Visitor

Thursday, April 3, 2014

Materi Tauhid Sesi 1: Belajar Keyakinan

Seperti yang sudah pernah saya katakan sebelumnya, saya pengen berbagi sama teman-teman semua tentang apa yang saya baca dari buku Ustadz Yusuf Mansur dengan judul “Kuliah Tauhid”. In syaa Allah kita semua diberi kemudahan untuk mengenal Dia.

“Ada yang tahu, tapi tidak yakin. Ada yang yakin, tapi tidak mengamalkan. Ada yang tahu dan yakin, tapi tidak bekerja dengan apa yang diketahui dan diyakininya. Maka bekerjalah dengan apa yang diketahui dan diyakini.” – Yusuf Mansur

Nah,  sejujurnya saya paling suka banget nih ngebahas tentang materi tauhid yang dikaitkan dengan kejadian sehari-hari. Ternyata apa yang kita jalani itu benar-benar dekat sama ketauhidan. Mulai dari bangun pagi, jalan ke kampus, naik bus, pulang sore, macet-macetan, sampai akhirnya tiba di rumah dan tidur lagi di malam hari.

Misalnya begini ya. Saya kasih contoh sederhana dari paparan yang beliau tulis.
Selesai kelas, lapar, pengen ke kantin, makan nasi goreng.

Sebenarnya ini kejadian yang saya alami kemarin. Seusai kelas Kewirausahaan, perut saya sudah keroncongan. Pas melihat dompet, alhamdulillah ada uang. Terus kepikiran deh untuk makan. Clue yang pertama, ingat makan pada saat lapar. Pertanyaannya, ingat Allah nggak pada saat lapar? Nah loh, huehehe.

Jujur nih, pas saya jalan ke kantin, saya sambil baca bukunya Ustadz Yusuf Mansur, dan saking keasikannya saya sampai hampir nabrak mobil di parkiran. Saya memang suka banget jalan ke mana-mana sendiri. Sampai ke kantin pun lebih suka sendiri. Nah, begitu sampai di kantin, saya langsung pesan deh nasi goreng seafood kesukaan saya. Uang sih beneran ada. Jadi nyantai. Belajar tauhid kita akan dimulai dari mulai makanan saya datang. Bismillah.

Melihat nasi goreng yang wanginya sudah tercium ke mana-mana itu membuat perut saya tambah keroncongan. Berasa nikmat sekali makannya ini. Tapi eits tunggu dulu. Di saat-saat seperti ini, ente beneran bisa ingat Allah nggak? Bilang makasih nggak sama Allah? Bersyukur nggak? Berdoa dulu nggak sebelum makan? Atau langsung makan aja? Nah, kalau jawabannya langsung makan bisa jadi bahkan sudah pasti kita makannya ditemani sama setan. Jadi nggak berkah. Benar loh itu. Bedanya kita sama orang-orang kafir, mereka makan sama kaya kita hanya saja mereka tidak ucapkan “Bismillahhirahmannirahhim” pada saat ingin makan. Berasa yang ngasih makanan itu embak-embak yang ada di kantin. PADAHAL YANG NGIZININ KITA BISA MAKAN ALLAH.

Akhirnya, setelah saya makan kenyanglah perut saya. Tapi enggak kenyang-kenyang banget kok. Alhamdulillah, disyukuri. Nikmat banget beneran. Karena itu, sejak awal pertama kali ingin makan yang diingat bukan hanya embak-embak jual nasi goreng aja, tapi Allah juga. Karena sungguh deh, kita ini tidak tahu diri. Berasa sepertinya kita kaya punya uang dan tidak ingat siapa yang memberi sebenarnya.

Clue yang kedua, pada saat makan ngelus-ngelus perut sambil senyum. Pertanyaannya, pernah tidak kepikiran nasi gorengnya kita kasih ke orang yang membutuhkan walaupun kita lagi kelaparan?

Ini juga masuk dari materi tauhid.

Begini, di saat kita lapar, pasti yang kita pikirin adalah diri kita sendiri. Bagaimana caranya agar kita bisa makan dengan uang kita. Setidaknya begitu kan? Tapi orang yang tinggi ketauhidannya adalah orang yang bisa mikirin Allah dari awal lapar hingga saat Allah akhirnya kasih dia makan tidak pakai uang yang dia punya. Loh kok bisa?

Mari perhatikan baik-baik.

Misalnya kita pegang 10 ribu di kantong. Lalu jalanlah kita ke tukang nasi goreng. Bawa pulanglah itu nasi goreng. Maka kita tidak akan menemukan Allah di sana. Dan kita juga tidak mendapatkan Allah di hati dan pikiran kita. Kita akan menganggap, ya begitulah adanya. Kalau punya uang 10 ribu lalu jalan ke tukang nasi goreng, maka pulang akan bawa nasi goreng.

Kita lupa, bahwa hidup ini pun berisi kemungkinan-kemungkinan yang lain. Dunia ini bersifat relatif. Yang hakiki hanyalah Allah.

Bisa saja terjadi hal yang tidak kita inginkan, misalnya: begitu ke luar rumah nggak ada yang jualan sama sekali. Akhirnya bikin mie rebus aja di rumah.

Jika kita memahami dunia ini Allah yang mengaturnya, siapa yang kemudian mengatur bahwa kita bisa dapat dan tidak nasi goreng? Coba jajal ilmu yakin, bahwa Allah yang memberi semua makhluk-Nya dan atau menahannya.

Pada saat lapar, coba jangan dulu pakai uang kita untuk beli nasi goreng. Sebentar, kita bersyukur dulu. Doa dulu. Berterimakasih sama Allah sudah dikasih rasa lapar dan uang. Tambah mantep lagi kalau mau sedekah. Nah, gimana tuh jadinya kalau uangnya dipakai untuk sedekah?

Coba bilang begini, “Ya Rabb, saya mau beli nasi goreng. Ada 10 ribu nih. Mau beli dua bungkus, yang satu buat saya, yang satu buat orang lain.” atau sekalian bercanda sama Allah, “Ya Rabb, uang yang 10 ribu ini buat Engkau saja. Anterin saya nasi goreng yang nggak kudu saya beli, jadi duitnya kan pol buat hamba-Mu yang lain.”

Ayo ada yang berani nggak? :p

Lanjut ya. Habis itu kita langsung dengan pedenya mesen 2 bungkus nasi goreng. Anggap saja begitu. Bilang ke abangnya yang satu pedes, yang satu nggak. Niatkan yang nggak pedes itu untuk orang lain, siapatau ada yang nggak bisa makan pedes. Terus? Sejurus kemudian ada orang yang tidak dikenal.

“Beli nasi goreng juga?”
“Iya nih. Tinggal di sini?”
“Enggak. Saya lagi namu.”

Kemudian orang ini merogoh koceknya. “Bang, ini lima puluh ribu. Bikin 4 bungkus ya. Sekalian kembaliannya buat bayarin si mas ini dan buat abang sisanya.”

Masya Allah.

Merinding kagak kalau beneran seperti ini yang kita alami?

Saya saja bacanya udah berkaca-kaca ini.

Wallahu’alam ya. Tangannya Allah itu benar-benar nggak bisa kita duga. Segala cara pun bisa dilakukan-Nya. Jika kita punya uang, jalan, lalu pulang bawa nasi goreng, makan, kenyang, maka hal yang seperti itu tidak akan terjadi. Ini baru persoalan niat. Kita udah niat sedekahin untuk orang lain. Allah udah catat. Terus langsung dikasih gratisan nasi goreng, 2 lagi. Masya Allah. Begitulah cara kerjanya Allah. Nggak usah banyak-banyak perhitungan sama Allah. Sedekah pakai mikir-mikir dulu. Beli makanan untuk orang lain dibeliinnya nasi warung, bukannya nasi padang yang lengkap sama sambel-sambelnya. Beneran deh. Niatin aja dulu. Bagaimana nantinya nggak usah dipikirin. Yang penting ikhlas, dan jangan lupa untuk terus memohon ke Allah. Masa sih Allah akan ngebiarin hamba-Nya begitu saja sedangkan dia selalu nyebut nama-Nya? Kan enggak?

Teman-teman, gimana?

Ini baru nasi goreng loh. Masih banyak kejadian sederhana lainnya yang sebenarnya sering banget kita lalui. Jarang sekali terpikirkan untuk hal seperti ini. Dan barusan kita belajar untuk meyakini apa yang sudah kita ketahui dan mengamalkannya. Maka kita sudah bekerja dengan apa yang kita ketahui dan kita yakini.

Selamat ya. Hehehe.

Monggo yang mau coba ngetes di rumah. Ini bukan serta merta teori saya loh. Ini teorinya Ustadz Yusuf Mansur. Dan saya baru sekali bertemu langsung dengan beliau. Walaupun hanya sempat merekam suaranya yang bantu kami hafalan doa selama 19 menit di SoundCloud. Teman-teman boleh banget kok download rekamannya. Yap, beneran. Saya memang suka banget sama cara pembawaan beliau yang begitu bersahaja dan apa adanya. Ceritanya khas dan memang keseharian kita banget. Nggak usah yang rumit-rumit, cukup dengan ilustrasi yang sederhana tapi nancep. Mudah-mudahan dengan apa yang saya baca, kemudian saya rangkum dengan tulisan gaya saya bisa benar-benar mempermudah teman-teman semua mengenal ilmu tauhid. Dan masih banyak lagi yang ingin saya tulis sebenarnya. Tapi eits tunggu dulu. Pelan-pelan. Nggak bisa semuanya langsung saya tulis. Ada chapter-nya kayak buku. Ada judul-judul yang menarik. Pokoknya, selagi bisa nulis, saya akan coba nulis terus. Walaupun menulis artikel, non fiksi, atau bahkan diary saya sendiri itu beda banget. Saya nggak bisa samain. Ada kalanya saya ingin cerita to the point aja tanpa mikirin EYD yang benar, hehehe. Biar jleb gitu maksudnya. Tapi ada kalanya juga ketika saya nulis puisi atau artikel yang serius saya benar-benar masuk ke dalam materi bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kalau kata adik saya, tulisan saya ini santun dan sopan. Saya ketawa dengernya. Tapi overall, saya sangat bersyukur telah diberikan tangan-tangan ini yang akhirnya menghantarkan saya untuk menulis. Tentunya, saya nggak mau menulis kalau bukan untuk Allah.

Teman-teman yang dirahmati Allah, semoga kita bisa ketemu di bab berikutnya ya, in syaa Allah—masih tentang Materi Tauhid Sesi II, judulnya?


Oke, saya kasihtau deh. “Laa-ilaa-ha-illallaah.”

No comments:

Post a Comment