Visitor

Monday, April 21, 2014

Materi Tauhid Sesi 19: Ibadah Tujuan Hidup

Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.

Semula banyak orang berpikir bahwa hasil usaha dia adalah seukuran kerja, seukuran usaha, seukuran proyek, seukuran dagangan, atau seukuran modalnya. Begitulah selama ini pikiran kita bekerja. Tidak pernah terpikirkan atau jarang terpikirkan bahwa hasil usaha bisa diperbesar lewat jalan ibadah dan jalan usaha bisa diperluas lewat jalan ibadah.

Ya, banyak di antara kita yang tidak berani berpikir bahwa jalan ibadah bisa menambah dan memperluas rezeki. Yakin, barangkali iya. Maksudnya, iya yakin bahwa “jalan ibadah bisa menambah dan memperluas jalan rezeki”, tapi membicarakannya hingga “menjadi sebuah metode”, menjadi sebuah solusi yang “diataskertaskan”, tidak sedikit yang kurang berani.

Padahal sebagai sebuah petunjuk, Al-Qur’an adalah petunjuk:

“Beberapa hari yang ditentukan itu adalah bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang hak dan yang bathil.” (QS. Al-Baqarah [2]: 185)

Tentu saja termasuk “petunjuk” untuk mencari rezeki dari Yang Maha Memiliki segala pembendaharaan rezeki.


Ikhlas, Doa, dan Harapan

Wacana-wacana yang menjadikan “kekurangberanian” atau “kesungkanan” untuk meyakini keyakinan itu secara bulat, baik di praktik maupun di teori (menjadi metode) adalah sebab ada wacana bahwa “ibadah itu harus ikhlas dan tidak boleh beribadah karena dunia-Nya—harus karena wajah-Nya semata”.

Orang yang mencari dunia milik Allah lewat jalan ibadah pun tidak mesti juga serta merta dikatakan tidak ikhlas. Bagaimana kalau mereka secara cerdas “memisahkan” antara keikhlasan dan doa? Atau keikhlasan dan harapan? Artinya, ketika mereka menjalankan, mereka tahu dengan ilmunya bahwa dengan beribadah, dunia akan Allah dekatkan, tapi pada saat yang sama, mereka beribadah sepenuh hati kepada Allah. Harapan pun ia gantungkan semata hanya kepada Allah. Bahwa dia menempuh jalan ibadah, sebab karena Allah dan Rasul-Nya memberi petunjuk demikian. Karenanya, harus percaya dan mengikutinya.

Contoh salah satu bentuk ibadah adalah sedekah. Lalu Allah memberitahu bahwa kalau sedang disempitkan rezekinya, bersedekahlah. Nanti Allah akan buat apa-apa yang sulit, jadi mudah.

“Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekadar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS. Ath-Thalaq [65]: 7)

Lalu, kira-kira yang sedang diberi nikmat kesulitan, percaya dan berkenan mengikuti dengan harapan agar benar-benar kesulitan kita dimudahkan Allah. Jalan-Nya yaitu jalan sedekah, kita turuti betul, alias kita bersedekah.

Salahkah kita? Apakah kita disebut tidak ikhlas hanya karena beribadah karena berharap akan kebenaran janji-Nya? Salahkah kita bila percaya pada apa yang dikatakan-Nya? Salahkah juga kalau kita kemudian bersedekah karena kepengen diberikan kemudahan atau karena kesulitan kita kepengen dihapus-Nya? Sedang ini adalah firman-Nya?

Nampaknya tega betul jika dibilang tidak ikhlas. Saya lebih suka menyebutkan, bahwa ini saking percayanya, saking yakinnya, sama petunjuk Allah, lalu kita melakukannya. Dan karena harapan kita gantungkan hanya kepada-Nya toh bukan kepada yang lain? Kecuali jika kita berharap atau menggantungkan harapan kepada manusia. Lain lagi kalau persoalan itu. Sama saja dengan musyrik. Dan saya juga sudah pernah jelaskan di materi tadabbur beberapa waktu lalu, bahwa musyrik salah satunya adalah percaya, cinta dan berharap pada yang namanya manusia. Kalau kita sudah seperti itu, kita bisa-bisa kehilangan Allah.

Bab kali ini memang betul-betul banyak pembahasannya. Dan sepertinya juga saya tidak sanggup menuliskannya semua. Saya hanya menyimpulkan seperti ini:

Sungguh, tujuan hidup kita adalah untuk Allah. Sungguh, tujuan ibadah dan semua-mua yang kita kerjakan ini adalah untuk Allah semata. Jangan masukkan seseorang pun ke dalam hati kita yang terdalam. Biarlah Allah saja dulu yang kita cintai. Itu jauh lebih indah. Mencintai Allah yang abadi. Yang hidup satu-satunya. Sedangkan kita semua akan mati. Makhluk hidup apa pun akan mati. Bahkan malaikat-malaikat pun akan mati nantinya. Hanya Allah sajalah yang abadi. Maka dari itu, jadikanlah Dia sebagai yang prioritas. Jadikanlah Dia nomer satu di kehidupan kita. Pentingkan Dia dulu. Dahulukan Dia dulu. Baru yang lainnya.

Dengan nurut sama Dia, mengikuti perintah-Nya, nggak macem-macem, nggak ngelanggar apa yang dilarang, in syaa Allah kita sudah meraih dunia ini. Bukan kita yang dikendalikan oleh dunia. Menurut saya, antara dunia dan akhirat bukan berarti lebih penting akhirat. Atau sebaliknya. Allah telah menempatkan umat manusia untuk hidup di bumi. Tempat yang paling aman dan nyaman untuk ditinggali. Tapi bukan berarti kita harus ‘gila’ akan dunia. Kita pasti akan meninggalkan bumi ini, entah kapan. Dan karena bumi adalah tempat kita mencari rahmat-Nya, mencari ilmu untuk mengenal-Nya, menabung amal shaleh untuk mendapatkan jannah-Nya, maka di sinilah kita berperan sebagai manusia yang bisa ‘mendapatkan’ dunia juga sekaligus akhirat. Cuma di sinilah tempat kita bisa memohon ampun, meminta apa saja, berdoa, beribadah, menggantungkan harapan kepada-Nya. Kelak jika sudah di Yaumul Hisab nanti, semua sudah terlambat. Apa-apa yang pernah kita kerjakan di dunia akan terlihat jelas di dalam kitab yang akan kita pegang masing-masing. Semua itu terasa nyata sekali buat saya. Sehingga saya selalu berusaha mengingatnya setiap hari. Agar saya timbul rasa takut jika meninggalkan Allah sedetik saja.

Saya tidak mengatakan bahwa saya tidak ingin keliling dunia. Saya mau sekali jika Allah memberi saya kesempatan jalan-jalan seperti itu. Sungguh, saya sangat mau. Tapi bukan berarti saya jadi mengejar “itu”. Saya lebih ke: mengejar Allah. Karena jika saya sudah berhasil “mengejar” Dia, pasti saya akan mudah mendapatkan jalan-jalan itu, hehehe. Itu hal yang manusiawi. Kebetulan saya juga belum pernah ke luar negeri. Dan saya ingin melihat keindahan bumi Allah lainnya. Seperti katakanlah, Turki dengan Blue Masjid-nya. Atau Eropa. Atau Jepang dan keindahan bunga sakuranya. Atau Paris, si kota sibuk. Atau Belanda, negara kincir angin. Bahkan Indonesia. Nggak usah jauh-jauh. Pulau Kalimantan, Sulawesi, Papua, bahkan NNT pun saya ingin kunjungi. Dan bagaimana keindahan pulau-pulau yang tersembunyi itu membuat wisatawan tertarik untuk berkunjung ke sana. Sayangnya, tidak begitu terkenal. Mungkin hanya beberapa saja yang sangat terkenal—seperti Bali dan Lombok.

Biarpun saya ingin jalan-jalan, tujuan saya bukan untuk sekadar “jalan-jalan”. Tapi lebih kepada, ingin melihat keindahan bumi di belahan lain yang Allah ciptakan. Seluas apa bumi ini. Seindah apa lautannya. Sedalam apa samuderanya. Secantik apa sunsetnya. Sebesar apa gunung-gunungnya. Sepanjang apa aliran sungainya. Dan semua adalah tanda-tanda kebesaran-Nya.

No comments:

Post a Comment