Visitor

Tuesday, April 22, 2014

Materi Tauhid Sesi 20: Sebuah Keutamaan

Ibadah adalah salah satu ikhtiar mendapatkan dunia.

Dunia ini adalah milik Allah. Kalau kita disuruh untuk menjabarkan isi dunia pasti akan capek. Ya, capek. Saking banyaknya yang ada di dunia itu. Tumbuh-tumbuhan, hewan, lautan, daratan, manusianya, pegunungan, dan masih banyak lagi. Saya tidak berbicara tentang alam dan sekitarnya. Tapi saya berbicara keseluruhan. Apa sih yang kita lihat kalau kita lagi memperhatikan sekeliling kita? Banyak kan. Nggak bisa disebutin satu-satu. Kita bisa dapatkan apa saja yang kita mau di dunia ini. Karena dunia ini lengkap. Itulah pemberian Allah. Kita nggak disusahin untuk hidup. Maha Baik Allah.

Karenanya, manusia jadi mikir gimana caranya dapetin dunia. Kata “mendapatkan” di sini saya akan tebalkan dengan “kesenangan”. Perhiasan, jalan-jalan keliling dunia, keluarga, jabatan, uang, emas, gedung-gedung tinggi, rumah, kendaraan, pulau pribadi, pesawat, pendidikan, penghargaan, dan lain-lain. Semua itu adalah materi yang “menyenangkan” kita yang bisa didapatkan di dunia. Tentu, ada yang beranggapan kalau orang sukses itu kalau berhasil “meraih” dunia. Tapi, ada juga yang berpendapat, sukses itu kalau bisa merangkap keduanya—yakni, dunia dan akhirat.

Keutamaan mengutamakan Allah dibanding dunia milik-Nya adalah ampunan dan rahmat dari-Nya. Kalau kita curhat ke Allah, ingin ini, ingin itu, dijelasin tujuannya apa, diceritain secara detail, Allah pasti senang. Allah menanti-nanti hamba-Nya yang jujur dan curhat blak-blakan sama Dia. Jika seorang hamba datang kepada Allah meminta kesuksesan dunia dan akhirat, lalu diceritakanlah bagaimana ia ingin bekerja di perusahaan A, mendapatkan gaji sekian, ingin ke luar negeri, meng-haji-kan kedua orangtua dan mertua, punya anak, bikin sekolah umum, bikin pengajian rutin, punya rumah bagus, dan semuanya diceritain. Kalau kita lihat situasinya seperti ini, pasti kita akan bilang. “Orang ini permintaannya banyak ya ke Allah.”

Yap, nggak masalah kok. Si hamba ini beneran pengen “meraih” dunia-Nya. Bagaimana caranya?

Dia selalu memohonkan permintaan yang sama setiap harinya. Tidak lupa untuk selalu menyempatkan diri bermunajat di sepertiga malam. Dan itu dikerjakannya rutin, sangat rutin. Jika ketinggalan satu malam saja, bisa-bisa nangis menyesal. Karena ibadahnya tertuju untuk mendapatkan rahmat, maka Allah pun senang memberi apa yang diinginkannya.

Allah sudah mengatakan dan berjanji untuk siapa yang ingin derajatnya dinaikkan, maka tahajjudlah.
Allah sudah mengatakan dan berjanji untuk siapa yang ingin rezekinya ditambah, maka dhuhalah.
Sembari hafalkan Waqiah.
Allah sudah mengatakan dan berjanji untuk siapa yang ingin keinginannya dikabulkan, puasa dan shalat hajatlah.
Semua itu sudah menjadi janji Allah.
Tetapi banyak dari kita yang hanya “Masa iya sih?”
Meragukan.

Untuk saya pribadi, saya tidak pernah menyalahkan orang lain untuk memohon keinginan apa pun itu kepada Allah selama itu baik. Jadi, bebas-bebas saja kalau mau berdoa. Mohonlah sungguh-sungguh kepada Allah. Benar-benar tidak akan rugi. Dan mungkin masih ada lagi yang bilang, “Borong aja semua tuh.”

Jangan hiraukan. Kita mintanya ke Allah ini. Kita borong doanya ke Allah ini. Ngapain takut? Kan kita nggak melakukan hal syirik. Yang memohon dan bersandar pada manusia.

Sekali lagi saya katakan, teman-teman boleh banget untuk cerita apa pun ke Allah, minta sama Dia, bukalah rahasia semuanya bersama Dia, menangislah seraung-raungnya kepada-Nya, dan berharaplah bahwa semua doa dan permintaan kita pasti akan dikabulkan.


Ilmu Akan Menjaga Amal

Kalau tadi saya sudah bicara tentang keutamaan doa ke Allah dan berharap hanya kepada-Nya, saya ingin tambahkan tentang ilmu. Seperti yang sudah saya ceritakan tentang kisah seorang hamba yang memohon, meminta, dan berharap kepada Allah akan keinginan-keinginannya—baik yang sifatnya duniawi atau untuk kepentingan akhirat, itu sah-sah saja dan bahkan diwajibkan. Doa itu kan juga ibadah. Dan ibadah akan menghasilkan pahala. Pahala itu yang buat kita aman untuk bisa masuk menjadi golongan kanan. Tetapi yang harus diingat, jangan pernah menilai diri sendiri sudah baik, sudah benar, sudah paling sempurna akhlaknya, atau yang semacamnya. Kita ini manusia dan kita tidak tahu kapan kita khilaf. Bahkan kadang banyak yang tidak menyadarinya. Jadi, teruslah memohon ampun kepada Allah biarpun kita merasa tidak bersalah. Teruslah berdzikir kepada Allah karena kita tidak tahu kapan dosa kita itu ‘kan diampuni oleh-Nya.

Ilmu membawa kepada keyakinan. Keyakinan membawa kepada amal. Amal membawa keberuntungan.

Ada tiga keyakinan: ilmul yaqin, ainul yaqin, dan haqqul yaqin.

Ilmul yaqin adalah keyakinan berdasarkan ilmu. Saya membaca buku UYM, mengikuti kajian rutin, bertanya pada yang lebih mempunyai ilmu, kemudian saya mendapatkan hikmah. Inilah yang disebut ilmul yaqin. Dengan ilmunya saya lalu terdorong kuat untuk beramal. Misalnya karena membaca buku UYM tentang keutamaan sedekah, saya jadi berniat untuk mengamalkannya. Dan saya mendapatkan manfaat dari sedekah tersebut. Itulah yang disebut ainul yaqin atau keyakinan berdasarkan pengalaman. Dan yang terakhir, haqqul yaqin. Saya rasa yang ini teman-teman sudah paham ya. Ya, dari kata haqq. Tidak perlu pengalaman untuk berhasil karena ini adalah keyakinan yang ya, yakin.

Kehadiran ilmu ini menjadi sangat bermanfaat. Untuk menambah keimanan kita, kita tidak cukup hanya melaksanakan apa yang Allah perintahkan. Tapi juga menimba ilmu-Nya, lebih dalam lagi. Kalau hari ini kita baru belajar tentang sedekah, cari ilmu lainnya untuk esok hari. Jangan berhenti untuk menimba ilmu.

Lihat lagi ke sekeliling kita. Kaya sekali bumi ini. Mau apa saja ada. Lengkap. Tapi, mengapa manusianya tidak menyadari juga bahwa dunia ini ada yang memiliki. Siapa dia?

Dialah Rabbil ‘alamiin.

Apa-apa yang Allah minta ke kita, tentu bermaksud baik. Apa yang Allah haramkan, ternyata kalau kita tetap makan akan jadi penyakit. Sedangkan apa yang Allah halalkan, ternyata kalau kita konsumsi jadi obat dan manfaat.

Tapi sayang beribu sayang. Kalau ada dari mereka yang hanya meraih dunia dengan niatan ingin meraih dunia saja. Ada yang ingin jadi penyanyi hebat, ya dia cari jalan dan metode bagaimana agar bisa jadi penyanyi terkenal. Tanpa memikirkan siapa yang akan mengizinkannya. Itulah mereka yang tidak punya ilmu. Dan sekaya atau sepintar apa pun manusia, jika ia tidak memiliki ilmu tentang Allah, maka jauh lebih baik dibandingkan orang yang mengemis-ngemis kepada orang lain. Artinya apa?

Mereka akan sangat rugi.
Karena yang dapat memberikan kita dunia ini hanyalah Sang Pemilik Dunia. Dan Dia menanti-nantikan hamba-Nya yang meminta.
Tidakkah hati kita tergerak untuk menggantungkan harapan hanya kepada-Nya?

Tidakkah kita tahu bahwa keutamaan beriman kepada-Nya akan membawakan kita menuju jannah-Nya?

No comments:

Post a Comment