Visitor

Thursday, April 24, 2014

Materi Tauhid Sesi 22: Betapa Jauhnya Kita Dari Allah

Ada banyak hal yang menyenangkan hati di kehidupan ini, dan ada juga yang tidak menyenangkan. Tapi bagi seorang mukmin, semua keadaan akan menyenangkan hati. Sebab ada baik sangka dan percaya sama semua Keputusan Allah.

Sebagaimana kita ridha menerima datangnya siang, kita kudu juga ridha menerima datangnya malam. Sebagaimana kita menikmati diberi nikmat kebahagiaan, kita juga menikmati diberi nikmat kesedihan. Ikhlas menjalani hidup ini pun merupakan pelajaran tauhid yang senantiasa akan diperlukan sebagai bekal di kehidupan ini.

Orang-orang yang punya hutang, ketika mereka menyadari tidak bisa membayar, ketakutan demi ketakutan mulai melanda mereka. Takut kehilangan teman, keluarga, kepercayaan, dan takut merugikan orang lain. Hidup terasa capek dan melelahkan jika terus-terusan dihantui oleh masalah-masalah. Orang-orang yang gagal ini kebanyakan melupakan Tuhannya. Merasa dirinya sendirian saja menghadapi masalah. Maka bolehlah kita sebut, kegagalan manusia memperbaiki kehidupannya, atau mengubah kehidupannya menjadi lebih baik lagi, adalah sebab imannya tidak dibenerin. Tauhidnya tidak dibenerin.

Amal ibadah memang mungkin tetap ditegakkan. Tapi iman dan tauhidnya kosong. Akhirnya banyak yang malah kemudian mengeluh. Kenapa saya sudah bertaubat, tapi kok tetap saya susah? Ini adalah pertanyaan menyesatkan diri sendiri.  

Allah berada di balik semua kejadian. Allah yang mengatur segalanya. Tapi bukan berarti kita bebas menyalahkan Allah ketika hal buruk datang ke kita. Barangkali kita benar-benar jauh dari-Nya. Sehingga apa-apa yang dijalani terasa berat dan menyusahkan.

Perjalanan saya mencari Allah pun demikian. Pada saat itu, saya diberikan rezeki yang cukup tetapi saya menghabiskannya entah ke mana. Saya merasa selalu kurang. Apa-apa yang saya makan dan minum pun jadi tidak terkontrol. Mau ini mau itu. Pokoknya maruk. Awalnya, saya nyaman-nyaman saja. Menjalani hari tanpa merasa ada Allah yang memperhatikan. Sekolah, bekerja, main sama teman, bergaul, bahkan pacaran. Semua aktivitas itu tidak saya sadari bahwa Allah terus mengawasi. Hingga datanglah masa-masa di mana saya mulai jenuh sekali. Saya menjalani kehidupan yang sama saja seperti itu. Setiap hari, begini, begitu. Saya mulai merasa “bosan”. Saya ingin mencicipi sesuatu yang baru. Hingga pada akhirnya saya dipertemukanlah dengan orang-orang yang banyak memberikan saya pelajaran. Dari situ, saya berkesempatan untuk “mencicipi” manisnya iman. Bersama guru, teman, dan saudara-saudara semuslim. Selalu ada yang berbeda setiap harinya. Jika hari ini saya shalat dhuha hanya 4 rakaat, besok-besok saya shalat 6 rakaat. Kadang saya ketiduran, lalu saya ganti dengan sunnah taubat. Dan kadang saya langsung puasa keesokannya. Selalu ada challenge baru. Menyenangkan.

Karena saya tahu, sehabis gelap terbitlah terang.

Masa-masa di mana saya terpuruk dan benar-benar tak tahu arah kini sudah diterangi oleh lampu-lampu yang cahayanya mampu menunjukki saya. Waktu itu saya memang jauh dari Allah, dan lama-kelamaan saya merasa bosan yang teramat sangat. Hingga sampailah saya pada titik di mana saya bisa menemukan Dia. Begitupun juga dengan orang-orang yang diberi hidayah oleh Allah. Banyak caranya. Banyak macamnya. Saya percaya, ketidaktenangan hidup terjadi karena kita sudah terlampau jauh dari Allah.

Coba periksa diri, merasa bahagiakah dengan hidup yang kalian jalankan?
Atau sudah merasa “bosan”?
Mungkin, Allah sudah tidak lagi ada di hati teman-teman.
Iman dan tauhid tak pernah dirasakan.
Maka jangan heran jika hidup terasa amat tertekan.

No comments:

Post a Comment