Visitor

Sunday, April 6, 2014

Materi Tauhid Sesi 4: Tabungan Amal

Bagi kita yang cepat dikabulkan doa-doanya oleh Allah mungkin sebab kita sudah punya tabungan amal, hingga kemudian Allah mencukupkan amal kita itu untuk hajat yang kita inginkan. Namun bagi yang jarang mengisi amal tabungan, apalagi (misalnya) masih belum bisa meninggalkan maksiatnya, mungkin terasa sulit sekali untuk dikabulkan doanya oleh Allah. Nah, di bab kali ini saya akan coba kulas bagaimana tabungan amal itu bekerja dan berpengaruh. Keep reading, ya.

Ada satu kisah menarik dari seorang ibu bernama Bu Yuyun. Kita simak ya.

Ibu dengan anak semata wayang itu membesarkan anaknya seorang diri. Bu Yuyun namanya. Sejak putranya masuk SMA kelas 1, suaminya meninggal. Dari hari ke hari ia kuatkan batinnya bahwa ia tidak sendirian dalam membesarkan anaknya. Ia bersama Allah. Ini yang diyakininya. Dalam shalat pun, ia selalu berharap agar diberikan rezeki yang cukup untuk bisa memenuhi kebutuhannya dan anaknya. Masya Allah.

Di rumahnya, ia membuka jahitan rumahan. Ia bertutur, selalu ada saja pelanggan di saat yang tepat ia membutuhkan rezeki. Sudah diatur Allah, begitu katanya.

Sejauh ini, aman-aman saja.

Sampai kemudian anaknya pergi hari itu untuk melihat kelulusannya. Ia mengidam-idamkan untuk masuk ke perguruan tinggi idamannya.

Bu Yuyun berdebar-debar. Ia tahu, kalau anaknya lulus, ini akan jadi masalah untuk dirinya. Kalau anaknya tidak lulus, pun masalah buat dirinya juga. Tentu saja ia senang dapat masalah dengan berupa kelulusan anaknya. Masalahnya tentu saja apalagi kalau bukan uang kuliah anaknya. Tapi segera ia banting sesuai dengan pengalamannya selama ini. Ada Allah yang Maha Pemberi Rezeki. Dan ini yang membuatnya tenang.

Ia kenal dengan Allah, bahwa Allah selama ini senantiasa mencukupkan rezeki kepadanya dan anaknya. Jadi sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Ia tahu bahwa Allah Maha Tahu bahwa ia sedang membesarkan anaknya. Dan Allah pun tahu bahwa hari ini akan ada kabar tentang nasib anaknya. Kondisi ini sudah ia sampaikan ke Allah jauh-jauh hari, bahwa ia butuh biaya untuk anaknya lulus. Dia yakin, Allah pasti akan memenuhi kebutuhan anaknya. Ia malah bersemangat sekali untuk tambah lebih dekat dengan Allah. Sekali lagi, ini yang membuatnya tenang.

Dan memang Allah Maha Mengatur. Sehari setelah anaknya dinyatakan lulus, Allah kirimkan pamannya anak ini, alias adik almarhum suaminya. Hari itu, beliau berkunjung silaturahim. Dan Allah alirkan rezeki untuk anaknya lewat pamannya ini. Bukan hanya untuk uang masuk kuliahnya saja, tapi juga untuk biaya kuliah secara keseluruhan.

Masya Allah.

Dan ini yang perlu kita belajar darinya. Bu Yuyun mendatangi Allah sejak pagi-pagi ia mendapatkan masalah. Bahkan, sebenarnya, ke perguruan tinggi ini, ia sudah berangkat menuju Allah. Ya, ia berdoa dan menitipkan kejadian-kejadian rezeki di masa yang akan datang, sedari awal.

Beda Bu Yuyun, beda pula dengan kita. Biasanya kita datang ke Allah kalau sedang ada masalah saja. Atau ketika ada keperluan. Meskipun mendatangi Allah, atau mendekatkan diri kepada Allah lewat pintu ini—pintu masalah dan hajat—adalah diperbolehkan bahkan dianjurkan, namun sering membuat tauhid orang suka rusak jika ia suka buruk sangka, tidak sabar dan tiada ilmu. Andai Allah tidak segera mengabulkan, maka ia akan cenderung putus asa. Cenderung marah-marah, dan bahkan tidak sedikit menyalahkan orang yang menasihatinya.

Dari setiap apa yang pernah saya baca tentang materi-materi yang diberikan Ustadz Yusuf Mansur, saya selalu suka bagian ini:

Setiap ingin melakukan amal kebaikan apa pun, coba untuk shalat sunnah taubat. Barangkali tubuh kita ini masih ada penyakit dosa. Barangkali kita pernah melakukan 10 dosa besar yang sampai sekarang belum sempat taubat. Atau menyepelekan dosa itu. Minta ampun sama Allah. Dan niatkan untuk tidak mengulanginya lagi.

Sungguh pun kita tidak punya dosa besar atau tidak pernah melakukannya, toh shalat sunnahnya pun nggak akan jadi sia-sia kan? Tetap dihitung pahala.

Karena itulah, baiknya sebelum beramal, kita koreksi diri dulu. Jangan sampai kita jadi orang yang menyepelekan perbuatan dosa masa lalu walaupun itu dosa kecil. Tetap kita harus minta ampun sama Allah. Supaya pada saat kita berhijrah dan beramal, akan terhitung amal shaleh. Wallahu’alam. Tapi ini nasihat. Semoga saja kita dicukupkan dari tabungan amal yang akan membawa kita ke Jannah. In syaa Allah bi’ithnillah.

1 comment:

  1. Aku nangis bacanya T.T bukan karna kisah bu yuyun..tapi karna kata kata kak okta yang ngungetin ak sma dosa T.T

    ReplyDelete