Visitor

Saturday, April 26, 2014

Materi Tauhid Sesi 24: Jadi Ikhlas Ngejalanin Hidup

Di tengah kesulitan kita, selalu terselip Pertolongan Allah. Di tengah kesulitan kita, selalu terselip Kemurahan Allah. Dan bila kita sepakat, in syaa Allah bahkan kesulitan itu adalah anugerah Allah untuk kita semua. Perjalanan waktu akan membuktikan itu. andai kita lalui semua ragam kesulitan itu bersama Allah.

Ada cerita seorang teman yang pernah mengalami masa-masa di mana Allah marah tapi dia malah senang. Dia ini adalah seorang wanita yang pacaran dengan pria non-muslim. Menjalin hubungan lebih dari 5 tahun. Mereka berdua sudah sangat akrab dan saling membayangkan pernikahan mereka akan seperti apa nantinya. Banyak yang mengaminkan jika mereka ini putus. Karena biar bagaimana pun juga perbedaan keyakinan itu bukan lagi masalah. Tapi murka Allah nanti datangnya.

Keduanya mengaku saling cinta. Apa yang mereka pertahankan selama bertahun-tahun itu hanya berdasarkan “cinta”. Ditanya seberapa takut mereka akan Tuhan, mereka hanya cengar-cengir saja. Menangis bukan karena Allah tetapi karena manusia. Merasa hancur lebur bukan karena jauhnya dia dari Allah tapi karena jauhnya dia dari manusia. Ingin bunuh diri bukan karena malu sama dosa-dosa tapi karena stres ditinggal manusia.

Anehnya manusia. Padahal mereka sama-sama tahu bahwa mereka tidak abadi. Nantinya akan mati. Semua akan mati. Semua akan kembali menjadi tanah. Tapi menaruh rasa cinta terdalam untuk manusia jelas-jelas salah. Karena tidak seharusnya mencintai sesuatu yang nantinya akan pergi dan mati. Tetapi Allah? Sungguh, Allah tidak akan pernah meninggalkan hamba-hamba yang mencintai-Nya.

Beberapa tahun setelahnya, akhirnya wanita ini sudah mulai bisa menatap hidup tanpa ada si pria lagi. Walau sulit, tapi terus dicoba. Si wanita dulunya selalu senang jalan-jalan dengan pakaian mengatung dan serba tipis itu. Si mantan bahagia kalau melihat kekasihnya itu terlihat seksi. Ada rasa bangga, katanya. Apalagi kalau dibilang cantik sama teman-temannya. Dan sungguh, dalam keadaan itu Allah tidak berpaling. Allah memperhatikan mereka. Allah mencatat apa-apa saja yang mereka perbuat. Allah tahu apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka utarakan. Kemudian, si wanita ini mulai menutupi auratnya. Membenahi kehidupannya. Serta mulai mencari siapa Tuhannya. Dia malu. Sungguh malu. Bertahun-tahun lamanya dibodohi dengan “cinta” padahal itu nafsu. Bertahun-tahun lamanya bergantung dan berharap kepada manusia yang bisanya mengecewakan saja. Jujur, saya tidak pernah bangga jika ada orang yang mengatakan perjalanan cintanya itu sudah bertahun-tahun. Justru saya merasa itu adalah musibah besar. Tapi begitulah perbedaan pikiran dan hati orang-orang yang di dalamnya tidak ada Allah. Tidak ada rasa takut kepada Allah.

Si wanita tersebut meminta maaf. Sungguh-sungguh memohon ampun kepada Allah. Kini ia tidak lagi seperti dulu. Ia tidak mempedulikan orang-orang yang mencelanya. Atau mantan-mantan pacarnya yang mulai mengejeknya. Pakaiannya kuno. Terlalu tua. Tidak modis. Bahkan jalannya pun seperti orang buta. Selalu nunduk. Tidak ingin disentuh dengan laki-laki mana pun, disebut sombong, angkuh. Tidak mau bergaul lagi dengan teman-teman geng lelaki, disebut sudah lupa teman lama. Ia juga sudah tidak pernah pulang malam. Dan mulai mencari pekerjaan yang halal. Bukan seperti dulu.

Allah mengetuk pintu hati wanita ini dengan sangat halus. Allah mengampuninya. Bahkan Allah berikan karunia dan rahmat-Nya kepada wanita ini. Ia begitu tabah dan ikhlas menjalani kehidupan barunya. Bahkan, baginya tidak jadi masalah harus menunggu 15 tahun lamanya menjomblo. Ia gunakan waktu itu sebagai waktu di mana ia bisa memperbaiki diri. Subhanallah. Di usianya yang tidak lagi muda, seorang pemuda tampan datang melamarnya. Jauh lebih baik dari pria yang dulunya amat dicintai. Kini, ia betul-betul merasakan rangkulan Allah. Kasih sayang Allah mengalir deras hingga masuk dalam hatinya yang terdalam. Betapa indah hidup dalam keikhlasan sambil terus menanti ampunan dari-Nya.

No comments:

Post a Comment