Visitor

Thursday, April 10, 2014

Materi Tauhid Sesi 8: Tauhid Yang Menggerakkan, Iman Yang Menggerakkan, Bergerak Menuju Allah

Banyak yang mau berubah, tapi memilih jalan mundur. 
Jadilah orang yang manfaat, buat Allah, Rasul-Nya, Islam dan alam ini.
Baik saat kayanya, juga saat miskinnya.

Khusus di bab ini, saya langsung saja ke kasus ya.

Hari itu UYM atau kepanjangannya Ustadz Yusuf Mansur bertemu dengan seorang sekuriti yang ingin ngobrol-ngobrol sama beliau.

“Jadi pegimane? Bosen jadi satpam? Emangnya ga gajian? tanya UYM membuka pembicaraan.
“Gaji sih ada tadz, tapi masa’ gini-gini aja?”
“Gini-gini pegimane? Gini-gini aja itu, kalau ibadahnya gitu-gitu aja. Disetel kayak apa juga, agak susah buat ngubahnya.”
“Wah, ustadz langsung nembak aja nih.”

Ibarat kata percakapan di atas seperti ini: 
Manusia itu maunya banyak rezeki. Tapi sama Allah nggak mau mendekat. Rezeki mau nambah, tapi sama ibadah gitu-gitu aja. 

“Udah shalat Ashar?”
“Barusan tadz. Soalnya kita kan tugas. Tugas itu ibadah juga kan?”
“Oh, jadi apa-apa telat ya? Karena situ pikir kerja juga ibadah?”
Sekuriti itu senyum aja.

Disebut sekuriti ini jujur mengatakan itu, bisa ya bisa tidak. Artinya, sekuriti itu bisa benar-benar menganggap kerjaannya ibadah, bisa juga tidak. Cuma sebatas omongan doang. Kalau menganggap kerjaan-kerjaan kita ibadah, apa pun yang kita lakukan di dunia ini bisa juga memang sebagai ibadah. Itu karena kita niatkan sebagai ibadah. Tapi, itu ada syaratnya?

Apa syaratnya?

Yakni kalau ibadah wajibnya, tetap NOMOR SATU. Kalau ibadah wajibnya nomor tujuh belas, ya disebut bohong dah tuh “kerjaan adalah ibadah”. Misalnya lagi, kita niatkan usaha kita sebagai ibadah. Bagus itu. Tapi bila kita menerima tamu pada waktu shalat datang dan kita abaikan Allah—walau hanya 10 menit misalnya—apa masih pantas disebut “kerjaan adalah ibadah”?

Kembali ke cerita si sekuriti. Beliau mengatakan bahwa ia mengerjakan Ashar pada pukul 5. Lalu UYM pun memberikan nasihat, “Gini ya Kang, kalau situ shalatnya jam 5, memang untuk mengejar ketertinggalan dunia saja, jauh tuh. Butuh perjalanan dua jam kurang jika Ashar-nya jam tiga-an. Bila dalam sehari semalam kita shalat telat terus, maka berapa jarak ketertinggalan kita tuh? 5x dua jam, lalu dikali sekian tahun kita telat. Mainannya sekarang udah hitung-hitungan. Pokoknya bisa bener-bener jauh dah.”

“Iya tadz. Saya beneran mau berubah.” ujar si sekuriti dengan penuh harapan.
“Ya udah deketin Allah dah. Ngebutin ke Allah-nya.”

Akhirnya si sekuriti mengikuti saran UYM. Pertama, membenarkan shalat. Sebelum adzan sudah standby di masjid. Pokoknya dahulukan Allah biarpun kerjaan kita lagi sibuk banget. Yang kedua, keluarin sedekah. Pokoknya pol-pol-an. Si sekuriti ini awalnya ragu. Karena untuk biaya hidupnya saja tidak cukup dengan gajinya. Apalagi mau sedekah? Belum lagi hutang di warung, angsuran motor pun belum lunas. Tapi karena niatnya keukeuh, akhirnya dia sedekah deh. Gajian bulan depan sudah diambil langsung. Kasbon. 1,7 juta. Nggak cuma itu, dia juga ngebenahin mati-matian shalat sunnahnya. Shalat sunnah taubat, hajat, dhuha, tahajjud, witir, semuanya. Baca Al-Qur’an disempet-sempetin. Dan perlahan-lahan dia mengubah kebiasaan lamanya menjadi kebiasaan baru. Yang sebelumnya nggak pernah dia kerjain. Itulah barangkali yang sudah membuat Allah mengunci mati dirinya hanya menjadi sekuriti sekian tahun, padahal dia Sarjana Akuntansi.

Kemudian, the miracle is coming...

Di kampung, ada transaksi tanah, yang melibatkan istrinya. Istrinya disuruh pulang untuk tanda tangan akta jual beli. Katanya, dari transaksi ini, Allah mengganti 10x lipat. Bahkan lebih. Dia sedekah 1,7 juta dari gajinya sebulan. Tapi Allah menganugerahi istrinya dari komisi penjualan tanah di kampungnya sebesar 17,5 juta. Dan itu terjadi begitu cepat.

Akhirnya dia malu sama Allah. Motornya yang dia sayang sekarang sudah dijual. Uangnya buat sedekah lagi. Nggak sampai di situ. Si sekuriti ini kemudian diketahui oleh owner pom bensin tempat kerjanya tersebut sebagai sarjana S1 Akuntansi. Lalu dia dimutasi di perusahaan si owner yang lain, dan dijadikan staf keuangan di sana. Masya Allah. Berubah. Berubah. 

Teman-teman sekalian, cerita di atas bukan sekadar cerita tentang sedekah ya. Tapi ini soal keyakinan, tauhid, keimanan seorang hamba kepada Tuhannya. Tauhid yang menggerakkan! Dan mereka ini yang bekerja menggerakkan dia hingga mampu berbuat sesuatu.

Semoga kita juga termasuk sebagai hamba-hamba yang senantiasa mampu menegakkan tauhid. Aamiin.

No comments:

Post a Comment