Visitor

Saturday, April 5, 2014

Materi Tauhid Sesi 3: Allah Sebagai Pusat

Orang-orang yang mengenal Allah dan meyakini-Nya in syaa Allah akan tenang hidupnya, jauh dari segala kekhawatiran, jauh dari kegelisahan.

Ada sepasang suami istri datang. Mereka meminjam mobil tetangga. Namun saat mereka pinjam, mobil itu hilang. Dan itu meninggalkan masalah mestinya. Tetangganya minta ganti mobil tersebut. Untuk mengganti sebesar 130 juta atau mobil sejenis, bagi pasangan suami-istri ini tidak mudah. Mobil tetangganya ini sudah dilengkapi alarm, GPS. Dan tidak ada asuransinya. Masalah menjadi jadi sebab tetangga ini jadi orang kalap. Ia melaporkan ke polisi sebagai perbuatan yang menyengaja mobil ini menjadi hilang dan tuduhan macam-macam.

Mereka begitu tenang.

Pertama, mereka sadari ini Kehendak Allah. Apakah Allah hendak menyusahkan mereka? Mereka menjawab, tidak. Allah pasti menghendaki yang baik-baik. Siapa yang mengizinkan mobil tetangganya itu mereka pinjam? Allah. Siapa yang menghendaki mobil itu hilang ketika dipakai? Allah. Mereka tandatangani surat pernyataan bakal mengganti dengan penuh ketenangan. Luar biasa.

Ketika ditanya mengapa bisa tenang? Mereka bilang, hanya dengan mengingat Allah, hati jadi tenang. Dari kisah suami-istri ini saya malah belajar lagi rangkaian ayat-ayat di bawah ini:


“Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan dunia, padahal kehidupan dunia itu dibanding dengan kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan yang sedikit.”
(QS. Ar-Rad: 26)


Suami istri ini berkisah, mereka menganggap ini adalah pelajaran iman. Pelajaran tauhid. Bukan masalah. Bukan persoalan. Tapi berkah. Siapa yang beruntung selain yang mendapatkan pelajaran dari Allah dan Allah langsung yang mengajarkannya?

Luar biasa...

Apa pun yang terjadi, bagi suami-istri ini adalah kehendak Allah. Mereka senang, mereka susah, sepenuh-penuhnya bukan urusan manusia. Tapi urusan Allah. Dan saya membenarkan. Banyak orang yang gagal mendapatkan sesuatu, gagal mengerjakan sesuatu, gagal mencapai sesuatu, atau sebaliknya, lalu tiba-tiba saja mereka mempersekutukan Allah?

Begini misalnya.

Ada orang yang sudah mengumpulkan uang sampai 80 juta. Niatnya ingin pergi haji. Tapi kemudian anaknya ada keperluan mendesak. Dia harus cairkan uang itu tapi untuk urusan anaknya. Bukan untuk urusan hajinya. Kalau keluar omongan: “Mestinya saya pergi haji tahun depan, sudah daftar, dan bisa langsung lunas. Tapi ada-ada saja. gara-gara anak saya, akhirnya saya gagal deh berhaji.”

Tipis sih. Mungkin kita juga tidak ada maksud mempersekutukan Allah. Namun kualitas pembicaraan sungguh akan mempengaruhi kualitas hati. Segitu urusannya urusan anak sendiri. Kalau orang lain yang ngembat, akan lebih sengat lagi ngomongnya.

Ada yang sudah mempersiapkan biaya S2. Tapi iparnya datang. Butuh uang. Sedang uang persiapan S2 belum lagi dipakai. “Silakan dipakai, tapi jangan sampai Desember besok ya mulanginnya. Mau dipakai untuk pendidikan si abang S2.” begitu kata istri ini mengingatkan. Tapi kemudian sampai 2 tahun dari perjanjian yang hanya 1-2 bulan saja, uang itu tidak kunjung dikembalikan. Nah, tuhannya siapa tuh kalau begitu? Banyak yang kemudian tidak menerima dan kemudian segalanya jadi berantakan. Harusnya kan yang berantakan kalau pun harus berantakan adalah S2-nya saja. Tidak ngembet ke kehidupan yang lain. Suami istri ini menyalahkan keadaan, menyalahkan si pemakai duit. Kalau enggak dipakai, tentu sudah selesai S2. Dan akan semakin bertambah tuhannya. “Kalau S2, kan bisa naik pangkat, naik karir. Kebetulan ada promosi di kantornya suami.” keluh istrinya.

Wah, benar-benar semakin banyak tuhannya. Memangnya ada yang bisa mendatangkan manfaat dan menolaknya, selain Allah? Apa benar kalau uang ada, pasti bisa S2-nya? Apa benar kalau bisa S2 lalu bisa naik pangkat? Dan apa benar juga kalau tidak ada uang tidak bisa S2? Dan apa benar kalau tidak S2 tidak bisa ikut promosi? Memang siapa yang bisa mengizinkan seseorang naik pangkat, turun pangkat atau malahan dipecat?

Kebaikan baik sangka kepada Allah, akan membuat ketenangan dan juga akan semakin hebat. Seperti yang dialami suami istri yang ketempuan harus mengganti mobil yang hilang.

Apa sudah lapor polisi? Sebagai ikhtiar, sudah.

Kembali lagi ke suami istri ini. Mereka kemudian tanda tangan saja. Dengan entengnya mereka mengembalikan kepada Allah. “Asalnya masalah ini adalah Allah. Jadi ya dikembalikan saja lagi kepada Allah.”

Tapi darimana menggantinya?

Mereka tidak mikirin. Mereka mau mikirin Allah saja. “Bisa stres kalau mikirin masalah.”

Benar. Tapi stres nggak? Ya stres juga sih. Tapi mereka mau melawan. Terasa sekali ada perlawanan untuk tidak stres, untuk tetap tenang, untuk tetap yakin akan pertolongan Allah.

Semua kejadian di masa depan dan yang sudah kita lalui, siapa yang perkasa untuk mendapatkan dan menghindarinya? Tidak ada. Sekuat apa pun kita tidak akan bisa menolak. Selemah apa pun kita, sebaliknya tidak mesti harus tertabrak masalah.

Suami istri ini memposisikan sebagai yang lemah. Allah yang Maha Kuat. Seberapa pun mereka menghindari kejadian ini, hanya akan menambah lemah dan lemah, sakit dan sakit. Akhirnya yang ada hanya sesal nantinya. “Coba dulu nggak usah pergi, kan nggak usah pinjem mobil. Coba dulu nggak usah pengen enak, pake angkot aja. Pake taksi dah. Kan nggak perlu kehilangan mobil.” makin dicari-cari kalimat seperti ini, makin semakin banyak faktor pembuat tidak tenang, gusar, gelisah, dan sempit hati. “Coba tuh mobil ada asuransinya, kan nggak repot.” Percayalah, pikiran kita akan memberikan kontribusi negatif lebih banyak lagi: “Mana hanya pegawai rendahan, dari mana ganti mobilnya?” nah kan, makin diterusin. Memangnya kalau pegawai rendahan nggak bakalan bisa ngembaliin mobil yang hilang?

Saya kagum. Harusnya kita juga begitu. Mau menjadikan Allah sebagai pusat segala-galanya. Termasuk pusat segala keberhasilan, kesuksesan, kejayaan, kemenangan, kebahagiaan. Barangkali sebab itu kita kudu bismillah dan alhamdulillah. Agar dari awal sampai akhir, tetap bersama Allah dan mengingat Allah. Dan ditengah-tengahnya ada keharusan menjaga yang wajib dan menghidupkan yang sunnah. Agar setiap saat bersama Allah.

Dari kisah suami istri yang kehilangan mobil ini, mereka menganggap bahwa kesulitan dunia mah nggak ada seberapanya dibandingkan dengan kesulitan hari akhir. Sebagaimana kesenangan dunia yang disebut Allah sebagai nggak seberapanya dibanding kesenangan hari akhir. Mereka mencoba meyakini bahwa kasus kehilangan mobilnya ini barangkali akumulasi perbuatan buruknya yang berwujud mobil ini. Bisa jadi ada kesalahan di tempat lain, lalu berbuah kesulitan ini. Bila tidak ada kesalahan, suami istri ini tetap menghibur diri bahwa Allah sedang menghendaki sesuatu terhadap mereka. Bisa jadi ini adalah awal dari ketemunya penghasilan baru dari pekerjaan baru. Kalau nggak ada masalah, nggak ada lompatan. Pokoknya, kalau nggak Allah kehendaki pertaubatan, tentu Allah menghendaki kebaikan. Persis kira-kira sebagian maksud dari ayat 27 Surah Ar-Rad.

“Orang-orang kafir berkata: Mengapa tidak diturunkan kepada Muhammad tanda kemukjizatan dari Tuhannya? Katakanlah sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertaubat kepada-Nya.”

Persoalan hidup, permasalahan hidup adalah mukjizat juga dari Allah buat mereka-mereka yang mengalaminya. Kelak banyak yang bisa berhasil sebab melewati berbagai kesulitan dan persoalan hidup. Lebih berhasil, lebih terang, dari sebelum punya masalah. Suami istri ini mau menjadi yang demikian. Dan mereka bersyukur, bahwa persoalannya membawa mereka bisa meneliti kesalahan-kesalahannya kepada Allah dan kepada sesamanya. Persoalan mereka pun akhirnya disyukuri sebagai membawa ibadah yang lebih baik bagi keduanya, dan sudah menjadikan mereka menjadi lebih arif lagi bahwa bisa apa manusia kalau Allah sudah berkehendak.

Fokusnya suami istri ini ke Allah. Ke ibadah. Bukan ke masalahnya. Dan in syaa Allah dengan begini mereka menjadi tenang. Perlu diketahui, bahwa selesainya masalah, bisa juga berawal dari ketenangan. Tanpa ketenangan, yang ada kepanikan. Dan kepanikan akan membawa banyak masalah. Dengan mendekatkan diri ke Allah, sesungguhnya membantu “pihak lawan” juga, agar si suami istri ini justru bisa bayar dan mengembalikan mobil yang hilang.

Apa yang bisa kita ambil dari cerita di atas?

Semoga Allah menjadikan kita orang-orang mukmin yang senantiasa mampu mempertahankan ketauhidannya. Aamiin. Sungguh, apalah artinya kita mengejar dunia ini jika saja besok Allah sudah cabut nyawa kita. Apalah artinya tumpukan harta itu yang terus tertimbun sehingga membuat kita lupa dan kufur kepada nikmat Allah. Tidak ada yang paling baik di antara kita-kita kecuali mereka-mereka yang mampu beribadah total, merasakan kehadiran Allah di setiap langkahnya, dan takut hanya kepada-Nya. Kita-kita ini pasti pernah merasakan bodoh dan berdosa jika mengingat kembali masa-masa lalu yang suram. Tapi ternyata Allah izinkan kita untuk bertaubat, mengambil jalan-Nya, dan membangkitkan kita dari keterpurukan. Itu yang harus disyukuri. Ketika nanti begitu Allah tegur kita lagi dengan cobaan, maka janganlah berputus asa. Hendaknya semua persoalan kita serahkan sama Yang Punya Segala-galanya. Karena hanya Dia yang pantas memberikan jawaban atas segala ikhtiar kita.

No comments:

Post a Comment