Visitor

Saturday, April 19, 2014

Materi Tauhid Sesi 17: Dimarahi Bule

Allah Maha Baik
Tidak pernah Dia kecewa.

Pernah suatu ketika ustadz dan kawan-kawannya diberi kesempatan pergi ke Negeri Belanda. Dan setibanya di sana ternyata tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Si bule muncul. Dan akhirnya berkata, “Bangsa Asia, suka telat!” ucapnya sambil marah-marah.

Selidik punya selidik, ternyata ini hanya salah paham biasa. Tempat meeting point tersebut ternyata ada dua. Lantas sebenarnya antara si bule dan kawanan ustadz tidak ada yang terlambat. Hanya salah tempat saja.

Cerita marahnya si bule karena kedatangan tamunya yang telat ternyata cukup membuat saya tersentil. Betapa Allah itu baik sekali. Coba bayangkan, kalau dalam sehari kita telat 1 jam, dan Allah marah. Duh, habislah kita. Manusia saja tidak suka menunggu. Tetapi kerjanya membuat Allah menunggu terus.

Kita saja kalau jadi orangtua, lalu kita panggil anak kita untuk makan misalnya, lalu dia tidak bergerak, kita jadi marah. Anak kita suruh mandi, tidak mendengar, sebel banget rasanya, hehehe. Lalu kita ini gimana ke Allah?


Kita Marah Diabaikan

Ketika kita membuat Allah menunggu kita, bagaimana perasaan kita?
Biasa-biasa saja atau gelisah?

Masih seputar telat dan tunggu menunggu. Satu waktu, di antara kita ada yang sebal diabaikan. Jangankan diabaikan, disuruh menunggu saja tidak enak. Akan bertambah berat lagi persoalannya kalau menyangkut hal penting. Bertambah kesallah kita karena keterlambatan teman kita ini, misalnya. Selanjutnya apa yang terjadi? Yang terjadi adalah kawan kita itu tidak termasuk lagi ke dalam daftar hitungan kita. Kita menjadi berhati-hati jika membuat janji dengan dia.

Andai kita seorang guru, marahlah kita bila kemudian murid pada telat datangnya. Apalagi kalau yang telat itu banyak, dan datangnya satu demi satu. Menganggu pelajaran. Andai kita adalah orang yang lebih penting daripada yang ditunggu, tentu menjadi tidak masalah bila kemudian kita meninggalkan dia, dan merugilah dia. Tapi tetap saja urusannya teramat mengganggu. Kita lalu menganggap dia sudah membuang waktu kita yang begitu berharga. Padahal kita ini orang penting, begitulah kita membatin.

Bagaimana dengan Allah? Bagaimana kita selama ini bergaul dengan Allah?

Inilah salah satu pentingnya kita mempelajari ilmu tauhid, ilmu mengenal Allah dari pintu shalat.

Shalat adalah pintu utama amal yang dihisab nanti. Dia jelek, maka jeleklah seluruh amalnya. Jika dia bagus, maka baguslah seluruh amalnya. Bahkan, di dalam Islam, tidak dianggap suatu kebaikan bila seseorang mengerjakannya tapi meninggalkan shalat. Saya ada satu cerita tentang seorang dermawan yang amat baik terhadap saudara dan tetangganya. Beliau ini terkenal tidak pernah membuat masalah. Harmonis sekali hubungannya dengan keluarganya, begitu pun dengan masyarakat sekitar. Tapi sayang beribu sayang, beliau ini tidak mengerjakan shalat. Entah apa yang ada di benaknya, tapi beliau ini berpendapat bahwa ada yang jauh lebih diperhitungkan dari shalat—yakni amal kebaikan kepada sesama. Nah. Nah. Nah. Sudah jauh betul beliau ini dari tauhid. Masa merasa cukup dengan amal kebaikan saja tanpa shalat? Berarti sama saja beliau tidak mengenal Allah, bukan?


Shalat Berjamaah

Ingin saya cerita dan berbagi bersama para pembaca tentang pengalaman saya dan teman-teman ketika kami daurah—menginap di pesantren.

Hari itu saya akui sebagai kali pertamanya saya shalat tahajjud berjamaah. Saya pikir dulu jika ingin mengerjakan tahajjud tidak perlu berjamaah. Ternyata boleh ya? Hehehe. Nah, dan tidak sampai di situ. Imamnya subhanallah.

He recited Qur’an in Juz 2 or 5.

Jadi, bacaan Al-Qur’annya itu bukan lagi Surah Al-Ikhlash, Al-Falaq, An-Naas, Al-Kautsar, tapi An-Nur—semisalnya! Masya Allah.

Apalagi kalau sudah dibacakan Surah Maryam dengan level qari internasional gitu, nangis dah. Jumlah rakaatnya pun bukan 2. Tetapi berbelas-belas. Subhanallah. Saya saat itu mata masih sepet banget. Istirahat jam 12 malam sudah ditambah sama cerita-cerita sama temen, habis itu bangun lagi jam 2 pagi. Walaupun hanya tidur beberapa jam saja, tapi rasanya tubuh saya benar-benar kuat. Allah yang menguatkan. Dan energi positif dari shalat berjamaah itu masya Allah. Saya nggak bisa banyak ungkapkan dengan kata-kata. Karena itu indah banget. Sempat saya memohon kecil dan berbisik kepada Allah, sungguh ingin saya dipertemukan dengan seorang hafidz yang mampu membawa saya dan keluarga menjadi keluarga qayyim. Membangun rumah tangga berasaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tidak boleh melenceng dari itu. Setiap bangun malam, selalu bersiap-siap untuk bermunajat. Ayahnya memakaikan mukena untuk puteri-puterinya. Kemudian ayahnya membacakan ayat-ayat suci dengan indahnya. Menangis sepanjang shalat. Anak-anak pun turut merasakan ketenangan yang luar biasa. Sejak usia dini, sudah dilatih dan dibiasakan shalat berjamaah. Ketika shalat fardhu, diajak berjamaah di masjid. Kemudian pulang sambil bergandengan tangan. Masya Allah. Kemudian setelah sampai di rumah, ayahnya sudah sibuk memegang Al-Qur’an hafalan anak-anak. Mereka masing-masing bergilir untuk tahsin dan muraja’ah. Setelah yakin dengan bacaannya, mereka perdengarkan hafalan ayat-ayatnya pada ayahnya. Subhanallah. Sudah bisa menjadi hafidzah di usia sangat dini itu adalah anugerah yang sangat indah.

Bagaimana dengan teman-teman?
Sudahkah meminta kepada Allah hal yang kira-kira serupa dengan saya?
Atau mungkin berbeda?

Ya, saya memang sangat suka berlama-lama bersama Dia di sujud setelah merasakan sungguh luar biasa indahnya. Hati ini adem tenteram. Yang tadinya marah, bingung, risau, saya ganti dengan shalat malam, semuanya berubah. Banget. Dan itu tidak bisa disamakan dengan yang sebelum shalat. Pantas saja, Allah sudah menyarankan kepada kita semua untuk menjadikan shalat dan sabar sebagai obat. Niscaya Allah akan turunkan karunia itu ketika kita mampu menjalaninya dengan ikhlas.

No comments:

Post a Comment