Visitor

Friday, April 18, 2014

Materi Tauhid Sesi 16: Fadhilah Iman Kepada Allah

Disebut bertauhid manakala kita bisa mempercayai janji Allah sebab menyakini bahwa janji Allah adalah benar. Inilah bagian tauhid, bagian dari mempercayai dan meyakini Allah.


Seorang ibu di Jember tidak bekerja dan tidak ada siapa-siapa di rumahnya. Lalu dari mana dia akan mendapatkan rezeki? “Allah punya sejuta cara jika sudah menghendaki sesuatu.” begitu katanya meyakinkan dirinya sendiri.

Dan keyakinannya ini mengantarkannya pada rezeki. Dia bersedekah di acara, 5 ribu. Dia pulang dengan jalan kaki sebab ongkosnya dipakai sedekah. Sesampainya di rumah, dia punya rumah dihampiri pengendara sedan yang sudah kebelet kepengen pipis. Selesai pipis, dia diberi5 50 ribu atau 10x lipat dari yang disedekahkannya.

Pelajaran di atas bukan hanya pengajaran tentang fadhilah sedekah. Sekali lagi ini pengajaran tauhid. Keyakinannya terhadap Allah sudah menggerakkannya bersedekah. Sungguh pun uang itu adalah untuk ongkos, ia kalahkan. Dan keajaiban pun terjadi.

Pernah ada kisah seorang tukang ikan datang meminta amalan agar bisa punya modal lebih. Ketika ditanya buat apa modal lebih, dijawab supaya ada untung lebih. “Memangnya pasti tuh kalau modal ditambah, untung pasti bertambah?” dia ragu menjawabnya. Ya, saya tahu banyak yang memiliki kesadaran bahwa tidak ada yang pasti di dunia ini kecuali aturan Allah. Tapi kemudian dia menjawab, “Secara hitungan sih, ya nambah untungnya. Tapi ya nggak tau dah. Namanya juga nasib.”

Kemudian seseorang bertanya kepadanya, “Rezeki itu dari Allah atau dari ikan?”
“Dari Allah.”
“Minta saja sama Allah tambahan rezeki. In syaa Allah nggak kudu pake tambahan modal, rezeki pasti nambah.”
“Yah, dari mana jalannya kalau nggak ada tambahan modal?”
“Jalannya bukan nambah modal. Tapi nambah rezeki dengan jalan-jalannya Allah.”

Keterbatasan pengetahuan seseorang akan sumber rezeki menyebabkan rezekinya juga terbatas. Tapi mereka yang terbatas pengetahuannya akan sumber rezeki sebenarnya cukup dengan memiliki ilmu tauhid, maka sudah akan bertambah-tambah rezekinya. Yakini saja bahwa Allah akan membukakan pintu rezeki yang lebih banyak dan kemudian mau memintanya, maka sungguh, ini cukup baginya untuk bertambah rezekinya. Keyakinan saja kita tidak punya, apalagi amal kali. Barangkali.

Beberapa waktu berlalu dan akhirnya si tukang ikan ini berjanji akan mencoba untuk bersedekah. Sore harinya dia bersedekah 5 ribu. Esoknya, ada kejadian. Ada seorang anak muda yang biasa minjem motor. Karena biasa, jadi tidak ada yang aneh. “Ya, silakan.” kata si tukang ikan mempersilakan. Nah, yang si tukang ikan ini tidak tahu, Allah-lah yang mengatur semua ini. Allah melihat dari Arsy-Nya sana, bahwa dari situlah rezeki si tukang ikan bisa terbuka. Dan hanya 15 menit anak muda ini memakai motor itu, sebagaimana biasanya, tapi anak muda ini memberi rezeki tambahan, “Bang, makasih ya.” kata si anak muda ini, sambil mengembalikan STNK motor dan uang. Ya, uang! Sebesar 50 ribu.

Persoalan tauhid memang tidak hanya di mulut. Tapi juga pembuktian dari sikap dan perbuatan kita. Memang mungkin awalnya tidak mudah. Apalagi kita sudah berada di akhir zaman. Di mana hampir semua umat manusia berlomba-lomba untuk menjadi si kaya dan si hebat. Nggak lagi mikirin uangnya berasal dari mana, nggak lagi mikirin haram dan halal, semuanya membuat mereka lupa diri. Itulah dunia yang menipu mereka. Wajar saja jika umat ini benar-benar hampir tidak ada yang bisa bertauhid secara benar. Tapi bukan berarti tidak ada sama sekali. Bahkan orang-orang yang mungkin biasa kita kucilkan, sebenarnya mereka adalah orang-orang terpilih. Sebagaimana saya sering sekali bertemu dengan ibu-ibu di dekat stasiun kereta. Setiap hari selalu di sana. Saya pun bertanya, “Ibu merasa aman di sini?”

Ibu itu menjawab,
“Ya nak. Saya merasa aman di mana saja. Allah yang jaga saya, nak.”

Ibu itu kemudian tersenyum sembari memegang pergelangan tanganku. Kadang mungkin ia dilewati orang-orang yang berlalu-lalang, atau melihat ibu itu seperti orang yang “terkasihani” sehingga pendapat dan tanggapan orang-orang terhadap mereka yang tinggal di jalanan terkesan negatif. Padahal, kita tidak tahu bagaimana hati mereka. Siapatahu, walaupun tidak makan seharian, mereka yakin dan percaya kepada Allah, bahwa rezeki mereka sudah diatur sama Allah. Dan mereka sungguh-sungguh bertauhid sekalipun hidup mereka amat susah.

No comments:

Post a Comment