Visitor

Sunday, April 20, 2014

Tadabbur Al-Qur'an

Materi Tadabbur QS. Al-Ashr ayat 1-3
 19 April 2014

Oleh Ustadz Ali Nachrowi, Lc

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.”
(QS. Al-Ashr: 1-3)


Pendahuluan

Al-Ashr secara makna dapat kita artikan “demi masa” atau “demi waktu”. Kata “waktu” di sini memicu pada makna keseluruhan. Adakah dari kita yang merasa bahwa dirinya tidak rugi di waktu dalam sehari? Lihat saja orang yang bepergian, lalu-lalang, kemudian sibuk mengerjakan ini-itu, dan mungkin ada di sela kesibukannya, sekitar 30 menit diberikan waktu kosong yang membuatnya bingung atau tidak berbuat apa-apa. Saya ambil contoh ketika kita sedang menunggu bus di halte. Banyak dari kita yang menyepelekan waktu yang sedikit itu dan tidak digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat. Kalau di Arab, budaya mengajarkan masyarakatnya untuk tidak diam ketika sedang duduk bersama. Kalau kita diam, orang Arab itu akan menganggap kita tidak suka duduk di sebelahnya. Dan sebenarnya jika kita bisa gunakan waktu yang sedikit itu untuk dakwah, atau melanjutkan tilawah, atau mungkin belajar, justru ini akan jauh lebih baik daripada kita bengong-bengong tidak berbuat apa-apa.

Manusia itu mempunyai sifat pelupa dan itu merupakan fitrah. Belum lagi jika harus mengingat kejadian di masa silam. Tidak semuanya otak kita ini mampu mengingat secara detil. Mungkin hanya beberapa kasus saja yang tidak bisa dilupakan. Karenanya, Maha Baik Allah yang menciptakan manusia dengan semua kelebihan dan kekurangannya. Kalau saja otak mampu menyimpan semua daya ingat termasuk kejadian buruk di masa lalu, pasti akan berpengaruh pada kejiwaan kita. Tetapi Allah tidak membuat kita mampu mengingat semua kejadian yang telah terjadi. Oleh karena itu, waktu yang telah lampau, waktu kini, dan waktu di masa mendatang, kita harus pergunakan sebaik mungkin. Buatlah memori atau kenangan yang indah bersama Al-Qur’an, atau ibadah yang ditingkatkan, sehingga ketika kita kembali mengingat beberapa tahun yang lalu, “Oh ya, saya tahun kemarin alhamdulillah sudah bisa membaca Al-Qur’an...,” dan lain sebagainya.


Sesuatu Yang Besar

Wal ashr. Allah telah bersumpah dengan waktu.

Biasanya kalau kita bersumpah, pasti ada sesuatu yang besar di dalamnya—yang ingin kita tekankan dan sampaikan kepada lawan bicara kita. Sumpah itu fungsinya adalah untuk menguatkan orang yang mendengarkan kita. Ketika orang itu tidak yakin dan ragu pada kita, kita bisa meyakinkannya dengan sumpah. Di dalam metode Al-Qur’an, yang berbicara dengan kaum muslimin atau umat secara umum, itu datang dengan beberapa penguatan. Ketika berbicara sesuatu yang tidak terlalu urgent—misalnya tidak begitu menyangkut masalah aqidah, itu tidak terlalu dikuatkan.

Dan wal ashr, adalah  penguat.

Begitulah Al-Qur’an, ketika ada sesuatu yang besar, maka Allah akan menguatkannya dengan sumpah. Begitu besarnya wal ashr, sampai Allah bersumpah dengan waktu. Bahkan di ayat-ayat yang lain, Allah juga bersumpah dengan waktu.

Waddhuha, wal layli idzaa sajaa.

Kemudian di ayat lainnya,

Wassyamsi wadhuhahaa.

Di dalam surah ini, Allah menegaskan bahwa waktu adalah sentral kerugian manusia.

Namun...

Illaa,
Kecuali, orang-orang yang beriman dan beramal shaleh.  

Jadi ketika kita beriman, kita harus dibarengi oleh amal shaleh. Tapi itu juga tidak cukup, sebagai orang yang beriman, dakwah atau saling mengingatkan pada kebenaran juga merupakan kewajiban kita.

“...saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.”

Maka dari itu, orang-orang kafir dan musyrik akan terus bertanya-tanya, “Mengapa muslim sangat heboh dan khawatir ketika ada muslim lainnya yang pindah agama?”

Atau...

“Mengapa muslim sangat bahagia ketika ada seorang muallaf?”

Ya. Muslim adalah satu keluarga. Satu saudara. Bayangkan, seluruh umat muslim yang beriman di dunia ini, mulai dari Indonesia, atau negara-negara lainnya, seperti Amerika, Jepang, China, Korea, Itali, Prancis, Australia, Inggris, dan semuanya adalah saudara. Mungkin kita tidak bisa bertemu semua saudara semuslim kita di dunia. Tetapi Allah menjanjikan kita untuk dipertemukan kembali dengan saudara-saudara semuslim yang beriman yang sungguh mengharapkan rahmat Allah.

Kita tidak saling mengenal, namun ketika mengucapkan salam, maka satu muslim dengan muslim lainnya sungguh akan saling mendoakan. Bahkan ketika mereka tidak bisa berkomunikasi karena bahasa yang berbeda. Pernah terjadi pada saya ketika waktu itu bertemu dengan seorang muslim dari Turki. Saya bertanya, “Do you speak English?” ia mengatakan, “I’m sorry I can’t.” tapi saya tetap senang karena kami saling mengucapkan salam. Meskipun demikian, saya berusaha memahami bahasanya.

Seni seviyorum.” ucap saya percaya diri.

Karenanya, betapa bahagia kaum muslimin yang bisa mendapatkan saudara baru mereka yang baru saja bersyahadat, misalnya. Karena mereka seperti menemukan saudara mereka yang hilang dan baru saja pulang. Dan ini merupakan nikmat Islam yang diberikan Allah kepada kaum muslimin.

Kembali lagi ke perintah untuk saling menasihati kepada kebenaran.

Antara satu muslim dengan yang lainnya wajib saling mengingatkan. Dakwah tidak harus dilakukan oleh ulama-ulama besar. Kita yang masih muda dan masih belajar ini juga wajib berdakwah. Ingat, manusia yang pintar sekalipun pasti pernah melakukan kesalahan. Hanya yang bijak dari mereka yang mau belajar lagi dan membenahi kesalahannya. Kita juga harus begitu. Jangan sampai karena merasa kita bukan ustadz atau ustadzah, kita tidak percaya diri untuk berdakwah. Ucapkan ucapan yang baik untuk saudara-saudara kita, ingatkan mereka akan Allah, tidak perlu bernada memaksa atau marah, namun jika tidak berhasil juga, doakan saja. Semoga Allah memberikannya petunjuk.


Kerugian Terbesar

Manusia yang tidak merugi hanyalah mereka yang digolongkan Allah dari keempat golongan sebagai berikut:

Orang yang beriman,
Orang yang melakukan amal shaleh,
Orang yang saling menasihati dalam kebenaran dan kebaikan, dan
Orang yang saling menasihati dalam kesabaran

Dan kerugian terbesar bagi manusia adalah kekafiran. Orang-orang kafir tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Mereka tidak mempercayai bahwa amal perbuatan mereka akan diperhitungkan, dipertanggungjawabkan, dibalas. Makanya, mereka hidup di dunia ini tidak punya aturan. Semaunya saja. Dan kerugian orang-orang kafir telah banyak dijelaskan di dalam Al-Qur’an, tempat mereka adalah neraka.

Sedangkan bagi orang-orang yang beriman, walaupun di dunia ini terasa seperti begitu banyak cobaan dan masalah, sesungguhnya dengan masalah tersebut Allah jadikan jiwa orang-orang beriman kuat dan tangguh. Dan sabar itu mahal. Banyak orang yang mengatakan, “Kesabaran saya sudah tidak ada batasnya.”

Itu namanya bukan sabar. Karena sabar tidak memiliki batas dan Allah memperhitungkan kesabaran mereka dengan pahala yang setimpal.


“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat. Sungguh Allah beserta orang-orang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 153)


Teman-teman, banyak dari kita yang masih sering menyepelekan waktu. Apalagi waktu senggang. Waktu yang kosong itu malah kita pergunakan untuk tidur-tiduran, bermalas-malasan, atau internetan. Tanpa ada tujuan yang jelas. Tetapi para sahabat Rasulullah, lihatlah bagaimana mereka menggunakan waktunya yang singkat itu untuk beribadah, untuk dzikrullah, membaca Al-Qur’an, dan berdakwah. Walaupun kita yang hidup di akhir zaman ini mengalami berbagai kesulitan untuk beribadah tepat waktu, misalnya—bukan berarti kita berhenti mencoba, kan? Memang pada zaman nabi dulu terasa betul ibadah mereka. Tetapi untuk umat Rasulullah di akhir zaman, di mana Rasulullah tidak lagi bersama kita, tentu akan diberikan banyak ujian dan cobaan agar Allah dapat memisahkan siapa dari kita yang beriman, dan siapa dari kita yang tidak beriman.

Ada yang kerja sebagai sales, waktunya shalat, ia memohon-mohon kepada bosnya tapi bosnya menolak karena belum tiba waktu istirahat. Padahal adzan sudah berkumandang. Mana yang kita pentingkan? Panggilan Allah atau perintah atasan?

Ada juga yang kuliah selama 4 jam non-stop, kemudian datanglah waktu Maghrib yang hanya sebentar. Ia meminta izin kepada dosen untuk segera menunaikan shalat, tetapi karena saking pentingnya materi kuliah kala itu, si dosen menyarankan untuk menunggu sampai selesai. Sungguh, siapakah yang kita dahulukan?


Demi masa sesungguhnya manusia kerugian

Melainkan yang beriman dan beramal sholeh

Demi masa sesungguhnya manusia kerugian
Melainkan nasihat kepada kebenaran dan kesabaran

Gunakan kesempatan yang masih diberi moga kita takkan menyesal

Masa usia kita jangan disiakan karena ia takkan kembali

Ingat lima perkara sebelum lima perkara

Sehat sebelum sakit

Muda sebelum tua
Kaya sebelum miskin
Lapang sebelum sempit
Hidup sebelum mati

No comments:

Post a Comment