Visitor

Sunday, April 20, 2014

Materi Tauhid Sesi 18: Tidak Ikhlas?

Bagaimana jawaban teman-teman sekalian jika ada saudara kita bertanya, “Kalau mau sedekah, ya sedekah aja. Jangan karena ada maunya terus sedekah.” atau “Beribadah itu ya wong ke Allah karena niat ingin ibadah sajalah. Jangan berharap imbalan apa-apa.”

Kalau saya sih jawabnya in syaa Allah dengan suatu ayat seperti di bawah ini:

“...Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku...” (QS. Al-Baqarah [2]: 186)

Suatu hari si A bingung. Kenapa ketika seseorang beribadah kepada Allah, malah nggak boleh minta sama Allah?

Siapa yang mengatakan seperti itu? Ternyata orang-orang di sekitar si A.

“Ibadah ya ibadah saja, jangan minta sama Allah.”
“Tahajjud ya tahajjud saja. Jangan tahajjud sebab pengen minta ini minta itu sama Allah.”
“Sedekah ya sedekah saja. Masa sih sedekah karena pengen sesuatu. Salah tuh.”

Orang-orang seperti ini yang membuat si A bingung.

Lalu pertanyaannya lagi. “Ibadah itu harus ikhlas dari hati. Jangan ngarepin apa-apa.”

Ikhlas?

Apakah Allah melarang hamba-Nya untuk meminta kepada Dia? Lalu apakah kalau kita shalat dan bersedekah lalu memohon kepada Allah agar bisa ini bisa itu disebut tidak ikhlas dalam beribadah?

Eits, sebelum saya pangkas dan jawab, coba teman-teman tanya ke hati masing-masing. Begini juga kagak pola pikirnya? Hayo ngaku. Kalau saya sih, pernah terlintas seperti ini, dulu. Tapi saya pikir ini hanya pemikiran orang kuno dan awam saja. Mereka yang berkata seperti ini bagaikan orang yang tidak mempunyai ilmu akan hal itu. Dan saya coba mencaritahunya perlahan-lahan.

Meminta itu sama saja berdoa. Berdoa itu termasuk dalam ibadah. Kalau shalat ditambah berdoa yang sama dengan meminta berarti ibadahnya double, bukan? Sebaliknya, kalau shalat, seusainya sudah rapikan mukena atau peci saja terus pulang tanpa berdoa. Berarti pahala ibadahnya hanya shalatnya saja kan? Ya wong dia langsung pulang nggak doa dulu.

Sedekah. Ketika kita bersedekah, dalam hati sudah mengucapkan ini-itu yang hanya Allah saja yang tahu. Berharap setelah sedekah akan dikabulkan hajatnya. Berarti dia berdoa. Dan pahala sedekah ditambah pahala berdoa jadi ada dua kan? Tapi bandingin deh sama orang yang sedekah-sedekah saja. Pahalanya hanya sebatas sedekah itu sendiri.

Ternyata, berdoa merupakan ibadah yang sangat baik dan sangat dianjurkan. Sebagaimana juga Rasulullah selalu berdoa kepada Allah di waktu lapang dan sempit. Dalam keadaan apa pun. Karena Allah memang membuka pintu-Nya, dan murah memberi hadiah kepada hamba-Nya yang mau menegakkan ibadah.


Minta Terus Jangan Ragu

Allah suka dengan hamba-Nya yang banyak meminta.

Supaya tetap terhubung dengan Allah, maka jadilah orang-orang yang senantiasa butuh sama Allah. Salah satu caranya adalah dengan banyak meminta kepada Allah. Dikabulkan yang satu, minta yang lain. Terus begitu. Nggak apa-apa.

Percayalah. Kepada Allah jangan takut meminta. Jangan keburu berasumsi itu tidak ikhlas. Pelajari dulu ilmu ikhlas, barulah boleh berpendapat. Jika kita punya amal yang hebat, kita disayang sama Allah. Maka memintalah, Allah akan memenuhi apa yang kita minta. Tentu jika itu adalah doa yang baik.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka jawablah, bahwasanya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah [2]: 186)

Allah mengabulkan setiap hamba-hamba-Nya yang memohon kepada-Nya. Dengan syarat, hamba-hamba-Nya mau memenuhi perintah Allah.

Apa-apa saja perintah Allah itu?

Mulailah dengan perbaiki shalat. Kita niatkan dengan total sebagaimana orang-orang yang berserah diri. Jaga wudhu. Berkonsentrasi. Jangan mudah terpengaruh oleh ajakan-ajakan setan.

Itu saja dulu sebagai pembenahan kita. Shalat itu sebagaimana yang mereka ketahui, ya, “wajib”. Tapi tidak “sepenting” itu. Seperti yang sudah pernah dibahas di bab sebelumnya. Ada yang masih membuat Allah menunggu.

“Tunggu ya, lagi dagang nih.”
“Tunggu ya, lagi ngitung uang nih.”
“Tunggu ya, lagi nyuapin anak nih.”

Astagfirullahaladzim.

Jangan sampai panggilan hayya alaa sholla itu kita jawab dengan “TUNGGU YA.”

Karena sungguh, berarti kita lebih mementingkan pekerjaan itu daripada bertemu dengan Allah.

Setelah itu apa?

Perbanyak amalan sunnah. Ini yang in syaa Allah sedang saya niatkan betul-betul. Mulai dari sunnah dhuha, tahajjud, witir, hajat, qabliyyah ba’diyah, puasa senin-kamis, puasa daud. Semua itu sunnah. Yang mana orang kebanyakan mengatakan bahwa sunnah itu boleh dikerjakan dan akan mendapat pahala, tapi kalau tidak dikerjakan tidak apa-apa. Saya mengubah mindset ini. Saya berusaha menjadikan sunnah adalah wajib. Berarti tingkatan wajib lebih tinggi lagi. Dan harus diusahakan untuk didahulukan. Jangan sampai sunnahnya saja yang kuat, tapi fardhunya tidak. Begitu juga sebaliknya. Sebisa mungkin diseimbangkan. Sehingga amal shaleh kita ini pun akan terasa berat sehingga membuat Allah mampu mengabulkan doa-doa kita. Terlebih lagi, jika sudah ketemu jalan taufiq.

No comments:

Post a Comment