Visitor

Monday, April 7, 2014

Materi Tauhid Sesi 5: Semua Ada Waktunya, Semua Ada Akhirnya

Sebagaimana malam yang segera akan berakhir dengan pagi. Segala sesuatu juga ada akhirnya. Termasuk segala permasalahan yang kita hadapi. Ia ada ujungnya. Pertaubatan dan amal shaleh kitalah yang mempercepat perjalanan itu. Dan dosa baru kita yang memperlambatnya.

Ada kisah seorang ibu muda. Sebut saja Bunga. Beliau memproses perceraiannya sejak tahun 2001. Nggak selesai-selesai. Alih-alih berharap bisa bercerai cepat supaya bisa memulai hidup baru, eh malah beberapa ujian kehidupan muncul. Ibunya menyuruhnya bersabar. “Semua ada waktunya,” begitu kata ibunya.

Setelah sekian tahun, ia diberitahu ibunya agar bersedekah dengan apa yang ia punya. Sedekah yang besar. Bersedekahlah ia.

Dua tahun terakhir, ia perbaiki hidupnya. Bila sebelumnya ia tidak berhijab, sekarang dia sudah berhijab dan memperbanyak taubat. Ia juga sering ke acara kajian supaya bisa mengemban ilmu agama lebih dalam. Ia lupakan soal perceraiannya. Ia segarkan dirinya dengan iman. Dan memang, banyak manusia yang gara-gara secuplik drama kehidupannya yang tidak enak, lantas kemudian membuat matanya tertutup dari karunia Allah. Kesusahan hidup, tidak sebanding dengan karunia Allah berupa “hidup” itu sendiri.

Akhirnya, waktu yang ia tunggu tiba. 2 tahun sejak ia memperbaiki diri dan mulai bersedekah dalam jumlah yang besar, ia mendapatkan keputusan cerai. Yang luar biasa, mantan suaminya ini memberinya uang yang sangat besar. Ia mengaku tersentuh dengan ketabahan mantan istrinya, dan ia meminta maaf tidak bisa mengurus anaknya. Sebagai kompensasinya, suaminya ini memberi uang nyaris 1 miliar dari hasil tabungannya pasca bercerai. Bukan karena harta gono gini. Mantan suaminya hanya minta diikhlaskan segala kesalahannya. Yang membuat Bunga ini agak berdebar dengan cara kerja Allah, mantan suaminya ini bercerita, tabungan yang nyaris 1 miliar tersebut adalah tabungan 2 tahun terakhir.

Masya Allah. Suaminya ini “bekerja” sebab diatur Allah. Yang mana hasil kerjaannya itu adalah buah sabar dan sedekahnya.

Kadang saya berpikir, untuk mendatangkan sesuatu yang istimewa dari Allah sebenarnya tidak perlu susah-susah mikir. Cukup dengan perdekat diri dengan-Nya saja. Dengan tetap menjaga amal, perbanyak dan perkuat rasa cinta kepada Allah. Perbaiki diri. Itu sangat penting. Sembari menunggu “hadiah” itu, nikmati saja waktu-waktu yang Allah berikan ke kita dengan tetap bersyukur. Mungkin pernah sewaktu-waktu, sebagai manusia yang kodratnya suka mengeluh ada kalanya kita bosan atau lelah menunggu. Tapi percayalah, janji Allah itu pasti. Akan ada waktu yang terbaik.

Dan “perjalanan waktu” bisa dipercepat atau bahkan diperlambat. Salah satunya adalah karena keyakinan kita sendiri kepada Allah, dan amal keseharian kita. Amal baik mengantarkan kita pada kepada karunia Allah. Dan amal buruk akan menghambat karunia Allah datang. Dan hakikatnya, kalau kita selalu merasa ditemani Allah, maka sesungguhnya tidak akan pernah ada masalah buat kita. Bukankah yang kita cari di dunia ini adalah kedekatan diri dengan Allah? Kalaulah kita harus mendekatkan diri kita kepada Allah adalah melalui pintu masalah, rasanya itulah berkah buat kita.

Tidak ada yang datang kepada Allah, kecuali Allah pun datang kepadanya.

Ada yang berharap ketika ia datang kepada Allah, maka Allah betul-betul datang kepadanya. Datang dengan segenap pertolongan dan kebaikan Allah. Dan Allah pasti datang. Tapi memang kehendak-Nya, bukan kehendak kita. Kita hanya bisa memohon, bukan memaksa. Kita hanya meminta, bukan mengatur.

Dengan mendekatkan diri kepada-Nya, bukan berarti kita nggak dikasih ujian. Justru, sebagai bukti kasih sayang-Nya, Dia kasih kita cobaan yang datang dari cobaan yang satu ke cobaan yang lainnya. Kalau kita lulus, Allah janjikan kita untuk naik kelas. Sama seperti kita sekolah. Bedanya kalau sekolah, yang menilai dan menaikkan kelas adalah guru kita. Ini Allah. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Beneran deh, nggak ada masalah yang Allah timpakan ke kita tanpa Allah kasih solusinya. Cuma terkadang, kitanya saja yang masih belum “menerima” apa-apa yang menjadi solusi. Pada saat masalah itu datang, kita malah stres. Mengabaikan perintah Allah. Malah asyik menyibukkan diri dengan jalan-jalan atau pergi ke pesta supaya bisa lupa sama masalahnya. Terus nyoba ini, nyoba itu. Tau-taunya bikin ketagihan. Tau-taunya digrebek polisi. Tau-taunya hamil. Banyak lah kejadian seperti itu di sekitar kita. Ini karena mereka yang belum “menerima” solusi dari Allah. Padahal, kalau kita semakin mendekatkan diri ke Allah, shalat malam, puasa, bersedekah, menyantuni anak yatim, senyum sama saudara sendiri, kasih orangtua hadiah, bersyukur dengan apa yang masih dimiliki, wah, Allah pasti bangga banget deh. Ibaratnya seperti ini Allah berkata,

“Hamba-Ku yang satu itu benar-benar luar biasa. Dikasih cobaan yang berat tetap bisa senyum. Malahan nambah rajin shalatnya, ibadahnya. Hebat. Akan Kukabulkan permintaannya dan akan kunaikkan dia dengan derajat yang lebih tinggi. Karena dia telah berusaha sabar dan mencintai-Ku. Hingga Aku juga mencintainya.”

Kira-kira seperti itulah. Kita memang kudu banget sabar. Sing sabar pokoknya. Sama nih, pesan saya sama sahabat-sahabat saya yang suka nge-dumel ke saya dan teman-teman. Pengen nikah cepat katanya. Lagi-lagi, sabar. Sabar. Allah tahu waktu yang terbaik untuk kita bertemu sang jodoh. Sahabatku yang satu itu memang sudah kelihatan matang dan siap untuk menikah. Namun jodoh tak kunjung muncul. Penantiannya jadi semakin membuatnya berdebar-debar. Tapi begitulah namanya kehidupan yang dikasih gratis sama Allah. Penuh dengan teka-teki. Hadiah. Kejutan. Dan semuanya yang serba “mengagetkan”.

Memang tadinya saya sudah tahu kalau saya bakalan jadi jurnalis?
Memang tadinya saya sudah tahu kalau teman-teman saya ‘memaksa’ saya untuk terus menulis?
Memang tadinya saya sudah tahu kalau saya akan ketemu guru-guru terbaik dan teman-teman yang saling bertukar ilmu?
Tidak.
Saya tidak tahu sebelumnya bahwa Allah merencanakan ini.
Allah yang merencanakan agar saya fokus jadi penulis, jurnalis.
Allah yang merencanakan agar saya tetap menulis dan berkarya terus.
Allah yang merencanakan pada tahun sekian, tanggal sekian, bulan sekian, di usia saya yang sekian, saya akan bertemu dengan orang-orang yang mampu mengubah mindset saya. Tentunya menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Tanpa ada keraguan saya di dalamnya. Padahal sebenarnya sebelum saya seperti ini, saya sedang sakit. Rasanya sulit untuk menyembuhkan rasa sakit itu. Apalagi untuk urusan ibu saya. Saya paling susah maafin orang yang sudah membuat orangtua saya kecewa. Nah, tapi hebatnya, Allah nggak lama nyuruh saya jalan ke sana, ke sini, hingga saya menemukan celah. Hingga pada saat ini saya menulis untuk Islam. Hingga pada detik ini saya menangisi masa jahiliyah saya dan memohon ampun kepada Allah. Hingga pada menit ini saya bahagia dan bersyukur karena Allah telah menganugerahkan saya hidayah, kekuatan, ilmu, rasa cinta kepada Islam yang teramat dalam. Hingga membuat saya tidak pernah ingin berhenti menulis. Berharap jika saya meninggal nanti, masih ada orang-orang yang mengenal saya—karya-karya saya. Bentuk pengabdian saya terhadap Islam. Tidak hanya sekadar belajar untuk diri sendiri, tapi juga untuk umat.


Begitu juga kalian ya.

No comments:

Post a Comment