Visitor

Wednesday, April 23, 2014

Materi Tauhid Sesi 21: Pentingkah Dunia?

Bab sebelumnya saya hanya memberikan satu contoh kasus tentang orang yang meminta “dunia” kepada Allah.

Kali ini judulnya hampir berkaitan, tentang seberapa penting dunia itu. In syaa Allah saya akan menuliskan contoh kasus yang lebih banyak lagi. Saya mohon maaf kalau sedikit curhat. Sepertinya akan banyak juga yang saya paparkan tentang pengalaman-pengalaman pribadi. Dan hari ini, saya menulis untuk bab 21 pada tanggal 11 April 2014 pukul 22:08. Saya menulis materi tauhid ini memang sekaligus banyak. Sehari bisa kejar 4 bab. Supaya setiap harinya saya hanya tinggal copy-paste saja ke blog. Berhubung juga paket modem saya terbatas sekali, jadi sekali saya online hanya untuk blog saya. Dan kalau ada wifi gratis, saya senangnya bukan main. Jadi bisa lebih berhemat tidak memakai si modem terbatas saya itu, hehehe.

Oke, pembukaannya sudah cukup ya. Saya rasa kalau kepanjangan ceritanya nanti akan bosan. Mari kita mulai ya. Mungkin akan sedikit panjang penjabaran saya.

Bismillah...


Punya Istri Kayak Nggak Punya, Punya Suami Kayak Nggak Punya

Kesibukan manusia mencari, mengumpulkan dan mempertahankan dunia, sudah merenggut banyak hal yang dia punya. Ini fakta. Masih untung kalau mereka masih ingat ibadah. Tapi bagaimana kalau ibadah saja sudah tidak mau?

Dalam hubungan suami istri, banyak para istri yang sedikit sekali merasakan sentuhan hangat suaminya seperti di awal pernikahan. Sebab suaminya sudah entah di mana. Sibuk dengan pekerjaan yang digelutinya demi melengkapi kebutuhan keluarga. Katanya banting tulang. Dan laporannya hanya sekadar sms demi sms saja. Itu pun tidak seperti dulu lagi. Lama-lama, komunikasi yang jadi semakin jarang ini menjadi sebuah rutinitas. Akibatnya? Hambar.

Tidak sedikit, para suami kemudian memberikan kesempatan pada istrinya untuk mengambil kesibukan lain, supaya jangan terlalu menunggu dia. Misalnya, dengan menyuruh berorganisasi, aktif di pengajian-pengajian, belanja sampai usaha sendiri. Karena itulah, pernikahan yang romantis dianggap hanya akan dirasakan di tahun-tahun pertama saja. Apalagi kalau anak-anak sudah besar, kesibukan mereka semakin menjadi. Alasannya karena kebutuhan anak semakin banyak.

Ketika istri lelah, suami mereka tak lagi ada di samping mereka. Dulu, waktu istri sakit atau pegal-pegal, ada suami yang bersedia memijiti sang istri. Tapi sekarang? Semakin ke sini, semakin merasa sepi. Padahal keluarga utuh. Hanya saja mereka masing-masing punya kegiatan dan kesibukan yang berbeda. Sehingga jarang sekali terlihat bersama, terlihat akur, apalagi terlihat sering berkomunikasi.

Salah satu penyebab terbesar perselingkuhan adalah kurangnya perhatian istri atau suami dan seringnya cek-cok yang terjadi di rumah tangga. Jangankan bicara tentang ibadah, berdiskusi tentang duniawi saja sudah semakin jarang. Begitulah keadaan orang-orang yang sedang disibukkan untuk mengejar dunianya. Dan lupa untuk tundur kepada Yang Memiliki Dunia.

Beberapa kali saya pernah memperhatikan kasus ini. Walau tidak semuanya sama. Dan mungkin ini akan menimbulkan efek yang paling membahayakan. Kehilangan tauhid. Saya ambil cerita ini dari kisah nyata yang tidak bisa saya sebutkan namaya. Dan semoga ini bisa menjadi inspirasi kita semua untuk tidak melalaikan ibadah.

Saya nggak bilang dunia itu nggak penting, atau saya nggak bisa kalau kita nggak boleh ngejar dunia. Boleh-boleh saja mengejar dunia asalkan sadar kalau yang punya dunia lebih didahulukan. Saya pernah benar-benar getol mengejar dunia. Mendapatkan dunia. Walaupun akhirnya nggak dapat juga, hehehe. Dan saya merasakan perjuangan itu selayaknya orang-orang yang bekerja keras untuk menerima hasil. Dan apa pun hasilnya, itulah yang terbaik. Saya kembali melihat contoh kasus Bunga, di bab-bab sebelumnya. Yang menerima beasiswa selama kuliah dan bekerja di luar negeri. Orang bilang dia beruntung. Nggak cuma pintar dan cantik saja, tapi sungguh-sungguh benar beruntung.

Seorang suami yang rela mengorbankan waktunya lebih banyak di kantor hanya demi mendapatkan gaji yang tinggi. Berhasillah dia. Istrinya bangga bukan main. Karena dengan begitu, dia bisa minta apa saja dari penghasilan suaminya. Setidaknya, itulah harapan sang istri. Punya suami kaya. Dan tibalah sampai mereka dikarunia anak. Satu anak itu dianggap sang istri sudah seperti berkorban banyak. Melahirkannya benar-benar butuh pengorbanan. Katanya sakit, trauma, nyeri di mana-mana, bikin nggak nafsu makan, dan lain sebagainya. Ia mengeluh kepada suaminya. Suaminya menurut saja. Dan ia menolak untuk mempunyai anak lagi dalam waktu dekat. Katanya tidak sanggup lagi merasakan hamil dan melahirkan yang amat sakit. Masya Allah, tapi begitu anaknya lahir, disayang-sayangnya.

Suami istri ini hidup dalam kelebihan harta yang membuat mereka sedikit menghambur-hamburkan uang. Apa yang tidak perlu dibeli, jadi dibeli. Bahkan mereka lupa untuk menzakatkan hartanya. Semakin hari, semakin menjadi-jadi saja rezeki mereka itu. Dan semakin lupalah mereka pada Tuhannya. Mereka tidak shalat. Mereka juga lebih suka tidur di pagi hari daripada harus bercapek-capek ke masjid untuk shalat Subuh. Anaknya pun tidak pernah diajari shalat. Bacaan doa-doa hanya hafal dari sekolahnya saja. Justru orang lain yang mengajarkan anaknya itu. Ibu bapaknya hanya pintar mengelola keuangan rumah tangga saja. Sementara yang paling penting sebenarnya adalah pendidikan agama untuk anak sejak usia dini.

Tumbuhlah si anak ini dengan manja dan sifat kerasnya. Kalau ingin sesuatu, harus dituruti. Kalau tidak, ngambek. Hobinya main ini-itu. Dia juga tidak dikenalkan dengan Al-Qur’an. Tidak pernah melihat ayah ibunya shalat apalagi mengaji. Sehingga lama-kelamaan, si anak hanya akan terus disibukki oleh dunianya saja. Tanpa memperhatikan Tuhannya.

Kisah di atas serupa tapi tak sama dengan kisah sebelumnya. Bisa dibilang, keluarga yang satu ini cukup harmonis tapi tanda kutip. Mereka komunikasi dengan baik, tidak saling mencela, bekerjasama, tapi sayangnya, kerjasama mereka itu hanya sebatas dunia. Sedangkan kisah sebelumnya, suami istri tersebut tidak lagi merasakan kenyaman di rumah tangga mereka. Sehingga timbullah masalah yang lebih serius. Yakni perceraian.

Saya setuju kalau kisah yang kedua dikatakan lebih berbahaya daripada kisah pertama. Mungkin saja, kalau si istri benar-benar cerai dari suaminya, bisa saja berubah menjadi lebih baik. Suaminya mungkin juga bisa seperti itu. Tapi bagaimana dengan kondisi keluarga di kisah kedua? Kalau saja Allah tidak timpakan azab kepada mereka sehingga mereka mampu menerima hidayah, mungkin selamanya mereka akan hidup dengan ketidakberkahan seperti itu. Betapa sombongnya manusia itu! Mereka makan, tidur, dan hidup dari rezeki Allah, tapi betapa beraninya mereka tidak mengingat Allah!

Kadang saya yang nulis ini jadi ikutan emosi. Astaghfirullah. Saya juga pernah ada di masa-masa seperti itu. Tapi sungguh dengan izin Allah, saya bisa sadar. Dan tidak semua orang bisa merasakan hidayah langsung dari Allah. Sebagian dari orang-orang yang menyibukkan dirinya dengan dunia, karena semata-mata ingin mendapatkannya saja, tentu tidak berlepas dari yang namanya bisikan setan. Saya pernah ngalamin ini beneran. Waktu itu saya dihadapkan oleh orang-orang yang jauh sekali dari Allah. Saya coba saja ngaji depan mereka. Miris sebenarnya karena suara ngaji saya dianggap angin lalu. Mereka tetap berbincang-bincang, tertawa, bahkan makan di depan saya. Nggak masalah sebenarnya. Saya kan ngaji, tujuannya untuk Allah. Kalau ada orang di sebelah saya yang sibuk sama dunianya, ya tafadhol. Nggak merugikan saya ini. Tapi ternyata, ayat Al-Qur’an itu mampu membuat anaknya diam. Tadinya dia lari ke sana-sini. Berisik. Teriak-teriak. Tapi begitu mendengar saya membaca Al-Qur’an. Anak ini diam dan mendengarkan. Sehingga itulah yang membuat kedua orangtuanya ikutan diam. Nggak berapa lama mereka mengambil air wudhu dan shalat. Alhamdulillah, Allah memberikan kesadaran untuk mereka. Walaupun tak bisa secepat kilat. Namanya berusaha, Allah melihat kok.

Sungguh, Allah Maha Pemberi Rezeki. Dan ini yang jarang disadari oleh umat manusia. Mereka lalai dari perintah Allah. Sehingga menyebabkan Allah panjangkan umur mereka untuk terus berbuat maksiat. Sehingga ketika Allah cabut nyawa mereka, mereka terhentak tak berdaya. Hari perhitungan itu pun semakin dekat. Dan sampailah pada kitab-kitab yang akan dibagikan oleh para malaikat. Manusia-manusia yang ingkar itu bingung bukan main. Mereka bertanya-tanya, hari apa itu. Kenapa semua manusia dikumpulkan? Dan itulah hari di mana maaf kita tidak lagi diterima Allah.

Allahu... Allahu... Allahu...

Minta ampun sekarang juga sama Allah. Kita nggak pernah tahu kapan Allah akan mengampuni. Minta maaf terus. Shalat sunnah taubat terus. Biar kita selamat dari segala macam dosa. Sungguh, neraka itu tempatnya orang-orang ingkar. Bahkan yang dulunya manusia itu di dunia KTP-nya Islam. Tapi kalau tidak menjalani ibadah sebagaimana mestinya, ya sama sajalah mereka dengan orang kafir yang tidak percaya kepada Allah.

Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri. Orang-orang bersih adalah orang-orang yang mampu mendapatkan dunia-Nya tapi tidak lupa pada Sang Pemilik Dunia. Itulah orang-orang sukses yang sebenarnya.

No comments:

Post a Comment