Visitor

Friday, April 4, 2014

Materi Tauhid Sesi 2: Laa-ilaa-ha-illallah

Siapa di antara kalian di sini yang suka dan ngerti main catur? Kita analogikan dengan permainan catur ya.

Kalau kita main catur berdua, maka berlaku aturan permainan catur. Di mana kuda jalannya L. Peluncur jalannya miring. Pion hanya bisa jalan maju tidak bisa mundur, dan paling banyak hanya bisa jalan dua kotak catur lurus ke depan. Adapun raja, bila di depannya, seluruh pion belum dijalankan, dan peluncur serta menterinya masih ada di kanan kirinya, maka raja hanya bisa diam. Tidak boleh ia melompati raja. Itulah aturan catur. Tapi itu kalau main berdua. Bagaimana kalau main catur sendirian? Kalau main catur sendirian, ya bebas-bebas aja. Tidak berlaku hukum permainan catur. Kita boleh menjalankan kuda selagu-lagunya. Mau lurus, mau muter, mau lompat, bebas. Peluncur pun mau kita buat jalannya melompat-lompat seperti main halma, boleh. Bagi raja, meskipun seluruh pion belum dijalankan, ia pun boleh melompat dan bebas bergerak ke sana ke mari. Inilah yang terjadi kalau kita main catur sendirian.

Dan bila analogi catur ini boleh kita bawa ke urusan tamsil tauhid, maka perlu kita ketahui bahwa Allah itu tidak ada sekutu bagi-Nya. Ibarat main catur, ALLAH MAIN SENDIRIAN DI DUNIA INI. TIDAK ADA YANG LAIN.

Kemudahan ada di tangan Allah. Laa-ilaa-ha-illallaah. Tidak ada yang bisa memberi kemudahan kecuali Allah. Kebahagiaan, ketenangan, kedamaian, ada di tangan Allah. Laa-ilaa-ha-illallaah. Tidak ada yang bisa memberi itu semua kecuali Allah. Sama dengan maksudnya itu kalimat; tidak ada yang bisa memberikan ragam kesulitan kecuali Allah yang hingga Dia-lah yang bisa melepaskannya kembali. Kehendak itu kehendaknya Allah. Maka jika kita ingin Allah berkehendak memudahkan segala urusan kita, mintalah ke Dia. Kita tidak bisa menjamin diri sendiri untuk mendapatkan segala kemudahan apabila Allah tidak menghendaki. Rasul pun demikian. Ia tidak sanggup menjamin dirinya dan anak keturunannya masuk surga bila tiada ketaatan dan amal shaleh.

Bila Allah sudah mengatur, maka Kun Fayakuun-Nya yang terjadi. Kuasa-Nya yang terjadi. Karena Dialah Laa-ilaa-ha-illallaah. Tidak ada yang mengatur dunia ini kecuali Allah. Saya sangat sangat bersedia untuk diatur. Sebab saya tahu dan meyakini, dengan sebab ilmu yang diteteskan-Nya pada saya, melalui pengajaran para guru, orangtua, teman, lewat berbagai media, bahwa kalau Allah sudah mengatur, maka aturan-Nya itulah yang terbaik. Laa-ilaa-ha-illallaah. Tidak ada aturan yang terbaik kecuali apa-apa yang sudah Allah aturkan.

Sedikit cerita tentang saya pribadi, sebenarnya sudah dari semester 5 saya memikirkan akan mengambil topik apa untuk skripsi saya. Semangat banget ya. Ya begitulah, namanya juga anak muda, hehehe. Saya pengen banget kuliah selesai dengan tepat waktu dan bisa skripsi. Beberapa teman di kampus saya kebetulan ternyata lebih banyak mengambil jalur non-skripsi karena takut kelamaan. Ibarat kata, jalur skripsi itu bikin memperlambat kuliah. Sebenarnya sih itu hanya ketakutan anak-anak yang malas saja menurut saya. Wong kalau bisa rajin tiga kali seminggu ke perpustakaan cari data, dan langsung dibikin hipotesa bisa banget loh selesai kurang dari 3 bulan. Asumsi saya sih gini, Allah bakalan kasih kemudahan untuk kita yang mau berusaha ditambah lagi doanya kencang. Jadi sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Biarkan itu urusan Allah. Tugas kita cuma ngejalanin, doa, beribadah yang tekun dan terus meminta ke Dia.

Begini, sudah hampir 5 kali saya ganti topik skripsi. Topiknya berbeda-beda semua. Dan begitu dijajal, ternyata ribet minta ampun. Susah. Akhirnya digantilah, hingga topik yang sekarang ini saya coba jajal, dan alhamdulillah... susah juga, hehehe. Namanya juga belajar. Mana mungkin disebut belajar kalau dari awal kita udah paham dan ngerti. Pasti awalnya kita nggak ngerti, terus barulah jadi ngerti karena proses belajar itu. Pas saya mau ambil ini topik, saya shalat dulu. Habis itu coba ke perpustakaan dan mikir panjang malamnya. Minta petunjuk Allah. Istikharah juga nggak ditinggalin. Karena itu yang penting. Kita harus diskusikan sama Allah. Karena kan dia yang ngatur. Dia yang paling tahu mana yang terbaik untuk kita. Akhirnya, jalan deh saya ke perpustakaan. Saya cari data yang saya ingin cari di bagian rak-rak buku bahasa Inggris. Saya tahu kalau cari buku bahasa Indonesia nggak akan ketemu, hehehe. Dan alhamdulillah. Saya merasakan kerja Allah. Saya merasakan campur tangan-Nya. Allah ringankan saya untuk jalan ke tempat itu dan akhirnya: saya nemuin dua buku yang berkenaan dengan topik saya.

Dari dua buku itu yang cukup tebal saya baca, baca, baca. Saya baca doang, hahaha. Ya tapi saya fotokopi juga untuk mempermudah saya mengambil data-datanya. Karena bukunya mau saya kembalikan hari ini. Dan saya perlu mencari buku lain sebagai data tambahan, mulai dari historis dan perkembangannya. Belum lagi saya musti tahu konsep yang mau saya ambil di topik ini. Tapi semua itu pelan-pelan. Nggak usah terburu-buru.

Jujur, kali ini saya benar-benar merasakan betul kemudahan mulai dari mudahnya saya jalan pagi-pagi ke perpustakaan, mudahnya saya dikasih angkot jalan ke sana, mudahnya saya menemukan buku-buku sampai wi-fi yang nyala. Saya bersyukur. Lagi-lagi, saya aduin semua ini ke Allah. Saya minta ke Allah. Kalau memang topik ini benar-benar pas untuk saya, maka buatlah agar saya bisa menyelesaikannya dalam waktu yang tidak lama. In syaa Allah bi’ithnillah, saya inginnya proposal di akhir semester ini sudah jadi lengkap dengan kerangka-kerangka yang seharusnya memang akan dibuat. Sensei saya bilang, kalau bisa sih proposal jadi lebih dari “lengkap” biar kita yang mau ambil jalur skripsi melanjutkan di kelas seminar lebih mudah. 

Saya tanya ke beliau,

“Bisa begitu sensei? Susah nggak sensei?”

“Kamu belum nyoba aja udah takut susah. Kalau rajin dan niat, nggak ada yang susah!”

Dosen saya itu baik bener dah. Saya selalu dapat nilai A kalau di kelas beliau. Entah padahal nilai tugas dan UTS-nya tidak terlalu baik. Ternyata beliau sendiri yang bilang kalau saya ini anaknya aktif di kelas, suka nanya, suka nyatet, dan bahkan suka tidur, hehehe. Karena keaktifan itu, saya dikasih nilai A. Masya Allah.

Balik ke topik tadi, jadi saya coba jajal target akan menyelesaikan proposal lebih dari “lengkap” dan tentunya ini bisa berhasil bukan karena bantuan dosen. Tapi Allah. Dia yang harus kita utamakan. Lewat bantuan Allah-lah, Allah mengirimkan kemudahan dengan dosen kita tersebut. Dengan menanamkan niat sedari sekarang, saya sudah coba kerjakan pelan-pelan tugas yang diminta beliau. Nantinya di setiap pertemuan akan dikoreksi. Biasanya saya selalu siapkan pulpen hitam dan tebal supaya bisa dicoret-coret. Setelah pulang, saya betulkan lagi. Saya cari data lagi. Begitu. Hingga ketemu titik terangnya. Saya nggak mau ngulur-ngulur waktu. Lebih baik dikerjakan sekarang daripada nanti keburu lupa dan malas. Sama kayak shalat, kalau diulur-ulur, bisa-bisa setannya makin akrab sama kita.

Perihal dapat nilai apa sebenarnya biarlah itu menjadi ketentuan Allah. Kita di sini benar-benar cuma ngejalanin. Semenjak saya gunakan selalu teori “istikharah dulu, baru jalan” alhamdulillah semuanya selalu membaik. Ada cerita baik di balik pengorbanan. Ya, namanya ngerjain skripsi pasti mengorbankan banyak hal. Mulai dari fotokopi, ongkos, pikiran, dan paling banyak adalah waktu, dan mata sebenarnya. Kita jadi sering banget nyalain laptop untuk nulis. Hati-hati ini. Jangan sampai mata kita jadi “lemah” karena keseringan dimanjain sama laptop. Minta ke Allah lagi. Supaya mata kita tidak rusak lantaran sering banget ngerjainnya di laptop.

Alhamdulillah... hujan. Saya seneng banget nih kalau lagi nulis-nulis gini terus hujan. Lanjut ya. Oke, saya tadi sudah menjabarkan tentang cerita saya pribadi dengan menggunakan konsep “laa-ilaa-ha-illaallaah”—bahwa tidak ada kemudahan dan kesulitan jika bukan kehendak Allah. Jadi semua-muanya yang terjadi di dunia ini sungguhan tidak ada yang kebetulan. Ini semua qodarullah. Tapi jangan dijadikan alasan ya misalnya, “Saya telat bu. Mohon maaf, ini qodarullah.”—kalau yang barusan sih itu tandanya males bangun pagi aja tuh.

Begitu juga yang dipaparkan Ustadz Yusuf Mansur. Dengan berpikiran seperti ini, yang harus dilakukan adalah menyadari semua itu, pasrah berserah diri untuk ikut di dalam aturan-Nya dan mengikuti sepenuh hati dengan kekuatan penuh. Tidak setengah-setengah.

Laa-ilaa-ha-illallaah. Tidak ada Tuhan selain Allah yang senantiasa mengawasi apa yang kita lakukan. Bisakah kita bermaksiat di hadapan Allah Yang Maha Melihat dan Mengawasi dan bisakah kita berbuat dosa di hadapan Allah Yang Maha Mengetahui? Sedangkan siapa yang sanggup bermaksiat dan berbuat dosa TANPA REZEKI-NYA? Semua berbuat dosa dan maksiat dengan memakai pemberian Allah. Laa hawla walaa quwwata illaa billaah. Kok bisa-bisanya berbuat dosa sementara mata dari Allah, telinga dari Allah, tangan dan kaki dari Allah, duit dari Allah? Seseorang berbuat dosa dan maksiat sementara kesehatannya adalah dari Allah. Boro-boro dibawa ibadah, taat, dibawa untuk kebaikan, ini malah dibawa dosa dan maksiat. Udah gitu, berbuat dosa dan maksiatnya sambil dilihatin sama Allah lagi. Astaghfirullah. Ampunilah kami-kami ini, ya Allah.

Teman-teman, kita kudu banget mulai mikirin apa saja yang sudah kita perbuat dari rezeki-Nya Allah. Jangan-jangan itu dosa. Jangan-jangan itu maksiat. Dan lebih ngerinya lagi, jangan-jangan itu masuk ke dalam 10 dosa besar. Nah, hati-hati. Jangan mudah dikelabui sama bisikan setan. Mereka hanya akan menggiring kita ke neraka. Supaya kita bisa nemenin mereka. Duh, jangan sampai kita terlena ya. Sebagai penutup, saya ingin kalian semua mulai menulis sesuatu di kertas lembar menggunakan pulpen merah. Jawab pertanyaan saya.

1. Terakhir shalat di masjid kapan? Jam berapa? Shalat apa?
2. Terakhir cium tangan ibu atau bapak kapan? Di momen apa?
3. Terakhir ngisi celengan amal di mushola kapan?
4. Terakhir menyentuh Al-Qur’an kapan?
5. Terakhir ingat Allah kapan?

Jawab jujur ya. Biar Allah nanti yang kasih hadiah ke kalian karena kejujuran yang kalian tulis. Habis itu, ambil air wudhu, buka Al-Qur’annya, kalau belum lancar baca Arab, baca terjemahan juga gapapa kok. Buka surah ke-23 118 ayat sambil nunggu shalat Dzuhur. Saya juga deh, hehehe.

No comments:

Post a Comment