Visitor

Thursday, April 17, 2014

Materi Tauhid Sesi 15: Shalat, Cermin Tauhid

Persoalan shalat adalah persoalan tauhid. Sebab tauhid sederhananya adalah mengenal Allah. Lalu bagaimana kualitas shalat kita, sebagaimana itulah kita bertauhid kepadanya. Atau dengan kalimat lain: bagaimana kualitas tauhid kita, begitulah kualitas tauhid kita. Memang ada urusan lain di urusan shalat, tapi semua berawal dari shalat.


Melihat dan memperhatikan bagaimana muslim di Indonesia ini sebenarnya sangat memprihatinkan. Bukannya saya menyalahkan. Atau saya men-judge. Atau apa pun itu namanya. Tapi bagaimana tidak miris, begitu waktu shalat datang, orang-orang yang sedang berada di sekitaran masjid dan mushola tempat saya berteduh malah bolak-balik ke sana ke mari sambil bawa buku-buku tebal, atau bahkan tas mereka, payung, ada juga yang gendong anaknya tanpa “mampir” ke masjid atau mushola. Adzan kedengeran jelas. Ada imamnya juga yang memimpin shalat. Tapi saat itu yang berjamaah cuma bisa dihitung jari. Sedih.

Padahal pas saya keluar dari mushola itu, banyak sekali orang lalu-lalang. Entah apa yang ada dipikirannya. Kenapa bisa seolah-olah tidak mendengar adzan? Dan mengapa juga raut wajah mereka seperti terburu-buru? Mau ke mana sih? Buru-buru amat.

Begitu juga waktu saya dan adik saya mampir ke suatu mal. Jujur, kami nggak suka jalan-jalan ke mal. Tapi saat itu kita nggak jalan-jalan kok. Justru kami cari mushola terdekat. Dan kata pak satpam ada di mal tersebut. Kami bingung bukan main kenapa tempat mewah dan sebagus ini bener-bener susah cari tempat shalat yang layak. Kami menuju lorong ke arah parkiran motor. Tempat wudhunya dicampur. Begitu juga di dalamnya. Isinya seperti biasa hanya beberapa orang saja. Dan begitu kami kembali ke lantai atas, kami perhatikan betul orang-orang yang sedang asyik dengan gadget mereka, sambil meminum kopi, sambil ngobrol-ngobrol, sambil ngerokok, sambil nge-wifi, sambil fotoin makanan yang mereka pesan untuk di-upload  ke instagram.

Yap, begitulah keadaan umat muslimin yang ada di Indonesia, terutama di Jakarta. Tak sedikit dari kaum muda mereka adalah muslimah yang berhijab. Ada juga ibu-ibu yang bawa anaknya. Sepertinya sih anaknya masih usia sekolah. Tapi lagi-lagi, gadget membuat mereka kurang komunikasi bahkan di saat berdekatan seperti itu.

Kalau shalat saja sudah dilupakan, saya yakin, untuk urusan yang lain pun akan berat. Tapi saya juga yakin, buat mereka yang punya semangat berhijrah, Allah pasti bantu untuk bisa kembali kepada-Nya.


Menunda Dunia Untuk Allah

Ada hadiah dari Allah, untuk siapa saja yang mementingkan diri-Nya.

Si A, membawa surat interview.
Dia ini orang yang terbiasa tepat waktu.
Ia gelisah. Sebab di surat interview itu, ia dipanggil jam 11:00. Jam yang rawan bagi dia.
Rawan apa?
Rawan untuk tidak bisa mempersiapkan diri shalat tepat waktu. Subhanallah! Padahal jam 11 kan masih jauh? Masih 1 jam menuju waktu shalat.

Iya. Itu kalo dia prediksi wawancara bisa berlangsung tepat waktu. Bagaimana kalau pewawancara telat. Atau ia datang di urutan wawancara bisa berlangsung sedang waktu shalat sudah menjelang. Lihat ya, baru “sudah menjelang”, bukan sudah datang.

Pikiran ini betul-betul menganggu si A ini.
Tapi karena dia butuh pekerjaan, kemudian dia tetap memutuskan untuk datang.
Jam 11 kurang dia sudah sampai. Dia catatkan namanya untuk interview. Ternyata hanya dia seorang. Aman nih.
Tapi apa yang terjadi? Ternyata si peng-interview dipanggil oleh direksi. Sampai jam 11:30-an nggak kunjung ada kejelasan apakah wawancara bisa dilaksanakan atau tidak, atau di jam berapa wawancara bisa dilaksanakan.
Di mata si A ini, pertanyaan itu jelas ia jawab, atau bahasa lainnya, jawabannya jelas: batal.
Betul. Batal.
Dia memilih tidak wawancara bila wawancara itu dilakukan di jam 12 lalu mengganggu shalatnya. Masya Allah.

“Mbak, saya izin dulu ya. Nanti saya balik lagi. Saya titip tas di sini.” katanya kepada resepsionis.
“Bawa aja tasnya. Emangnya mau ke mana? Bapak sebentar lagi barangkali datang.”
“Mau shalat dulu.”
“Oh... silahkan... nanti saya beritahu bapak.”

Alhamdulillah, pikir si A. Kirain akan dimarahin. Ini malah dipersilahkan dan akan dibantu untuk memberitahukan ke pewawancara. Alhamdulillah.

Sesampainya si A di ruang mushalla, belum ada orang. Sebab baru jam 11:50. Saat itu, Dzuhur jam 12:08.

Kira-kira jam 12-an lewat, tapi belum datang saatnya adzan, datang seorang bapak. Bersih wajahnya. Berseri. Bapak ini sudah datang dalam keadaan berwudhu. Ditemani oleh dua orang lagi di sebelahnya. Juga dalam keadaan sudah berwudhu nampaknya. Sebab si A tidak melihat ada tanda-tanda bekas air wudhu baru.

“Mas, buka pegawai sini ya?” tanya salah satu dari yang tiga orang berikut.
“Iya pak.”
“Eh, ke mana yang adzan? Kok belum adzan nih?” cetus lagi yang satu, sambil melihat jam.
“Saya saja pak yang adzan,” kata si A.

Dalam keadaan rapi baju dan celananya, dan dalam keadaan wangi, si A, adzan. Ada rasa kebanggaan di hatinya, bahwa dia bisa mengalahkan interview untuk dapat adzan dan shalat Dzuhur berjamaah.

Berdirilah yang tiga orang tersebut, sambil menunggu adzan selesai. Seolah-olah mereka mendampingi si A beradzan.

Selepas adzan, si A tidak sempat lagi bicara-bicara dengan tiga orang tersebut. Sebab mushalla sudah keburu ramai. Hanya, selepas shalat ba’diyah, pundaknya ditepuk oleh salah satu dari yang tiga. “Mas yang akan diwawancara oleh saya ya?”
Kagetlah si A. Rupanya ia bersama-sama sang pewawancara. Satu shaf.

“Yang ngimamin shalat itu, Dirut kita,” katanya datar. “Kita tunggu beliau selesai shalat sunnah.”

Singkat cerita, malah si A itu diajak makan siang bersama. Dua dari yang tiga, adalah direksi. Sedang yang mewawancara pun nampaknya memiliki jabatan yang cukup tinggi di kantor tersebut.

Sungguh beruntung si A. Ia jaga shalatnya, malah Allah dudukkan dia dalam posisi yang sangat mulia.
Bagaimana lalu dengan wawancaranya?
Ya sudah tidak perlu diwawancara kali. Pertemuan di mushallah, dan adzannya si A, sudah menyelesaikan wawancara.

Alhamdulillah, subhanallah.

Teman-teman, kalau kita hidup dalam aturan Allah, maka Allah akan mengaturkan hal-hal yang terbaik buat kita. Allah Maha Mengendalikan dunia ini, dan Dia Maha Mengetahui apa yang akan terjadi. Pintu rezeki pun di tangan-Nya. Bukan di tangan siapa-siapa.

1 comment:

  1. Dan kuliah sering jadwalnya ga sesuai dengan waktu shalat. Jamnya salah ketik 11.50

    ReplyDelete