Visitor

Wednesday, April 30, 2014

Materi Tauhid Sesi 27: Hadirkan Allah Dalam Kehidupan

Tidak sedikit manusia yang disorientasi dalam hidupnya. Kosong, kering, gersang. Tanpa makna. Karena hidup tanpa Allah.

Sebelumnya, saya ingin cerita sedikit. Kala saya ngerjain tulisan bab yang lalu tentang cerita Bintang dan bagaimana semangatnya mengucur deras, ternyata mampu membuat saya “jingkrak” lagi. Saya pun mengakui suka turun-naik. Ngerjain tugas kadang membuat saya butuh teman untuk sekadar ngobrol karena saking banyaknya materi yang harus dibahas. Teori ini itu harus saya gali. Belum lagi buku-buku yang belum sempat saya baca semuanya. Menyadari usia saya akhir tahun ini sudah memasuki usia 22, dan saya kuliah in syaa Allah tidak akan lama lagi, hehehe. Saya coba pompa semangat saya dan meyakinkan diri kalau saya bisa melalui semua ini. Tanggal 3 Maret 2014 saya mulai aktif kuliah semester 8, dan mungkin akan berakhir di Agustus. Saya kurang tahu sih untuk tahun ini kami kedapetan libur lebaran berapa bulan. Kalau dihitung-hitung, setelah Agustus-September-Oktober mungkin akan libur UAS lalu masuk lagi semester baru. Ya, dan seharusnya saya sudah wisuda, hehehe. Tapi saya nambah lagi satu semester sebanyak 6 sks saja. Saya ingin fokus seminar. Karena kurang lebih 5-6 bulan saya kuliah nanti saya akan langsung ambil bimbingan. Kalau pakai perhitungan saya, pertengahan tahun 2015 saya sudah bisa bimbingan dan in syaa Allah saya cuma butuh waktu 2 bulan paling lama. Setelah itu saya mau ambil sidang pertengahan tahun. Materi yang ingin saya bawakan di skripsi sudah saya persiapkan dari sekarang. Bahkan buku-bukunya sudah dipegang. In syaa Allah bi’ithnillah semoga Allah membantu saya.

Inilah yang saya namakan rencana manusia. Boleh saja manusia berencana. Tapi kalau saya sih, membuat daftar seperti itu hanya untuk menyemangati diri sendiri. Dengan begitu, kita jadi masang target. Hidup saya tidak mau dibawa seperti air yang mengalir begitu saja. Tidak. Saya mau ada tujuannya. Dan makanya itu, saya minta ke Allah untuk dilancarkan sampai hari H. Saya masih ada waktu cukup banyak untuk mempersiapkan diri. Hari ini, tepat tanggal 14 April 2014 pukul 22:25 WIB. In syaa Allah, di tanggal yang sama namun tahun yang berbeda—2015, saya sudah bisa fokus ke seminar dan bimbingan. Jika Allah mengizinkan, saya bisa ambil sidang. Secepat itukah? Siap?

Biar Allah yang menentukan. Saya usaha saja, hehehe. Dan sekali lagi, intro saya panjang ya? Hehehe. Begitulah saat saya benar-benar lagi semangatnya. Saya percaya, Allah kasih saya keterlambatan ini pasti mengandung hikmah. Yang nantinya buat pelajaran saya. Saya tidak kecewa, sungguh. Walau saya harus ngulur satu semester sedangkan beberapa teman saya sudah ada yang sidang dan lulus. Tapi saya yakin sekali, Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik. Saya menginginkan lulus di tahun 2014 tapi Allah belum mengizinkan. Maka dari itu, saya yakin, pasti Allah akan berikan yang sungguh diluar dugaan saya, entah itu akan datang di tahun 2015 atau tahun berikutnya, atau bahkan di tahun sebelumnya. Saya belum tahu. Sebagaimana pesan yang ingin saya sampaikan, bahwa kita tidak boleh kecewa akan kenyataan-kenyataan yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Cukup perbanyak perbaiki diri, dekati Allah, bersyukur, dan tetap berusaha melakukan yang terbaik. Sekali lagi...

Perbaiki diri.

Dekati Allah.

Bersyukur.

Dan tetap berusaha melakukan yang terbaik.

Lihat ya tahun-tahun berikutnya, Allah akan kasih kejutan apa ke saya?
Percaya. Ini yang terbaik.

You guys are the winner, ya pals!


Sunnatullah

Betul memang dunia ini sudah dibuat-Nya berjalan dengan sunnatullah-Nya. Sesiapa yang bekerja, maka dia akan gajian. Sesiapa yang belajar, maka ia akan mendapatkan ilmunya. Semua itu sudah sunnatullah. Maka, sesiapa yang melibatkan Allah, di dalam ikhtiarnya, ada Allah. Dan itu artinya, ibadahnya semata-mata hanya untuk Allah. Ikhtiarnya pun menjadi berkah.

Kedudukan ikhtiar adalah menjadi ibadah, manakala kita kemudian sudah secara hati dan pola hidup bertauhid. Tapi kemudian ikhtiar menjadi salah apabila secara hati dan pola hidup tidak bertauhid. Salah-salah malah menjadi syirik, sebab menganggap ikhtiar itu adalah segalanya. Contohnya, ada seseorang yang ingin mendapatkan pekerjaan, ia apply semuanya. Memang benar dia lolos, tapi dia tidak beribadah kepada Allah. Itu adalah sunnatullah. Tapi, tidak mengandung keberkahan. Karena tidak melibatkan Allah di dalamnya.

Beda hidup antara yang memiliki Allah dan yang tidak. Ada orientasi. Dan setinggi-tingginya orientasi adalah ke Allah, menuju Allah.

Teman-teman, kalau sudah melibatkan Allah dalam hidup kita, percayalah kita tidak akan capek. Kita tidak akan galau. Kita tidak akan berpusing-pusing ria. Kita tidak akan bingung. Karena kita sudah tahu tujuannya mau ke mana. Seperti contoh orang yang ingin bekerja tadi. Saya pun mencoba untuk melibatkan Allah di setiap jalan hidup saya. Ketika saya berangkat kuliah, begitu sampai di kampus, lalu saya jalan lagi ke kelas, saya belajar di kelas sama teman-teman, saya mampir ke mushola, saya ke kantin, lalu saya jalan kaki ke depan stasiun, saya pulang ke rumah, saya sampai di rumah, saya ketemu ibu saya. Dan semua itu saya lakukan tidak sendirian. Walau hanya ada satu tubuh saja yang saya rasakan, saya tetap merasa Allah ada temani saya. Walau tidak ada orang di samping saya yang menemani, tapi Allah temani saya. Kalau saya sudah mulai sedih, saya coba ingat-ingat rezeki apa yang sudah saya dapatkan dari Allah, saya senyum kembali. Begitulah semestinya.

Masa-masa seperti ini saya anggap sebagai pelepasan masa remaja saya menuju dewasa. Saya senang loh sudah dianggap dewasa. Yap, 21 tahun. Rasanya gimana gitu. Saya sudah bukan 19 tahun lagi. Dan karena batas remaja akhir adalah 19 tahun, maka saya mulai masuk fase menuju dewasa awal. Jadi, pemikiran saya katanya masih akan terus kritis dan penuh rasa ingin tahu. Saya dianggap adik bungsu oleh sahabat-sahabat saya yang usianya sudah jauh dari saya. Dan mereka mengakui, bahwa saya punya semangat yang tinggi untuk belajar banyak hal baru. Saya senang sekali. Dengan begitu, saya ingin memanfaatkan masa-masa ini sebagai masa pengenalan saya dengan Allah. Yap, saya mau kenal lebih dekat dengan Tuhan saya.


Kalian juga, kan?

No comments:

Post a Comment