terlalaikan) akan melihat jahim dengan mata kepalamu sendiri (ainul yaqiin)” .

Sampai ayat ketujuh, tsumma latus alunnayau maidzin aninnaiim. Ayat ini menjelaskan tentang keadaan manusia sekarang-sekarang ini. Mengapa habis waktunya untuk dunia? Baru sadarlah nanti ketika mereka menemui ajalnya dan tidak yakin adanya balasan-balasan atau hari kemudian dengan mata kepala mereka sendiri ketika telah melihat neraka secara langsung. Naudzhubillah tsumma naudzubillah. Di hari nanti, ketika kita sudah ada di akhirat, bukan lagi di dunia, maka kita akan benar-benar ditanya atas segala nikmat di dunia. “Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahan di dunia itu)”.

Maka mengapa kita habiskan waktu di dunia ini dengan bermegah-megahan?


Tentang Isi Surah Dan Pesan Yang Terkandung Di Dalamnya


Surah ini mencela orang-orang yang disibukkan oleh kemegahan hidup sehingga tidak menjalankan kewajibannya dan memperingatkan bahwa mereka kelak akan mengetahui balasan keteledoran mereka. Selain itu, surah ini juga mengancam bahwa mereka akan menyaksikan api neraka dan akan ditanya tentang kenikmatan yang mereka dapatkan selama di dunia.

Ikhwatifillah, kita ini hidup di fase akhir zaman. Fase kerasulan sudah lewat dengan diutusnya Muhammad bin Abdullah. Fase diutusnya Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman, dan Ali juga sudah dilewati. Tertutup sudah masa khilafah. Zaman kerajaan-kerjaan, dinasti-dinasti di Mesir, sudah hancur. Maka di sini kita sudah mulai masuk ke fase keempat yaitu fase fitnatul dajjal. Wujudnya memang belum nampak. Namun ajarannya, dogmanya sudah banyak. Bahkan bisa jadi ada di rumah kita. Melalui media televisi. Ajaran di televisi ini hampir semuanya hanya tontonan saja dan tidak ada tuntunan. Kebanyakan tontonan di televisi ini membawa kita pada kehancuran aqidah. Hanya ada beberapa acara televisi saja yang benar-benar mengikuti syariah. Dan ajaran dajjalisme ini harus kita waspadai. Orang-orang yang tergerak dengan Al-Qur’an membendung ajaran dajjal ini.

Manusia itu cenderung bermegah-megahan dalam urusan dunia. Ini fitrah manusia dan wajar.


“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”
(QS. Al-Imran: 14)


Di ayat ini Allah menjelaskan tentang kenormalan manusia. Allah membuat manusia cinta kepada shahwat. Yaitu seperti cinta kepada pasangan atau lawan jenis, ini normal. Cintanya seorang manusia kepada pasangannya lewat pernikahan. Kemudian cinta kepada anak dan cucu sebagainya. Ketika berkeluarga dapat ini dapat itu. Emas, perak, kendaraan, perusahaan atau harta-harta benda. Itu semuanya wajar. Yang tidak wajar adalah yang berlebihan. Dan manusia itu punya kecenderungan untuk mencintai dunia dengan sangat.

Di Suratul Fajr ayat 15 dan 16 menjelaskan bagaimana persepsi orang-orang pada umumnya. Kita harus belajar untuk jadi orang yang di atas rata-rata.

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: ‘Tuhanku telah memuliakanku’. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: ‘Tuhanku menghinakanku.’”

Ada 3 prinsip yang harus dipraktikkan. Terapkan laa tahab atau jangan takut, jangan galau, jangan khawatir, jangan cemas. Laa tahzan atau jangan sedih, jangan nangis, jangan murung. Laa taghdob atau jangan marah. Jangan khawatir dengan masa depan. Misalnya, kecemasan seseorang yang sudah mulai menua tapi belum juga dikasih jodoh. Ini adalah ketakutan yang tidak boleh ditiru. Yakin saja kita bersama dengan Allah, kita punya Al-Quran, sunnah, punya panduannya, semuanya sudah Allah takar, tinggal kita berjalan sesuai dengan apa yang Allah mau. Salahnya adalah kita berjalan sesuai dengan keinginan kita. Jangan ikuti nafsu yang menyesatkan. Lihatlah matahari, dia berjalan sesuai dengan fitrahnya. Gajah makanannya rumput, tidak pernah makan daging. Tapi manusia? Karena sering melenceng dari fitrah, akhirnya sakit. Allah tidak akan mencabut nyawa hambanya kecuali setelah disempurnakan nikmatnya. Jangan sedih dengan masa lalu. Kita bukan malaikat yang tidak pernah berbuat berdosa. Bukan pula setan yang tidak pernah berbuat baik. Kita ini manusia yang sudah pasti ada baik dan ada buruknya. Hanya ada dua sejarah yang akan terukir. Satu sejarah yang indah, yang satunya lagi kelam. Kalau sejarah itu kelam, masih banyak peluang dengan perbanyak istighfar. Minta maaf sama Allah. Sekarang sudah ada ilmunya. Perbaiki diri itu perlu. Tapi hati-hati dengan niat. Apa yang kita kerjakan jika tidak tulus atau tidak ikhlas, walaupun banyak amalannya ya sama saja. Jadilah orang yang banyak amalannya dan ikhlas. Allah tidak bosan mengampuni kita ketika hamba-Nya datang dengan hati yang bertaubat. Jangan marah dengan apa yang sudah terjadi sekarang. Berarti dia tidak terima apa yang Allah takdirkan. Karena kita hanya menjalani apa yang Allah mau. Jadi, berharaplah untuk mendapatkan taufiq.

Ya Allah, pertemukanlah keinginan kita dengan apa yang Engkau kehendaki. Aamiin, Allahumma aamiin.

Lalu satu lagi yang harus diingat. Jangan mencintai pasangan 100%. Karena mereka bukanlah Tuhan. Berikan cinta kita yang 100% itu kepada Allah. Hanya kepada Allah. Mereka hanya wasilah, manusia biasa, jangan sampai seorang suami menghamba kepada istrinya. Begitupun sebaliknya. Jangan sampai seorang istri menghamba kepada suaminya. Menghambalah kita semua hanya kepada Allah azza wa Jalla.

Harta yang melimpah, anak yang banyak, perusahaan, kalau saja tidak diperuntukkan untuk jalan Allah maka akan celaka. Sia-sia semua yang kita miliki di dunia ini.

Pesan terakhir, jadikanlah ayat-ayat ini sebagai dzikir, nasihat, hidayah, yang akan membawa kita dari kegelapan menuju cahaya Islam, bi’ithnillah.


Tafsir Ayat Ibnu Katsir

Kalian telah disibukkan oleh anak-anak dan pendukung-pendukung kalian oleh sikap sombong kalian terhadap harta dengan menghitung-hitungnya, dan juga oleh keturunan-keturunan kalian sehingga tidak menjalanakan kewajiban dan ketaatan sampai ajal menjemput.

Sungguh, kalian akan mengetahui balasan kebodohan dan keteledoran atas gemerlapnya dunia.

Dan sungguh jika kalian mengetahui dengan yakin betapa buruknya tempat kembali kalian, kalian pasti akan merasa terkejut dengan gaya hidup kalian yang bermegah-megahan dan tentu kalian akan berbekal diri untuk akhirat. Akan datang suatu hari orang-orang yang menyesal atas perbuatan di dunia.

Suratul Fajr ayat 21-23.


“Apabila bumi digoncangkan berturut-turut, dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris, dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu sadarlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi baginya kesadaran itu.”

Baru saat itu manusia sadar. Tidak ada lagi manfaat atas kesadaran itu. Ketika nyawa sudah di tenggorokan, tidak ada lagi manfaat untuk taubat kita. Sekarang ini belum terlambat. Allah bersumpah bahwa kalian pasti akan melihat api neraka yang menyala-nyala dengan mata kepala kalian sendiri. Allah akan menanyakan nikmat yang sudah kita dapatkan selama ini di dunia dan dipergunakan untuk apa harta dan rezeki tersebut.

Apa yang kita miliki sekarang bukanlah milik kita. Melainkan adalah milik Allah. Apa yang kita makan habis lewat belakang. Kerja kita dari pagi sampai malam, kalau hanya untuk makan, minum itu hina sekali. Kerja keras dikejar karena keinginan materi bukannya ridha Allah yang dicari. Kemudian apa yang kita pakai, usang, sobek kita buang. Apakah begitu kita bekerja? Dan yang ketiga, adapun harta yang kamu sedekahkan, itulah yang akan mengekalkanmu. Bisa jadi itu milik orang lain. Bisa jadi harta kita ini ada hak orang lain. Jadi takarlah mulai dari sekarang, mana yang paling banyak: yang kita makan, yang kita keluarkan, yang kita pakai, yang kita copot, atau yang kita sedekahkan?

Kehidupan kita ini sudah di penghujung dan kita butuh penyelamat. Apa saja penyelamat itu dan apa saja penghancurnya?

Pertama, ketakwaan.

Takwa dalam keadaan sunyi maupun ramai. Ini adalah bekal kita. Supaya kita tidak bermegah-megahan. Dasarilah bekal kia dengan takwa kepada Allah. 

Buah dari takwa adalah takut terhadap azab Allah. Dan malu jika berbuat dosa kepada Allah. Surga itu Allah dekatkan bagi orang-orang yang bertakwa. Awaabun—yaitu orang yang senantiasa bertaubat. Sedikit salah, taubat. Dengan cara istighfar maupun shalat sunnah taubat serta sedekah. Yang kedua adalah hafidzuun. Yaitu orang-orang yang menjaga norma-norma atau syariat yang telah Allah gariskan. Menjalankan segala perintah dan menjauhkan larangan-Nya. Selanjutnya, orang bertakwa itu punya rasa takut kepada Allah, meskipun ia tidak bisa melihatnya. Kalau pun ia tidak bisa melihatnya, tapi ia sungguh yakin bahwa Allah melihat dia kapan pun dan di mana pun.

Kedua, mengatakan yang haqq.

Kita harus berani mengatakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Patokannya adalah tegakkanlah kebenaran. Dan yang haqq adalah maqolallah wa maqolarasulullah. Hukum Allah dan sunnah Rasulullah. Tidak ada kebenaran kecuali dua hal tersebut. Selain itu adalah kesesatan. Maqolallah wa maqolarasulullah adalah kebenaran yang hakiki, kebenaran yang mutlak yang tidak bisa diganggu-gugat. Meskipun resikonya adalah nyawa.

Ketiga, sikap hemat.

Dalam keadaan kaya atau miskin kita tetap harus membiasakan diri untuk berhemat. Sebelum berumahtangga, kita sudah punya file aset masing-masing. Ada harta bawaan, dapatan, dan bersama. Harta bawaan adalah yang kita bawa sebelum pernikahan, dapatan adalah warisan atau hadiah setelah menikah. Tapi harta bersama misalnya membangun rumah bersama-sama. Gunakanlah manajemen keuangan secara syariah. Tidak ada orang kaya maupun orang miskin. Yang ada adalah yang sedang Allah kayakan. Dan yang sedang Allah miskinkan. Jangan sombong. Kita hanya dikasih lewat, nyicipin. Ketika meninggal, tidak ada yang membawa harta itu sampai di kuburan. Sekarang berbekallah sebelum terlambat. Allah tidak pernah melihat seberapa banyak hartamu. Tapi Allah melihat seberapa besar syukurmu.

Kemudian tiga hal yang akan menghancurkan kita:

Pertama, nafsu yang diperturut.

Ada nafsu yang selalu menyela dirinya. Menyesal telah melakukan dosa, sehingga terus-terusan saja menyalahkan diri sendiri tanpa memperbaiki. Kemudian ada juga nafsu yang mengajaknya bermaksiat. Ini yang paling banyak. Dari kedua nafsu ini ternyata adalah warisan dari setan. Namun berbeda dengan nafsu muth’mainah yang seirama dengan fitrah kita sebagai manusia. Ini adalah nafsu yang positif. Misalnya, merasa aman dan tenteram selalu berada dalam keridhaan-Nya dan menolak untuk bermaksiat kepada-Nya.

Kedua, kikir.

Sikap pelit. Akibat dari orang yang sangat cinta harta adalah tidak mau berbagi kepada sesama. Ia merasa sudah bekerja dan ia bisa bebas melakukan apa yang diinginkannya dengan hasilnya itu. Dia tidak sadar bahwa ada Allah yang Maha Memberi Rezeki. Sikap bakhil ini harus kita tanggalkan. Ini akan merusak akhlak kita.

Ketiga, bangga diri atau ujub.

Merasa diri sudah shaleh, sudah benar, sudah pintar, sudah banyak amalnya. Padahal belum tentu Allah melihatnya seperti itu. Hal yang wajib kita waspadai adalah kesalahan niat. Kalau niat kita hanya untuk agar dilihat orang, agar dikatakan shaleh oleh orang, maka sungguh itu bukan lilaahi ta’ala. Kita harus perbaiki niat kita sebelum berbuat.


Dimensi Iman


Jangan sampai kita lupa tujuan hidup karena sibuk berlomba dan bermegah-megahan. Ingat tujuan kita untuk menghambakan diri kepada Allah. Bukan menghambakan diri kepada bos, perusahaan dan materi. Boleh bekerja, kalau bisa bekerjalah dengan merdeka. Jadilah pimpinan yang dapat dipercaya. Supaya bisa memutuskan sesuatu sesuai dengan hukum Allah dan Rasul-Nya.

Semua nikmat yang kita peroleh akan dipertanyakan apakah digunakan untuk agama atau tidak. Orang kaya yang kikir tertunda masuk surga 500 ribu tahun lamanya karena tidak mempergunakan hartanya dengan baik. Sedangkan orang miskin yang bersyukur serta beramal shaleh tidak ada hisab harta dan lebih dimudahkan untuk masuk surga.

Ada empat perkara yang akan dipertanyakan ketika kita meninggal nanti.

Pertama, akan ditanyakan tentang usia yang kita habiskan.

Kedua, akan ditanyakan tentang apakah ilmu yang diterima sudah diamalkan atau belum.

Ketiga, akan ditanyakan tentang dapat dari mana dan dibelanjakan ke mana harta yang kita miliki.

Keempat, akan ditanyakan tentang mengapa jasad kita dirusak.
Misalnya, mata yang sudah tidak lagi melihat dengan jelas. Alhasil kita pakai kacamata. Jantung yang mulai rusak, karena kita sering merokok. Telinga yang kurang mendengar karena kita sering menyetel musik kencang-kencang dengan earphone.

Semua itu akan dipertanyakan dan dipertanggungjawabkan. Pertanyaannya adalah, apakah kita siap?

Pesan terakhir.
Tampakanlah kesederhanaan sebagai jalan hidup yang membahagiakan agar menjadi teladan bagi orang lain. Seperti pada ucapan dan sikap. Lihatlah Rasulullah yang tidak mewariskan harta benda kepada anak cucu beliau. Ia mewariskan ilmu yang kelak akan bermanfaat untuk keluarga, kerabat maupun umat. Tidur pun di atas pelapah kurma.

Lalu bagaimana dengan kita?



Wallahu’alam bisshawab.

1 comment:

  1. sampe bener-bener lengkap di tulisnya, mudah"an segera merilis buku mbak

    ReplyDelete