Visitor

Tuesday, April 8, 2014

Materi Tauhid Sesi 6: Allah Tidak Pernah Meninggalkan Kita, Kita Yang Banyak Melupakan Allah, Banyak Melalaikan Allah

Ada seorang bapak yang datang dalam keadaan bermasalah. Namun berbeda dengan yang lain. Ia datang dengan senyuman. Ia berbagi pengalaman bahwa ia senang Allah bangkrutkan.

“Kalau saya tidak dibangkrutkan Allah, saya sudah terlalu jauh dari Allah.” begitu katanya.

“Sangat jauh malah. Saya banyak bermaksiat dengan rezeki dan jalan yang justru sesungguhnya diberikan oleh Allah.” katanya lagi.

“Selama saya jauh dari Allah. Saya merasa sangat tidak tenang. Hidup saya tidak tenang. Saya tidak tahu tujuan hidup saya. Dan yang lebih jelas lagi, dosa.”

“Dosa?”

“Ya. Dosa. Makin lama Allah biarkan saya dalam kekayaan, makin banyak rasanya dosa saya. Jangankan urusan yang nyata-nyata sebagai dosa. Urusan meninggalkan shalat sunnah saja kan sebenarnya dosa. Ngentengin sunnah. Begitu kan?” ujarnya.

“Nah. Saya bahkan menyepelekan shalat wajib. Saya ngebayangin, betapa saya menzalimi Allah yang sangat sayang kepada saya. Hingga saya bersyukur bahwa saya diberi-Nya karunia kejatuhan ini.”

Luar biasa. Bapak ini berhasil menaruh baik sangkanya kepada Allah, dan berhasil memetik hikmahnya.

Pengertian sunnah bagi beberapa orang ada yang menganggap seperti ini: bila dikerjakan mendapat pahala, bila tidak dikerjakan tidak mengapa.

Akhirnya, sampai ada ucapan: “Ya udalah ya. Kan cuma sunnah ini.”

Bapak itu melanjutkan ceritanya.

“Sejak bangkrut, hidup saya jadi penuh dengan masalah. Tapi semakin besar masalah saya, semakin saya ingin bersyukur. Saya anggap, beban masalah saya adalah pengurangan dosa saya. Semakin berat, maka akan semakin besar pengurangannya. Saya ikhlas menjalani ini. Ridho sekali. Daripada dipendem di kuburan yang mengerikan, ini saya terima. Saya terima perlakuan dan intimidasi orang-orang yang uangnya di saya dan saya tidak bisa mengembalikan. Saya terima cacian dan makian keluarga saya, saya terima sikap tidak pedulinya kawan-kawan yang kadang menyakitkan saya sebab saya begitu memperhatikan mereka. Saya terima semuanya.”

“Saya berdoa, agar saya bener-bener deket. Bukan hanya perasaan saja yang dekat, tapi sesungguhnya jauh. Saya berdoa malah agar masalah saya jangan cepat selesai kalau saya belum kuat imannya. Biar saja saya begini dulu. Dunia ramai sekali di luar diri saya, tapi saya merasakan hebatnya bersepi-sepi dengan Allah.”

Amalan dan shalat si bapak satu ini sungguh luar biasa setelah ditimpa masalah besar. Teguran dari Allah itu ternyata mampu mengubah hidupnya. Dia juga berkata untuk tidak khawatir akan masalah yang datang ke kita. Biarlah Allah yang mengatur hidup kita. Biarlah. Hingga nanti saatnya datang, Allah akan mengulurkan pertolongan-Nya, dan mengangkat derajat kita. Sementara itu, Allah mempersiapkan diri kita untuk menjadi individu yang lebih baik lagi dan lebih hebat lagi. Maka manakala Allah sudah mengangkat kembali hidup kita, in syaa Allah dengan izin-Nya, kita akan menjadi manusia-manusia yang bermanfaat.

Ketika bercerita tentang keyakinan kepada Allah, saya pun termasuk orang-orang yang berusaha belajar meyakini bahwa Kekuasaan Allah itu ada, pertolongan Allah itu ada, dan keyakinan-keyakinan lain yang positif.

Saya udah ogah ngikutin pikiran-pikiran negatif. Pengennya positive aja. Karena dengan berpikiran positif, otak dan tubuh kita akan cenderung ceria, senang, bahagia, segar, dan juga bersyukur. Coba kalau bawaannya negatif melulu, yang ada gampang cemas, suka menduga-duga, perasaan tidak enak, dan yang paling parah suka meratapi nasib dan nggak mau move on, apalagi disusul sama malesnya kita beribadah ke Allah.

Saya lebih mengusulkan untuk teman-teman yang sedang banyak masalah, tekanan batin, sakit keras, musibah atau apa pun itu, mari datang ke Allah. Dia tidak pernah sedetik pun meninggalkan kita. Kitanya saja yang lupa punya Dia. Kalau ada masalah keluarga yang rumit, coba diskusikan. Diskusikannya lebih dulu ke Allah ya. Pokoknya pol-pol-an minta tolong sama Allah dulu. Karena teori tauhid itu benar-benar terasa kalau kita bisa menomor-satukan Allah di mana saja dan kapan saja. Kalau udah bisa mendahulukan Allah dibanding dunia, in syaa Allah kita sudah bisa mengimplementasikan teori tauhid itu sendiri.

Sudah dekati Allah, sudah maksimal ibadahnya, hati sih tenang, tapi kok masalah nggak kunjung-kunjung selesai?

Sabar mas, mba...

Kembali ke cerita si bapak tadi yang bangkrut. Rupanya beliau meyakini bahwa semakin lamanya dia dirundu kesulitan, berarti Allah akan semakin banyak mengampuni dosa-dosanya. Berbaik sangkalah kita kepada Allah. Karena sungguh, Allah tidak pernah menyalahi janji. Cuma satu ya itu. Sabar. Sabar. Tetap semangat dan senyum! Itu penting banget. Anggap saja, Allah itu lagi ngeliatin muka kita yang ketekuk-tekuk, hehehe. Terus Allah bilang ke kita, “Aduh. Jelek noh mukanya cemberut gitu. Senyum dong.”

Hehehe. Maaf ya jadi memvisualisasikan begini.

Saya memang selalu menjadikan ‘visualisasi’ tersebut sebagai motivasi diri agar kita MALU sama Allah sebagai hamba-Nya. Ya, bagaimana nggak malu. Pas mau interview bajunya super rapi, celana dimasukin, rambut dicukur, pakai parfum, sepatu bersih, semuanya deh. Biar dikira karyawan yang baik kali ye. Nah itu. Mau ketemu manusia yang bisa gaji kita aja sampai segitunya. Tapi... begitu ketemu Allah (re: shalat)—yang punya Dunia ini, yang ngasih kita hidup gratis, yang ngasih rezeki dari mulai kita lahir sampai mati nanti, yang ngasih apa pun yang kita butuhkan—bajunya nggak rapi, kumel, wudhu asal basahin wajah aja, udah gitu nggak tepat waktu lagi shalatnya, yang lebih parah, malah tetep asyik main LINE games biarpun adzan kedengeran. Padahal ya. Ibaratnya kalau boleh kita ‘visualisasikan’ lagi, Allah udah nungguin hamba-hamba-Nya di masjid, mushola. Tapi mana nih, hamba-Ku kok cuma segelintir yang datang? Ibarat kata begitu dah.

Perlu ditegaskan sekali lagi. Proses untuk mencapai titik di mana seorang hamba mampu ‘berjalan’ di dunia ini dengan tauhid yang dimilikinya memang tidak gampang. Saya kasih contoh sederhana. Gini, maaf sebelumnya. Saya anggap ini bakal jadi pelajaran buat kita semua ya. Bukan berarti saya ini hebat atau lebih pinter dari kalian-kalian semua, nggak gitu. Saya nggak mau dianggap menggurui. Tapi, saya berusaha untuk sharing sama kalian semua dari apa yang sudah saya dengar, saya lihat, saya amati, dan yang pasti saya rasakan. Semua pengalaman itu bermanfaat buat saya pribadi. Tapi kagak bisa buat saya bahagia kalau saya pendem sendiri aja. Selama itu tujuan dan niatnya untuk mencari ridha Allah, in syaa Allah kita semua diberikan kesempatan untuk mendapatkan rahmat-Nya, aamiin. Panjang amat ya introduction-nya. Hehehe.

Oke, begini ceritanya.

Ada seorang mahasiswi cantik berhijab dan diberikan anugerah sama Allah kepintaran. Sebut saja Bunga. Nah, dia ini selain pintar, energik dan mampu menyemangati diri sendiri dan juga orang lain. Sifatnya lemah lembut, baik, pokoknya idaman para pria banget deh. Bahkan karena saking pintar dan beruntungnya dia, banyak yang iri. Ya, bagaimana nggak iri, udah cantik, pintar, dapat beasiswa, terkenal di suatu organisasi—yang membuat orang-orang berdecak kagum sama dia, disayang sama guru, dapet pekerjaan sebelum lulus kuliah, begitu wisuda langsung pergi ke suatu negeri untuk bekerja di sana. Selama kuliah, Bunga nggak pernah keluar uang sedikit pun untuk biaya semester. Kuliahnya juga sangat baik. IPK-nya subhanallah. Kerjaan tuh rasa-rasanya malah datengin dia, bukan dia yang nyari. Teman-temannya buanyak banget. Sayang sama dia. Pokoknya, kalau ngebayangin kehidupan Bunga, udah lengkap banget deh.

Beberapa hari sebelum Bunga berangkat ke suatu negeri di mana tempat dia bekerja, tiba-tiba saja Bunga meng-upload foto dirinya di social media. Betapa kagetnya! Bunga melepas hijab! Dan memperlihatkan auratnya ke mana-mana, termasuk rambutnya yang kata orang “bagus”. Nah loh. Kenapa bisa dilepas?

Begini...

Kita pun menyadari terkadang ketika mulai masuk dunia kerja, ada beberapa prasyarat yang harus diikuti. Apalagi untuk perempuan. Sebenarnya perempuan itu gampang untuk mendapatkan pekerjaan. Masalahnya, halal atau tidaknya si pekerjaan itu. Maksud saya di sini, jika seorang perempuan bekerja apakah pekerjaannya itu dinilai ibadah atau bukan. Ini letak perbedaannya.

Perempuan. Lagi-lagi ngebahas perempuan. Apalagi skripsi saya berhubungan erat dengan women’s working. Seru sih. Saya suka banget. Dan kalau di Indonesia ini memang ada beberapa perusahaan asing atau bahkan perusahaan dalam negeri yang meminta pekerja wanita untuk tidak memakai hijab. Dan diwajibkan berdandan. Ini yang bahaya. Si perempuan mungkin oke-oke saja. Wong dia kan pasti mikir, “Cari kerja itu susah. Sekalinya dapet pekerjaan masa ditolak? Kan syaratnya cuma lepas jilbab aja. Ya kalau lagi kerja dilepas aja. Kalau lagi di mana, di keluarga, acara lain kan bisa pakai lagi.”

Bahaya beneran bahaya. Si perempuan bisa-bisa menjadikan pekerjaannya itu sebagai tuhan. Naudzubillah. Sadar nggak dia kalau dia bisa kerja dan dapat gaji gede itu karena izin Allah? Mungkin kagak sadar. Yang dia takuti justru kalau dipecat sama bos. Makanya oke-oke aja disuruh lepas jilbab. Dapatlah dia gaji yang gede. Gede banget. Bahkan bonusnya berkali-kali lipat. Bisa jalan-jalan ke luar negeri, bisa belanja banyak, wah pokoknya asik deh. Lengkap banget hidupnya, ibaratnya gitu.

Nah, balik lagi ke Bunga. Ilustrasi saya tentang perempuan yang melepas hijab demi pekerjaan sebenarnya cukup mewakilkan tokoh Bunga dalam kasus ini. Bunga dengan santainya melepas hijab yang sudah bertahun-tahun ia kenakan. Dengan sedikit berdandan, dan semakin suka meng-upload foto membuat orang-orang sejenak berpikir.

Sampai sekarang pun, kalau saya bandingkan ke-lucky-an saya pribadi sama dia, mungkin jauh banget. Sebenarnya ini nggak bagus. Tapi saya cuma kasih gambarannya aja ya biar kita semua bisa belajar dari pengalaman ini. Ya, kalau saya bandingkan dengan diri saya yang masih males belajar. 4 kali ditolak sama institusi yang menyalurkan anak-anak beasiswa. Belum lagi, selalu membuat uring-uringan ibu di rumah karena saya belum punya penghasilan sendiri. Jadi setiap kali harus bayar ini-itu ya masih minta beliau. Sedangkan Bunga? Dari sebelum lulus kuliah, sudah dikasih pekerjaan sama Allah. Sehingga bisa pegang uang sendiri. Sekali apply beasiswa, langsung masuk. Langsung dapat pekerjaan lagi, nggak perlu nyari-nyari lagi. Belum lagi keluarganya yang mendukung. Teman yang banyak. Kalau lagi susah, langsung dikerubungi teman-teman. Sedangkan saya? Boro-boro punya teman dekat di kampus, hehehe. Kalau lagi susah, nggak berani ngomong sama orang-orang. Cukup Allah aja yang tahu.

Nah, sekian perbandingannya hehehe dan istighfar dulu karena takutnya saya ini jadi nggak bersyukur. Tapi biar bagaimana pun saya melihat Bunga, saya benar-benar merasakan nikmat Allah itu yang tiada tara. Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan Allah juga menyempitkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Subhanallah. Jangan ragukan itu. Allah kasih rezeki yang begitu banyak ke Bunga mulai dari kepintaran, pekerjaan, beasiswa, teman dan keluarga, kemudahan ini-itu dan semuanya yang lain-lain yang kita tidak ketahui. Orang akan benar-benar iri sama si Bunga ini. Tapi sebagai orang yang ingin belajar bertauhid, belajar yakin sama karunia Allah, belajar ikhlas, belajar bersyukur, kita kudu lihat di kasus lain supaya bisa nangis karena keimanan tersebut. Begini, kalau kita terus-terusan melihat atau memperhatikan orang yang ‘di atas’ kita, pasti yang muncul ya perasaan-perasaan seperti itu aja. Bahkan yang lebih parah sampai ada ucapan, “Kok Allah nggak adil ya? Aku shalat 5 waktu tapi nyari kerja susah, beasiswa nggak dapet-dapet. Dia yang jarang shalat bahkan sudah melepas hijabnya sekali nembak langsung dapet tuh beasiswa, langsung berangkat ke negeri orang lagi buat kerja.”

Ini nih. Ini nih. Bahaya.

Kalau kita yakin Allah nggak pernah ninggalin kita, buat apa mikirin kehidupan orang lain yang dikasih Allah lebih dari kita? Buat apa coba? Daripada nge-stalking atau ngeliatin timeline orang itu yang selalu update misalnya lagi di Onsen, atau lagi lihat bunga sakura, dll, mendingan kita gelar sajadah, habis itu ngadu deh ke Allah. Bilang yang sejujur-jujurnya. Sekalipun kita nggak cerita, memang Allah sudah tahu perasaan hati kita. Tapi prinsip saya, curhat ke Allah itu wajib banget. Terserah gaya bahasanya mau dibikin gimana. Yang penting tetap sopan dan jangan terkesan ‘’maksa”.

Allah mendengarkan doa kita.
Allah menantikan curhatan kita.

“Ya Allah, aku bersyukur nggak dikasih kerjaan sekarang. Aku bersyukur nggak dikasih beasiswa itu. Aku bersyukur belum lulus kuliah. Aku bersyukur... aku bersyukur... aku bersyukur... sungguh, aku bersyukur karena Engkau telah mengingatkanku untuk menggelar sajadah ini, kemudian bercerita dan mengadu kepada-Mu. Sungguh, aku amat bersyukur. Belum tentu mereka-mereka yang Engkau beri nikmat lebih daripadaku mengingat-Mu. Belum tentu mereka-mereka yang sedang asyik dengan duniawinya mengingat untuk datang kepada Yang Memberi mereka Nikmat. Belum tentu mereka-mereka yang sedang menikmati hasil gaji untuk berbelanja dan jalan-jalan mengingat untuk menggelar sajadah ini. Padahal yang memberikan semua itu kepada mereka yaitu Engkau, ya Rabb. Engkau yang mengizinkan. Tetapi mereka lupa terhadap Tuhannya, mereka lalai terhadap Tuhannya. Sungguh, nggak mengapa ya Rabb jika aku belum dikasih kerjaan sekarang. Karena Engkau tahu aku harus menyelesaikan skripsiku dulu dan fokus belajar. Nggak mengapa ya Rabb jika aku belum bisa mendapatkan beasiswa itu karena kalau aku dapat, bisa-bisa aku lulus di tahun 2016. Nggak mengapa ya Rabb jika aku belum lulus tahun ini karena dengan begitu aku mampu membenahi nilai-nilaiku yang jeblok di semester awal. Dengan begini, aku bisa memperbaiki IPK yang ancur-ancuran sebelumnya. Semua yang Engkau berikan tentu baik untukku. Dan karena itulah, aku bersyukur. Aku kembali bersyukur kepada-Mu ya Rabb.”

Seperti itulah luapan hati seorang hamba yang sedang ‘mengemis’ pada Tuhannya. Berharap, bertumpu, meminta, memohon pertolongan hanya kepada-Nya.
Percaya kan, kalau Allah nggak pernah ninggalin kita?

Kita lihat bagaimana kelanjutan cerita si pemudi yang curhat sama Allah seperti tadi, yang bersyukur sekalipun keinginannya belum terkabulkan. Si pemudi tadi melihat orang-orang di sekitarnya dimudahkan jalan oleh Allah. Jalan yang mana dulu nih? Ya jalan menuju kebahagiaan. Kebahagiaan dunia tentunya. Iya. Si pemudi ini memang dikelilingi oleh orang-orang yang sedang berbahagia karena Allah berikan karunia besar, nikmat yang banyak, dan juga kesenangan hati. Sedangkan si pemudi musti kejar setoran untuk menyelesaikan kewajibannya sebagai mahasiswi. Tapi si pemudi ini tidak menyerah. Berusaha untuk tetap semangat dan yakin kalau Allah pasti sudah merencanakan sesuatu yang besar sekali. Subhanallah. Nggak bisa diceritain kelanjutannya sekarang dan in syaa Allah tahun depan dilanjutkan. Semoga Allah masih memberikan kita umur untuk berbagi. Aamiin.

No comments:

Post a Comment