Visitor

Tuesday, April 29, 2014

Materi Tauhid Sesi 26: Bintang We Are Not Game Over Yet

Jalan hidup itu Allah yang punya. Kita hanya bisa meniti, tapi tidak bisa mengatur. Kita hanya bisa meminta, tapi kita tidak bisa memaksa. Namun jika percaya bahwa di semua kejadian ini ada Allah dibaliknya, percaya bahwa Allah akan mengatur yang terbaik, percaya bahwa Kehendak Allah itu pasti baik adanya, kemudian mau menerima hidup ini seadanya keadaan, dan berkenan memperbaiki diri, in syaa Allah segalanya berjalan dengan sangat baik. Bahkan kita akan melihat, kehidupan di kemudian hari adalah kemenangan buat yang percaya bahwa memang kehidupan ini milik Allah. Berbaik-baik saja dengan-Nya, dan mulailah mendekatkan diri kepada-Nya.

Masalah hidup itu sunnatullah. Biarlah ia ada, asal Allah sediakan jalan keluarnya. Dan Allah, sebagai Pemilik Kehidupan ini, terkadang membiarkan kejadian-kejadian buruk menimpa kita, untuk sesuatu maksud di kemudian harinya. Mudah-mudahan kita mampu menemukan segala hikmah kejadian hidup, dan diberikan kekuatan serta kesabaran menghadapi semua ujian hidup ini.

Hidup kita belumlah berakhir. Kalau kita memang masih hidup, bangun, bangkit!

Semua yang terjadi, terjadilah. Ubah masa lalu dengan menatap masa depan. Apa pun yang terjadi, kehidupan tidak berakhir di sini. Dan memang jangan sampai ia berakhir saat kita kalah. Kehidupan akan terus berlangsung, karena itu hiduplah terus. Bertaruhlah, bahwa Allah akan membantu perjuangan kita memperbaiki hidup kita. Termasuk memperbaiki kesalahan kita di dunia ini.

Dan yang menjadi masalah, bukan berapa buruknya masa lalu kita. Tapi yang menjadi masalah buat kita, adalah seberapa indah masa depan yang akan kita bangun. Selama kita masih hidup, itu tanda bahwa Allah masih memberi kita kesempatan mengubah apa yang mau kita ubah. Bersama-Nya. Bersama Allah Yang Maha Mengubah Keadaan.

Sekarang saatnya kembali kepada Allah. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah.

“Apakah belum tiba saatnya bagi orang-orang yang beriman untuk membuat hati mereka tunduk mengingat Allah? Dan untuk tunduk terhadap apa yang diturunkan dari kebenaran Al-Qur’an?” (QS. Al-Hadid: 16)

Kalau kita lihat sekeliling kita, cukup banyak orang-orang yang putus asa di negeri ini. Banyak orang-orang yang kehilangan motivasi dan spirit dalam menjalani hidup ini. Sebagiannya sebab mereka menghadapi masalah hidup yang harusnya tidak menjadikan mereka lemah. Masalah hidup, semestinya mengantarkan “para penikmatnya” untuk kembali kepada Allah.

Kok menyebutnya dengan para penikmat?

Ya, kita menyebutnya permasalahan itu kalau dinikmati, malah menyenangkan. Makanya, seharusnya, ya dinikmati.

Berterimakasihlah karena kita diberi masalah. Sebab kita akan menjadi kuat, kita akan menjadi belajar, dan karunia Allah biasanya akan datang lebih banyak lagi ketika sebelum bermasalah. Asal syaratnya: sabar, ikhlas, syukur.

“Siapa yang tidak bersyukur atas nikmat-Ku, dan tidak bersabar di setiap ujian-Ku, dan tidak ridha atas Ketetapan-Ku, dan carilah Tuhan selain diri-Ku.” (Hadist Qudsi)

Dan berterimakasihlah diberi masalah oleh Allah. Banyak yang sesat justru ketika mereka tidak bermasalah, hidup enak, nyaman, tiada rintangan. Lalu Allah beri masalah, hingga mereka ingat kelalaiannya, kesalahannya, kealpaannya.


Bintang

Perjalanan kehidupan berbuah hikmah kisah Bintang, kisah yang menjadi pembelajaran di dalam materi ini mudah-mudahan berhasil membangun motivasi kita semua yang mengikutinya.

Bagi mereka-mereka yang bermasalah, kadang tanpa mereka sadari, kehidupan baru justru baru saja mereka mulai.

Selalu ada kekuatan di balik permasalahan yang Allah hidangkan dalam hidup kita. Dan kita belajar dari kisah Bintang, bahwa tidak ada kata terlambat untuk memohon bantuan dan pertolongan Allah. Allah teramat kuasa. Jika ada sesuatu yang kita sebut tidak mungkin, maka kata-kata tersebut tidak berlaku untuk Allah.

Sedikit saya mengingatkan pada diri saya, bahwa jika masih senang mencari rezeki haram, masih merasa harus menempuh cara-cara yang tidak disukai Allah dalam mencari rezeki, itu tandanya diri berada dalam keputusasaan juga. Seolah kita tiada iman yang mengajarkan bahwa Allah-lah Yang Memberi Rezeki hingga menyebabkan kita “putus asa”, dan mencari rezeki bukan dari jalannya Allah. Dan bila diri kita sedang tidak bermasalah, lalu diseru kembali kepada Allah, terima, perhatikan. Kalau perlu, dengar, dan taati, sami’naa wa atho’naa. Sebab siapa tahu, kita-kita yang tidak bermasalah inilah sesungguhnya yang lebih membutuhkan nasihat ini, ketimbang mereka yang bermasalah.

Di tengah kehidupan yang banyak permasalahan dan keinginan, atau bahkan di tengah kemungkinan-kemungkinan yang mungkin saja terjadi, isu tentang “Kembali Kepada Allah”, harus senantiasa disuarakan terus oleh siapa saja. Kasihan diri kita kalau sampai jauh sama Allah.

Bintang, laki-laki 40 tahunan, adalah seorang ayah yang kepayahan ekonomi dan rumah tangganya. Bintang merasa hidupnya semakin gelap dan tidak menentu. Dia di ambang perasaan bahwa hidupnya akan segera berakhir, atau malah ia merasa ia ingin saja segera mengakhiri hidupnya. Biasa, beban kehidupan memang bisa membuat seorang kepengen saja rasanya mengakhiri hidupnya. Bunuh diri, seakan menjadi jawaban yang menyelesaikan semua perkara dunia. Rasa malu, rasa takut, hina, tidak punya harapan, dan masih banyak lagi kekhawatiran-kekhawatiran akan keburukan demi keburukan, melekat di hati dan di pikiran. Orang-orang seperti Bintang seakan-akan tegar, tapi lemah. Sungguh lemah. Dan bertambah lemah apabila ia mengingat keburukannya menghantam kanan kirinya. Ia jaminkan rumah mertuanya. Ia jual tanah orangtuanya. Ia pinjam surat kendaraan besannya. Ia pakai nama kawannya untuk pinjaman ke bank. Para tetangga yang tidak bisa ia kembalikan dananya.

Deretan ini menambah lemah Bintang.

Ya, Bintang merasa hidupnya akan segera game over, tamat. Ibarat lampu digital, cahayanya melemah. 100, 90, 80, 70... terus turun... 60, 50, 40, 30...


Berdoa Untuk Ketenangan Hati

Di posisi cahaya tinggal 30 ini Bintang “berkenalan” dengan doa.

Salah seorang kawannya menasihati dia tentang kekuatan doa: “Bintang, berdoalah. Berdoa bisa mengubah segalanya. Minimal bisa mengubah segalanya. Minimal doa akan menentramkan hati. Kita mengadu pada manusia saja yang kita anggap bisa membantu, in syaa Allah sudah akan membahagiakan hati, apakah kalau kita mengadu pada Allah. Manusia belum tentu mau membantu. Tapi kalau Allah sudah pasti mau membantu. Sebab Allah sendiri yang menjanjikan, Dia akan mengabulkan siapa yang meminta pertolongan-Nya.”

Bintang meyakinkan dirinya, benarkah?

Benarkah nasihat kawannya ini? Benarkah Allah akan membantunya bila ia berdoa? Apa iya dia yang dosanya banyak, lalu doanya akan didengar Allah? Bintang rupanya termasuk orang-orang yang payah dalam meyakini kekuatan doa. Pun payah meyakini Kekuasaan Allah. Yang dihitungnya selalu hitung-hitungan matematis manusia. Berikut ini adalah suara-suara di dalam hati dan pikirannya:
1. Tidak akan bangkit
2. Tidak akan sanggup membayar hutan
3. Rumah mertuanya bakal disita
4. Keikhlasan orangtuanya menyediakan tanahnya untuk dijual, sia-sia
5. Akan game over
Itulah suara yang menang, yang ia biarkan muncul menguasai dirinya.

Jelas itu adalah sederetan kalimat-kalimat lemah yang ia suarakan sendiri sehingga seakan-akan hidupnya betul-betul sudah tidak memiliki kemampuan apa-apa, dan akan segera berakhir.

Belum lagi tambahan dari terbayangnya wajah-wajah seram para penagih, wajah-wajah memelasnya para istri dari orang-orang yang namanya ia pakai untuk meminjam ke bank. Wuah, komplit. Wajar juga kalau Bintang merasa dirinya bakal game over.

Kita pun belum tentu kuat jika berada di dalam posisi Bintang.

Bila kita pelihara suara-suara melemahkan ini, niscaya hidup kita akan semakin lemah saja. Lemah tak berdaya, hingga berujung pada putus asa. Maka, jangan biarkan suara ini muncul. Lawan. Lawan dengan iman dan semangat. Lawan dengan keyakinan dan doa.

Di posisi seperti inilah Bintang berkenalan dengan doa. Berkenalan dengan Kuasa dan Kebesaran Allah. Dan memang Allah jugalah yang menancapkan keimanan ke dalam hati hamba-hamba-Nya yang lemah. Memberikan taufik dan hidayah-Nya, sehingga berangsur-angsur Bintang percaya akan Kuasa Allah. Allah membuat perjalanan waktu kemudian ikut juga mengajarkan, bahwa Allah itu ada. Dan Bintang mau mencoba meyakinkan dirinya sendiri, bahwa datang kepada Allah adalah jawaban buat segala masalah yang sedang dihadapinya. Tidak peduli seberapa besarnya masalah kita, Allah sanggup mengatasinya.

Bintang mau meyakini, bahwa kalau Allah sudah berkenan, maka segala sesuatu bisa saja terjadi. Terjadi bukan karena perasaan manusia. Terjadi bukan karena apa yang dipikirkan. Dan terjadi bukan karena apa yang diusahakan manusia. Tapi terjadi karena Allah menghendaki itu terjadi.

Ya, ketika di awal memohon pertolongan Allah, keadaan Bintang memprihatinkan. Tapi ketenangan Allah masukkan ke dalam hatinya. Ia merasakan kesejukan luar biasa sehingga ia bisa tegar menghadapi hidup ini.

Bintang menemui babak baru dalam hidupnya. Babak menikmati perjalanan doa, menikmati perjalanan memelihara diri yang biasa kita sebut takwa, dan menikmati perjalanan pertaubatannya.


Allah, Tuhan Yang Memberi Harapan

Setelah perkenalannya dengan doa dan Kekuasaan Allah, sesuatu merayap dalam hatinya Bintang. Sesuatu yang membesarkan hatinya. Sesuatu yang tiba-tiba saja sanggup membuat dia merasa hidupnya masih punya harapan. Allah memang Maha Pemberi Harapan. Sedikit saja harapan Allah bentangkan bagi hamba-Nya, maka harapan itu akan “menghidupkannya” kembali.

Bintang disergap kerinduan yang mendalam kepada Allah.

Dan tiba-tiba saja terbentang lembaran-lembaran dari hari-hari yang sudah ia jalani. Dia melihat dengan jelas, bagaimana dulu shalat tiada tertegak dengan baik. Tertegak qoomuu kusaalaa, tertegak seperti orang malas. Shalat seadanya, dengan sikap tidak sempurna. Masjid, mushalla, jarang dia datangi untuk shalat berjamaah. Untuk shalat sunnah? Betul-betul jarang dia lakukan.

Bintang terus melihat dirinya. Dulu ia tidak pernah ikut pengajian, dengan alasan sibuk tiada waktu. Batinnya benar-benar kosong dari Allah. Kesuksesan sedikit yang sudah Allah berikan, sudah melalaikannya dari Allah.

Bintang ikhlas dengan keadaannya. Bintang ikhlas menerima kesusahannya.

Dengan mantap, ia ambil wudhu sebagai permulaan, dan ia tegakkan shalat sunnah taubat. Ia bertaubat kepada Allah dari seluruh dosa yang sudah ia buat. Ia bertaubat kepada Allah. Ia bertaubat sudah pernah berburuk sangka kepada-Nya. Ia bertaubat pernah mengutuk Allah, tanpa dia sadari. Ia bertaubat pernah tidak ikhlas menerima dirinya bisa ditipu sana sini, hingga ia hancur. Ia pun bertaubat pernah punya perasaan jelek kepada Allah: mengapa katanya, jika Allah ada, kok tidak menjaga dirinya?

Ia mengakui bahwa sesungguhnya ia sendiri sudah tidak bersyukur kepada-Nya. Akhirnya ya wajarlah Allah tarik segala nikmat darinya.


Kembali Kepada Allah

Bintang kembali kepada Allah. Dan memang seharusnyalah kita kembali kepada Allah sebelum terlambat. Kesusahan dunia saja sudah membuat kita menjadi susah, apalagi nanti kesusahan akhirat.

Allah memang senantiasa menguji hamba-Nya. Tapi Allah tidak akan membiarkan hamba-hamba-Nya sendirian dalam menjalani ujian hidup ini. Allah akan selalu menemani.


Titik Balik Yang Penuh Ujian

Hari-hari berikutnya Bintang hanya fokus kepada Allah. Ia memasrahkan segalanya. Ia tahu, bahwa ia bakalan game over. Tapi kali ini ia songsong “kematiannya”, seperti prajurit Allah yang kepengen syahid di jalan-Nya. Kejadian ini terjadi ketika lampu digital itu berada di titik 30. Begitu kira-kira yang disampaikan di atas. Bahwa, ibarat lampu digital, cahaya kehidupan Bintang turun drastis. Dari angka 100, ke 90, 80, 70, 60, 50, 40, hingga ke titik 30. Di titik 30 inilah Bintang menyeru Allah dan kembali kepada-Nya. Inilah titik baliknya Bintang. Secara teori, cahaya lampu itu akan naik kembali, seiring dengan kembalinya Bintang kepada Allah, Tuhannya. Dari titik 30, naik jadi 40, 50, 60, 70, 80, 90. Dan begitu terus sampai ke titik 100.

Begitukah yang terjadi?

Mestinya.

Tapi tunggu dulu!

Secara teori sih seharusnya begitu. Tapi nyatanya, keadaan makin terpuruk. Cahayanya semakin melemah. Rumah mertuanya disita. Ruko yang disewanya sudah tidak beroperasi lagi. Mobil dan motor juga sudah tidak ada di garasinya. Semuanya habis. Bahkan Bintang mendekam beberapa saat di sel polisi.

Apakah Bintang putus asa?

Sesaat ia seperti ke titik nadir. Kembalinya ia kepada Allah seakan-akan percuma. Dia merasa, seperti yang suka disuarakan juga oleh orang-orang yang lemah imannya dan tidak bertauhid dengan baik—bahwa Allah tidak mendengar doanya. Dan Bintang menemukan keadaan dia ini, ketika dia sudah berada di dalam sel. Banyak manusia yang kembali kepada Allah, namun tidak tahan dengan ujian yang seperti ini. Bagi Bintang, rupanya ini memang titik balik.


Allah Tidak Akan Membiarkan Hamba-Nya Sendirian Dalam Menjalani Ujian Kehidupan

Di dalam sel, Bintang hampir saja meratapi keadaannya berlama-lama. Tapi, sebuah pelajaran membuatnya kembali “hidup”.

Salah seorang kawannya di sel mati. Dan Bintang melihat proses kematian kawannya ini, hingga kemudian ia dikeluarkan dari sel. Bintang histeris dalam kesunyiannya. Ia tidak bisa bicara. Ia tertegun. Ia adalah Bintang. Bukan kawannya yang mati itu. Bintang terguncang kesadarannya beberapa kali, ia masih hidup.

Ngomong-ngomong aku nulis ini sambil merinding. Masya Allah.

“Tiap-tiap jiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Maka barangsiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia telah beruntung. Dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Ali Imran: 185)


Charge Your Life!

Keanehan terjadi lagi. Sesuatu merayap kembali dalam batinnya. Memenuhi rongga-rongga hati dan pikirannya.

Tiba-tiba Bintang menjadi bersemangat menjalani hidupnya.

Bintang akhirnya keluar dari sel sebagai pemenang. Ia melangkahkan kakinya ke orangtuanya, minta restu. Kemudian ke istri dan anak-anaknya. Meminta mereka ikut bersamanya. Bersama membangun kembali ekonomi keluarga. Bintang memulai kehidupannya dengan menjadi penjual bensin eceran. Kecil-kecilan.

Semua yang ia punya telah hilang, tapi ia merasa berkah. Diganti sama Allah dengan karunia yang teramat besar—iman. Dan ia menjadi sangat bahagia.

Itulah cerita seorang Bintang, kira-kira 10 tahun yang lalu. Kini Bintang gagah banget. Pom bensin, atau SPBU, ia punya. Ditambah beberapa waralaba minimarket yang dikelola istrinya. Proyek-proyek lain yang sifatnya dadakan pun kerap ia terima, yang menambah pundi perbendaharaan rezeki dari Allah. Allah memang Maha Besar. Jalan rezeki memang Allah yang punya. Bukan manusia. Masa depan pun Allah yang punya. Bukan manusia. Segala puji bagi Allah.

Saya merinding lagi nulisnya.

Dan akhir kata, saya ucapkan terimakasih untuk tulisan yang begitu menyemangati saya, Ustadz Yusuf Mansur. Sungguh, semoga teman-teman yang membacanya pun bisa ikut terpompa semangatnya. Aamiin.

Sekali lagi, saya pun pernah mengalami terpukul yang teramat dalam. Walau begitu, Allah nolongnya sangat cepat. Saya hampir nggak percaya bahkan saya masih “hidup”. Tapi itulah Maha Baik Allah. Allah ganti dan kasih yang jauh lebih baik dari yang kita minta. 

Subhanallah.


Jangan nyerah pada keadaan kawan. Innallaha ma’ana. Kalau Allah sudah menakdirkan sesuatu itu untuk kita, walaupun kita tidak menggenggamnya, percayalah, akan ada suatu waktu kita bisa benar-benar MENGGENGGAM DIA. Manusia bisa berkata tidak mungkin. Tapi bagi Allah, tidak ada yang mustahil. Clear?

No comments:

Post a Comment