Visitor

Wednesday, April 9, 2014

Materi Tauhid Sesi 7: Perjalanan Tauhid, Perjalanan Keyakinan

Seberapa percayanya kita sama Allah? Ini yang menjadi pertanyaan tauhid dan iman kita pada-Nya. Allah akan bekerja sesuai dengan kepercayaan kita kepada-Nya. Memang terkadang sesuatu berjalan “seperti” tidak sesuai dengan kepercayaan kita pada-Nya. Tapi yakinlah, kita akan kaget sendiri manakala kita teguh pada apa yang kita yakini.


Air Gula Untuk Bayiku

Seorang bapak yang berusaha mencari rezeki dengan penuh kesabaran. Saat itu ia ada uang 1 juta. Uang itu sejatinya ditahan untuk tabungan bayar kontrakan yang 2 bulan lagi bakalan habis. Juga susu anak, listrik, dll. Ia butuh 1,4 juta. Udah ada 1 juta. Uang 1 juta ini boleh ngumpulin selama 1 tahun sepanjang 2006. Ia dan istrinya tahu bahwa sekalipun ditahan uang 1 juta ini, maka ia masih kurang 400 ribu. Ya, ia masih butuh 400 ribu. Maka, bila kemudian ada tawaran bahwa uang akan berlipat ganda, minimal 10x lipat, maka sangat layak dipikirkan. Apalagi masih ada waktu 2 bulan. Jika bener diganti sama Allah, ia dan istrinya akan megang uang lebihan sebesar 8,6 juta.

1 juta disedekahkan, hasilnya 10 juta.

Lalu mereka bayarkan kontrakan rumah dan tempat usaha sebesar 1,4 juta. Sisanya 8,6 juta.

Ihtisaabal-litsawaabish-shodaqoh, berharap penuh balasan Allah di urusan sedekah, ia dan istrinya sepakat untuk menyedekahkan uang itu. Juga dengan segala resikonya.

Sekian minggu ia tunggu keajaiban sedekah, tapi tak kunjung datang. Susu anak sudah ia gantikan dengan air gula. Ia kasih anaknya biskuit-biskuit kecil pengganjal makanan. Rasa sesal di hati istrinya selalu ia tepis dengan keyakinan bahwa Allah tidak mungkin menyia-nyiakan iman dan amal salehnya akan janji-janji Tuhannya.

Keyakinan dan kesabarannya berbuah. Keridhaan bayinya juga meminum air gula, membuat keberkahan Allah datang. Dan datangnya ga maen-maen. Ia dapat order nanganin katering 16 ribu orang 3x sehari. Hanya dalam hitungan beberapa bulan saja, uangnya sudah 1 miliar!

Dari dia, ada pesan yang disampaikan untuk kita semua. Sekali sudah ditempuh jalan Allah, tidak ada cerita tidak berhasil. Pasti berhasil. Hanya, sabar, dan terus jalani kehidupan ini. Biarlah ia mengalir, melewati tikungan anak sungai yang namanya kesulitan, kesukaran, sebagaimana alaminya alam ini yang berisi dua hal—kesenangan dan kesusahan. Sungai pasti ada ujungnya. Dan inilah yang menjadi keyakinan kita.

Ada juga bumbu kisahnya yang tak kalah menariknya. Di tengah situasinya yang hampir bener-bener game over, hampir mereka ini pinjam uang ke kerabat dekat, atau bahkan orangtua. Tapi mereka nggak jadi minjem. Mereka bilang, andai mereka jadi pinjam, maka Allah belum tentu bakal turun tangan. Mereka saat itu pasrah. Andai mereka diusir dari kontrakannya, andai mereka tidak bisa bayar listrik kontrakannya lalu malu kepada yang punya kontrakan, andai mereka tidak bisa membeli susu buat bayinya lalu bayinya jadi sakit, atau mati sekalipun, maka biarlah Allah tahu, bahwa semua ini terjadi sebab mereka berdiri di atas keyakinannya akan janji-janji Allah. Masa iya itu semua akan terjadi? Begitulah si suami dan istri meyakinkan diri mereka.

Disaat “bercanda” dengan kesusahannya, si suami dan istrinya itu menawar sebuah rumah bagus. Ga tanggung-tanggung, rumah seharga 700 juta ditawarnya, sebagai “alternatif” andai mereka benar-benar diusir sama dari kontrakannya. Dia tawar rumah tersebut, dan mengatakan akan membayar dalam tempo 2 bulan. Cara bicaranya meyakinkan, sungguh pun si pemilik rumah tidak yakin dengan penampilan pembeli rumahnya. Dan itu kelak benar-benar terjadi. Masya Allah. Bahkan bukan hanya rumah itu yang bisa ia beli tepat waktu. Tapi juga ia bisa membangun satu perusahaan katering dengan aset hampir 20 miliaran dalam tempo 1 tahun. Bahkan untuk tahun 2008, dia memegang kontrak katering yang sangat-sangat besar. Sejumlah 38 miliar rupiah.

Subhanallah.

Cerita ini benar-benar nyata. Dan nyadarin kita semua bahwa keyakinan itu penting. Keyakinan akan karunia dan pertolongan Allah. Coba kalau kita jadi mereka, duit nggak megang, bentar lagi diusir dari kontrakan, untuk beli susu bayi aja belum sanggup, masa iya berani-beraninya menawar rumah 700 juta dan akan dibayar dalam waktu 2 bulan? Yakali tiba-tiba uang 700 jutanya jatuh dari langit gitu? Kan kalau kita mikir pakai logika susah juga tuh. Masa iya sih dalam 2 bulan kita udah bisa megang 700 juta? Nah ini nih. Namanya tauhid. Namanya keyakinan kita kepada Allah. Apa sih yang nggak bisa Allah lakuin untuk hamba-Nya? Coba perhatikan bagaimana Allah ciptakan bumi dan isinya serta luar angkasa dan langit-langitnya yang tinggi. Allah aja sangat mudah membuat itu semua. Masa iya untuk ngasih kita 700 juta sulit? Kan enggak. Sangat mudah. Masalahnya terletak pada keyakinan kita. Kita percaya nggak?

Waktu kemarin-kemarin saya kehilangan hp yang baru 20 hari saya beli dari uang ibu saya, saya pun percaya bahwa Allah itu baik banget menghadirkan si pencopet yang akhirnya ngambil hp saya. Hilanglah sudah. Ibu saya uring-uringan karena nyesek uangnya yang baru 20 hari itu ludes gitu aja. Sempet saya mikir, kenapa nggak uang beli hpnya saya sedekahin ya? Kan lumayan tuh gede juga sedekahnya. Berjuta-juta. Hehehe. Saya terus yakinin ibu saya bahwa semua itu sudah Allah yang ngatur. Bukan bermaksud membela diri, mentang-mentang saya nggak mau dibilang teledor banget. Sebenarnya kakak-kakak saya juga udah marahin saya dan nyalahin kalau saya ini orangnya memang ceroboh. Ya oke lah saya mengakui kok. Tapi itu kembali lagi ke tauhid kita. Allah sudah ngatur jam segini, di hari ini, si pencopet bakalan datang. Udah intinya percaya dulu. Habis itu benerin diri. Banyak-banyak mohon ampun sama Allah.

Hari itu hari Jum’at. Saya kehilangan hp yang bener-bener baru saya beli. Dan sekali lagi, saya bersyukur Allah hadirkan si pencopet itu. Saya jadi tahu rasanya “nyesek”. Saya jadi banyak-banyak beristighfar. Saya jadi belajar sabar. Saya jadi belajar ikhlas. Saya jadi belajar hati-hati lagi. Dan masya Allah banyak banget pelajaran yang saya ambil selepas kecopetan itu. 3 minggu kemudian, di hari yang sama—Jum’at, sore-sorenya waktu jalan-jalan ke Roxy nemenin ibu saya beli hp nokia, saya “merintih” sama Allah. “Ya Allah, saya manusia biasa yang punya nafsu. Terkadang saya kepengen megang hp lagi. Saya jadi susah ngubungin orang-orang. Saya pengen hp baru ya Allah. Yang kaya itu tuh.” Sambil nunjuk ke salah satu hp yang terpajang di sana. Saya nggak minta sama ibu saya. Diem aja saya. Mintanya sama Allah. Eh, pas pulang ke rumah, saya terima telfon dari om saya, dan beliau langsung nanya mau hp apa. Masya Allah. Masya Allah.

Allah benar-benar ganti setelah 3 minggu itu saya nggak pegang hp. Dan gantinya nggak nanggung-nanggung. Lebih bagus dari hp sebelumnya! Bahkan saya dikasih iQuran pro lagi. Masya Allah. Waktu saya pake hp sebelumnya saya kepengen banget nge-download iQuran pro cuma berbayar. Eh ini dikasih gratisan. Padahal ya kalau boleh dibilang, shalat saya nggak bagus-bagus amat. Sedekah juga masih kecil-kecilan. Doa juga nggak kenceng-kenceng amat. Tapi saya berusaha menguatkan tauhid saya. In syaa Allah atas apa yang saya ceritakan barusan tidak menjadi riya’. Niat saya semata-mata cerita begini hanya karena ingin menebalkan dan menekankan dari cerita sebelumnya tentang si suami dan istri yang jadi pengusaha katering. Niat saya beneran hanya ingin berbagi. Saya senang kalau dikritik. Entah salah di mana, saya ingin perbaiki lagi. Tapi biar begitu, sebelum nulis, saya usahakan untuk shalat dan doa ke Allah semoga apa yang saya tulis ini benar-benar murni ingin dakwah, ingin berbagi, agar orang-orang bisa menangkap pelajaran dari tulisan-tulisan ini. Bukan semata-mata karena ingin dipuji atau memperlihatkan amal karena ingin dibangga-banggakan. Bukan. Apalah arti pujian itu jika Allah tak suka. Lebih baik Allah saja yang puji.

Ngomong-ngomong, saya jadi curhat banyak. Hehehe. Masya Allah, buku setebal 380-an ini benar-benar saya ingin rangkum di blog saya. Saya suka banget buku ini. Bermanfaat. Membuka pikiran kita. Biarpun pegel, ngetik melulu, bahkan saya coba usahakan untuk sempet-sempetin ngetik pas pulang kuliah—mana pulang sampe rumah malem lagi, hehehe. Ya begitu deh. Saya coba sempetin untuk tetep nulis. Sehari 2 bab misalnya. Tapi in syaa Allah ini akan jadi penyemangat saya untuk tetap menulis. Tetap bekerja untuk Islam. Allahu’akbar!


Menjadi Lemah, Menjadi Kuat

Allah menyuruh kita untuk percaya pada-Nya, mengikuti seruan-Nya, dan bersandar hanya kepada-Nya. Lalu suami istri itu menyerahkan semua kesusahan dan masalahnya kepada Allah. Malah dalam keadaan yang sulit itu mereka sedekahkan uang terakhir mereka. Karena mereka percaya, sedekah di saat sempit itu sangat masya Allah. Daripada sedekah di saat kita benar-benar punya uang. Tapi bukan berarti kita yang punya uang harus nunggu susah dulu baru sedekah. Nggak gitu.

Sebenarnya bisa saja si suami istri ini minta tolong sama saudaranya, keluarganya. Tapi mereka mengurungkan semua niat itu dan mintanya diganti, sama Allah aja. Polin kepasrahannya. Bila jalan tauhid sudah ditempuh, amal saleh sudah dikerjakan, maka teruslah pelihara keyakinan, kesabaran, dan baik sangka, sampai tidak ada lagi batasnya.


Uang Bensin Yang Ditukar 1000x Lipat

Allah percaya kepada manusia. Dia berikan dan dia titipkan alam ini pada manusia. Dia bahkan titipkan rezeki dan karunia khusus untuk manusia. Tapi manusia banyak yang tidak percaya pada-Nya.

Sampe mana kepercayaan akan janji Allah itu bisa bekerja untuk kehidupan kita? sampe tidak ada komanya. Melainkan hanya ada titik. Ya, titik. Alias percaya, ya percaya. Jangan ada tanda tanya ke Allah.

Syahdan, seorang buruh pabrik bersedekah 1000 rupiah di akhir pengajian tentang sedekah. Sedangkan uang 1000 ini sedianya untuk membeli bensin yang memang harganya saat itu 1.700 per liter. Jadi, 1000 rupiah tersebut untuk beli setengah liter bensin. Yang penting motornya bisa jalan bolak balik ladang ke rumah, rumah ke ladang. Tapi hari itu, dia memilih menyedekahkan uang 1000 rupiah untuk berharap keajaiban sedekah bisa terjadi pada dirinya. Sungguh ia pun bosan dengan keadaan dirinya.

Segala keraguan ia tepis. Termasuk bayangan mendorong motornya apabila bensinnya habis di tengah jalan. Tapi di saat yang sama, ia pun mencoba menghibur diri bahwa ia siap mendorong motornya itu sampai ke rumah. Inilah yang ia anggap perjuangan sedekah.

Dan apa yang terjadi, baru beberapa ratus meter saja bensinnya sudah habis. Jadilah ia mendorong motornya itu. Mengeluhkah ia? Tidak! Ia siap. Maka ia nikmati saja kejadian ini. Ia dorong motor ini dengan enteng, padahal motornya ini vespa!

Dan pertolongan Allah benar-benar nyata. Baru beberapa langkah ia mendorong, ia dihampiri oleh pengendara mobil kijang yang ternyata kawan lamanya yang sedang berkunjung ke kampung tersebut. Oleh kawannya ini, ia dibelikan bensin yang cukup baginya menghidupkan motor. Tidak sampai di situ, ia juga diberikan uang 1 juta di dalam amplop tertutup yang baru saja ia ketahui setelah sampai di rumah. Subhanallah. Betapa benar janji Allah. Terlebih lagi, terhadap mereka yang teguh kepercayaannya kepada Allah.

No comments:

Post a Comment