Visitor

Friday, April 11, 2014

Materi Tauhid Sesi 9: Ubahlah Bersama Allah

Rasulullah bersabda: “Jika mau meminta, mintalah sama Allah. Jika mau berharap, berharaplah sama Allah. Jika mau minta tolong, minta tolonglah sama Allah.”

Dan di dalam Surah Al-Baqarah ayat 186, Allah menyatakan akan mengabulkan semua doa. Namun siapa yang mau dikabulkan doanya, hendaknya mengikuti seruan Allah dan percaya sama Allah. Dan kalau dipikir-pikir, tentu susahlah orang mengikuti seruan Allah, jika tidak percaya. Seperti shalat dhuha. Allah bilang lewat Rasul-Nya, silakan dhuha, nanti Allah akan bukakan pintu rezeki. Silakan sedekah, nanti Allah akan melipatgandakan rezeki tersebut. Silakan shalat malam, nanti bakal ditinggikan derajatnya dan dimuliakan. Nah, terhadap perintah-perintah ini, akan susah kita jalankan kalau kita tidak percaya. Dan ketika kita percaya sama Allah, inilah iman. Dan ketika kita beriman, sesungguhnya terjadilah pelaksanaan apa yang menjadi seruan Allah.

Bicara soal keyakinan, saya mau kasih tips sedikit saja, tentunya ini berdasarkan pengalaman pribadi, hehehe.

Saya pribadi sih, sebenarnya orangnya lumayan suka ‘terbawa’ sama suasana dan lingkungan. Kalau teman-temannya suka jalan, ya kadang saya nggak enak untuk nolak. Tapi kalau teman-temannya suka main di rumah, saya senang berteman dengan mereka, hehehe. Karena selain bisa berhemat, main di rumah juga lebih aman untuk perempuan.

Nah, saya pun udah sering ketemu sama lingkungan ini, lingkungan itu. Sehingga saya bisa nilai, saya lebih cocok ke lingkungan yang mana. Nyamannya di mana. Terus, apa hubungannya sama keimanan?

Gini, kalau kita bisa pilah-pilih dan pintar dalam bergaul, kita bisa terbawa aura positif dari lingkungan itu. Bagaimana caranya kita agar bisa istiqomah dalam bertauhid? Ya bergaullah sama orang-orang shaleh. Yang suka nelaah hadist. Yang punya guru. Yang suka berlama-lama di masjid. Yang suka datang ke kajian. Nah, coba rasakan bergaul sama orang-orang seperti itu selama sebulan aja deh. Coba dulu. Teman-teman akan merasakan bagaimana mindset itu lama kelamaan akan berubah. Berubah lebih baik pastinya. Tapi, tetap hati-hati. Biarpun suasananya religi sekalipun, kalau ternyata mereka punya aliran-aliran aneh, jangan diikutin! Bahaya. Tauhidnya bisa hilang nanti. Yang penting sih menurut saya, banyak-banyakin cari informasi dari buku maupun internet tentang kajian-kajian dan komunitas-komunitas islami. Kalau merasa berat untuk masuk ke dalamnya, paling nggak ikut kajiannya aja. Catet hal-hal penting. Rutin. Izin orangtua juga. Minta restu, bilang mau cari ilmu agama. In syaa Allah diizinin. Terus satu lagi yang penting juga. Mulai renggangkan hubungan kita sama teman-teman yang punya pergaulan agak ‘rusak’. Bukannya menghindar atau memusuhi. Tapi sebaiknya kita jangan terlalu dekat. Kalau ingin tetap dekat karena tujuan berdakwah, ya gapapa. Asal jangan sampai terbawa kitanya. Kalau nggak bisa dikasihtau, mending pergi. Cari ilmu dulu. Baru kalau dikasih kesempatan, datang lagi ke teman-teman yang ‘rusak’ itu. Ceramahin deh mereka. Sukur-sukur bisa ngerti. Dan ingat, tidak ada unsur keterpaksaan juga ya. Diusahakan seperti itu.

Ini beneran pengalaman saya. Waktu masih SMA dulu, saya juga punya geng. Temen-temen deketlah yang suka nongkrong-nongkrong. Suka ngegosip. Curhat. Pokoknya seru-seruanlah. Saking ‘seru’-nya, kata “shalat” itu nggak pernah keluar. Kita udah terlalu jauh lupa sama Allah. Asik sama dunia ini. Astaghfirullah.

Tapi kemudian Allah teramat sayanglah sama saya yang dhaif dan hina ini. Begitu banyak dosa yang saya perbuat. Begitu lama saya meninggalkan Allah, tapi Allah malah kasih saya petunjuk. Nih, ente jalan deh ke sini. Ente bakal nemuin semua yang ente butuhin.

Akhirnya saya pergilah ke suatu tempat. Bertemulah saya dengan para muslimah dengan jilbab dan kerudungnya besar. Nggak ada yang pake celana jins. Nggak ada yang pake hijab modis. Semuanya pakai kaus kaki. Saya malu beneran. Dari sejak itulah, saya belajar banyak sama mereka. Bahkan saya dipertemukan oleh ulama-ulama yang ilmunya masya Allah. Beliau-beliaulah yang banyak menginspirasi saya untuk berhijrah. Ya, saya berhijrah dari lingkungan ‘rusak’ itu.

Intinya, kalau kita punya niat untuk berubah, Allah pasti ngeliat. Allah pasti ngebantu. Jangan ragu. Itulah janji Allah. Kalau kita sudah beriman, tunjukkan dengan perbuatan. Saat itulah kita menggantungkan harapan kepada Allah. Saat itulah kita memanjatkan doa sebanyak-banyaknya kepada Allah. Sekalipun Allah belum mengabulkan, tetapi bisa berdoa seperti itu saja sudah bahagianya minta ampun.

Kalau ditanya, orang berhijrah itu butuh waktu berapa lama?

Saya cerita sedikit ya. Saya pertama kali memakai hijab itu November 2012. Sekarang sudah April 2014 ya? Lumayan juga ya. Awalnya saya merasa kalau saya ‘butuh’ hijab ini. Dan awalnya juga hanya ‘coba-coba’ saja. Saya nggak bilang kalau saya benar-benar beriman pada saat itu. Jujur, masih banyak salahnya saya. Di tahun 2012 itu, saya masih sering nyakitin Allah. Makanya saya nggak mau bilang pada saat itu saya sudah beriman. Setidaknya, saya belajar. Saya benar-benar ingin belajar untuk mengenal Allah. Itu dulu. Akhirnya saya putuskan untuk berhijab. Perjalanan saya berhijab juga lucu. Awalnya saya berhijab agak modis gitu. Iseng sebenarnya. Masih belum syar’i. Apalagi melihat orang-orang santai berhijab seperti itu. Saya pikir, ah, nggak mengapa wong banyak perempuan muslimah yang pakai jilbabnya pendek kok. Lagian, yang penting kan pakai hijab.

Pikiran seperti itu beneran ada. Tapi lama kelamaan belajar, saya mulai nemu cahaya-cahaya-Nya Allah. Saya mulai jenus dengan diri saya sendiri. Saya mau berubah. Menjadi lebih baik lagi. Allah tunjukkanlah saya ke jalan yang saya tidak pernah sangka sebelumnya. Saya jalan santai aja, pelan-pelan. Dan bertemulah saya dengan orang-orang yang suka sama tulisan saya di blog, hehehe. Hingga meminta saya untuk fokus jadi jurnalis. Alhamdulillah. Kerjaan ini sebenarnya dari Allah. Dan bayarannya pun hanya Allah sajalah. Dan begitu saya masuk ke lingkungan seperti itu, akhirnya saya mulai menemukan jati diri saya yang baru, berubahlah saya.

Setelah itu, saya mulai mencari-cari lagi. Di mana letak keimanan itu? Saya mulai mikir. Saya mulai mikirin Allah. Mikirin terus. Walaupun saya tahu saat itu saya ada masalah. Tapi saya pikirin Allah saja. Ternyata, itu udah lebih dari sekadar solusi. Saya tenang banget. Allah-lah yang membawakan saya ketenangan itu. Rasa gelisah itu mulai muncul. Jika adzan berkumandang lalu tak disegerakan, hati ini rasanya pilu. Saya benar-benar ingin menegakkan shalat. Saya mau menjadi barisan shaf paling depan kalau saya shalat berjamaah. Kalau shalat di rumah, saya sudah siap jadi imam untuk ibu saya, hehehe.

Alhamdulillah alla kulli haal. Saat ini saya nulis lagi di halaman depan lobi kampus. Udaranya segar, sejuk. Nggak panas. Waktu sudah mulai menunjukkan pukul 15:10. 7 menit lagi di hp saya adzan. Saya mau coba untuk datang ke Allah dulu. Saya juga in syaa Allah sudah titipkan doa untuk teman-teman yang membaca tulisan saya. Semoga kita semua diberikan berkah dan rahmat dari Allah. Sehingga apa yang saya tulis, apa yang kalian baca, bisa menjadi amal shaleh. Aamiin.

Anyway, saya nulis tulisan ini dua hari yang lalu pada pukul menjelang Ashar di kampus.


Saya pamit dulu ya. 

No comments:

Post a Comment